Tidak ada bintang, tidak ada rembulan. Yang ada hanya guyuran air berton-ton jumlahnya yang membasahi beberapa titik di dunia. Hujan.
Malam ini hujan datang dengan derasnya, saat ini tidak ada suara petir yang terdengar menyambar. Suasana menjadi sangat menenangkan dan tentunya membuatku mengantuk.
"Dek, masak gih, Kakak laper nih tiba-tiba" seru Kakakku tiba-tiba sesuai dengan laparnya yang datang tiba-tiba menghancurkan pagar fantasiku yang sudah hampir seratus persen berdiri.
"Masak apa?" balasku.
"Apa aja deh terserah, pokoknya Kakak makan" aku dengan malas keluar kamar dan pergi ke dapur. Kugunakan apron putih yang berada di gantungan dapur dan menggelung rambutku ke atas supaya tidak gerah saat memasak.
Kini sudah pukul sembilan malam. Hujan turun sejak pukul tujuh malam dan sampai saat ini belum berhenti. Aku tinggal di rumah dua lantai hanya dengan kakakku seorang, kedua orang tua kami meninggal dan meninggalkan harta yang sangat cukup untuk masa depan kami, salah satunya rumah ini, yang sekarang seutuhnya menjadi milik kakak.
"Masak apa, Dek?" tanya Kakakku.
"Sarden aja ya, Kak. Sama nasi goreng".
"Wahhh... Enak tuh, ya udah lanjut".
Selesai memasak aku memindahkan ikan sarden dan nasi goreng hasil olahanku secukupnya ke piringku dan piring Kakakku. Kami pun makan bersama. Setelah selesai makan, aku mencuci piringnya kemudian kami pergi ke lantai dua.
"Aku kangen mama sama papa, Kak" ujarku.
"Kakak juga, Dek".
"Besok kita ke pemakaman mereka yuk" aku mengangguk setuju dengan semangat yang menggebu.
"Sekarang tidur yuk".
Aku mengangguk.
Jderrr!!!
Tiba-tiba petir menyambar dengan kencang hingga aku berteriak dan reflek memeluk Kakak.
"Kakak temenin kamu tidur ya?" aku mengangguk.
Kami pun berjalan menuju kamarku, aku tidur didekat tembok sedangkan Kakakku tidur ditepi ranjang. Aku tanpa rasa malu memeluknya dan membenamkan wajahnya dan ketiaknya. Bau kecut? Tentu tidak!.
Jujur saja, aku takut dengan petir. Ketika petir datang, aku biasanya akan tidur ditemani mama, ini tuk pertama kalinya secara aku sadar, maksudku bukan saat aku bayi, aku tidur bersama Kakakku. Bisakah aku mengulanginya besok? Bahkan jika diizinkan aku ingin tidur dengannya sampai ia menikah.
Aku merasa hangat bersamamu, Kak.
"Kehadiran seorang ibu didalam apapun kondisi anaknya mungkin memang tidak dapat tergantikan lagi oleh apapun itu, namun... Hadirnya Kakakku membuatku merasa ada ibu setiap kali aku bersamanya. Tuhan, izinkan aku bersamanya... Selamanya..."
End.
-Jangan lupa like!
-Jangan lupa komentar!