"PAPA..." Teriakan yang menggentarkan jiwa dari seorang Nona muda bernama Azalia terdengar ke semua telinga orang yang berkumpul bersamanya
Teriakan trauma yang begitu menyakitkan melihat sang ayah mati tertembak di hadapan mata nya sendiri di hari ulang tahun nya yang ke 23 tahun.
"Az...zalia..." Sang ayah jatuh di hadapan nya tanpa memikirkan gaun putih cantik yang sedang dia pakai Azalia langsung memangku ayah nya walaupun baju nya di penuhi dengan darah.
"Papa..." Azalia merintih menangis sambil memeluk ayah nya
"Azalia...bukan kah papa selalu bilang kau tidak boleh...menangis, kau harus menjadi perempuan yang kuat...jika kau benar benar sudah tidak sanggup lagi... setidaknya kau harus kuat menunggu hujan nak...saat hujan datang kau boleh menangis karna air hujan akan menutupi air mata mu, Azalia...jadilah Putri papa yang ku-at... happy... birthday..." Tangan sang ayah yang menyentuh wajah putri tercinta nya itu terjatuh tergeletak begitu saja di tanah
"Tidak ! Tidak ! TIDAK ! PAPA...." Teriak Azalia yang langsung mengigit bibir nya sekuat tenaga
Hari pemakaman :
"Nona Azalia" Seorang bawahan ayah Azalia datang menghampiri Azalia
"Almero cepat kau selidiki siapa yang sudah menembak ayah kemarin, aku yakin di saat pesta ulang tahun ku kemarin pasti ada seorang mata mata aku terlalu lalai. Jika kau menemukan orang nya bawa dia hidup hidup kehadapan ku kalau perlu dengan keluarga nya sekalian" Jelas Azalia yang berubah 180 derajat setelah kematian sang ayah
"Ada apa dengan keluarga dia Nona Azalia ?" tanya Almero yang masih bingung dengan jalan pikiran Nona nya tersebut
"Aku ingin menguliti dia hidup hidup di depan mata keluarga nya sendiri ! Aku ingin dia dan keluarganya merasakan sakitnya seseorang mati di depan mata kepala sendiri, Almero kau sudah lama ikut ayah seharusnya kau tau wanita itu pergi meninggalkan aku dengan ayah demi selingkuhan nya sendiri aku sedari kecil tinggal dengan ayah di keluarga militer dan dia orang satu satunya yang ku punya sekarang aku hanya sebatang kara aku ingin keluarga yang membunuh ayah ku merasakan apa yang ku rasakan" Jelas Azalia yang masih menatap makam ayahnya
"Saya mengerti nona Azalia" Ucap nya sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Azalia
"Pergilah tinggalkan aku sendiri, aku masih ingin bersama ayah" Sahut Azalia
"Baik nona saya permisi" Almero meninggalkan Azalia sendirian di makam sang jendral
Di saat Azalia duduk tersungkur di makam sang ayah hujan tiba tiba datang dengan rintik yang tenang lalu semakin deras membasahi tubuh Azalia, Azalia masih tidak bisa menerima kepergian sang ayah dia menangis di balik hujan yang begitu deras.
"Hiks...PAPA....AKH...Papa....hiks....hiks" orang terpenting bagi Azalia dan satu satunya orang yang selama ini menyayangi Azalia kini pergi untuk selamanya.
Selama masa penyelidikan Azalia selalu di jaga ketat oleh orang orang penting termasuk Almero yang 24 jam berada di sisi Azalia, hingga suatu saat Azalia di pertemukan dengan si pembunuh ayah nya di pinggiran kota.
"Buk" Mereka saling bertabrakan satu sama lain, pengawasan Azalia yang sedang melonggar menjadi sasaran empuk bagi si pembunuh untuk menangkap Azalia. Karena pembunuh itu mengenali siapa sebenarnya Azalia.
"Kau..." Pembunuh itu tersenyum licik kepada Azalia
"DOR" satu tembakan dari Azalia melayang tetap sasaran di kaki kanan si pembunuh ayah nya
"Hey !" Ucap Azalia sambil mengeluarkan tatapan tajam nya "Apakah hanya seperti ini saja orang yang membunuh ayah ku ? Kau ternyata lebih lemah dari pada seekor kelinci" "DOR" satu tembakan lagi melayang di kaki kiri si pembunuh tersebut
"AAA" Teriak nya menahan rasa sakit dan darah yang dari tadi mengalir di tengah salju
Azalia sengaja memperlonggar pengawasan terhadap dirinya karna dia tau pembunuh ayah nya tidak akan keluar jika ada orang orang di sekitar Azalia, bahkan Azalia meminta bantuan pemerintah kota untuk mengosongkan kota sementara waktu.
"Wahhh lihat lah ini kau sendiri tersungkur di jalan yang dingin ini, apakah kaki mu sakit Albert..." ucap Azalia yang ternyata tau siapa nama pembunuh tersebut
"Kau...Hahaha Azalia aku sudah meremehkan mu ku kira kau hanya gadis polos yang bersembunyi di bawah jubah ayah mu" Sahut nya dengan tawa licik
"Hahaha terlalu awal untuk mu tertawa adik tiri ku tersayang mari kita lihat siapa yang akan tertawa sampai akhir, Almero perintah kan orang mu untuk membawanya ke lapangan tembak yang sudah kita sediakan" Balas Azalia dengan kelicikan nya melebihi Albert
"Apa maksud perkataan mu kau mau bawa aku kemana perempuan licik ?" Ucap Albert yang bingung dengan keadaan nya dan mulai merasa panik
Semua orang tau selama beberapa bulan setelah kematian sang Jendral putri nya Azalia sudah berubah menjadi perempuan berdarah dingin yang tidak mudah untuk di dekati dan sekarang dia bahkan menemukan siapa pembunuh dari ayah nya yang ternyata adalah saudara tirinya sendiri.
Azalia membawa Albert kesebuah lapangan tembak tempat dia berlatih, di sana sudah ada 2 saudara kandung dari Albert dan ibu kandung Azalia sendiri yang di ikat di sebuah kursi.
"Jadikan dia sasaran penembakan ku" Perintah Azalia
"Baik nona" Sahut bawahannya yang langsung menjadikan Albert sebagai sasaran
"TIDAK ! Azalia apa yang akan kau lakukan kepada Albert ?" Tanya sang ibu yang berkeringat dingin melihat anaknya Albert menjadi sasaran penembakan
"Lihatlah Albert...apa kau pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi dan menghampiri diri mu ?" Tanya Azalia dengan wajah tanpa maaf nya yang langsung menembak tangan kiri Albert
"AKHHHHH IBUU" Teriak Albert dengan sangat keras
"Ah...sayang sekali meleset padahal aku ingin mengenai jantung mu" Sahut Azalia yang kembali memasukan peluru kedalam tembakan nya
"Azalia...Aku mohon aku mohon jangan tembak dia...tembak aku saja, Ya...aku mohon jangan sakiti dia Azalia" Rintih sang ibu yang dari tadi sudah merasakan kesakitan melihat Albert
"Kau tau awal nya aku ingin menguliti dia hidup hidup tetapi aku sedang malas melakukan nya, dan untuk apa kau memohon kepada ku ibu ? Apakah kau pernah memandang ayah ku yang waktu itu kau tinggalkan, seluruh harta kekayaan ayah ku kau bawa dengan selingkuhan mu kurang baik apa lagi ayah ku ? Tapi lihat, LIHAT PUTRA MU SUDAH MEMBUNUH AYAH KU" jelas Azalia yang meneriakkan kekesalan nya
"Aku mohon maafkan aku ! aku benar benar di kendalikan oleh ketamakan pada saat itu Azalia...Azalia aku juga masih ibu mu..." Rintih nya dengan rasa ketakutan saat melihat Azalia
"Ibu...iya ibu...benar aku tidak memiliki ibu seperti mu di kehidupan ini heh, kau lihat lah 2 putra mu yang duduk di sana mulut mereka tertutup telinga mereka juga tertutup dan mata mereka juga kami tutup !!! Kau tau apa yang akan terjadi ? demi terhapusnya semua balas dendam agar tidak terjadi apa pun di masa yang akan datang aku sudah menghabisi keluarga mu termasuk diri mu kau juga akan mati setelah anak anak mu itu, Ouhh aku juga belum memberi tahu mu tentang satu hal anak mu yang bernama Albert itu bersekongkol dengan negara musuh untuk membunuh ayah ku dia telah menjadi pengkhianat negara ini menjadi mata mata untuk negara musuh dan satu satunya hukuman bagi pengkhianat di negara kita adalah hukuman mati beserta seluruh keluarga nya" Jelas Azalia yang langsung memerintahkan anak buah nya untuk menembak mati kedua adik tirinya itu dengan isyarat tangan dari Azalia.
"ADIK......." Teriak Albert saat melihat kedua adik nya mati di hadapan matanya
"Heng ... teriakan yang bagus sekali Albert" Ucap Azalia sambil bertepuk tangan dan berjalan mendekati Albert
"Di sini akulah yang berkhianat kepada negara untuk membunuh ayah mu kenapa kau malah menghabisi kedua adik ku ?" tanya Albert dengan geram
"Apa kau tidak pernah belajar ? di negara kita seorang pengkhianat harus di jatuhi hukuman mati bersama seluruh keluarga nya termasuk adik, ayah, ibu, dan keluarga mu yang lain nya. Lihat lah ini foto terakhir semua keluarga mu yang sudah kami hukum mati beberapa Minggu lalu hahaha" tawa Azalia penuh dengan kelicikan
"AZALIA....JIKA ADA KEHIDUPAN BERIKUT NYA AKU AKAN MEMBUNUH MU" Teriak Albert dengan penuh kebencian
"Ouhh aku menunggu mu adik ku sayang, tapi sebelum itu lihat lah kearah ibu mu..." Azalia menunjukan jari nya di saat yang bertepatan pula ibunya di tembak mati oleh bawahan Azalia
"Ibu...IBU....." Teriak Albert kembali sampai sampai pita suaranya hampir putus karna merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan
"Al..Bert..." Sang ibu tertunduk di kursi dan perlahan meninggal karna satu tembakan yang tepat menancap di jantung nya
"Azalia....apa kau senang ?" tanya Albert dengan air mata nya yang sudah mengalir membasahi pipi
"Kalian semua tinggal kan saya sendirian" Perintah Azalia.
Mereka pun meninggalkan Azalia sendirian bersama dengan Albert yang sudah tidak memiliki tenaga dan sudah mulai kehabisan darah karna 3 tembakan yang di berikan Azalia
"Hari ini adalah hari Kamis tanggal 7 sama seperti waktu itu kau menembak mati ayah ku pada hari Kamis tanggal 7 aku memilih waktu yang begitu spesial untuk kematian mu dan pada hari itu juga hujan turun dengan deras seperti nya hari ini pun sama hujan akan turun dengan deras lagi biarkan langit membersihkan bumi yang telah ternodai oleh darah kalian" Jelas Azalia
"Aza...." "DOR" Satu tembakan jarak dekat tepat mengenai jantung Albert dan seketika pula hujan turun membasahi seluruh badan Azalia
"Aku tidak suka nama ku di panggil oleh pengkhianat negara seperti mu, ayah ku adalah Jendral yang paling berjasa dan mencintai negara nya dengan sepenuh hati tetapi dengan mudahnya kau berkhianat aku tidak masalah ibu sudah meninggalkan kami waktu itu tetapi kenapa...kenapa harus kau yang berkhianat membantu negara musuh padahal kemarin di hari ulang tahun ku, aku dan ayah ingin menjemput ibu dan kalian para saudara tiri ku. Karena aku tau kalian selalu di sakiti oleh ayah kalian sendiri, dia laki laki pemabuk yang suka berjudi dan bermain perempuan dan sekarang lihatlah betapa baik nya ayah ku yang ingin merawat anak orang lain padahal istrinya sudah menyakiti nya, tapi kau malah membunuh nya Albert...Hiksss kenapa kau tidak mencari Kaka mu ini...Albert ...Hiksss ...Aaaa...kau ingin tau jawaban ku bukan !!! AKU TIDAK SENANG AAKKHHH..." Teriak Azalia.
Azalia perlahan mendekati ibu nya yang tergeletak di kursi yang masih di ikat dengan erat dan melepaskan ikatan dari tubuh ibu nya, Azalia mendekap sang ibu yang jatuh tersungkur sama seperti sang ayah.
"Ibu....Aaaaaa Ibu ..." Teriak Azalia di tengah hujan yang begitu deras mengigit kedua bibirnya sampai terluka dan bergemetar dengan hebat.
Kini diri Azalia di penuhi dengan darah saudara dan ibunya, Azalia memangku semua saudaranya mengumpulkan mereka bersama dengan rapi.
"Almero apa kau menangis ?" ucap laki laki tua di balik pintu kaca yang gelap melihat betapa menderitanya Azalia yang sedang meratapi keluarga nya
"Maafkan saya tuan Romeo, saya sudah lama mengikuti Jendral dan sedikit banyaknya saya tau cerita kehidupan mereka, Nona Azalia waktu itu dia masih seorang anak perempuan yang berumur 5 tahun Jenderal mengalami kemiskinan karena istri beliau merampas semua harta nya bahkan mereka hanya memakan makanan sisa yang hampir basi tetapi Jenderal masih berbaik hati kemarin sebelum kematian nya beliau berniat melindungi istrinya kembali bersama anak tirinya karena dia tau mereka sedang berada di dalam masalah yang besar tapi anak tiri beliau malah berkhianat dengan negara musuh dan.... dan...." Almero tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya dia mengigit bibir nya dengan kuat dan menggeretakan gigi nya
"Yaa aku tau Almero dan sekarang dia harus menghukum mati semua keluarganya bahkan kedua adik tirinya yang tidak berdosa itu, karna begitulah hukum di negara kita Almero seorang pengkhianat harus di basmi sampai ke akar nya walaupun dia kerabat kita sendiri...dan ini ujian untuk Azalia dari kami semua para atasan tertinggi, Karena sebentar lagi kami akan melantik Azalia sebagai pimpinan militer paling tinggi di negara ini jabatan nya bahkan lebih tinggi dari pada kami bukan karena dia anak jenderal tetapi dia memang pantas dan mampu mendapatkan gelar tersebut" Jelas tuan Romeo yang langsung berbalik meninggalkan Almero
"Jendral anak mu sudah menjadi perempuan tangguh seperti yang kau inginkan dia bahkan tidak pernah memperlihatkan air matanya kepada kami semua, dia selalu bersabar untuk menunggu datang nya hujan agar dia bisa menangis sepuasnya dan itu pun dia selalu sendirian berdiri di tengah hujan badai. Nona Azalia selamat aku bangga memiliki Nona seperti mu" Ucap Almero dalam hati nya yang masih memandangi Azalia yang memeluk ibu dan saudara saudara nya.