Di bawah rintikan hujan, aku berjalan sendirian menantang diri untuk melewatinya.
Tak peduli bagaimana orang-orang memandang, aku terus melangkah sambil memikirkan kata-kata yang Shilo ucapkan beberapa hari lalu.
Sejak kejadian itu, aku menjadi tidak fokus dan merasa hilang semangat.
Oh tidak! Aku terjebak dalam cinta.
Dari arah kejauhan, aku melihat seseorang berlari ke arahku.
“Kau! Apa yang terjadi padamu? Kalau kau sakit bagaimana?! Hah?!” Ucap Shilo memegang kedua bahuku.
Aku menepisnya dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Dalam hati aku berjanji bahwa ini adalah hari terakhir untuk menikmati sakitnya sebuah luka yang tak terlihat. Karena esoknya, aku sudah harus berubah dan melupakan semua.
Shilo berkali-kali meneriaki namaku. Namun, meliriknya pun aku tidak ingin.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya aku kembali menjadi diriku yang dulu. Ceria dan banyak bicara. Respon teman-temanku juga sangat baik.
Hanya saja, Shilo yang merasa terganggu mencoba mengajakku bicara.
Tapi aku?
Sudah jelas mengabaikannya.
Hingga pada saat aku bergegas keluar menuju kantin, tiba-tiba Shilo menghalangi jalanku.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau mengabaikanku?” Ucap Shilo dengan nada yang agak tinggi.
“Mengabaikan? Heh, apa hakmu mengatakannya padaku? Siapa kau? Teman?” Jawabku menyeringai.
Tidak ingin larut dalam emosi, aku langsung pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
Sedangkan ia?
Diam membatu sambil menatapku dengan penuh tanda tanya.
Selesai.