Ini adalah, kisah tentang orang-orang yang kekanak-kanakan. Dan juga.. .
"JANGAN BERGERAK!!"
#BHUAK!. Suara tendangan kaki ke arah wajah.
Kisah tentang seseorang ya gila. Seorang perundung sadis yang gila. Yang tidak memiliki seorangpun teman. Orang gila yang merasa dirinya hebat. Jay namanya.
"Tendangan barusan bagaimana?" Jay bertanya kepada korban rundungannya.
"Bagus, tendanganmu hari ini sangat hebat! 100 untukmu!" Korban itu mengacungkan jempol kepadanya.
"Benarkah?"
#BHUAK!!
Lagi-lagi Jay menendang kepala sang korban di bagian dagu menggunakan lutut nya yang keras tanpa ada belas kasihan.
"Jangan pernah menilai orang dengan skor. Belajarlah dari kejadian ini."
Sorot mata Jay berpindah ke arah anak lelaki yang sedang berlutut, menyerahkan tangannya seperti sedang berdoa, terlihat tangan itu di jadikan asbak oleh anak-anak yang di tendangnya secara tiba-tiba barusan. Pecundang itu bernama Ryan.
Jay melihat beberapa puntung rokok di atas kedua telapak tangan itu. Dia menuduh kalau Ryan tengah merokok bersama mereka tadi. Jay menampar pipi Ryan dengan sangat keras. Menghasilkan suara tamparan yang satisfying.
Dia melihat rambut Ryan, berwarna coklat. Kata orang, itu memang warna rambut hasil keturunan dari ayahnya. Tapi Jay tidak percaya, dia mengira bahwa Ryan sudah mengecat rambutnya menjadi berwarna coklat. Dia menarik rambutnya dan menyeretnya menuju ruang guru,
"Pak guru, bocah ini merokok, hehe. Dia juga mewarnai rambutnya, hehe."
***
"Hei, ambil ini." Jay memberikan beberapa lembaran kertas ke orang yang tengah merokok di belakang sekolah.
"H-hiii!! K-kenapa? Apa ini, Jay?" Salah satu dari mereka mengambil kertas yang ada di genggaman Jay lalu membaca isi dari kertas itu.
Ternyata itu adalah brosur ajakan mendaftar ke tempat les seni bela diri milik ayah Jay.
"Kalian tidak mau di pukuli terus, kan?"
'Apa-apaan?! Padahal dia yang selalu memukuli kami!!' Batin mereka.
"Daftar kesini, maka kalian akan menjadi kuat." Ucapnya sambil menunjukan 1 lembar brosur.
***
Sudah 30 menit terlewat dari jadwal pelatihan yang sudah di tentukan. Seharusnya sudah banyak orang yang datang. Tetapi, kenapa hanya bocah berambut coklat ini yang datang?!
Jay sangat kesal. Padahal anak-anak nakal yang barusan dia temui di belakang sekolah, sudah berjanji, untuk membagikan semua selebaran brosur yang ia serahkan tadi siang. Tapi kenapa tidak ada anak lain yang muncul selain si rambut coklat ini.
Jay menarik kerah baju silat yang yang di kenakan Ryan. Jay mengira bahwa Ryan datang hanya untuk meledeknya. Tetapi Ryan menentang pernyataan itu dengan gaya bicara dan wajah menolaknya.
"Apa seharusnya aku tidak boleh ke sini? Padahal aku datang karena kau terlihat minta tolong, Jay.."
"Bagaimana kau bisa mengetahui namaku"
"Itu... Karena kita sekelas?"
"Ah.."
Karenanya, Jay jadi merasa seperti orang jahat sekarang.
Jay di omeli ayahnya karena bukannya menyambut tamu dengan benar malah ingin mengajak bertengkar. Ternyata orang tua Ryan barusan menelpon ayah Jay. Katanya, Ryan memang di suruh oleh mereka untuk berolahraga, dan akan di jemput di saat jam pulang.
"CHI! Anak mama rupanya! Hei, kalau kau mau belajar seni bela diri, lebih baik kau pulang jalan kaki sendiri!" Jay merasa kalau Ryan itu pecundang paling payah.
"I-itu.. aku cuma mau jadi anak yang baik saja.."
Dalam sekejap, Jay langsung tahu. Kalau Ryan memiliki kehidupan yang berbanding terbalik dengannya.
***
Jam pulang les.
Ryan sudah di jemput oleh ayahnya. Jay baru tahu kalau Ryan adalah anak orang kaya, dan soal rambut coklatnya, ternyata benar-benar hasil dari keturunan ayahnya. Jay bingung, biasanya anak orang kaya tidak pernah di bully, tetapi kenapa Ryan..? Jay tidak mempedulikan hal itu lebih dalam lagi, yang penting uang dari Ryan Bisa mendukung tempat les ayahnya.
Jay berjalan menuju tempat game center.
#BUGH!
Tiba-tiba saja ada orang yang memukul tulang keringnya dengan sangat keras. Ternyata mereka geng motor yang di bayar oleh anak-anak nakal belakang sekolah yang di pukulnya tadi. Tetapi, itu tidak berhasil. Tulang kering Jay sangat keras. Dia langsung membereskan para geng motor itu dengan memecahkan helm mereka menggunakan kakinya.
Mereka semua langsung tumbang seketika. Tersisa seorang wanita berpakaian minim. Wanita itu terlihat sangat ketakutan, kakinya gemetaran. Jay mendekati wanita itu dan menanyainya. Siapa yang memerintahkan mereka semua untuk datang dan memukulnya. Wanita itu menjawab dengan mulutnya yang gemetar.
"R-Re-Re-Re.. Reon! Reon yang memerintahkan kami. Kami di bayar dan hanya menuruti perintahnya saja! Ini semua bukan kemauan kami..!"
Jay terdengar Familiar dengan nama yang di sebutkan oleh wanita tadi. Wanita itu memohon kepada Jay untuk melepasnya. Jay tidak membiarkannya, dia langsung menendang leher wanita itu hingga pingsan.
'Reon.. Dimana aku pernah mendengarnya..?'
***
Keesokan harinya.
Ryan baru saja pulang dari sekolahnya. Ayah Ryan yang melihat menanyai kabar anaknya di sekolah barusan, seperti ayah pada umumnya.
'Apakah di sekolah barusan menyenangkan? Tidak ada masalah di sekolah, kan?' Sekiranya seperti itu.
Ryan memberitahukan ayahnya, kalau keadaan sekolahnya cukup baik. Mendengar hal itu, ayahnya langsung menyuruh Ryan untuk memasuki kamarnya untuk belajar.
Ryan terlihat sangat lelah, namun ia tidak mau mengecewakan ayahnya, yang sukses dengan usahanya sendiri. Seluruh harapan ayahnya di serahkan kepada Ryan, anak tunggalnya. Ryan selalu menuruti perkataan orang tuanya, karena dia anak yang baik.. .
#Tik.. Tik. Darah keluar dari hidung Ryan karena kelelahan dan mengotori buku yang sedang ia baca.
Ryan langsung mendongakkan kepalanya ke atas untuk memberhentikan pendarahan dari hidungnya.
#Drrtt. Suara getaran HP.
Pesan masuk, dari Jay. Jay memerintahkan Ryan untuk segera berangkat ke tempat les dan menyuruhnya untuk membersihkan ruangan latihan. Ryan sangat bersemangat membaca isi pesan itu, dan bergegas dari kamarnya sebelum di marahi oleh Jay.
Ryan membuka pintu kamar. Terlihat sesosok ayah yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Ayah Ryan menatapnya tajam, menyuruh Ryan untuk tetap di dalam kamar sampai waktu belajar selesai.
"Masih tersisa 12 menit lagi."
Ayah Ryan menasihatinya. Mengatakan bahwa 1 menit sekarang bisa mengubah 10 tahun kemudian. Ryan tidak bisa berkata-kata, dan hanya bisa menuruti permintaan ayahnya itu.
"Aku hanya ingin menjadi anak yang baik.."
***
Ryan menceritakan semuanya kepada Jay, alasan mengapa dia terlambat. Jay menyuruh Ryan untuk menghajar ayahnya, tetapi Ryan menentang perintah si Jay itu. Jay langsung menendang bagian atas kepala Ryan dengan menggerakkan kakinya dari atas kebawah sambil berkata bahwa Ryan dan ayahnya itu tidak normal.
Jay selalu mengatai kalau Ryan itu seperti boneka hidup yang di perintahkan hidup oleh ayahnya. Menurut Jay itu sangat menyedihkan. Jay berniat untuk menunjukan kepada Ryan, bagaimana rasanya kebebasan. Tanpa ada rasa di kekang oleh orang tua.
"Hei, lihat ini."
#BUUGH! Jay menunjukkan tendangan T-nya dengan gerakan yang sangat lincah, tetapi ketepatan sasarannya masih kurang.
Ryan tercengang melihatnya. Dia mulai mengagumi Jay.
"Itu tendangan T, gunakan untuk anak-anak yang menggangumu."
***
Besoknya di jam istirahat. Jay mengajak Ryan untuk bolos dari sekolah. Menindik telinganya, dan memperbaiki rambutnya supaya tidak terlihat culun. Bermain ke tempat karaoke bersama-sama.
'Ah.. aku tidak boleh bersenang senang. Aku tidak boleh menikmati ini. Sekarang waktunya pergi bimbel.. . waktunya belajar. Aku tidak boleh mengecewakan ayah. Seperti kemarin, seharusnya hari ini pun aku harus menjadi anak baik.., tapi, kenapa aku malah senang begini..?'
Terlihat sudah ada notif di layar HP-nya. 100 pangilan suara dari ayahnya yang tidak terjawab.
***
"Jay, aku ke toilet sebentar.. ."
"Yasudah cepat Sana pergi, aku masih memerlukan uangmu untuk memainkan game ini..!"
#BRAK! Seseorang menendang game center yang sedang Jay mainkan.
"Bangsat- apa apaan..!" Jay menoleh sumber tendangan itu.
Mereka geng motor yang waktu itu menyerangnya. Kali ini yang menantangnya adalah ketua itu sendiri. Jay menerima tantangannya, tetapi dia meminta kepada mereka untuk melepaskan Ryan karena Ryan tidak bisa bertarung. Para kelompok geng motor itu tidak mempedulikan kemauan Jay. Mengetahui hal itu, Jay berniat untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat, dan berusaha menyisihkan energi untuk membantu Ryan nantinya.
#BUUGH! BUUGH! BAAK!!. Jay menghabisi para kelompok geng motor itu dengan sangat cepat. Kini yang tersisa hanya ketuanya saja.
"Mari, kita selesaikan ini dengan cepat, aku tidak ingin membuatnya menungguku lebih lama lagi~" Jay meregangkan otot-ototnya dan memasang posisi siap bertarung.
"Cuih, jangan mentang-mentang kau berhasil menghabisi anak buahku, kau bisa dengan mudahnya mengalahkan aku..!"
***
Jay terus-terusan menendang bagian Titik vital milik ketua geng itu, yang di panggil Reon. Jay menendangnya dengan sangat lincah, tanpa henti. Membuat Reon sangat kewalahan menghadapinya. Dia hanya bisa menerima serangan milik Jay sambil melindungi dirinya menggunakan lengannya yang besar.
"Sudah ku bilang, selesaikan ini dengan cepat!" Protes Jay.
'Dengan kekuatanku, dan keadaannya yang seperti ini, aku bisa menang dengan mutlak. Tapi masalahnya ada di Ryan, aku harus cepat menyelamatkan boneka menyedihkan itu. Aku harus cepat menyelamatkan nya!'
***
Beberapa menit kemudian.
Pertarungan yang dimenangkan oleh Jay, kini sudah berakhir. Banyak noda darah yang menempel di bajunya.
'Aku harus menyusul.. aku harus menyusul ke tempat Ryan.. . Karena aku harus melindungi dia. Tunggu aku, ku mohon..!'
"RYAN!!!"
'Semoga belum terlambat-'
#DHUAK! Suara tendangan.
Jay termenganga, melihat Ryan dengan terampilnya melayangkan sebuah tendangan T yang pernah di ajarkan kemarin. Padahal dirinya saja belum bisa menyempurnakan tendangan T-nya. Tetapi, bocah ingusan yang baru beberapa hari belajar itu malah bisa melakukan tendangan itu dengan sangat sempurna, tanpa ada kesalahan.
'Seorang genius sejati, harus tahu bagaimana membuat Orang lain putus asa. Dia harus membuat orang lain putus asa dengan kemampuannya Yang luar biasa.. Itu baru bisa di sebut genius.'
Saat itu, untuk pertama kalinya, Jay merasa putus asa. Dan.. saat itu Jay, terlalu kekanak-kanakan.
***
Karena peristiwa membela diri kemarin, Ryan gagal diterima di SMA Sains harapan ayahnya. Ayah Ryan sangat kecewa kepadanya, dia marah besar. Ayah Ryan menyuruh Ryan untuk berhenti les seni bela diri. Ayahnya merasa bahwa ini semua pengaruh dari teman anaknya yang berandalan, Jay. Ayah Ryan menarik tindikan yang menggantung di telinga anaknya hingga lepas. Telinga Ryan terluka.
"Camkan baik-baik! Ketimbang menghabiskan waktu bersama bocah sampah, lebih baik kau membaca, meski hanya 1 huruf."
'Ayah marah besar. Seharusnya aku jadi anak yang baik. Seharusnya aku tidak berkelahi. Semuanya salahku. Salahku yang tidak bisa menjadi anak baik.'
Ryan kembali seperti dulu. Kembali menjadi anak yang baik. Tapi, ada hal yang tida ia mengerti. Alasan Jay menghindarinya. Samar-samar Ryan merasakan.. . Dia tahu, kalau Jay terluka karena tendangan T miliknya.
'Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan itu. Seharusnya aku tidak melakukan tendangan. Maafkan aku.. .'
Ryan benar-benar merasa sangat bersalah kepada Jay.
Di tengah tangisnya, tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari belakang. Ryan terkejut melihat siapa yang memanggil namanya.
***
#CTAK CTAK. Suara kontrol game center.
Jay merasa dirinya dongkol. Karena jurus tendangan yang tidak berhasil ia sempurnakan, justru berhasil Di lakukan oleh Ryan. Jay merasa seperti anak kecil karena merajuk kepada Ryan hanya karena rasa cemburunya.
'Sejak awal bukannya salahnya Ryan?! Jelas-jelas itu salahnya Ryan, Yang berpura-pura bukan genius!!'
Di tambah lagi, Jay merasa kesal karena Ryan tidak menghubungi dia juga. Jay merasa gengsi untuk menghubungi duluan.
Tiba-tiba Jay teringat akan kata-kata ayahnya pasal Ryan. Katanya, Ryan adalah anak yang baik, terlalu baik sampai kasihan. Ryan tak tahu apa yang Ryan inginkan, dan terpaksa belajar sesuai Yang di perintahkan, seperti boneka. Ayah Jay meminta kepadanya untuk selalu menjaga Ryan.
'... Apa aku hubungi dia duluan..? Padahal, dia temanku.. . Kalau bukan aku, siapa yang akan melindungi mu..?'
"Padahal hari ini ada ujian kenaikan sabuk."
Tiba-tiba ada suara seorang lelaki yang memanggil namanya dari belakang. Jay mengira itu Ryan. Dia langsung menolehkan kepalanya ke arah belakang. Bukan Ryan, ternyata dia adalah anak buah suruhan Reon untuk menyampaikan sebuah informasi kepada Jay. Jay sangat kecewa itu bukan Ryan.
Katanya, Ryan di bawa Oleh Reon dan 3 anak buahnya. Dan anak buah yang menghampiri Jay di perintahkan untuk menjemputnya ke sana.
Jay tidak peduli. Jay merasa kalau Ryan bisa mengatasi itu sendirian, karena dia Genius.
#Drrtt.. . Dering HP Jay.
Terlihat nickname milik Ryan di layar HP-nya. Jay langsung menyambar HP itu untuk mengangkat telfon dari temannya. Dia mengira bahwa Ryan sudah menyelesaikan masalahnya sendirian dan langsung menelponnya.
Jay mengangkat telfon itu.
"Ja-Jay.. ini aku.. RYAN!!"
Suara yang ia dengar, bukan lah suara Ryan, melainkan suara milik ketua geng motor yang pernah menyerangnya kemarin, Reon. Jay menanyakan kepada Reon mengapa HP milik Ryan ada di tangannya. Bukannya menjawab, Reon malah balik bertanya kepada Jay.
"Iya ya, kenapa ya~"
Jay yang kesal langsung beranjak dari tempat game center itu dan menyusul Ryan.
Jay mengira itu Akan jadi kisah yang biasa. Datang untuk menyelamatkan Ryan, dia pikir akan menjadi kisah yang biasa seperti itu. Jay berharap akan jadi kisah yang seperti itu.
"Perundungmu mau ke sini. Terima ini sampai dia datang!!"
#BHUAK!!!
'Jay akan datang? Jangan.. nanti dia kecewa. Nanti dia terluka lagi. Aku tidak mau, membuat Jay terluka lagi.'
Reon dan anak buahnya selalu memaksa Ryan untuk mengeluarkan jurus tendangannya itu sambil terus-menerus memukulnya. Tetapi Ryan pantang untuk melakukannya, demi Jay.
#BUUGH!
Tongkat pemukul base ball, melayang sangat cepat di bagian tengkorak Ryan. Ryan tergeletak di atas tanah.
"Iya~ jangan~. Lagian target kami Jay si bangsat kok. Kau pikir kau sesuatu? Hahaha."
'Apa.. yang barusan yang kena itu..? Aku, kena apa..? Kenapa pikiranku kosong begini..?'
"Bangun, bangsat! Lagi akting, ya?! Hei, haha! Bangun bocah!!"
#PLAK PLAK. Reon menampar keras tulang tengkorak Ryan.
Reon menatap serius bagian telapak tangannya. Ada bercak darah menempel.
"..Lari."
"Ha?"
"LARI, TEMAN-TEMAN!!!!"
Reon menyuruh teman-teman untuk lari, entah apa alasannya.
'Aneh.. kalau aku tidur, apakah membaik setelah bangun..? Kalau begitu.. aku akan tidur sebentar..'
Ryan memejamkan matanya, berharap rasa sakit yang di deritanya segera menghilang.
***
'Aku akan menyelamatkan Ryan dengan keren!! Jad aku bisa merendahkan dia lagi! Gelar genius akan kembali padaku! Hubungan dengan Ryan juga akan membaik!! Tapi kenapa hujannya deras begini, sih?!'
"RYAN!!"
#DEG
Jay kira ini kisah biasa.. Datang untuk menyelamatkan Ryan, dia kira akan menjadi kisah biasa yang seperti itu. Jay harap akan menjadi kisah biasa yang seperti itu.
Tapi tragedi terjadi tanpa di duga.
'Padahal, aku.. belum minta maaf.'
***
"Si Ryan tuh lucu, ya. Haha. Sampai mati tetap bilang 'aku engga bakal pake tendangan itu lagi, aku engga mau Jay terluka.' Haha" Teman Reon menertawakan Ryan.
"Waktu itu bukan main sih, haha. Aku baru tahu kalau kepala manusia seperti itu kalau pecah. Coba aku di suruh lagi, supaya lebih jago." Ujar Reon santai.
#BRAAKK!!
Tiba-tiba ada sebuah Van putih yang menabrak motor mereka ber-4. Reon dan teman-temannya terkejut dan marah. Seseorang keluar dari mobil Van itu, terlihat lah sosok Jay yang memasang ekspresi wajah murka. Jay berniat untuk membunuh mereka semua.
Reon dan teman-teman gang-nya menertawakan Jay, mengira bahwa Jay datang untuk membalaskan dendam Ryan, temannya yang sudah tiada itu.
Jay teringat akan kengangannya bersama dengan Ryan. Membuat amarahnya semakin menjadi-jadi.
"Hei, apa kau Genius?"
***
'Kenapa aku seperti itu. Kenapa.. aku bersikap seburuh itu.. . Seharusnya aku bersikap baik. Seharusnya aku tidak begitu.. . Kenapa aku, harus menghadapi tragedi dulu, baru merasa menyesal?'
#BUGH! BHAAK! BUUGH!! KRAK!
"Asik juga ya, jadi anak nakal."
Jay memukul dan menginjak kepala para bajingan yang membunuh temannya itu. Dia melampiaskan semua amarahnya kepada mereka. Pelampiasan dendam yang tidak bertujuan. Jay tahu, sebanyak apapun usaha yang ia lakukan, sebesar apapun dia mengamuk, Ryan tidak akan kembali.
"Hei, kau mau di bunuh juga seperti Ryan?!" Reon menyodorkan sebuah pisau kecil ke arah Jay.
"Ngomong apa sih. Ryan bukan di bunuh oleh kalian, tapi aku." Jay mengatakannya sambil tersenyum dengan perasaan kosong.
'Aku yang membunuhnya. Seharusnya aku tidak akrab dengannya. Seharusnya aku biarkan saja dia. Padahal aku tidak semarah itu. Tapi karena aku marah, karena aku menolak mu, kamu jadi tak melakukan apa-apa dan mati sia-sia. Seandainya aku tidak ada, kau pasti masih hidup.'
#BUGH!
Tiba-tiba Jay di pukul dari belakang di bagian tengkorak nya oleh teman Reon.
"Aku lihat pukulan mu, ternyata itu kau."
Benci. Jay membenci dirinya sendiri. Jay harap dia mati. Jay harap tubuhnya hancur. Jay berharap seseorang mencabik-cabik dirinya. Jay jijik dengan dirinya sendiri. Jay tahu, ini adalah kebencian pada diri sendiri.
***
Boneka. Boneka yang tidak tahu apa itu bahagia. Boneka yang hidup karena di suruh hidup. Boneka yang membuatku kesal saat melihatnya. Boneka itu, pergi dengan cara seperti itu.. . Aku ingin melindunginya, tetapi aku gagal melindunginya. Aku adalah orang yang egois.
**
Catatan penulis:
Gomenne mentemen kalo ga menarik, kepanjangan, tapi makasih dah mampir 🗿✨
Intinya, jagalah mereka, sayangilah mereka selagi mereka masih ada di sini, jangan sampai menyesal.