Sejak SMP, sudah bukan rahasia lagi kalau Nera menyukai Andrew. Gadis tajir melintir yang sejak lahir sudah punya saham Bintang Rajasa di tangannya itu memang selalu terang-terangan menyatakan perasaannya.
Dan tentu saja, pangeran SMP kita, Andrew Milano Putra jelas bukan target yang mudah diraih.
Sejatinya Andrew pemuda yang supel dan populer. Tapi untuk Nera, maaf saja. Andrew selalu mengabaikan gadis itu tiap kali Nera menyatakan perasaannya. Yang mengherankan, mental gadis itu sekeras baja. Ditolak cinta berkali-kali tidak juga membuat gadis itu jera.
Sebenarnya Nera bukannya tidak "laku". Malah gadis itu juga sering mendapat pernyataan cinta di SMP-nya dulu. Tapi Nera sudah bertekad, jodohnya hanyalah Andrew. Jika uang tidak bisa membuatnya memiliki pemuda tampan nan gagah itu, maka tekadnya yang akan menaklukkan hati si pemuda.
Kurang cinta apa Nera pada Andrew?
Bukti absolut nyata terpampang manakala Nera dengan tegas menolak keinginan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Nera tidak bisa dan tidak ingin berpisah dari Andrew. Gadis itu belajar mati-matian agar bisa diterima di SMA yang sama dengan Andrew. Hasilnya? Sesuai ekspektasi dari calon penerus perusahaan kilang minyak terbesar se-Asia, Nera mendapat predikat pemegang nilai tes tertinggi.
Namun bagi Nera bukan itu poin pentingnya. Akhirnya ia bisa satu SMA dengan Andrew!
"Andrew.." Nera mencari nama pemuda itu di daftar kelas. Sebagai pemegang nilai terbaik Nera punya hak khusus memilih kelas yang ia inginkan.
"Kelas 1-1."
.....
Siapa menyangka? Andrew juga menjadi bahan gosip gadis-gadis di kelasnya berkat ketampanannya. Sejatinya pemuda itu sudah terbiasa mengabaikan bisikan kagum dan memuja gadis-gadis itu. Lantaran dirinya memang sering menghadapi situasi demikian sejak TK.
"ANDREW!!"
Andrew menutup matanya dan menghela napas. Hanya suara ini satu-satunya hal yang Andrew tidak akan pernah terbiasa.
Nera masuk ke dalam kelas. Mengabaikan tatapan penuh kekaguman siswa laki-laki dan lirikan iri siswa perempuan, gadis itu dengan santai melenggang masuk dan berdiri di depan meja Andrew.
"Nera boleh duduk disini?" tanyanya manis.
Tapi tidak di mata Andrew. Pemuda itu bersedekap dan menatap gadis di depannya tajam. "Gue udah punya temen sebangku."
"Loh, siapa?" tanya Nera bingung. Sebab di samping kursi Andrew jelas-jelas kosong.
"Ada lah pokoknya. Lo duduk di tempat lain aja."
"Tapi ga ada orang disini. Dan ini bukan kursi punya Andrew. Jadi," Nera segera duduk dan meletakkan tasnya. "Nera boleh duduk disini."
"Gue ga mau." Andrew bangkit dan meraih ranselnya. Saat hendak mencari bangku yang masih kosong, wali kelas mereka datang dan mulai bersiap mengabsen.
Andrew terpaksa kembali duduk dan menghela napas. Ekor matanya melihat Nera yang tengah tersenyum bahagia mendapati dirinya tidak bisa berkutik sekarang. Andrew benar-benar kesal.
Menurutnya Nera itu anak yang manja dan tidak bisa diandalkan. Karena gadis itu terlahir kaya, tentulah dirinya hanya tahu cara menghamburkan uang.
Setelah wali kelas mereka, bu Hanna selesai mengabsen, diadakanlah pemungutan suara. Hasilnya, Andrew yang jadi ketua kelas, dan Nera sebagai wakil.
"Kok cuma 2 bu? Bendahara sama sekretarisnya gimana?"
"Loh, kalian kelas unggulan ini kan isinya cuma 18 orang, jadi ga bakal keteteran dong kalau yang ngurus berdua?"
"Iya bu, setuju!" seru Nera senang. Sebab dia akan sering berduaan dengan Andrew.
"Yah, tau gitu gue tadi juga mengajukan diri. Kan lumayan bisa deket sama Nera."
"Iya. Padahal udah ngincer posisi bendahara."
Andrew mendengar beberapa murid laki-laki yang menyayangkan keputusan wali kelas. Dalam hatinya dia justru merasa jadi yang paling tertekan. Bagaimana bisa dirinya akan berduaan dengan Nera 1 tahun penuh? Sudah duduk sebangku, kerja berdua pula. Tertiban kesialan bertumpuk.
Di SMA Cendana ini memang terkenal dengan sekolah yang menampung banyak murid tampan. Andrew salah satunya. Sehingga pamornya tidak begitu kentara layaknya saat SMP. Yang diwanti-wanti adalah eksistensi siswi tercantik. Dan harus diakui, Nera adalah kandidat terkuat di tahun pertamanya memasuki masa SMA.
Tapi tentu saja. Hati Nera dari awal hanya milik Andrew seorang.
.....
"Andrew!"
"Hm?" sahut Andrew malas. Bahkan saat ini rasanya jam pulang sekolahnya juga sudah dirampas oleh eksistensi Nera.
"Pulang sekolah belajar bareng, yuk."
'Paling cuma akal-akalannya doang biar bisa deket-deket sama gue. Ogah.' batin Andrew dongkol.
Nera masih menatap Andrew sambil harap-harap cemas dengan jawaban pemuda itu. Padahal menurutnya takdir sudah jelas sekali memberi banyak petunjuk kalau mereka akan bersama.
"Belajar masing-masing aja. Gue risih kalo-kalo lo panggil guru privat."
"H-hah?" Nera bingung. Guru privat apanya? Nera saja tidak pernah terpikir untuk pakai jasa guru privat sebab dirinya tidak pernah kesulitan belajar.
Selama ini nilai pas-pasannya hanya karena dirinya tidak terlalu peduli. Tapi sekali Nera bertekad, dia akan berusaha keras menggapai kemauannya dengan usaha sendiri. Sekarang ini Andrew terlihat seperti memandangnya dengan sebelah mata.
Biasanya Nera memang tidak terlalu mempermasalahkan Andrew yang sering mengabaikan dan mencampakkannya. Sebab yang selama ini ia lakukan hanyalah menyatakan perasaan dan sebisa mungkin berbuat baik pada orang yang ia suka.
Mungkin orang lain akan menganggapnya murahan. Tapi Nera tidak peduli. Yang paling tahu hatinya hanyalah Nera sendiri. Alih-alih diam seperti pengecut, Nera lebih suka mengutarakan perasaannya langsung. Kalaupun ditolak, setidaknya orang yang ia sukai sudah tahu kalau Nera menaruh rasa.
Tapi kali ini, Nera seolah tersadarkan dengan kejanggalan yang selama ini menghantuinya. Mengapa Andrew selalu menolaknya? Nera selama ini tidak menemukan jawaban.
Andrew hanya menolaknya langsung, Andrew tidak pernah menjelaskan alasan dirinya menolak Nera. Seolah ada penghalang yang membatasi mereka berdua untuk saling mengerti. Dan secara tidak langasng Nera sadar diri untuk tidak melewati batas itu dengan bertanya kenapa.
"Andrew."
Andrew menghentikan langkah kakinya. Menatap Nera malas.
"Selama ini, kau memandangku seperti apa?"
Andrew terpekur. Itu adalah kali kedua dirinya mendengar Nera tidak mengganti frasa 'aku' dengan namanya. Kali pertama adalah di pertemuan mereka dahulu. Sebelum Nera jatuh cinta pada pandangan pertama dan mulai berbicara manja.
"Apa dengan gue jawab, lo bakalan mau menghilang dari hidup gue?"
Kali ini Nera yang terpekur.
Jadi selama ini Andrew benar-benar membencinya, sampai ingin menyingkirkan Nera dari hidupnya? Tanpa sadar air mata turun tanpa permisi melewati kedua pipinya.
Melihat Nera yang menitikkan air mata dengan pandangan kecewa jujur membuat Andrew tidak enak hati. Bukan maksudnya berkata begitu. Ia hanya kepalang kesal hari ini.
Bagaimana bisa gadis itu memilih untuk satu sekolah dengannya, satu kelas dengannya, duduk dan jadi teman sebangkunya, dan mengajaknya pulang bersama? Semua terasa seperti sedang dibuat-buat.
"Lupain. Anggap aja Ne—aku ga pernah ngomong."
.....
"Hari ini Nera sakit."
Jawaban bu Hanna saat para siswa laki-laki menanyakan kehadiran Nera yang absen tiba-tiba mendapat desahan kecewa. Sebagian menatap Andrew dengan pandangan tidak bersahabat. Apa mau dikata? Rumor kisah cinta eksplisit Andrew-Nera memang sudah tersohor sampai ke telinga kaka kelas se-SMA Cendana.
Andrew hanya fokus pada buku pelajaran yang ia baca. Mengabaikan tatapan tajam yang terasa menghunus ke arahnya.
Bahkan saat jam istirahat, Andrew memilih menghabiskan waktu di perpustakaan. Menghindari tatapan menilai orang-orang pada dirinya. Bahkan beberapa perempuan juga terlihat terang-terangan berbisik membicarakan dirinya.
"Aneh banget. Nera kayaknya kesantet deh sama Andrew. Kemarin aja baru hari pertama dia masuk, udah ditembak kak Darren. Tapi ditolak dong."
"Kak Darren yang ganteng banget itu?"
"Iya. Gantengan kak Darren bukan, sih?"
"Lebih tajir kak Darren juga deh."
Seorang penjaga perpus menegur dua gadis itu, "Hei. Jangan berisik."
Andrew mau-tidak mau memikirkan, apa yang selama ini ia lakukan adalah hal yang salah.
Karena dirinyalah pangeran di SMP dulu, selama ini Andrew tidak pernah menyadari bahwa Nera adalah sosok perempuan impian yang diidam-idamkan para murid laki-laki.
Dulu Andrew berpikir Nera yang terlihat manja itu pastilah menggunakan kekuasaannya untuk membungkam seluruh murid perempuan yang menyukai Andrew. Karena itulah tidak ada satu-pun yang menyatakan cinta pada Andrew.
Belakangan Andrew sadar. Mungkin saja sebenarnya mereka minder, karena gadis sesempurna Nera saja Andrew tolak, apalagi mereka?
Andrew juga bukannya benar-benar buta. Ia tahu dan bisa merasakan ketulusan Nera dengan jelas. Tapi, hanya karena keegoisan Andrew yang merasa Nera si manja bukanlah gadis tipe idealnya menjadikan pemuda itu berkali-kali menolak Nera.
Sebenarnya selama ini Andrew juga sadar bahwa gadis itu tidak benar-benar manja. Hanya cara bicaranya pada Andrew saja yang begitu.
"Kau bodoh, Andrew."
.....
Hari ini Nera kembali masuk ke sekolah. Kendati patah hati, gadis itu juga sadar diri untuk tidak terlalu berlarut-larut memikirkan rasa sakit karena putus cinta. Lagipula ini bukan kali pertamanya. Walaupun kemarin adalah penolakan yang paling menyakitkan.
Nera masuk dan membalas sapaan teman-teman di kelas. Tapi saat maniknya menangkap eksistensi pribadi jangkung yang kini menatapnya canggung, Nera hanya berusaha memalingkan wajah dan duduk di kursinya.
Andrew ingin menyapa. Tapi nyalinya ciut. Sebab sadar diri selama 3 tahun Nera mengejarnya, dirinya memang sudah sangat keterlaluan dan egois tanpa ia sadari.
Barulah saat istirahat, Andrew segera mengutarakan niatnya sebelum Nera pergi menjauhinya. "Nera."
Deg.
Nera menghela napas. Mau disakiti berapakalipun, perasan itu masih sama. Nera tidak tahu kenapa bisa dirinya sebegitu mencintai pemuda egois seperti Andrew. Dirinya hanya tahu bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama oleh senyum manis Andrew saat kali pertama mereka bertegur sapa.
"Aku mau ngomong serius."
Nera terdiam kaget. Baru kali ini Andrew bicara padanya dengan nada memohon. Tapi Nera juga tidak siap kalau harus disakiti lagi oleh Andrew. Maka gadis itu ragu sebentar, untuk kemudian mengangguk karena akal sehatnya kalah dari cinta.
Maka disinilah Andrew dan Nera. Spot legendaris anak SMA, rooftop. Beruntung langit tidak sedang mendung apalagi terik-teriknya.
"Aku mau minta maaf."
"Minta maaf apa? Andrew ga salah apa-apa. Kan selama ini Ne—aku yang ganggu kamu."
"Nera, maafin aku. Aku baru sadar selama ini aku salah. Banyak salah sama kamu. Aku egois. Egois dan jahat banget. Aku jadi ngerasa ga pantas buat kamu."
"Jadi, kalo aku nembak kamu lagi, kamu akan tetap nolak?"
Andrew terdiam sejenak.
"Iya."
Nera kembali menitikkan air mata. Dirinya berbalik hendak meninggalkan rooftop. Namun langkah kakinya terhenti dengan kalimat Andrew selanjutnya,
"—Karena harusnya kali ini aku yang mau nembak kamu."
End.
Terimakasih yang sudah menyempatkan diri membaca. Silakan tinggalkan jejak berupa like dan comment 💕💕