(Disarankan sambil mendengarkan lagu J-Pop Your Song atau Rain)
Hujan. Salah satu fenomena alam yang sangat aku sukai. Aku suka suasana hujan. Hujan, terjadi karena evaporasi atau penguapan air di permukaan, kemudian mengalami kondensasi menjadi awan. Setelah jadi awan, perlahan-lahan baru terjadi presipitasi atau sering disebut hujan.
Hujan membuatku bahagia. Banyak kenangan yang terputar di memoriku ketika hujan turun. Imajinasi juga berjalan dengan lancar. Selain itu, hujan juga merupakan pemberian dari Tuhan yang harus disyukuri.
Waktu itu saat aku masih kelas satu, aku baru pulang dari sekolah. Pas sekali, hujan turun dengan lebat. Aku mempercepat langkah kakiku dan segera berteduh. Aku berteduh di halte bus terdekat, meskipun aku tidak naik bus.
"Hujan. Kenapa ya, aku bisa suka hujan?" dalam hati, aku bertanya pada diriku sendiri. Aku memandang langit yang kelabu, dan juga banyak butiran-butiran air.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Tak lama kemudian, aku mendengar ada suara langkah kaki seseorang. Kemudian disusul suatu getaran dari arah samping tempat aku duduk. Ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Ada seorang laki-laki yang sepertinya adalah kakak kelasku. Tanpa aku duga, pandangan kami bertemu, dia tersenyum padaku.
"Hai, dek." sapanya ramah masih dengan senyumannya.
"H..hai kak." balasku sedikit malu. Bukan karena apa, tapi aku tak terbiasa bergaul dengan laki-laki.
"Udah lama di sini?" tanyanya lagi, kini dia memandang jalanan yang basah akibat air hujan.
"Barusan kak," balasku singkat, sambil memandang objek yang sama.
Deg! Deg! Deg! Deg!
Entah mengapa, jantungku berdetak lebih cepat. Tak seperti biasanya, padahal aku tidak habis lari-lari. Aku memangku tasku untuk mengambil air minum yang aku bawa dari rumah. Aku meminumnya dengan tenang. Detak jantungku perlahan kembali teratur.
Lima belas menit berselang, hujan tak kunjung mereda. Kami berdua juga tidak saling sapa lagi. Hingga suatu ketika..
"Kamu.. nggak bosan dari tadi diam terus?" tanyanya memecah keheningan ketika hujan.
"Nggak kak," jawabku singkat sambil sekilas memandang wajah sampingnya.
"Kenapa? Kamu kan udah lebih lama di sini?"
"Aku nggak bakalan bosen kalo hujan kak, soalnya.. I always like rain." jawabku sambil tersenyum tipis, tapi tanpa menatapnya.
"Kenapa kamu suka hujan?"
"Nggak tau kak, dari dulu aku suka. Aku lebih nyaman kalo hujan. Oh iya, kakak ini siapa ya?" aku bertanya. Untuk memastikan saja kalau dia itu kakak kelasku atau bukan.
"Kamu nggak kenal aku kah? Aku kakak kelas kamu, kelas 3B. Kamu pasti Sunny dari kelas 1C, iya kan?" tebakannya tepat sekali. Tapi kurasa, dia tak sembarang menebak. Ya, namaku Sunny. Orang tuaku memberi nama demikian yang mewakili doa dan harapan mereka, mereka ingin aku menjadi anak yang bercahaya dan indah, layaknya matahari.
"Kok tau kak?"
"Ya, tau aja."
"Nama kakak siapa?"
"Namaku.. Rain." jawabnya sambil tersenyum padaku. Tunggu, Rain? Nama yang cukup asing bagiku. Aku belum tau kalau ada siswa bernama Rain di sekolah kami.
"Kakak siswa baru ya?" tanyaku lagi.
"Nggak. Dari dulu aku sekolah di sana."
"Tapi kok aku belum pernah tau?" aku bertanya lagi, sambil mencoba mengingat-ingat nama kakak-kakak kelasku dari kelas 3B. Memang tidak ada yang namanya Rain.
"Tidak sembarang orang bisa tau, dan sekarang kamu sudah tau."
Jadi, namanya benar-benar Rain? Semoga dia tidak salah fokus ketika aku mengatakan, 'I always like rain' tadi. Rain kan artinya hujan. Setelah itu, kami kembali terdiam, kurang lebih selama sepuluh menit. Hujan malah semakin lebat dan disertai angin juga. Aku suka, meskipun sekarang hari sudah mulai sore.
Tiba-tiba, kak Rain menarikku ke arahnya. Aku menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Awas ketampu air." ucapnya masih belum melepaskan tanganku. Aku menatapnya, sorot matanya begitu menghangatkan. Setelah kupikir-pikir, di sini lama-kelamaan dingin juga. Setelah itu, aku melepaskan diri dari dekapan singkatnya. Aku juga sedikit menurunkan rok yang tadi sedikit tertarik ke atas. Oh iya, tadi aku juga sempat merasakan detak jantungnya. Sama sepertiku tadi, mungkin karena dia berlari ke sini tadi, tapi kan sudah cukup lama, kenapa belum normal?
Aku menatap singkat ke arah tempat yang aku duduki tadi, ternyata benar, basah terkena air hujan.
"Kalo hujan-hujan, kamu biasanya ngapain?" kak Rain mencoba bicara untuk menghilangkan kecanggungan tadi.
"Kadang nyanyi, berimajinasi, berpikir. Kalo hujan-hujan aku sukanya gitu kak." jawabku, memang benar sih. Tapi, aku tidak suka membaca buku saat hujan turun. Aku ingin berimajinasi sendiri, bukan larut dalam imajinasi orang si penulis.
"Ooh, kalo aku nggak terlalu suka hujan. Aku lebih suka waktu musim panas." kak Rain menanggapi. Ternyata nama itu tidak menjamin. Namanya Rain, tapi tidak terlalu suka hujan. Namaku Sunny, tapi aku lebih suka suasana hujan. Berkebalikan ya.
"Ame ga furiyamu made wa kaerenai. Ima demo anata wa watashi no hikari.." dalam hati aku bernyanyi. Penggalan lagu Jepang berjudul 'Lemon' karya Kenshi Yunezu, salah satu lagu yang paling aku suka.
"Kamu lagi nyanyi ya?" celutuk kak Rain.
"Eh?"
"Iya kan?" tanya kak Rain sambil memiringkan kepalanya menatapku.
"Kok kak Rain bisa tau?" tanyaku. Bagaimana dia bisa tau kalau aku sedang bernyanyi dalam hati?
"Tau, aku bisa baca pikiran kamu." jawabnya dengan pasti. Apakah perkataannya benar? Aku butuh kepastian.
"Benarkah? Memangnya aku nyanyi lagu apa kak?"
"Lagu Jepang 'Lemon' karya Kenshi Yunezu." jawabnya tepat sasaran. Kurasa dia benar-benar bisa membaca pikiranku.
"Wah benar kak. Tapi, gimana kak Rain bisa tau pikiranku?" aku yang saat itu masih berpikiran polos, tentu saja selalu ingin tau. Aku ingin bertanya banyak kalau dia tidak keberatan.
"Lain kali, kamu akan tau." jawabnya yang membuatku tidak puas.
Kami kembali terdiam, lagi. Sampai sekitar lima menit kemudian, ketika hujan mulai mereda, hanya tinggal gerimis kecil. Aku akan menerabasnya.
"Wah hujannya sudah mulai berhenti. Yaudah kak, aku mau pulang dulu." ucapku seraya berdiri. Dia ikut berdiri.
"Ayo, aku antar kamu."
"Aku bisa pulang kak, nggak perlu dianter." aku mencoba menolaknya, tapi..
"Nggak apa-apa. Sekarang sudah mau malam, nggak baik gadis kecil sepertimu berjalan sendirian. Bagaimana kalau kamu bertemu orang jahat?" dia bersikeras untuk mengantarkan aku pulang. Bagaimana ya?
"Hmm baiklah kalau kak Rain yang mau." akhirnya aku menyetujuinya. Dia kemudian tersenyum.
Setelah itu, kami berdua segera berjalan meninggalkan halte bus itu. Aku berjalan agak cepat, supaya aku bisa cepat sampai rumah, dan kak Rain juga bisa cepat pulang.
Angin bertiup agak kencang. Aku sedikit menggigil dan melipat kedua tanganku. Sama sekali tak kuduga, kak Rain memasangkan jaket hitamnya padaku. Aku menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Nggak apa-apa, kamu pakai aja, aku nggak dingin." ucapnya sambil menunjukkan senyumannya, lagi.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan hingga sampai ke rumahku. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi nyaman dan hangat. Kami berdiri di depan gerbang rumahku.
"Ayo masuk dulu kak, dingin loh." ajakku pada kak Rain.
"Kamu masuk aja, aku mau langsung pulang. Jaketnya kau bawa aja." tolaknya.
"Ok kak, besok aku kembalikan." balasku, dia tak menanggapi, hanya memasang wajah biasa.
"Yaudah ya, aku pulang dulu."
"Iya kak, terima kasih." aku berterima kasih. Dia mengangguk pelan, kemudian segera berjalan pergi. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dariku, dan menghilang setelah dia belok di ujung gang.
=•=•=•=•=•=•=•=•
Saat ini, aku sudah kelas 3 SMP, usiaku sudah empat belas tahun. Hari ini, hujan turun dengan derasnya. Aku berada di ruang tamu yang sunyi untuk melihat dan mendengarkan tetesan air hujan.
Aku jadi teringat kak Rain. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Keesokan harinya setelah saat itu, aku berniat untuk mengembalikan jaketnya, aku mencarinya di kelasnya, namun hasilnya nihil. Mereka bilang tidak ada siswa bernama Rain. Aku juga bertanya pada beberapa orang di sekolah tempat aku belajar.
Aku juga sempat bertanya pada beberapa guru juga. Tapi mereka bilang, setahu mereka di sekolah ini belum pernah ada siswa bernama Rain. Aneh bukan? Tapi waktu itu, aku juga sempat bertukar nomor dengan kak Rain. Selama ini, dia sama sekali tak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir dan kepikiran terus padanya.
Selama ini, sudah ratusan kali aku mencoba menelponnya. Ribuan pesan aku kirimkan padanya, tapi tak ada balasan, dilihat pun tidak. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku kembali mencoba menghubunginya untuk yang kesekian kalinya.
Tuuut.. Tuuuut.. Tuuuut..
"Halo Sunny.." suara kak Rain terdengar dari seberang sana. Aku sangat bahagia bisa mendengar suaranya lagi.
"Halo kak Rain. Kak Rain kemana aja? Kenapa selama ini nggak bisa dihubungi?" aku langsung melontarkan dua pertanyaan sekaligus.
"Maaf Sunny, aku banyak urusan, jadi nggak sempat cek ponselku." balasnya. Mungkin terdengar meragukan. Sudah lebih dari dua tahun, apakah tidak ada waktu luang sama sekali? Kesibukan apa yang membuatnya sampai seperti itu?
"Oh iya, Sunny, sekarang aku ada di taman air di belakang komplek tempat kamu tinggal. Kalo kamu mau, kamu bisa temui aku." ucapnya. Tanpa permisi, aku langsung mematikan sambungan telepon, kemudian berlari ke kamar mengambil jaket oranye yang biasa aku gunakan.
"Kakak, mau kemana? Hujan lho, jangan keluar!" ucap ibuku yang sedang menemani adikku mengerjakan pr.
"Sebentar aja Bu, cuma ke belakang." sebenarnya aku tak mau banyak alasan. Aku langsung saja berlari keluar rumah, menerabas hujan gerimis yang masih belum reda, hanya bermodalkan jaket supaya tidak kebasahan.
=•=•=•=•=•
Sesampainya di sana, aku melihat sekeliling. Tak jauh dari tempatku berada, ada seorang laki-laki berusia sekitar tujuh belas tahun, sedang memainkan gitarnya. Kenapa dia tidak berteduh?
"Kak Rain.." panggilku, dia menatap ke arahku sembari tersenyum.
"Sunny.."
"Selama ini kak Rain ke mana aja? Kenapa nggak bisa dihubungi?" aku kembali bertanya. Dia pun berdiri, sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi badannya denganku.
"Maaf ya, aku nggak kasih kabar ke kamu. Tapi, nggak lama lagi, kamu bakalan tau. Beneran, aku nggak bohong." ucap kak Rain. Aku menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kak Rain nggak berteduh dan malah hujan-hujanan di sini? Kalo sakit gimana?" tanyaku lagi, dia menggeleng pelan malah kembali duduk, memangku gitarnya. Pada akhirnya, aku pun duduk di sebelahnya, memang basah, tapi tidak apa.
Kemudian, kak Rain mulai memetik senar gitarnya, terdengar nada yang teratur. Tunggu, sepertinya tidak asing. Aku menatapnya. Dia tersenyum.
"Bernyanyilah." ucapnya. Dia begitu lihai memainkan gitarnya.
"Jangan khawatir, tidak ada orang yang bisa melihat kita di sini." ucapnya lagi. Setelah kupikir-pikir lagi, seperti tidak apa-apa. Aku akan mulai bernyanyi.
"Kimi ni nanika o utaitai
Demo sono nanika ga yoku wakaranai
na nda son'na mon ka boku ni totte
Kimi no sonzai nante son'na mon ka
Kimi ni nanika o utaitai
Demo sono nanika ga uta ni
Naranai atama hinette narabeta kotoba tte uso ppokute
“Aish-teru” chigau souna nda kedo nanika ga chigau
“Arigatou” chigau omotteru kedo sore dake janai
“Gomen” chigau “baibai” chigau chigau
kimi ni nani o iou
Sanzan kangae tatte
Kekkyoku kimi ni atte shimaeba nanika
Ga dou demo yoku natte shimau boku
no shikou
Dakedo sa nee tsutaetai nani ka sa nee utaitai
Kimi ga boku ni kon'na kimochi o kureta you ni
Sanzan kangae tatte
Kekkyoku kon'na uta ni naru nda
Kotae nante denaishi
Kandou tekina messeeji mo naishi
Demo kitto tsutawari kiranai kara boku
Wa uta o utai tsudzukeru nda
Itsuno hika zenbu zenbu kimi ni todoku sonohi made.."
Itulah penggalan lagu yang aku nyanyikan. Lumayan bagus, suaraku dipadukan permainan gitarnya kak Rain, ditambah suara air hujan menambah keharmonisan lagu.
Setelah bernyanyi, aku dan kak Rain kembali saling menatap. Wajah kami semakin mendekat. Aaaa.. pikiranku sudah traveling. Tapi, tidak seperti yang aku pikirkan. Kak Rain hanya menempelkan dahinya pada dahiku. Kami saling menatap. Aku menatap bola matanya yang berwarna biru gelap nan indah. Kejadian itu masih berlangsung hingga, secara tiba-tiba aku memalingkan kepalaku.
"Hmm aku kira kak Rain bakalan.." sambil menahan malu, aku sengaja tak melanjutkan ucapanku.
"Aku nggak akan mengotori kamu. Kalau di duniaku, aku ini masih belum baligh. Aku belum boleh yang begituan." jawabnya. Apa maksudnya? Aku tak mengerti.
"Apa maksudmu kak?" aku bertanya.
"Sebenarnya.. sebenarnya aku adalah pangeran kerajaan Skyte. Maka dari itu, aku sangat sibuk, dan aku juga hanya boleh ke dunia kalian saat hujan lebat setelah hari yang panas." ucapnya memberi penjelasan.
"Kerajaan Skyte?"
"Iya, kerajaan di balik awan."
"Jadi, itu sungguh ada? Aku kira hanya dongeng. Tapi, kenapa aku bisa bertemu denganmu kak?" aku kembali melontarkan pertanyaan. Dia memasang senyumannya.
"Kamu adalah orang yang ditakdirkan. Gadis manis yang lahir saat hari yang begitu panas. Setelah kamu datang ke dunia, hujan turun dan membasahi tanah. Iya kan?"
"Hmm iya. Ibuku pernah memberi tau aku."
Setelah itu, kami terdiam. Kami berdua memandang lengkungan pelangi di langit senja. Begitu indah. Tetesan air hujan yang diuraikan dengan cahaya matahari, terjadilah fenomena pelangi.
"Baiklah, sepertinya sudah waktunya aku pergi." ucap kak Rain tiba-tiba. Aku menoleh padanya.
"Hah?"
"Aku akan kembali ke kerajaan. Jika aku tetap di sini, aku tak akan bisa bertahan."
"Apa kita bisa bertemu lagi kak?"
"Tentu saja. Karena.. kita sudah ditakdirkan."
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•=•
Epilog..
"Kak Rain.." ucapku memanggil namanya.
"Hmm?" dia menjawab dengan gumaman.
"Aishiteru!" aku berucap sembari menempelkan ibu jari dengan jari telunjuk, sehingga membentuk simbol 'love'.
"Aishiteru.." kak Rain belum melanjutkan ucapannya. Aku mengharapkan dia juga bilang begitu padaku.
"Aishiteru artinya apa?" tanyanya. Tunggu, dia tak mengerti?
"Saranghae!" ucapku memberi kode. Kata-kata itu sangat populer, bagaimana dia bisa tidak tau?
"Artinya apa itu?" seperti tebakanku, dia belum mengerti.
"I love you!" aku kembali berucap. Dia berdiri tepat di hadapanku.
"Maaf aku nggak tau apa yang kamu maksud." jawabnya. Mataku mulai berkaca-kaca.
"Kak Rain ini gimana sih? Aishiteru, saranghae, dan i love you itu sinonim, cuma beda bahasa aja! Artinya sama! Artinya itu aku cinta kamu! Ups!" huaa gawat aku keceplosan!
"Iya, aku juga.." ucapnya sambil tersenyum lebar padaku.
=•=•=•=•=•
Note :
- Terima kasih sudah membaca cerpenku
- Mohon maaf kalau ada kesalahan. Kalo ada hal buruk, tolong jangan ditiru ya!
- Lirik lagu : internet
- Cover : pinterest
Terima kasih bagi semuanya yang sudah mendukung Nino^^