Ketika Dunia sudah memasuki akhirnya, dimana manusia semuanya telah pada punah, tanaman-tanaman telah diganti menjadi besi-besi berkarat disekitar menyebabkan korosi, dan juga radioaktif dimana-mana. Hewan-hewan pun juga, jika tidak bermutasi mereka akan mati dan menyebabkan hewan makhluk-makhluk aneh itu meliar dan berbentuk aneh karena sumber kehidupan nya telah habis dibabat manusia, sebelum [big day] tersebut. Air pun tidak ada lagi yang bewarna putih / bening melainkan hanya bewarna kuning, biru dan warna warni akibat rusaknya oleh limbah, dan korosi besi yang mengotori air tersebut.
Aku berjalan tanpa tujuan seharian, tanpa peduli bahwa besok adalah hari penghancuran Bumi X-265. Aku terus mengorek besi-besi berkarat itu sambil menahan bau besi berkarat itu yang mengalir ke pernafasanku, melalui masker tersebut. Tapi yang ku gali hanyalah bongkahan baut-baut berserakan yang ditinggal saja oleh pemilik fasilitas robot ditempat tersebut.
'Sepertinya aku akan makan baut ini saja' sambil menahan rasa laparku, kemudian mengambil baut-baut itu ingin memasukkannya ke mulutku.
"Kak, apa kakak sangat lapar ?" Seorang anak kecil di belakang memandangku yang ingin memakan baut-baut tersebut. Lalu aku menoleh.
"Apa kau disini sendirian saja disini ?" Aku menoleh kepada gadis kecil itu. Mukanya terlihat kusam sekali, sepertinya radiasi berlebih pun telah menjangkit anak kecil yang malang ini.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan ? Kenapa kau tidak pergi ke Bumi X-250 bersama program Persatuan Dunia ?" tanyaku penasaran.
"Mama dan Papaku tidak mengijinkannya, mereka bilang terinfeksi tidak bisa ikut, jadi aku memutuskan untuk tinggal disini" gadis kecil itu terlihat polos sekali tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Aku pun sengaja membuka masker udara ku, lalu menyerahkannya kepada adek kecil itu, untuk melindunginya dari Radiasi fatal, dan mengorbankan diriku sebagai jaminannya.
"Terima kasih kak, dengan ini aku bisa bernafas lebih baik" anak kecil itu tersenyum bahagia, meski sekarang harus gantian aku yang merasakan rasa sakitnya dari ekspos Radiasi yang sangat tinggi.
"Kak, bagaimana kalau kita main kerumahku, ayo ?! aku selalu tinggal sendirian saja selama ini, jadi aku harap kakak bisa menemani ku, hehe" anak kecil itu masih bisa tersenyum di saat dunia ini telah diambang kehancuran dan tak ada lagi harapan. Aku pun tak ada pilihan lain lagi selain menemaninya, dan juga melupakan rasa laparku hanya seorang anak kecil yang tak ku kenal semata.
Kemudian aku dan adik kecil itu berjalan bersama menuju rumahnya yang kecil itu, dan meliat bagaimana rumah itu telah terbengkalai sekian lamanya.
"Hmm...hmm.... Tunggu sebentar ya kak, aku akan memasak roti untuk mu" gadis kecil itu dengan baiknya mengambil panci yang telah berkarat dan mengambil air limbah sebagai minyak gorengnya. Dia pun berusaha meraih kompor tersebut dan aku hanya tersenyum melihat keimutannya, membantunya menyalakan kompor yang telah usang tersebut dan dia mulai mengambil roti dari freezer mini yang telah lama tidak aktif lagi, sambil menyerahkannya kepadaku.
Roti ini jelas berjamur dalam pikiranku, tapi aku tidak peduli. Demi kebahagiaannya, aku lebih rela memakan roti yang telah berjamur lalu dimasak menggunakan air limbah daripada memakan baut-baut tersebut.
Kemudian kami berdua pun makan bersama-sama dalam rumah yang telah lama terbengkalai tersebut dalam situasi yang sederhana tapi tak juga bahagia.
Setelah selesai aku bertanya pada gadis kecil itu. "Jika ini adalah hari terakhirmu, apa yang ingin kau lakukan ?" Aku menatap dia dengan wajah yang terpaksa senyum.
Gadis itu memegang bibir nya "Hmm, aku hanya ingin jalan-jalan saja. Semenjak Mama, Papa pergi aku selalu sendirian mengurus rumah ini, dan aku tidak berani keluar karena banyak sekali hewan-hewan menakutkan".
Aku tak percaya, dari sekian banyaknya keinginan aku mendengar dia hanya ingin jalan-jalan saja di saat tahu ini adalah hari terakhir di dunia ini. Aku hanya bisa meneteskan air mataku.
"Kakak, kakak kenapa menangis ?" kata gadis tersebut yang betul-betul polos. Dan aku sengaja tidak benar-benar memberitahu kebenarannya.
Aku hanya mengelus kepalanya, dan membawanya berjalan-jalan sambil membawa shotgun di tanganku, untuk berjaga-jaga dari hewan mutasi.
Aku pun berjalan melewati New Yark yang telah hancur luluh tersebut, melewati Times Square, Manattan, dan juga meliat patung Libery yang telah hancur saat lama.
Tak terasa, hari telah malam begitu saja. Dan kuliat si gadis kecil itu langsung tertidur pulas begitu saja, setelah kecapekan jalan-jalan mengelilingi kota yang telah hancur. Tapi, dia terlihat senang karena impiannya telah terwujud. Sementara aku ? aku sendiri tak tahu mau bagaimana, karena aku memang tidak mempunyai tujuan lagi setelah mendengar kabar dari luar bahwa dunia ini akan dihancurkan besoknya.
Aku memandang gadis kecil itu menggunakan masker milikku, tertidur pulas kesenangan merasa puas apa yang telah dijalaninya hari ini. Aku hanya bisa mengelus-elus kepalanya seperti kucing. Kemudian aku pun ikut tidur juga bersama-sama dengannya dengan rasa sedikit gembira.
Hari H...
Hari itu telah pagi, aku dan gadis kecil itu sama-sama terbangun.
"Ah, kakak selamat pagi !" senyum gadis kecil itu menyambutku yang juga ikut bangun. Dan aku membalas senyuman itu.
Aku mengecek jamku menunjukkan pukul 7 pagi yang berarti ada 1 jam lagi sebelum penghancuran. Aku pun mengumpulkan tekad sebanyak mungkin untuk segera memberitahu gadis kecil tersebut yang baru bangun itu. Tapi, menyuruh dia tidur kembali aku tidak bisa. Membunuh dia sekarang juga, hanya akan membuat shock, sangat sedih dan bercampur penyesalan sangat mendalam meski hanya tersisa 1 jam lagi.
Dan sangat berat pun aku terpaksa memberitahu dia bahwa dunia akan hancur dalam 1 jam lagi.
"Benarkah ?" kata gadis kecil itu seakan tak percaya, tapi juga tidak terlalu menangis seakan dia lebih dewasa dari penampilannya.
"Ta, tapi kakak akan selalu berada di sisiku kan, meski dunia ini telah berakhir ?" gadis kecil itu terlihat lebih khawatir jika aku pergi dibandingkan dunia itu hancur.
Aku tersenyum, berjongkok dan memeluk gadis kecil tersebut "Ya, kakak akan selalu berada di sisimu layaknya seperti adik sendiri".
Kemudian satelit-satelit pun diarahkan ke Bumi X-256 dan menembakkan sinar laser yang sangat besar untuk menghancurkan sebuah planet.
Aku dan gadis kecil tersebut sudah siap menerima takdir dan saling berpelukan juga saat itu, sampai ajal menjemput kami melalui laser yang telah ditarget ke arah kami.
Aku dan gadis kecil itu berpelukan dan menutup mata, telah siap menerima takdir yang telah menjemput kami sebagai manusia terakhir di Bumi X-256..
Planet Bumi X-256 itu pun dimusnahkan seluruhnya dengan semua isi yang ada di Bumi X-256 tersebut melalui satelit-satelit tersebut..
=========######===========
Note : Jika cerita ini ada kemiripan dengan sebuah film, atau buku lainnya. Author tidak tau, karena ini hanya dari imajinasi author sendiri.