JUST A SAD STORY
Siapapun ingin hidup dalam keluarga yang bahagia dan harmonis. Dikelilingi teman-teman dan orangtua yang menyayangi dan mencintai kita dengan tulus. Tak terkecuali Alea. Pikirnya dunia begitu kejam mempermainkan jalan hidupnya.
Ayahnya yang dengan tega meninggalkan ibu, dirinya dan sang adik. Demi seorang wanita muda yang baru dikenalnya beberapa bulan. Miris bagaimana bisa seorang pria dengan mudahnya meninggalkan anak dan istri yang merupakan tanggung jawabnya dengan begitu mudah.
Tak ada pamit atau apa, pria itu pergi begitu saja dan menghilang tanpa jejak setelah menjual sebagian tanah warisan.
Sementara Alea yang saat itu masih berusia 6 tahun tidak dapat berbuat apa-apa. Dririnya hanya terdiam tanpa kata saat melihat sang ibu berdo’a sambil menangis pilu sehabis sholat. Memohon pada Allah untuk diberi ketegaran atas segala musibah yang menimpanya. Alea hanya terduduk disamping sang adiknya, balita itu sedang tertidur pulas setelah diberi asi sebelumnya.
Gelapnya malam, suara jangkrik yang bersahutan, lampu temaram, serta diamnya seorang gadis kecil menjadi saksi betapa pedihnya hati ibu muda itu.
.
.
.
.
“Nak, ibu harus ke ladang kamu tidak apa-apakan jika harus berangkat sekolah sendiri?.”
Tanya sang Ibu yang sudah siap dengan pakaian lusuh, topi dan seorang bayi dibelakang gendongannya yang diikat dengan jarik. Barang bawaannya cukup banyak dari belati, bekal, air mineral ukuran 1,5liter, dot susu, air hangat dalam termos, dan karung beras. Ya ibu Alea, Ranti memang hanya lulusan SD, tidak pandai merawat diri karena sibuk bekerja diladang mungkin ini juga salah satu faktor ibunya ditinggalkan.
Alea terdiam sejenak ketika melihat barang bawa’an sang ibu. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya diusia yang masih sangat dini itu tapi ia simpan sendiri karena sungkan hanya untuk sekedar bertanya kepada sang ibu. “Iya buk,”
Mendengar itu sang ibu tersenyum, mengelus surai sang putri lalu beranjak pergi menuju ke ladang yang jaraknya cukup jauh dengan berjalan kaki. Tersirat sebuah tatapan berarti dalam mata gadis itu ketika melihat sang ibu mulai berjalan menjauh.
Gadis itu kemudian masuk, mandi sekenanya, lalu segera memakai seragam sekolah yang bahkan masih lusuh karena tidak disetrika. Kaos kaki yang diikat dengan karet gelang, serta rambut yang tidak disisir. Pikirnya bocah itu dia sudah cukup rapi untuk bersekolah.
.
.
.
.
Dengan semangat ia berjalan masuk ke kelas dengan senyum terpatri. Tungkainya melangkah menuju tempat duduk disudut kelas, matanya mengedar melihat sekeliling untuk memperhatikan teman-temannya yang sedang sibuk mengobrol.
Berdiri dari duduknya ia berniat untuk sekedar menyapa temannya. Meski berakhir didiamkan, ia tetap ikut berkumpul disekeliling mereka dengan tersenyum.
“Ikut aku yuk,”
Seseorang tiba-tiba menggandeng tangannya. Alea menoleh dan mendapati seorang gadis berambut ikal tersenyum kearahnya, Alea tidak begitu mengenalnya karena gadis itu cukup jarang berada dikelas sebelum masuk. Dengan antusias ia mengangguk.
Keduanya berjalan menghampiri seorang penjual telur gulung. Alea hanya diam memperhatikan gadis yang tengah memesan itu. Sebenarnya ia cukup tergiur tapi ia menahan keinginannya karena ia hanya membawa uang saku Rp.2000 dimana uang seribu ia gunakan untuk membeli nasi uduk saat pulang. Dan seribu lagi untuk ditabungkan dicelengan ayamnya.
“Namaku Sintia. Kamu?”
“Alea.”
“Kamu nggak beli?.”
Alea menggeleng, “Uang aku nggak cukup.” Katanya.
Sesaat kemudian sang penjual memanggil Sintia karena telur gulungnya. Kemudia keduanya kembali berjalan menuju kelas. Alea sesekali meneguk ludah saat melihat betapa menggiurkannya telur gulung yang sedang disantap Sintia. Matanya tak berhenti memperhatikannya, membuat gadis berambut ikal itu sadar.
“Kamu mau?” tawar Sintia dibalas gelengan oleh Alea karena merasa sungkan. “Ambil aja nggak papa, aku beli tiga kamu satu aku dua.” Sintia menyodorkan makanan itu yang kemudian diterima Alea.
Jam pelajaran telah usai dengan segera Alea menuju kantin untuk membeli nasi uduk lalu kemudian pulang sambil membawa kantung kresekes berisi sebungkus nasi.
Langkah gadis itu terhenti sejenak ketika sampai dijalanan dekat kebun rambutan belakang rumahnya. Dapat ia lihat kulit buah rambutan yang sudah berwarna kuning kemerehan tersirat ide nakal untuk mengambil buah yang tangkainya sedikit menunduk karena buah yang tumbuh banyak disana, dengan segera ia mengambil setangakai dari sana.
Lagi-lagi dia berhenti lalu duduk ditepi jalan untuk memakan nasi uduk yang dibelinya. Pikirnya sang adik pasti sudah berada dirumah dengan sang ibu, jiwa seorang bocah lugu sudah pasti ada dalam dirinya. Tidak ingin berbagi karena dia sendiri hanya membeli nasi uduk sesekali saja.
.
.
.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tak terasa kini Alea telah tumbuh menjadi seorang remaja, asal kalian tahu saja dia telat satu tahun masuk SMP karena sempat tinggal kelas di kelas 4 SD. Tapi, ibunya tak marah sama sekali wanita itu justru berkata.
Nggak papa kalo gagal bisa coba lagi tahun depan, namanya hidup pasti ada saat-saat kegagalan.
Kata wanita itu sambil tersenyum teduh.
Kini sudah masuk tahun ketiga di sekolah menengah pertama, tak seperti ketika sekolah dasar yang tidak memiliki teman, kini Alea di kelilingi teman-teman yang baik. Serta menjadi remaja pintar dan rendah hati, selalu tersenyum pada siapapun yang ia temui. Setidaknya ini yang bisa Alea lakukan untuk sang ibu yaitu menjadi anak pintar yang dapat di banggakan.
Tungkainya melangkah memasuki perkarangan rumah, ketika sampai di ambang pintu dahinya mengerenyit ketika mendapati seseorang yang wajahnya sudah lama tidak ia temui sedang memangku sang adik sambil mengobrol dengan ibunya. Ada rasa benci yang begitu besar dalam diri gadis itu apalagi ketika sang ibu menyuruhnya untuk masuk dan salim kepada pria yang sedang tersenyum dengan mata berkaca menatap dirinya. Ayahnya.
“Nak, ayo salim sama bapak.” Titah sang ibu sambil tersenyum. Senyum getir lebih tepatnya.
Gadis itu berdecih, melempar tasnya lalu pergi begitu saja dengan seragam dan sepatu yang masih melekat di tubuhnya. Berlari begitu kencang meninggalkan sang ibu yang hendak menyusul. Tangisnya pecah saat berlari di tengah jalan. Seolah ikut bersedih langit yang sebelumnya cerah kini mendung dan menurunkan hujan yang begitu deras di ikuti petir. Alea bersyukur setidaknya air hujan bisa menghapus air matanya yang mengalir begitu deras dari sudut matanya. Meski tidak dengan rasa sakit di hatinya.
Seminggu sudah Alea tidak pulang ke rumah. Gadis itu lebih memilih tinggal bersama sang nenek, tak sudi melihat wajah pria yang pernah menyakiti hatinya dengan sang ibu. Rasa bencinya bertambah saat mendengar bahwa ayah ibunya hendak rujuk demi sang anak bungsu Laila yang hanya tau bahwa sang ayah pergi untuk bekerja.
“Lea pulang ya, ini ibu lakuin juga demi Lea sama adik.”
Bujuk rayu itu terus ibunya ucapkan. Cih demi apanya bahkan tanpa pria itupun mereka masih bisa hidup sampai sekarang. Dengan segera gadis itu m,embuang muka, enggan melihat wajah ibunya yang penuh keputus asa’an.
“Lea sayang sama ibukan?.” Seoalah menjadi sebuah kebiasaan sang ibu mengelus surai panjang sang putri. “Kalo sayang pulang ya.”
Perkataan ibunya membuat tangis Alea pecah lalu memeluk leher sang ibu erat, baginya sang ibu adalah satu-satunya orang yang ia sayangi di dunia ini. Posisi wanita itu selalu berada di puncak dalam hatinya. Tak ada siapapun yang bisa menggantikannya.
“Alea sayang ibu jangan bilang gitu. Alea sayang sama ibu.” Lirihnya sesenggukkan.
.
.
.
.
Alea kini sudah bekerja selulus SMK ia memutuskan untuk bekerja. Usianya sudah memasuki kepala dua. Lima tahun sudah ia tinggal bersama sang ayah. Namun untuk sekedar mengobrol ia masih enggan jikapun sang ayah bertanya ia akan menjawab singkat tanpa memandang pria paruh baya itu.
“Lea mau kerja.”
“Hmm.”
“Lembur.”
“Hmm.” Jawabnya singkat sambil terus menyantap makanannya.
Senyum pria paruh baya itu terukir. “Bapak jemput ya.”
“Nggak usah.” Jawabnya ketus kemudian berdiri meninggalkan meja makan.
Sesaat kemudian Ranti datang mengelus pundak sang suami. “Sabar ya. Alea anak baik dia hanya perlu waktu.” Katanya di balas anggukan sang suami.
Keduanya terdiam menatap punggung sang anak yang mulai hilang di balik pintu.
.
.
.
Rasa bersalah sebenarnya selalu hinggap dalam hati Alea setiap kali harus bersikap ketus kepada sang ayah tapi rasa sakit hatinya terlalu mendominasi. Baginya ini pantas untuk sang ayah dapatkan.
Udara malam itu begitu dingin sampai menusuk ke dalam kulit. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan. Dirasa aman wanita itu segera melangkah untuk menyebrang jalan.
Tapi baru sampai di tengah jalan sebuah motor melaju begitu kencang menabrak tubuh wanita itu sampai terpental kesisi jalan. Badan wanita itu bergetar dengan kepala yang terus mengucurkan darah. Air matanya mengalir bibirnya menyunggingkan senyum ketika mengingat kenangan masa kecilnya bersama sang ayah sebelum ayahnya pergi, kemudian sapaan dan setiap petuah yang selalu ayahnya berikan. Pria itu tak pernah bosan menasehati meskuipun Alea selalu bersikap acuh.
Diam bukan berarti tak mendengar, diam-diam gadis itu selalu mengikuti saran sang ayah. Mengintip ketika pria itu lembur di tengah malam hanya untuk membuat sebuah kerajinan yang harus Alea kumpul esoknya di sekolah. Mendengar doa sang ayah di tengah malam agar kedua putrinya selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan.
“Bapak…. Maafin… Alea.” Lirihnya sebelum menutup mata.
Gemericik hujan lagi-lagi turun, mengguyur jasad gadis itu serta menyiram darah pekat yang merembas di jalan itu. Sebelum warga berdatangan untuk melihat jasadnya.
Terimakasih udah mampir di cerita penulis amatir ini. Jangan lupa like dan komen ya, biar semangat nulisnya. Maaf kalo typo dan belom bisa dapet feel-nya, ~salam Author~