(sequel Di Bawah Rinai Hujan)
Musim hujan di langit Vancouver. Joana menyeduh cokelat hangatnya di temani kue jahe dan novel Stephanie Mayer yang setia di pangkuannya. Serial yang kalau digabungkan bisa melebihi tebal diktat sosiologinya di kampus.
Pengunjung kafe hari ini tidak sebanyak biasanya. Mungkin orang-orang lebih menikmati tidur dibalik selimut hangat atau bergemul dengan kekasih, juga saling menghangatkan. Sekadar hal-hal temeh yang bisa dilakukan kala di rumah sepanjang hujan.
Awalnya Joana pikir hujan kali ini hanyalah hujan biasa yang membawanya pada kenangan pertemuan kecil dengan Jeremy. Siapa yang menyangka hujan benar-benar mendatangkan pemuda itu ke sisinya lagi.
Adalah kala bunyi denting pintu yang berderit terbuka mengecai rungu Joana, menampilkan pribadi ramah dengan coat cokelat terang dan surai senada. Nampaknya pemuda jangkung itu telah menyemir cokelat rambutnya. Entah untuk apa, tapi Joana bisa memastikan penampilan Jeremy kali ini terlihat lebih baik daripada sebelumnya.
"Oh, Joana?"
Joana tersenyum, diam-diam senang Jeremy masih mengingat namanya dengan baik persis dirinya sendiri yang mengingat nama Jeremy.
Jeremy berjalan ke arah meja Joana, "Apa kau sendirian?"
"Ya."
"Boleh aku bergabung?"
"Tentu."
"Terima kasih, kalau begitu aku tidak akan sungkan." Jeremy membalas senyum Joana ramah. Kemudian pemuda itu memanggil pelayan agar mencatat pesanan.
"Coffee latte hangat."
Setelahnya Jeremy mengalihkan atensi penuh pada Joana yang berpura-pura fokus pada novelnya. Padahal itu hanya siasat Joana agar ketertarikannya tidak terlihat kentara di mata Jeremy.
Namun sejatinya, pemuda itu tahu.
Maka dengan niat menggoda, Jeremy bertopang dagu di atas meja. Terang-terangan menatap Joana. Ingin membuat gadis itu salah tingkah.
Joana adalah gadis yang cerdas. Dirinya tidak sering banyak bicara, tapi jelas jurusan kuliah Joana telah memberitahu banyak tentang keahliannya bersosialisasi.
"Kau sedang mencoba menarik perhatianku?"
Jeremy tersenyum manis hingga matanya seolah tenggelam, "Tentu."
Maka Joana tahu, hujan kali itu juga akan membuatnya mendapatkan seorang kekasih.
End.