"Bagaimana, Nit? Sudah selesai? Ditunggu sama pak ketua nih di ruang rapat segera..."
“Sedikit lagi nih, Fri. Aku harus memastikan bahwa si Rentario Ujaiu sama Wide Wilson kurang berbuat ulah...” Kata orang yang bernama Nita.
“Kamu kan ada anak buah, kenapa kamu gak gunakan mereka aja untuk selesaikan sisanya? Ini dah mepet loh waktunya.”
“Ini aku bikin garis besarnya dulu buat anak buah, Ri” Sergah Nita kini ia mempersiapkan beberapa garis besar untuk selanjutnya diserahkan kepada anak buahnya. “Hei kamu, Anto, kamu serahkan ini ke anak-anak ya? Aku tinggal kertasnya di dinding.” Kini ia menggunakan telepon kantor untuk menghubungi orang yang berada di seberang sana yang bernama Anton.
“Nah gitu dong. Yuk buruan ke ruang rapat segera. Pak ketua nunggu nih.” Kini mereka bergegas berjalan menuju ruang rapat yang kemudian dimana sepeninggalan mereka berdua, seseorang mendatangi meja kerja Nita dan kemudian ia berkata, “Kerjaan lagi nih. Tapi ya sudahlah. Namanya juga kerjaan.” Kemudian ia mengambil tumpukkan kertas kerjaan tersebut untuk diserahkan kepada anak-anak.
***
“Tadi masih baik banget ya pak Ketua memberikan izin supaya kita bisa masuk. Coba kalau tidak, habislah sudah kita…”
“Makanya usahakan untuk tepat waktu dong, Nit.” Tanpa sadar kini mereka memutuskan untuk berpisah jalan dikarenakan jalan menuju tempat tinggal Nita maupun temannya tersebut.
Sepanjang perjalanan Nita duduk menunggu didalam bus sembari menunggu berhenti sampai tujuan, ia melihat seorang pemuda yang memikat mata Nita. Nita dimabuk asmara meskipun ia sedikit menolak meyakini, namun tanpa sadar ia justru berusaha untuk mendekati pria yang memikat perhatiannya.
Tampak ia sedikit bingung, namun setelah berusaha sambil melakukan sedikit observasi, dengan berani dan modal nekat ia mendatangi pemuda tersebut dan berkata, “Lihat apa sih? Seru banget deh…”
***
“Sibuk banget nih keknya? Notif hape sampe bunyi terus, padahal sedang makan nih…” Nita yang saat itu sedang menyantap makanan terkejut ketika temannya mengambil hape yang ia letakkan di dekat piring dengan cepat tanpa bisa dicegah oleh Nita yang sedang makan.
“Eh jangan Fri, itu…”
“Yang bener nih? Wah… Bisa traktiran nih…”
“Traktir apaan? Traktir minum es teh 12 biji sampe kembung, gitu maksudnya Frid?”
“Lagian pacaran gak bilang-bilang. Selamat ya...” Sontak temannya yang bernama Frida ngeloyor pergi ke salah satu tempat makan sementara Nita masih makan secara perlahan namun pasti sambil dijaga dengan sangat baik.
“Eh, aku cuma mau bilang nih…” Frida kembali lalu membisikkan sesuatu kepada Nita “Hati-hati ya sama mereka. Kan mereka gak suka tuh…”
“Ok deh…”
***
“Karena kamu kedapatan telah membuka jenis pekerjaanmu kepada orang lain, yang kamu anggap dimana pihak yang kamu buka sebagai kekasih, ditambah dengan kelalaianmu dengan membuka rahasia pekerjaan sesuai dengan adanya unsur pelanggaran dalam perjanjian pekerjaan yang telah disepakati bersama pada pasal 62, maka dengan ini saya menyatakan bahwa Yunita Permadi dijatuhi hukuman untuk menjalani masa muda...” Sisanya tidak didengarkan oleh Nita karena ia masih terkejut parah karena ia tidak pernah menyangka bahwa perbuatannya selama ini justru berujung pada keadaannya saat ini. Setelah palu diketuk, muncul petugas untuk membawa Nita hingga ia sampai di balik jeruji besi untuk diproses ke tempat selanjutnya.
Ketika ia merenungi nasibnya sehari semalam hingga kurang tidur, muncullah penjaga dengan membawa rantai yang terlihat sedikit berwarna merah terang, setelah dikalungkan di lehernya, ia tidak bisa berkata-kata dikarenakan panasnya rantai yang mengalungi lehernya, namun ia masih berusaha untuk menjelaskan sesuatu dengan cara mencoret di dinding dengan tinta warna merah yang ternyata adalah darah yang ia dapatkan pada tangannya dengan cara merobek kulitnya sendiri hingga mengeluarkan darah, setelah itu ia menulis dalam keadaan diseret bahwa ia tidak bersalah dan juga ia memiliki hak untuk membela, namun sayangnya tulisan tersebut hanya menjadi tulisan.
“Nit…”
“Nita…”
“Hah? Apa? Apa? Siapa?” Dengan keadaan sedikit lunglai setelah mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan, ia berusaha memahami atas apa yang tengah terjadi selama ini.
“Syukurlah semua itu hanyalah mimpi…”
“Sudah bangun nih, Nit? Atau masih ngigo? Yuk buruan ke sekolah. Ntar keburu ketinggalan lagi.”
“Ya maaf…”
“Lagian kamu tidur dah kek kebo aja dah. Yuk buruan.”
“Turun duluan aja deh, aku masih beres-beres sekalian cek lagi nih Yuna…” Kini sekonyong-konyong Yuna meninggalkan Nita yang masih berusaha memahami. Saat ia berjalan menuju sebuah lemari dengan kaca besar, ia tertegun melihat kalung pada lehernya. Ketika ia membuka kalung tersebut, ia melihat sebuah guratan luka yang ada di lehernya terlihat begitu nyata juga dengan luka yang ada pada bagian lengan baik sebelah kiri dan kanan. Ia sedikit kuatir apabila ketahuan, sehingga ia memutuskan untuk memasang kembali kalung tersebut, menutupi luka yang ada pada lehernya.
Tamat.