Namaku adalah Tanawat. Orang-orang sering memanggilku dengan sebutan Tan. Salah satu siswa culun dan tertindas di sekolah elit yang ada di Bangkok, Thailand.
Hari-hariku di sekolah sangat suram. Penuh dengan cacian dan perlakuan kasar.
Aku menyukai Nin. Dia adalah cinta pertamaku semenjak memasuki SMA. Ironisnya, Nin sekarang berpacaran dengan Yod. Siswa yang sering membuliku. Dia kaya raya dan mempunyai pengaruh terhadap sekolah.
Suatu hari ketika aku mengalami pembulian terparah dalam sejarah hidupku. Yod beserta kedua temannya merampas tasku. Mereka menghamburkan barang-barang yang ada di dalamnya.
Parahnya hari itu, aku tidak sengaja membawa buku diary-ku. Kemungkinan terbawa karena aku menyimpannya di sela-sela buku pelajaran yang lain. Bodoh memang, tetapi itulah cara rahasiaku, agar Ayah tidak bisa menemukannya. Alasannya, karena Ayahku tidak suka membaca buku.
"Lihat, teman-teman! Tan memiliki buku diary! hahahaaa!" Yod tergelak hingga gigi-gigi putihnya terlihat.
"Jangan!" ujarku berusaha mengambil buku yang ada digenggaman Yod. Akan tetapi kedua teman lelakinya yang bernama Pim dan Nat langsung memegangi tanganku. Suara tawa mereka malah semakin menggema ditelinga.
Karena aku bergeming akibat cengkeraman Pim dan Nat. Yod memanfaatkan kesempatannya untuk membaca buku diaryku. Dia membaca setiap lembaran kertasnya. Hingga dia menemukan sesuatu yang berhasil mengejutkannya.
"Shia! (Sial!)" umpat Yod sambil memfokuskan bola matanya pada kalimat-kalimat yang ada di buku diary. Sepertinya Yod telah menemukan tulisan mengenai curahan hatiku terhadap Nin.
"Ada apa, Yod?" tanya Pim yang saling bertukar tatapan heran dengan Nat.
"Keparat ini menyukai Nin!" Yod melemparkan begitu saja buku diaryku ke lantai. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.
Sepertinya Yod marah, karena aku menulis banyak sumpah dan umpatan mengenai dirinya di buku diary. Terutama di bagian, 'Nin tidak pantas bersama monyet jelek sekelas Yod. Dia boleh berpacaran dengan lelaki lain, tetapi tidak untuk Yod.' Kalimat tersebutlah yang kira-kira membuat pitam Yod melonjak drastis.
"Berani-beraninya kau!" Yod kini mencengkeram erat kerah bajuku. Selanjutnya dia melayangkan sebuah pukulan ke wajah. Aku sontak terhuyung, dan langsung terkapar di lantai.
Yod belum puas dengan darah yang mengalir di hidung dan lebam dipipiku. Dia malah menambahkan beberapa tendangan ke badanku.
"Kenapa kalian diam saja! bantu aku memberinya pelajaran!" Yod melotot ke arah Pim dan Nat. Kedua temannya itu lantas mengikuti perintahnya.
Buk! Buk! Buk!
Entah berapakali Yod, Pim dan Nat saling bergantian melayangkan tendangan ke dada dan perutku.
"Am-ampun..." lirihku memohon dengan rengekan. Perlahan rasa sesak mulai terasa. Cairan merah sekarang menyembur dari mulutku. Penglihatanku semakin samar. Namun saat itulah Nin datang untuk menghentikan tindakan Yod. Seperti biasa, gadis itu memang adalah dewi penyelamatku.
"Hentikan, Yod! kau gila!" pekik Nin sambil memegangi salah satu lengan Yod. Dahinya mengerut dalam, menunjukkan kekesalan yang memuncak.
"Kenapa kau mencoba menghentikanku hah?! kau menyukai anak culun ini? cuh!" sahut Yod yang diakhiri dengan ludahan salivanya yang seketika mengenai wajahku.
Badanku gemetaran. Rasa sakit di bagian rongga dada kian menyiksa. Aku merasakan pusing yang luar biasa. Perdebatan di antara Nin dan Yod perlahan hanya terdengar sayup-sayup. Hingga semakin tidak jelas ketika penglihatanku menggelap.
***
Aku membuka mata secara perlahan. Kilauan cahaya yang dipancarkan lampu di pelafon segera menyambut. Suara panggilan dari ayah langsung terdengar.
"Tan!" Ekspresi bahagia yang ditunjukkan Ayah, seketika membuatku tersenyum tipis.
"Ayah..." lirihku dengan suara seadanya.
Semenjak aku sadar, Ayah selalu menjagaku dengan baik. Memberikan banyak makanan yang aku mau. Sebenarnya itu terasa aneh, sebab aku sangat tahu kondisi keuangan Ayah tidak terbilang baik.
"Apa ayah berhutang lagi?" tanyaku, yang mengurungkan niat untuk memakan kwetiau pembelian Ayah.
"Tidak... ayah membelinya dengan uang hasil kerja sendiri." Ayah menjawab dengan tenang. Raut wajahnya membuatku yakin. Aku lantas kembali menikmati hidangan.
Beberapa hari kemudian aku pun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kini aku ada di mobil bersama ayah. Anehnya kali ini ayah memakai jasa seorang sopir. Mobil yang kami naiki pun terlihat sangat mewah.
"Apa Ayah baru saja memenangkan lotre?" tanyaku, heran.
"Inilah yang ingin aku jelaskan sekarang. Bao, ayo jalankan mobilnya!" respon Ayahku.
Dalam perjalanan ayah menceritakan semuanya. Ternyata selama ini dia adalah salah satu komplotan mafia di Thailand. Katanya dia sengaja menyamar jadi orang biasa, agar dapat menjagaku dengan baik.
Parahnya, Ayah mengatakan kalau dirinya bukanlah Ayahku. Dia hanya diberi tugas untuk membuatku berbaur layaknya masyarakat biasa. Ayah juga memberitahu kalau aku adalah pewaris organisasi mafia bernama Khun-Mangkr.
Aku tentu tidak mempercayai semua yang dikatakan Ayah. Aku membantahnya dengan tegas.
"Tidak mungkin!" pekikku.
"Kalau kau tidak percaya. Maka sebentar lagi kau akan melihat buktinya!" balas Ayah.
Sopir membawa kami ke sebuah apartemen mewah. Bukannya naik ke lantai atas. Ayah malah membawaku ke basement. Dia membawaku ke ruang rahasia yang dia sebut sebagai markas.
Pintu lift perlahan terbuka. Aku segera melangkah keluar dan mengedarkan pandangan. Banyak lelaki bertato dan bertubuh kekar memenuhi tempat rahasia tersebut. Perlahan aku mulai mempercayai perkataan Ayah.
"Ayah, meskipun aku ditakdirkan untuk menjadi pewaris kelompok ini, aku tidak akan sanggup. Karena aku hanya lelaki lemah dan tidak pantas menjadi seorang ketua!" jelasku panjang lebar.
"Pertama aku ingin memberitahumu, kalau kau sekarang boleh memanggilku dengan sebutan nama. Kedua, aku tahu kau tidak bisa melakukan bela diri, meskipun kau berusaha sekeras mungkin. Ketiga, kepintaran yang kau miliki itu, membuatmu pantas untuk dijadikan ketua. Kau tahu, kejeniusan adalah hal utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Walau kau punya otot sekuat baja, itu tidak akan berarti tanpa otak yang pintar!" Ayah memegangi pundakku pelan.
Ucapannya memunculkan senyuman diwajahku. Tetapi aku tetap tidak mau memanggilnya dengan sebutan nama. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap aku anggap sebagai Ayah sendiri.
Aku memiliki penyakit jantung. Meskipun tidak kronis, tetapi hal tersebut membuatku sering cepat kelelahan. Aku benar-benar beruntung, masih bisa selamat setelah ditendang habis-habisan oleh Yod dan kedua temannya.
Kata ayah, orang tuaku yang sebenarnya telah lama meninggal. Makanya sosok lelaki yang sekarang kuanggap ayahku, berusaha melindungiku sebaik mungkin. Selain karena wasiat, tetapi juga sebagai balas budi.
Ayah baru saja mengetahui tentang pembulian yang aku terima di sekolah. Dia mengatakan akan membalaskan dendamku kepada Yod. Namun aku langsung mencegah dan menyuruhnya tidak melakukannya.
"Kenapa?! padahal dia sudah menyakitimu hingga kau pingsan!" geram Ayah yang tak percaya dengan pilihanku.
"Aku hanya tidak ingin memperpanjangnya. Yang penting, aku akan kembali bersekolah di tempat lain dengan tenang," tuturku mencoba menenangkan.
Dua bulan berlalu. Kali ini aku bisa menuntut ilmu dengan tenang di sekolah baru. Aku juga banyak belajar mengenai organisasi Khun-Mangkr.
Seperti reputasi organisasi mafia lainnya, Khun-Mangkr juga melakukan banyak bisnis ilegal. Aku tidak menyangka, lelaki culun sepertiku diberi tanggung untuk menjadi ketua para kriminal.
Sebenarnya agak berat bagiku menerima semua ini secara mendadak. Selain karena aku tidak terbiasa melanggar aturan, aku juga tidak tega melakukan kekerasan.
Namun ayah mencoba membuatku terbiasa dengan semuanya. Dia mengajariku pelan-pelan. Lagi pula katanya, usiaku masihlah sangat muda. Ayah juga mengatakan sudah menyiapkan transplantasi jantung untukku. Sehingga nanti aku dapat dengan mudah belajar bela diri.
***
Di suatu waktu, kala aku menjelajah dunia internet untuk membaca berita. Aku menemukan satu berita yang mencengangkan. Nin dipenjara akibat melakukan tabrak lari. Berita tersebut sedang hangat diperbincangkan di media Thailand.
Tidak mungkin. Setahuku, Nin adalah gadis yang bertanggung jawab. Bagaimana bisa dia melakukannya?
Kini aku terpikir kalau Yod terlibat dengan apa yang telah menimpa Nin. Sebab dalam artikel yang kubaca, Yod disebutkan bertindak sebagai saksi.
Orang seperti Yod beserta keluarganya terkenal sering melakukan hal kotor. Termasuk betapa hebatnya mereka dalam hal memutar balikkan fakta. Aku pikir Nin sudah menjadi korbannya.
"Ayah, bolehkah aku melakukan sesuatu?" tanyaku. Sudah memposisikan diri di belakang Ayah.
"Ada apa memangnya?" respon Ayah.
"Ini mengenai Yod. Sekarang aku sudah siap untuk memberinya pelajaran!" ungkapku sembari mengepalkan tinju.
Ayah mengembangkan senyum. Dia menyuruh bawahan terbaiknya untuk bersiap. Sedangkan aku akan menyusun strategi. Sebab aku berencana menyerang kediaman keluarga Yod.
Strategiku yang utama adalah menghilangkan jejak. Pokoknya tidak boleh ada satu orang pun yang tahu mengenai kedatangan kami ke rumah keluarga Yod. Makanya aku menyiapkan topeng untuk dipakai olehku dan para bawahan yang ikut. Tidak lupa sepasang sarung tangan yang tentu akan menghalangi tertempelnya sidik jari.
Hal penting lainnya, adalah tetangga sekitar. Sebelum masuk ke lingkungan tempat tinggal Yod. Dua bawahanku akan ditugaskan menyamar menjadi warga. Untuk berjaga-jaga, kami akan melakukan serangannya saat dini hari. Dimana semua orang akan bergumul dengan tidur.
Bawahanku melakukan semuanya dengan rapih. Mereka benar-benar terbukti lebih berpengalaman dariku. Setelahnya, aku beserta ke-empat orang lainnya segera masuk ke kediaman rumah keluarga Yod. Kami melakukannya dengan alami dan sangat mulus.
Tanpa pikir panjang, bawahanku langsung mengutak-atik lubang kunci. Selang satu menit, pintu berhasil dibuka. Aku dan yang lain melangkah memasuki rumah.
Aku memerintahkan tiga orang bawahan untuk menyekap keluarga Yod dan semua orang yang ada di rumah. Sedangkan satu orang lainnya lagi aku beri tugas untuk mengelabui kamera pengawas.
Aku sendiri mencari beberapa dokumen di ruang kerja ayahnya Yod. Aku banyak sekali menemukan bukti. Termasuk mengenai apa yang dilakukan keluarga Yod terhadap kasus Nin.
Yod beserta kedua orang tuanya sudah terikat, dengan keadaan mulut yang ditutupi lakban. Ada juga dua pembantu rumah tangga yang terpaksa harus ikut disekap.
Ayah mendekatkan wajah bertopengnya ke telingaku. "Sekarang, apa kita akan membunuh mereka?" tanya Ayah, berbisik.
"Iya, kecuali Yod. Biarkan hanya dia yang tersisa..." jawabku. Entah sejak kapan naluri jahatku muncul, tetapi aku merasa bersemangat saat melakukannya. Adrenalinku terpacu!
Tanpa basa basi, aku menyuruh salah satu bawahan untuk segera beraksi. Namun sebelum itu, aku membius Yod terlebih dahulu.
Aku hanya menyuruh satu bawahanku untuk melakukan pembunuhan. Sebab aku ingin hanya ada satu senjata yang dihujamkan ke semua orang. Bawahanku itu lantas menghujamkan pisau secara bergantian kepada ayah dan ibunya Yod.
Sedangkan aku, sedang menikmati menendang setiap jengkal tubuh Yod.
Beberapa menit berlalu, kedua orang tua beserta dua pembantu rumah tangga Yod telah tewas bersimbah darah. Kini aku hanya perlu memastikan sidik jari Yod ada di badan korban beserta senjatanya.
Setelah melepaskan ikatan, kami bergegas kembali pulang. Semuanya benar-benar dilakukan tanpa jejak. Shia! aku menikmati kehidupan baruku sekarang.
***
Selain balas dendam terhadap Yod. Aku juga melakukannya kepada Pim dan Nat. Yaitu dengan cara membuat keadaan finansial mereka memburuk. Mudah bagiku untuk menjadikan bisnis seseorang menjadi bangkrut. Semua bawahanku sangat berpengalaman. Mungkin itulah salah satu alasannya.
Kini Yod dipenjara. Dia dituduh telah membunuh semua keluarganya. Seberapa keras dirinya membantah, semuanya hanyalah sia-sia. Aku hanya tertawa geli saat melihat wajah suramnya di televisi.
Ayah juga berhasil mengurus kasus Nin. Dia menggunakan dokumen yang kutemukan sebagai bukti. Sehingga gadis itu sepenuhnya sudah terbebas dari hukuman, dan berhasil menyebabkan hukuman Yod semakin bertambah.
Aku sekarang sudah berada di depan rumah Nin. Aku ingin melihat wajah cantiknya lagi.
Ceklek!
Pintu perlahan terbuka. Muncullah sosok gadis yang selama ini kurindukan. Akan tetapi raut wajahnya terlihat sendu dan sembab.
"Hai, Nin!" sapaku ramah. Nin tetap memasang wajah datar.
"Ada apa, Tan?" tanya Nin. Berdiri di depan pagar. Dia tampak sama sekali tidak berniat membukakan pintu pagar.
"A-aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja..." ujarku.
"Tidak. Aku tidak baik-baik saja Tan..." lirih Nin, yang tiba-tiba memecahkan tangis. "Yod dipenjara... hiks!... padahal aku sudah bersusah payah menyelamatkannya! Aku sangat mencintainya!" lanjutnya.
Hatiku terasa sangat sesak mendengarnya. Untung saja jantungku dapat mengendalikan diri dengan baik. Tanpa sepatah kata dan salam perpisahan, aku pergi begitu saja meninggalkan Nin. Persetan dengan kesedihannya. Harusnya dari awal aku tidak perlu bersimpati kepadanya.
Aku mengambil ponsel dari saku celana. Lalu menghubungi bawahanku dan berkata, "Aku punya sasaran seorang gadis! aku ingin kau menculiknya dan membawanya kepadaku!"
~TAMAT~