Anita Wulandari, Itu adalah namaku. Aku seorang siswi SMA kelas 12 dengan jurusan IPA. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana dan masuk ke sekolah itu pun dengan cara beasiswa prestasi. Kemanapun aku pergi aku tak pernah meninggalkan kaca mata besar ku, karena mataku memang sedang bermasalah semenjak aku masih duduk di sekolah dasar (SD).
Aku berjalan di Koridor sekolah dengan tergesa-gesa dan hampir setengah berlari, itu karena aku sedikit kesiangan saat berangkat. Yah, meskipun bel masuk belum berbunyi tapi sepertinya beberapa menit lagi bel akan berbunyi.
Dan benar saja. baru saja sampai setengah jalan Bel sudah berbunyi dengan sangat nyaring, membuat ku semakin panik dan segera bergegas.
Langkah ku terhenti karena aku melihat ada tiga pria yang tengah memanjat pagar dan berusaha untuk masuk ke sekolah. Itu adalah Mirza Aditya, cucu dari pemilik sekolah, dan juga kedua teman nya yang juga sekelas dengan ku.
Mirza adalah pria yang sangat tampan dan sangat populer di sekolah, semuanya begitu mengagumi nya dan berlomba-lomba untuk menjadi kekasihnya. Meskipun begitu banyak yang selalu mengejarnya namun tak ada satupun yang di lirik oleh Mirza.
Bluk....
Mulutku ternganga saat aku melihat Mirza melompat dari pagar dengan santai dan bisa mendarat dengan sangat sempurna.
Aku merinding sebenarnya, bagaimana jika dia terjatuh, atau kakinya terkilir? pasti akan jadi masalah untuk nya.
Tak.. tak.. tak..
Mirza dan kedua teman nya melangkah semakin mendekatiku, mereka terus tertawa dan sama sekali tak takut kalau mereka sudah terlambat, yah.. karena itu memang kebiasaan mereka selalu terlambat bahkan tak jarang mereka juga bolos sekolah.
Aku menunduk, membenarkan kaca mata ku yang sudah tak lagi kokoh seperti saat masih baru dulu. Jantungku berdetak dengan kencang saat Mirza semakin dekat.
Ketiga pria itu terus berjalan melalui ku, membuat ku bisa bernafas lega. Namun itu tak bertahan lama karena Mirza kembali berjalan mundur dan berhenti pas di depan ku.
" tumben kamu telat! biasanya kamu selalu datang paling awal. Apa kamu mau ikut-ikutan sepertiku? " tanyanya dengan terus menatap ku.
" Hm " hanya kata itu sajalah yang berhasil keluar dari bibirku. Aku tak pernah bisa berbicara banyak meskipun dengan orang lain apalagi dengan Mirza, pria yang selalu ada di setiap khayalan ku.
Mirza menatap malas ke arahku. Dia sangat tidak menyukai ku dan selalu mengejekku karena kebungkaman ku dan juga karena kaca mata besar ku.
Tanpa berkata apapun lagi Mirza menggenggam pergelangan tangan ku dan menarik ku.
" Apa kamu mau di sini saja?" ucapnya dengan ketus sembari terus menarik tangan ku.
Aku terdiam, menatap Mirza dari belakang dan terus melangkah mengikuti nya. Sebenarnya apa yang akan Mirza lakukan padaku, apa mungkin dia mau menjadikan ku kambing hitam karena kesalahan nya?.
Kedua teman Mirza hanya bisa melihat kami yang bergandengan, mereka saling melempar pandang lalu tersenyum ke arah satu ama lain, seperti nya mereka tengah mengejekku.
Kami masuk ke kelas, dan ternyata pelajaran sudah di mulai.
" pa-pagi pak. " ucapku lirih dengan terus menunduk takut.
Semua teman sekelas menatap ku, aneh bagi mereka karena aku bisa datang terlambat dan juga kenapa harus bergandengan dengan Mirza.
Pak Joko yang kala itu mengajar langsung menoleh ke arah kami berempat, dan sepertinya dia juga marah terlihat dari tatapan matanya yang tajam.
" keluar kalian dari pelajaran ku!" ucap Pak Joko.
Aku mendongak menatap pak Joko yang masih melotot. " tapi pak? " ucap ku memberanikan diri.
Belum juga pak Joko kembali menjawab aku terkejut karena Mirza kembali menarik ku, dan kini dia menarik ku untuk mengajak keluar. Entah mengapa aku hanya bisa pasrah begitu saja pada Mirza, mungkin karena aku benar-benar telah jatuh hati padanya.
Mirza membawaku ke lapangan basket, menyuruhku duduk dan dia langsung mengambil bola untuk dia mainkan dengan kedua teman nya.
Ku ambil buku IPA ku dari dalam tas dan tak memperhatikan Mirza saat bermain basket.
" awasss...!" Bugh...
Aku tersentak karena Mirza terjatuh di hadapan ku karena menghalau bola yang ingin mengenai ku. Aku panik, menaruh buku ku dan langsung menghampiri Mirza.
" ka-kamu tidak apa-apa kan? " tanyaku dengan gugup dan tak berani menyentuh nya.
Mirza menggeleng, dan duduk dengan sendiri tanpa bantuan ku.
" aku tidak apa-apa. " jawab nya.
Aku masih panik dan begitu khawatir padanya. Aku juga merasa sakit seperti apa yang dia rasakan. mungkin kah ini karena aku terlalu mengaguminya?.
" sudah jangan menangis " ucapnya karena melihat mataku yang sudah berkaca-kaca.
" apa sakit? " tanyaku lagi dan dia kembali menggeleng.
Aku dan Mirza berpindah duduk di tempat ku tadi dan aku kembali mempelajari apa yang ada di buku ku. Mirza menggeser duduk nya semakin mendekatiku ikut melihat buku ku yang penuh dengan tulisan tangan ku.
" aku tidak paham yang ini. Apa bisa kau mengajarkan ku." ucapnya dengan jari telunjuk nya menempel di buku ku.
Aku mengangguk pelan dan begitu grogi karena jarak kami yang begitu dekat.
Kedua teman Mirza pun ikut bergabung, dan akhirnya kami belajar bersama dan aku menjelaskan nya kepada mereka bertiga.
Keringat keluar membasahi wajahku karena tempat ini terasa begitu panas ataukah mungkin itu terjadi karena aku begitu gugup karena dekat dengan Mirza.
Terlihat Mirza mengambil sapu tangan nya dan langsung mengusap nya pelan di kening ku, membuat ku mendongak dan menatapnya sehingga mata kami saling bertemu.
Melihat apa yang Mirza lakukan membuat kedua teman nya merasa tak enak dan mereka pergi tanpa pamit pada kami, bahkan aki tak tau sejak kapan mereka pergi.
Mirza melepaskan kaca mata ku dan mengeringkan seluruh wajah ku dengan sapu tangannya.
" Dua hari lagi aku tanding basket, maukah kamu menemani ku dan menyemangati ku? " ucapnya.
Tanpa sadar aku mengangguk dan membuat nya tersenyum ke arah ku.
_____________
_______________
Sejak kami terlambat kemarin, kami menjadi semakin dekat bahkan kami sering duduk bersama dan bercanda bersama membuat tatapan-tatapan sinis dari penggemar Mirza kepadaku.
Hingga saat mau bertanding Basket, Mirza dengan senang hati menjemput ku.
Pertandingan basket sudah di mulai, aku duduk seorang diri dan terus melihat Mirza dan para temannya bermain.
Sesekali Mirza menoleh dan tersenyum ke arahku setelah dia berhasil memasukkan bola dan menambah skor untuk tim nya.
Aku pun membalas dengan senyuman yang sama.
" yeee!!!" seruan dan juga tepukan tangan begitu menggema keras saat Mirza dan tim nya berhasil menang. Aku pun juga sangat senang bahkan aku juga ikut bertepuk tangan atas kemenangannya.
Mirza berlari ke arahku, melewati para penonton dan menjadi pusat perhatian dari mereka semuanya.
Aku berdiri saat Mirza berhenti di hadapan ku.
" selamat ya.. " ucap ku.
Grekk....
tubuhku kaku, mulut mu juga kelu saat tiba-tiba Mirza memeluk ku tanpa seizin ku.
Mirza begitu bahagia dengan kemenangan ini, berkali-kali Mirza juga mengucapkan terimakasih kasih kepadaku, karena Mirza juga berhasil mendapatkan nilai yang bagus setelah belajar dengan ku kemarin.
" malam ini aku akan mentraktir mu" ucapnya sembari melepaskan pelukan nya dan memegangi kedua bahuku.
" ta-tapi? " jawab ku ragu karena aku tak pernah keluar malam dan tentunya tak akan mudah mendapatkan izin dari orang tuaku.
" tidak ada kata menolak! " Ucap nya kekeuh.
____________
____________
Bakda 'Isya Mirza sudah menjemput ku, dan terus merayu orang tuaku untuk mendapatkan izin dari nya.
Usaha Mirza akhirnya membuahkan hasil saat ayahku mengangguk menyetujuinya, sontak membuat Mirza kegirangan, meraih tangan ayahku dan menciumnya berulang-ulang.
Bukanya mengajak ke tempat makan atau ke restoran namun Mirza malah mengajakku ke sebuah danau kecil.
Mirza mengajakku dengan sangat senang, menarik tangan ku dan mengajakku berlari.
" Mirza! kenapa kita kesini? " tanyaku dengan terus mengikuti Mirza.
" Lihatlah pohon itu, Anita! itu adalah pohon ku. Pohon yang aku tanam sejak kecil. " ucap Mirza memberitahuku.
Aku mengikuti arah jari telunjuk Mirza dan kami pun terus berlari.
Kami berhenti di bawah pohon itu, dan duduk di bangku putih yang ada di sana.
" Mirza, untuk apa kau mengajakku ke sini? " tanyaku bingung.
Aku terus menatap pohon itu, pohon yang sudah menumbuhkan bunga yang begitu indah dan mulai berguguran karena hembusan angin.
Aku mengangkat kedua tangan ku menengadahkan di depan ku. Aku tersenyum bahagia dengan bunga-bunga yang terus berguguran jatuh di sekitar ku.
" apa kau suka? " tanya Mirza sembari menatapku dengan dalam.
Aku menoleh ke arah Mirza dan lagi-lagi mata kami saling bertemu. Aku terdiam, aku begitu gugup dengan posisi ini. Dimana jarak yang begitu sangat dekat dan hembusan nafas Mirza berhasil menyentuh wajahku.
Aku menunduk tak ingin ketahuan karena saat ini hati ku begitu senang namun jantungku terus berdetak dengan cepat.
Mirza menyentuh daguku mengangkat nya membuat ku kembali menatapnya. Aku menatap Mirza tak percaya, pria yang selalu aku kagumi dengan diam kini ada di hadapan ku dan tengah menatapku.
Mirza mendekatkan bibir nya dan menyatukan nya dengan bibirku dengan lembut dan seketika membuat ku menutup mata saat itu.
Mirza melepaskan nya dan tersenyum melihat ku yang menutup mata. Dengan iseng Mirza melepaskan kacamata ku dan meniup wajahku membuat ku membuka mata dengan cepat.
"I LOVE YOU ANITA.. " ucapnya.
" apakah ini mimpi? " batin ku tak percaya.
" Anita, apakah kau mau menjadi kekasihku? " tanyanya lagi.
" Hm..? " aku terlihat seperti orang bodoh saat itu.
" Hm? " Mirza berdeham memastikan.
" a-aku..? i love you Mirza.. " Dan akhirnya kata itu terlepas dari bibir ku dan seketika Mirza langsung memelukku.
" Terima kasih " ucapnya.
Kebahagiaan begitu terasa di hatiku. Kesabaran ku, kekaguman ku, rasaku, penantian ku akhirnya berakhir dengan indah.
Dan kini Mirza Aditya pria penggila basket dan siswa yang suka bolos itu menjadi kekasihku, dan seiring waktu Mirza ku menjadi pria yang baik dan tak suka bolos lagi bahkan kini Mirza ku selalu mendapatkan nilai yang bagus dan hampir sama seperti ku.
" Terima kasih Tuhan.. " ucapku
___________________💖💖💖💖__________________
Terima kasih sudah mau mampir dunia khayalan ku..
🙏🙏🙏🙏🙏