Seorang Anak yang Dibesarkan oleh Naga Jahat
Kenapa mereka selalu menganggap kita jahat?
✨✨✨
Di sebuah desa terdapat sebuah rumor yang mengatakan bahwa naga adalah makhluk nyata. Mereka percaya akan adanya naga laut. Jumlah mereka sangat banyak. Untuk membentuk koloni mereka membuat sebuah istana.
Setiap tahun manusia harus memberikan tumbal entah itu anak baru lahir maupun anak hewan. Jika mereka tidak memberikan tumbal maka Raja Naga akan marah. Raja Naga akan membuat air laut meninggi dan menghantam rumah-rumah warga hingga lebur.
"Dasar manusia-manusia bodoh. Kenapa mereka membuang hewan dan anak kecil sembarangan?," Ujar Raja Naga kesal.
"Hamba juga tidak mengerti Baginda. Tapi saya mendengar rumor dari burung camar, jika manusia tidak memberikan tumbal maka raja naga akan meratakan semua daratan," jawab menteri membuat Raja Naga tertawa.
"Baginda ada hal penting yang mau saya sampaikan," kata lele, pelayan Ratu Naga.
"Ada apa?"
"Baginda, Ratu membawa anak manusia ke Istana Naga," ujarnya membuat semua hewan yang berada di aula gaduh.
"Bagaimana mungkin. Anak manusia akan mati kalau dibuang di samudera yang luas ini". Karena penasaran Raja Naga memutus untuk melihat kebenarannya.
"Suamiku, lihatlah anak manusia yang rapuh ini, dia begitu manis dan sangat cantik," ucap sang Ratu saat melihat Raja Naga sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Tapi istriku, mana mungkin anak manusia tinggal di samudera. Sebaiknya kita serahkan anak manusia itu ke desa manusia yang berada di wilayah Utara".
"Tapi anak ini begitu menggemaskan. Lihatlah rambutnya yang berwarna biru sama seperti rambutku. Mata birunya juga sangat indah seperti matamu," ucap Ratu membuat Raja Naga mendengus kesal. "Lantas apa yang mau kamu lakukan kepada anak ini?"
"Saya ingin merawatnya," jawab Ratu membuat Raja Naga kaget.
"Bagaimana mungkin Ratu?".
"Saya memiliki kekuatan yang bisa membuat manusia dapat bernafas di dalam air. Saya berjanji akan membesarkan anak ini seperti anak saya sendiri," karena ucapan yakin dari sang istri Raja Naga tak mampu menolaknya.
Setelah mendiskusikan ke semua menteri, Raja Naga memutus untuk menjadikan anak manusia itu menjadi Putri angkatannya. Raja Naga memberinya nama Belinde.
Kini kerajaan yang awalnya membosankan menjadi lebih menyenangkan karena kehadiran sosok kecil yang manis.
10 tahun berlalu. Meskipun berbeda Belinde mendapatkan kasih sayang kepada semua hewan. Sekarang dia menjadi gadis yang sangat cantik dan berhati lembut.
✨✨✨
Aku tidak mengerti kenapa mereka melihatku dengan tatapan aneh. Padahal aku sama seperti mereka. Jika aku mendekat mereka pasti akan bersembunyi seakan-akan dikejar oleh pemangsa.
"Kenapa kalian pergi saat aku datang? Padahal aku ingin bermain dengan kalian," ucapku sambil berenang menuju terumbu karang yang tinggi.
"Tuan putri," teriak kepala pengawal membuat mereka berenang menjauh.
Kepala pengawal menghampiriku dan mengelus kepalaku "Tuan putri apa yang anda lakukan?"
"Paman, kenapa mereka selalu meninggal Bel sendirian? Bel mau punya teman," ujarku sedih.
"Tuan putri anda sudah dipanggil Baginda Ratu," jawab paman mengalihkan topik.
"Baiklah," jawabku sambil berenang.
Sekarang aku sudah berada di kamar ibu. Aku tidak tahu kenapa beliau memanggilku. Karena aku sangat lelah aku tak sadar bahwa aku sudah tertidur.
"Belinde, ayo bangun," suara lembut ibu membuatku nyaman. Aku membuka mata dan melihat ayah dan ibu sudah berada di ranjang.
"Selamat sore ibu, selamat sore ayah," ucapku sambil menguap.
"Sekarang kita makan dulu," ucap ibu yang aku respon dengan anggukan.
Setelah makan malam aku mendengar dongeng dari ibu. Aku sangat senang karena setiap hari didengarkan cerita yang berbeda-beda. Saat asyik bercerita tiba-tiba segerombolan pengawal datang.
"Kenapa kalian datang kesini?" Tanya ibu
"Maaf atas ke saya Baginda Ratu, kita harus segera pergi dari sini," jawab salah satu pengawal dengan wajah pucat.
"Sebenarnya ada apa paman?" Tanyaku penasaran.
"Saya akan menjelaskan semuanya saat di jalan, untuk saat ini tolong jangan bertanya apapun dan segera ikuti saya," mendengar apa yang diucapkan paman pengawal aku dan ibu pergi mengikutinya.
Dari luar terdengar suara gaduh. Samar-samar aku melihat ada banyak orang yang bertengkar hebat. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ratu kamu baik-baik saja?" Tanya ayah cemas.
"Saya tidak apa-apa Baginda, tapi apa yang terjadi?"
"Manusia tiba-tiba datang ke kerajaan dan membunuh beberapa perajut yang bertugas di perbatasan. Mungkin mereka menyatakan perang kepada kita," jawab ayah membuat ibu sedih.
"Kenapa manusia datang menyerang?" Tanyaku kepada mereka.
Sebelum ayah menjawab pertanyaanku sebuah cahaya merah menjalar ke seluruh tubuh ayah. Beberapa kali ayah meronta-ronta namun usahanya sia-sia. Semakin ayah bergerak rantai itu semakin kencang.
"Cepat bawah Bel dan Ratu pergi," ucap ayah sambil meringis kesakitan.
Sekarang kami sudah ketempat persembunyian. Aku memegang tangan ibu erat-erat. "Ibu apa yang terjadi? Bel takut. Kenapa ayah tadi kesakitan?"
"Tidak ada apa-apa Bel. Ayah sangat kuat jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab ibu membuatku tenang.
"Iyah tidak ada apa-apa karena ayah kuat," jawabku sambil tersenyum.
Brak...pintu terbuka lebar. Terlihat banyak spesies seperti diriku sudah berada di depan pintu. Para pengawal mencoba melindungi kami tapi yang kulihat sekarang hanyalah darah yang tercecer dimana-mana.
Saat mereka berjalan ke arah ku ibu berubah menjadi sosok naga yang cantik. Ibu melindungi diriku dari serangan mereka. "Tidak! Ibu!," Teriakku saat mereka semua menancap kan tombak ke tubuh ibu.
Darah dari tubuh ibu bercucuran. Aku yang melihatnya sedih bercampur marah. Saat ibu menjadi manusia aku memeluk erat tubuhnya.
"Ibu, ibu bangun," ucapku sambil menangis.
Mereka membawa kami menuju daratan tempat dimana tak boleh kami injak. Di daratan aku melihat banyak orang yang sama sepertiku. Beberapa orang memandang kami dengan wajah marah, takut, kesal, dan beberapa lagi melempar kami dengan batu.
"Perhatian semuanya, ini adalah Raja Naga yang jahat. Di tempat ini kami akan memusnahkan seluruh keturunan Raja Naga," ucap seseorang yang di ikuti oleh teriakan dari yang lainnnya.
"Dasar Naga jahat".
"Sekarang kita tidak akan takut lagi kepada Naga".
"Bunuh Raja Naga yang mengambil nyawa putriku"
"Raja Naga sangat bengis".
"Naga harus dimusnahkan".
"Hancurkan semua naga dari dunia ini"
Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa semuanya menyalah kami? Apa yang mereka katakan? Kami tidak pernah menyakiti apapun. Sebenarnya apa yang mereka katakan. Saat tengah bingung dengan masalah yang terjadi aku melihat ayah sudah babak belur.
Srek...Aku tidak tahu apa yang baru saja aku lihat. Mereka menusuk tubuh ayah dengan sangat mudah.
"Ini adalah pedang suci. Kita bisa membunuh Naga maupun monster dengan satu kali tusukan," jawab manusia berambut panjang.
"Bunuh semua naga yang berada di sini," teriakan seseorang diikuti oleh tusukan dari mereka.
"Tidak! Jangan lakukan itu! Jangan membunuh keluargaku. Kalian jahat," teriakku menggema di seluruh daratan.
"Apa-apa dia?"
"Dia seperti manusia"
"Apakah dia benar-benar manusia?"
Mereka masih tak mendengar ucapanku. Aku sangat marah ketika sebuah pedang menusuk jantung ibu. Tubuhku terasa terbakar. Jiwaku meronta-ronta untuk keluar. Sesuatu yang aneh memasuki tubuhku.
"A-apa itu?," Teriak semua orang data melihat diriku.
"Kalian semua jahat. Bagaimana bisa kalian berpikir untuk melukai keluargaku. Bagaimana bisa kalian berpikir bahwa kami jahat. Aku aka membuat kalian menderita".
Aku merapalkan sebuah mantra dan membawa semua bangsaku ke kerajaan Naga. Aku melihat semua manusia yang masih berada di tepi samudera dan membakar mereka. Suara rintihan dan penyesalan mulai memenuhi Indra pendengaran ku.
Merasa belum puas, aku menghantam mereka dengan berbagai batu yang berada di laut, menerpa mereka dengan angin, dan memakan mereka dalam ganasnya ombak tsunami yang dahsyat. Aku menuju kerajaan Naga dan menyembuhkan seluruh hewan yang menjadi korban. Masih dengan amarah yang berkobar aku tersenyum lebar melihat mereka semua hidup kembali.
A little Flashback
"Kenapa aku harus memakan pil ini?," Tanyaku kepada ibu.
"Kalau kamu memakan pil ini kamu akan menjadi naga," sahut ibu membuatku senang.
"Ayah, kenapa aku harus belajar mantra?," Tanyaku penasaran.
"Karena semua naga yang berada di istana ini memiliki kekuatan. Jadi kamu juga harus memiliki kekuatan untuk melindungi kita semua," jawab ayah membuatku rajin belajar.
"Tuan putri kekuatan itu harus digunakan untuk kebaikan," jawab Paman.
Mereka semua adalah keluargaku. Mereka sangat peduli denganku yang berbeda. Saat aku menuju daratan semua manusia terus menjelek-jelekkan kerjaan ku. Mereka juga selalu merundung anak yang lemah.
Padahal aku pura-pura tidak mengerti kalau manusia diberikan harta oleh kerajaan kami. Kami juga tidak masalah mereka mencuri beberapa furniture yang berharga di istana Naga, namun manusia itu makhluk yang sangat rakus. Mereka menginginkan semua yang berada di kerajaan kami.
Awalnya aku sangat marah dan ingin menghilangkan mereka semua, namun pesan dari ayah dan paman membuatku teringat kalau kita tidak boleh menyakiti manusia yang lemah. Yah, pada akhirnya aku membinasakan mereka karena mereka terlalu serakah. Mungkin itu sudah cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi manusia yang lainnya.