"Tobias itu anak yang menyeramkan."
"Aku pernah tidak sengaja melihat matanya berubah menjadi merah."
"Aku juga pernah melihatnya menghilang ditelan asap yang muncul tiba-tiba."
"Sepertinya dia seorang penyihir."
Calista tidak serta merta percaya dengan bualan angin lalu teman-temannya. Yang selama ini dirinya lihat dari seorang Tobias Sanderson hanyalah pemuda jangkung pendiam yang suka menyendiri.
Dalam benak Calista, barangkali Tobias adalah tipekal yang kaku dan sulit memulai sebuah pertemanan. Bukannya Calista sok pintar menilai, tapi memang jam terbang gadis itu lumayan banyak kalau menyangkut bergaul dengan orang-orang. Pengalamannya sebelum pindah ke kota ini adalah bukti muktlaknya.
Calista memutuskan untuk pergi dari lingkaran gosip teman-temannya. Lebih baik dirinya menyibukkan diri dengan belajar. Ada beberapa mata pelajaran yang ternyata masih dirinya belum pelajari.
Namun entah takdir ingin sekali mempermainkannya, Tobias malah jadi pemuda satu-satunya yang ia temui di perpustakaan.
Ruangan terasa senyap dan suram sebab tirai jendela menutupi bias matahari. Tobias dengan kacamata kotak khas tampilan anak kutu buku kini tengah serius membaca sebuah buku di meja pojok.
Calista memilih tidak terlalu peduli. Kendati mereka satu kelas, Tobias mungkin adalah satu-dua murid yang enggan berkenalan lebih jauh dengan Calista.
Saat berusaha menahan diri untuk tidak mengajak Tobias mengobrol ringan di dalam perpustakaan kosong tanpa penjaga perpus, tiba-tiba saja hawa dingin yang menusuk menerpa sekujur tubuh Calista. Praktis membuat gadis itu merinding sesaat.
Sekonyong-konyongnya rungu Calista juga mendengar suara dengan sarat dingin di belakangnya, jelas milik Tobias,
"Pulang ini berhati-hatilah dengan kayu."
Calista menoleh ke belakang. Menemukan Tobias masih terlihat serius berkutat dengan buku di tangannya.
Lantas, suara tadi benar-benar dari Tobias, bukan?
.....
Calista pulang dengan pikiran bercabang. Apa benar tadi suara Tobias? Efek mencekam dibalik suaranya tadi itu apa? Apa rumor-rumor Tobias dari teman-temannya itu benar adanya? Lalu, mengapa Tobias memperingatinya agar berhati-hati dengan ka—
Bruk!
"Aduh..."
Calista merintih kesakitan. Saat melirik penghalang yang sanggup membuatnya tersandung jatuh, Calista terkejut karena itu adalah sebatang kayu tebal.
Calista bingung. Bagaimana bisa dirinya tidak melihat hayu sebesar itu tadi? Namun kepalang tanggung untuk berpikir, lutut kiri Calista kini mengeluarkan darah. Membuat gadis itu merintih sakit.
"Sudah kukatakan untuk berhati-hati pada kayu."
Calista terkejut dan menoleh ke belakang. Mendapati Tobias yang berdiri dengan kepulan asap hitam di sekelilingnya yang terlihat mulai memudar.
"T-Tobi—"
"Sudahlah. Naiklah." Tobias berjongkok dan terlihat bersiap ingin menggendong Calista dengan punggungnya.
"P-Punggungmu tidak terlihat meyakinkan."
Bukan tanpa alasan Calista berkata demikian. Badan Tobias itu terlihat sekali bukan badan pemuda kekar yang suka berolah raga.
"Percaya dan naik saja."
Menurut, Calista membiarkan Tobias berdiri dan menggendongnya. "Rumahku di—"
"Aku tahu." potong Tobias.
Kemudian hal di luar nalar terjadi lagi. Kepulan asap muncul menyelimuti Calista dan Tobias. Saat asap itu menghilang, kini mereka telah berada di depan pagar rumah Calista.
"Tobias, kau.. benar-benar penyihir?" tanya Calista dengan suara kecil. Dirinya masih tidak percaya dengan yang terjadi barusan.
"Bukan."
"Lantas? Tadi itu apa?"
"Kau janji akan tutup mulut?"
"Kau bisa percaya padaku."
Tobias menghela napas. "Orangtuaku memang penyihir. Tapi aku bukan. Itu.. hanya bawaan lahir. Yang membesarkanku bukan orangtua kandungku. Mereka sudah meninggal."
"Aku turut prihatin. Lalu apa yang terjadi? Selama ini kau hidup bagaimana? Apa sendirian?"
Tobias menggeleng. "Ayah angkatku seorang siluman naga."
Calista terpekur. Dia tahu legenda siluman naga itu. Sangat tersohor sampai ke luar kota. Dirinya tidak menyangka akan mendengar eksistensi siluman itu langsung dari mulut Tobias yang notabenenya keluarga sang siluman.
"Jadi, kau.. jahat? Lalu kenapa kau menolongku?"
Tobias menyeringai kecil, "Apa aku tidak punya hak untuk jatuh cinta?"
End.
TMI ficlet juga kurang lebih sama drabble. Bedanya ficlet sedikit lebih panjang dan lumayan banyak deskripsi ceritanya daripada drabble yang cuma 1/2 plot. cmiiw
Jangan lupa like dan comment yaa 💕