Pada jaman dahulu hidup seekor naga besar yang sangat ditakuti oleh warga desa. Setiap bulan mereka harus mempersembahkan sesuatu untuk sang Naga. Jika tidak, mereka percaya Naga akan membakar habis desa mereka.
Sampai suatu malam ...
"Owekkk ... Owekkk ... Owekkk ..." Terdengar suara tangis bayi di keheningan malam. Sesuatu yang berbadan besar dan bersayap mendengar tangisan itu lalu mendekati bayi itu.
Naga itu melihat ke kana dan ke kiri. Untuk melihat apakah orang tua bayi itu berada di dekatnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Apa ia dibuang?
Ia merasa kasihan dengan bayi yang menangis itu. Bayi itu sama seperti dirinya yang juga tidak diinginkan oleh siapapun.
Bayi itu masih menangis.
Ia pasti lapar.
Naga yang merasa kasihan mengambil bayi itu dengan mulutnya lalu ia kembali ke sarangnya.
Hari-hari berlalu. Naga itu membesarkan bayi itu seperti anaknya sendiri walaupun mereka berbeda.
"Paman." Naga itu mengajari bayi kecil itu untuk memanggilnya paman.
"Pa ..."
Terus ... Terus ...
"Papa ..."
Dalam hatinya, Naga itu sangat senang. Ada yang memanggilnya papa.
Bayi itu sekarang sudah bertumbuh menjadi gadis yang cantik. Naga tahu ia harus melepaskan gadis itu kembali ke komunitasnya yaitu manusia.
Walaupun berat, ia harus melakukannya.
"Hana ... Kau tahu kita berbeda. Kau harus tinggal bersama kaummu yaitu manusia."
"Tapi, Pa ..." Hana selama ini hanya mengenal naga yang membesarkannya. Ia mengira hanya ada mereka berdua di dunia ini.
Naga itu membawa Hana menuju desa terdekat. Hana merasa kebingungan. Tetapi ada seorang pria yang membantunya. Hana menjadi dekat dengan pria itu.
"Kau dulu tinggal di mana?" Pria itu bertanya.
Hana menunjuk suatu tempat di ketinggian..
Bukannya itu tempat tinggal naga yang jahat?
"Bisa kau tunjukkan tempatnya?"
Hana yang polos menunjukkan tempat di mana naga itu berada.
Saat Hana bertemu naga itu lagi, ia berlari menuju naga itu. Ia sudah begitu merindukan sosok ayahnya.
"Pa-" Perkataan Hana terhenti. Sebuah panah telah dilepaskan dari busur pria tersebut dan mengenai jantung naga itu.
Naga itu roboh.
Hana segera berlari menuju naga itu "Pa .. Papa." Air mata membanjiri wajah Hana.
Naga itu menatap Hana untuk yang terakhir kalinya. Lalu ia menutup matanya untuk selama-lamanya.