Kita kadang berharap kejadian buruk yang kita alami hanyalah sebuah bunga tidur yang berakhir tak sesuai harapan kita.
Aku juga begitu, aku berharap kejadian itu hanyalah sebuah mimpi atau mungkin hanya sebuah halusinasi ku saja karena terlalu takut kehilangan dia.
Dia, orang yang baik bahkan terlalu baiknya sampai-sampai aku ingin marah karena dia terlalu baik kepada orang yang tak pantas menerima kebaikannya. Aku sadar bahwa aku tidak pantas dan tidak akan pernah pantas menjadi temannya. Dimana ada Dia di situ pula ada aku. Orang-orang bilang aku seperti benalu, jujur saja aku juga berpikir begitu sekarang walau dulu ku pikir aku bukan benalu mungkin karena Dia tak pernah mengeluh tentang seberapa gilanya aku menempel terus padanya.
Saat aku susah Dia selalu berada di samping ku, menemaniku melewati masa-masa kelam ku. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa aku telah bergantung padanya.
Sedangkan aku... Aku adalah beban. Beban untuk Dia, orangtuaku, keluargaku, dan orang lain. Terkadang aku iri padanya, Dia pintar.. cantik.. friendly.. mungkin karena dia adalah orang baik maka dari itu Tuhan juga menyayangi nya. Tenang saja aku tak pernah bilang begitu ke Dia karena aku tahu sifatnya. Dia akan langsung menurunkan nilainya, merubah cara berpakaiannya, dan menjadi sedikit menjauh dari orang lain. Dia begitu agar aku tidak minder lagi, Aku tahu betul maksud baiknya tapi maksud baiknya itu malah membuatku semakin minder. Entahlah kau bisa mengejekku aneh karena aku malah minder di saat Dia melakukan itu.
Pernah suatu kali aku bilang padanya bahwa aku pasti akan remidi pada ulangan harian hari itu. Bukan karena aku tak sempat belajar tapi karena memang aku bodoh, aku bahkan kemarin malamnya tidak sempat tidur hanya untuk mempelajari materi ulangan harian tapi tetap saja otakku tak mau menyimpan semua materi itu mungkin juga karena dari awal aku berotak udang makanya mau gimana pun usaha yang ku lakukan tetap akan percuma akhirnya. Awalnya ulangan berjalan lancar hingga saat pembagian nilai aku terkejut dan mulai merasa bersalah, bagaimana tidak!! Dia menjawab hampir seluruh soal dengan jawaban salah. Guru pun kaget dan bertanya kenapa kali ini dia nilainya jelek, Dia pun beralasan bahwa ia lupa belajar karena semalam bermain game. Iya Dia bohong.. Dia tidak pernah bermain game karena dia tidak suka itu. Guru pun memakluminya tapi teman-teman sekelas ku tahu kalau Dia berbohong karena mereka yakin 100% walau Dia tak belajar sekalipun Dia pasti akan mendapatkan nilai bagus.
Mereka mulai berbisik dan membicarakan ku, Kadang beberapa kali mereka mengeraskan suaranya agar aku dapat mendengarnya namun aku membiarkannya dan berharap itu cepat berlalu. Aku tidak tuli kok sampai-sampai kalian harus berbicara sekeras itu, jika ingin menghina ku lebih baik saat aku tak ada sehingga paling tidak aku tak sakit hati karena mendengarnya. Aku berani bersumpah dengan nyawaku bahwa aku tak menyuruh Dia menjawab soal ulangan dengan jawaban salah.
Saat itu aku jadi sedikit berhati-hati dalam ucapan ku, aku salah karena membiarkannya menjawab ulangan dengan jawaban yang salah. Aku menyesal, sangat-sangat menyesal. Namun karena dia terlalu baik kepadaku, Dia langsung memaafkan ku. Bodoh!! Dia bodoh saat memaafkan ku!! Jika aku adalah Dia, aku akan meninggalkan diriku sendiri. Tapi Dia tidak, rasanya ingin menangis saja saat dia dengan mudahnya memaafkan ku dan melupakan itu semua.
Lalu kejadian buruk terjadi, Dia kecelakaan parah dan itu menyebabkan Dia meninggal. Kalian bisa mencaci maki ku atau bahkan menyumpahi aku mati karena aku juga berharap aku yang mati. Dia meninggal karena kecelakaan mobil, mobil yang ia pakai adalah mobilku. Aku adalah salah satu penyebab Dia mati, harusnya aku mencegahnya saat itu atau menolak permintaannya untuk meminjam mobilku sebentar karena mobilnya sedang berada di bengkel.
Aku selalu merasa bersalah sampai detik ini jika mengingat hal itu. Aku berharap ini adalah sebuah mimpi buruk, aku berangan-angan dapat bangun di pagi hari karena aku bermimpi buruk bahwa temanku telah meninggal. Tapi itu tak akan terjadi, sampai sekarang aku belum bisa berdamai dengan masa lalu ku.
Ternyata aku baru sadar bukan memaafkan orang lain yang susah tapi memaafkan diri sendiri. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang telah terjadi kepadanya, aku tahu di pasti telah memaafkan ku. Namun aku tak bisa memaafkan diriku lalu melupakannya dan hidup seperti biasanya.
-End-