"Qu--Queen."
Gadis yang mendengar namanya dipanggil segera membalikkan badan. Gadis itu terbelalak, mendapati Arzelo dengan wajah yang babak belur. Dengan cepat Queen berlari dan menangkap tubuh cowok itu yang limbung.
"Lo kenapa, Ar?" tanya Queen cemas.
Queen gadis dengan rambut kepirangan di ujung rambutnya, pemilik lesung pipi, dan juga kulit putih. Dia adalah ketua OSIS di SMA Wanara. Dia itu manis, hanya saja kemanisan itu hanya Queen tampilkan kepada orang-orang terdekatnya. Membuat mereka yang tidak terlalu dekat dengan Queen menganggap gadis itu bar-bar. Memang benar, tidak jarang Queen menghajar anak-anak bandel di sekolahnya. Dan itu dia lakukan jika dia merasa dilecehkan atau pun untuk memberi pelajaran kepada mereka yang menurutnya tidak memiliki sopan-santun.
"Kita ke UKS!" tegas Queen.
***
"Aw! Aw! Queen sakit!" rengek Arzelo.
Queen hanya memutar bola matanya malas. Arzelo adalah sahabat Queen, hubungan mereka semakin dekat dikala Arzelo dinobatkan sebagai wakil ketua OSIS. Kemana pun Queen pergi, pasti ada Arzelo. Membuat mereka digadang-gadang sebagai pasangan kekasih.
"Sini wajah lo! Kalau gini terus kapan sembuhnya?"
Queen menarik paksa wajah cowok di depannya. Membuat Arzelo meringis. Karena tanpa sengaja Queen juga mencengkeram bagian wajah yang terluka. Melihat itu reflek Queen menarik tangannya. Mengucapkan kata maaf karena merasa tidak enak.
"Gapapa, sans. Lo senyum dong, serius amat sih," ucap Arzelo.
Queen terhenti. Menatap mata coklat milik Arzelo. Menaikkan satu alisnya.
"Kalau lo senyum, rasa sakit yang gue rasain seketika hilang."
Bugh!
"Modus!"
Queen menonjok wajah cowok yang duduk di depannya itu. Arzelo hanya meringis seraya memegangi pipinya yang tambah babak belur.
"Sakit, Queen!" kesal Arzelo.
"Makanya jangan modus," balas Queen.
"Gue gak modus, emang gitu yang gue rasain."
Queen terdiam. Dia tahu apa yang akan diucapkan Arzelo selanjutnya. Gadis itu bangkit dan mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.
"Udah selesai gue pergi dulu," pamit Queen.
Tetapi, sebuah cengkraman di tangan kanannya membuat langkah gadis itu terhenti. Queen mengembuskan napasnya pelan. Membalikkan badan, menatap Arzelo yang sudah memasang wajah memelas untuknya.
"Lo masih kekeh sama jawaban lo, Queen? Lo gak coba buat nerima gue jadi pacar lo?" tanya Arzelo pelan.
Seperti dugaannya sebelumnya. Arzelo akan mengungkit tentang hal ini. Walaupun Queen sering menolaknya, tetapi Arzelo masih berharap bahwa Queen akan menaruh hati kepadanya.
"Ar, apa perlu gue jawab lagi?" tanya Queen pelan.
"Iya, siapa tahu kan lo berubah pikiran dan mau menerima gue, Queen." Arzelo menunduk.
"Tapi maaf, Ar. Jawaban gue masih sama seperti yang kemarin-kemarinnya."
Queen melepas pelan cengkraman Arzelo. Melangkah pergi meninggalkan cowok itu sendirian. Arzelo mengembuskan napasnya kasar.
"Kapan lo menyadari bahwa cinta gue bener-bener cuma buat lo, Queen?" gumam Arzelo.