Yuna memejamkan matanya dan menatap bangunan rumah tua di hadapannya, ia melihat cat putih yang menempel pada bangunan itu perlahan mulai memudar dan beberapa lumut menempel pada tembok rumah tersebut, mungkin saja cat putih itu dimakan oleh waktu karena mengingat rumah tua itu sudah ditinggal oleh pemiliknya selama sepuluh tahun yang lalu.
Yuna membuka pintu depan rumah tua itu dan alhasil banyak kelelawar berhamburan keluar, semua struktur perabotan dalam rumah itu terlihat tidak asing bagi Yuna, ya memang jelas tidak asing karena rumah tua itu dulunya rumahnya juga. Selama dua puluh tahun ia menempati rumah itu sampai suatu kejadian yang memaksanya pindah dari rumah itu.
Kejadian yang memaksanya pindah dari rumah itu adalah ketika tepat ketika ia berumur dua puluh tahun, kala liburan semester Yuna rencananya ingin menghabiskan waktu bersama ibunya, malang nasib tragis menimpa ibunya, dan menghabiskan waktu bersama ibunya nyatanya hanyalah sebuah rencana. Ketika ia membuka rumah berniat mengejutkan ibunya akan kedatangannya, bukan malah disambut senyuman hangat ibu justru malah ibunya terbaring bersimbah darah dengan pisau menancap di perutnya.
Sekarang ketika usianya menginjak tiga puluh tahun ia menatap getir ruang tamu, tempat ibunya meninggal dengan mata berkaca-kaca, tangannya menggenggam sebuah amplop, entah ia juga tidak tahu amplop tersebut berisi apa, amplop tersebut didapat oleh tantenya, tantenya mengatakan bahwa amplop ini dari ibunya yang telah tiada, tantenya mengatakan untuk memberikan amplop tersebut padanya.
Yuna membuka amplop tersebut dan membaca sebuah tulisan yang tidak ia mengerti artinya, ia bingung tulisan tersebut bermakna apa karena sepertinya tulisan tersebut bukan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia, ia terus membaca tulisan aneh di kertas tersebut hingga tanpa sadar di dalam rumah ada angin yang berhembus sangat kencang.
Tiba-tiba dari arah dapur ia mendengar suara piring jatuh, Yuna kemudian melangkahkan kaki ke arah dapur dan melihat sosok punggung yang tengah menatap jendela, lalu kemudian Yuna terkejut ternyata sosok itu ternyata ibunya yang telah meninggal dua puluh tahun yang lalu.
Yuna tidak mengerti kenapa tiba tiba ada ibunya, ia pikir sekarang tengah berhalusinasi dan menganggap sosok tadi hanya hantu, namun setelah ibunya berkata sesuatu barulah ia percaya bahwa ibunya hidup lagi.
“Yuna… ibu tadi masak semur jengkol, coba dicicipin dulu nduk.” Ibunya ternyata sibuk membuat jengkol, makanan kesukaan Yuna.
“Ibu… ibu kok ada disini? Bukannya ibu udah mati dua puluh tahun yang lalu.” Jujur Yuna bingung dan seketika dilanda rasa takut ketika melihat sosok ibu yang seharusnya mati dua puluh tahun yang lalu malah berada di dapur.
“Maksudmu apa Yun, ibu disini baik-baik saja, sini peluk ibu, memang kamu gak kangen apa sama ibu?” Ibu sepertinya kesal ketika pulang-pulang disambut dengan keheranan Yuna ketika melihat dirinya, ibu kemudian merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Yuna.
Tanpa berpikir nyata atau tidak, entah itu halusinasi atau hanya khayalannya saja, Yuna merentangkan kedua tangannya dan berlari memeluk ibunya, sungguh yang ada di pikiran Yuna yakni hanya bisa mendekap erat ibunya dan takkan ia lepaskan lagi. Yuna berpikir mungkin inilah kesempatan kedua bagi dirinya untuk menghabiskan waktu bersama ibunya, ketika berumur dua puluh tahun ia mulai hidup tanpa hadirnya ibu, dan kini usianya dua puluh lima tahun Yuna ingin menghabiskan waktunya bersama ibu.
Sepasang ibu dan anak tersebut itu menghabiskan waktu bersama, mulai dari makan jengkol bersama, berkebun ketika sore, dan menonton berita di televisi ketika malam tiba. Menurut Yuna hari ini adalah hari terbaik baginya karena bisa melihat dan mendekap ibunya. Yuna sama sekali tidak merasa janggal dengan kehadiran ibu yang tiba-tiba, mungkin pertemuan dengan ibunya berkat kertas mantra yang diberikan tantenya, dan sepertinya Yuna ingin menelepon tantenya dan mengucapkan terima kasih.
“Halo tante makasih banget ya, berkat tante aku bertemu sama ibu hehe.” Yuna berkata pada tantenya dengan nada ceria
“Maksudmu apa Yun? Ibumu bukannya udah mati? Sadar Yun, di rumahmu ada penghuninya, mungkin penghuni rumah itu akan berwujud seperti sosok ibumu”
Setelah mendengar penjelasan tantenya Yuna sedikit takut, tapi ia tepis pikiran itu dan melangkah untuk menghampiri ibunya yang ada di kamar, belum sempat Yuna masuk ke kamar, ia menemukan sosok ibu tengah mengunyah bunga kamboja.
Sial, nampaknya tantenya benar akan ibunya yang tidak nyata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
________TAMAT _________