Hi namaku Nalendra Putra Baskara.
Aku adalah mahasiswa baru di Universitas Raden Mas Soewardji, Jogjakarta.
Lusa adalah hari pertamaku ke kampus setelah pembelajaran online karena pandemi yang sangat panjang(2 tahun kira-kira).
"Pukul 08.45"
Ucapku sambil melihat jam tangan.
Aku sekarang berada di Stasiun Blitar. Hehehe, iya aku anak Blitar, yang tinggalnya lumayan dekat dengan daerah pesisir. Ah sudahlah, aku harus memesan tiket dahulu.
Yes! Keretanya datang dan berangkat 1 jam lagi. So! Karena aku belum sarapan, jadi aku membeli beberapa makanan.
Roti dan kopi pas lah ya.
Oh! sudah waktunya!
"Nomor 16-A" Aku melihat kesana-kemari, mencari bangku yang sudah tertera di tiket ku.
Setelah ku temukan, aku segera menaruh barangku di atas dan duduk dengan tenang sambil memutar lagu.
Ya, tanpa musik hidupku rasanya hampa.
Dalam perjalanan teman-teman ku sudah memesankan kos untukku disana.
"Nal, Lo utang sama gue ya!" Ucap Aurora, gadis asal jakarta.
"Hm.. Iya iya, nanti kalau aku udah sampai"
"Jangan iya iya mulu atuh Nal" Kamala bersuara.
"Lalu gimana? Enggak gitu?"
"Haduh, ko ini bagaimana si Nal?Ko serius tidak? Kalau tidak Sa takkan pesan kan ini!" Ucap Reo, temanku yang berketurunan Indonesia Timur itu.
"Pesan kan saja, Aku kasihan tengok muka Nalen tu."
"Astaghfirullah, padahal mukaku tidak bersalah kenapa di bawa-bawa sekalian sih?" Sahutku pada Agam, anak rantau asal Sumatra.
Tak terasa waktu sudah berlalu 1 jam. Kami mengakhiri Video Call karena batrai ku sudah mulai habis.
Hoaam! Aduh aku mengantuk..
Mataku mulai tertutup karena berat sekali.
Pukul 13.00 aku terbangun, kulihat hpku yang masih mengecas.
Di depanku ada seorang remaja gadis, seumuran ku kira-kira.
Dan di sampingku ada seorang Bapak-Bapak yang kekar.
"Masnya mau kemana?" Ucap Bapak-Bapak itu.
"Ke Jogja Pak, kuliah di sana. Bapak sendiri?" Tanyaku dengan ramah. Bapak itu menjawab, "Wah, kamu bisa jaga anak saya ini dong? Universitas RMS?" Dengan suara berat.
"Iya Pak"
"Pa! Nggak usah ih, lagian jurusannya kan beda! Lagian kosnya gmn?"
"Kosannya sudah dipilih kakakmu, Eh iya masnya jurusan apa?"
"Seni gitu pak"
"Nah! Tu satu jurusan. Nanti papa tinggal beberapa hari di rumah kerabat." Ucapnya pada mbak-mbak di depanku yang merupakan putrinya.
Setelah kenalan, ternyata dia Saira. Teman sekelasku yang berasal dari Malang.
Ayahnya bilang padaku untuk menemaninya agar dia tidak terlalu manja. Ya karena sekelas, kurasa tidak apa-apa.
Toh, dia nanti bisa berkenalan dengan Aurora dan Kamala.
(Sampai di kosan, Jogja pukul 18.30)
Capek.. itulah yang kurasakan, tiba di kamar. Reo dan Agam melihatku dengan tatapan yang.. ee..
"Wow,ko bawa pacar ya Nal?"
"Bukan, dia itu Saira. Teman sekelas kita"
"Bah mantul itu, kenalkan kawan kau ini ya Nal?" Agam merangkulku.
"Jangan, Sa saja Nal. Sa lebih manis daripada Agam"
"Mau kenalan?" Mereka mengangguk-angguk, "Kenalan saja sono sendiri" lalu ku masuk ke dalam kamar kos yang hanya bisa di isi 3 orang itu.
"Bah, cam mana kau ini? Kau tak mau bantu kawan kau ini? Yang sudah carikan kau kosan?" Ucap Agam dengan muka lesu dan duduk di kasur.
"Iya Nal, Agam betul tu. Ko kenalkan Sa saja pun tidak masalah." Reo melipat tangannya dan berdiri di pintu.
"Bah enak kali kau yo"
-----------
Jogjakarta pukul 04.53
Beuh, Sejuk-sejuk dingin..
Untung aja Agam memilih tempat yang dekat dengan area peribadahan.
Seperti kosan kami yang tak terlalu jauh dari masjid dan gereja.
Benar,ada yang non-muslim di antara kami. Yaitu Reo dan Aurora.
Agam sudah bagun terlebih dahulu, aku sangat terkejut. Sekuat apa matanya bisa menahan kantuk? Apa dia sudah sering lembur tugas? Atau malahan bergadang?
Aku, Agam, Kamala dan Saira segera pergi ke masjid.
Sepulangnya, Kamala bertanya padaku "Nal, kamu teh disuruh buat jagain Saira?"
"Ya, gitu deh"
"Ooh pantes"
"Kenapa?"Tanyaku
" Dia tadi ngalindur wae.. Nyebut-nyebut 'Nal.. jagain saya yaa' gitu"
"Eh enggak ya!" Ucap Seira yang menyusul dari belakang.
-----
Matahari mulai meninggi, saatnya untuk ku dan teman-teman pergi ke kampus.
"Ternyata besar sekali, ya." Ucap Reo sambil melihat kesana kemari, "Alamak, kau ini benar juga" Agam merangkulnya dan juga ikut menatap kesana kemari.
"Yaelah, lo berdua kayak orang ilang aja, baru liat kampus-- Eh iya gede juga ya?"
Kami pun masuk dan memulai hari pertama ke kampus.
Lalu..
Waktu mulai berjalan.
Kini, beberapa bulan sudah berlalu.
"Ah, rasanya aku kangen sama inang.."
"Hah? Inang?" Tanya Aurora sembari menyeruput kuah bakso yang terasa sangat pedas itu.
"Iyo, inang.. Panggilan untuk Ibu"
"Owalah, nyokap lo gitu?"
"Itu teh kalau di Sunda namanya Ambu" Seketika itu aku terkejut dengan kata-kata Kamala.
Karena kata "Ambu" dalam bahasa Jawa itu bau(misal ambune amis = Baunya amis)
Jadi sontak saja aku berkata padanya "Loh, bukannya Ambu itu bau bauan ya?" Dan semua langsung melihat ku.
"Memangnya di daerah lo disebut apa Nal?"
"Ya, ibuk atau emak kalau yang paling jarang kayaknya..." Aku berpikir sekeras yang kubisa.
Aku tau.. Namun karena aku orang pelupa ya jadi begitu.
"..biyung?" Ucapku dengan nada ragu.
"Pfft.. Hahahahahahahah!!!"
"Nal nal, kau itu ya.. cuma kata “Biyung” aja kau mengingat sampai begitu susahnya? Ahahahahha" Agam menertawai ku dengan keras sampai tersedak bakso.
"Kalau makan itu yang bener dong,Gam!" Saira memberinya Air minum.
"Wedaw, yang baru pendekatan ini kenapa harus bermesraan didepan Sa? ko tau sa ini takkan bisa tahan lah.. Apa lagi Nalen, pasti dia sudah mode sadboy itu"
"Ish, siapa juga yang kayak gitu,Yo"
Keesokannya, di kampus terdapat papan pengumuman nilai siswa.
Dimana nilai ku ternyata ikut yang terendah dan golongan nilai yang terendah dapat di keluarkan dari kampus dengan predikat ”Mahasiswa tingkat 1”
Melihat itu, hatiku rasanya remuk.
Karena impianku adalah untuk mencapai ”Mahasiswa Tingkat 4” dimana itu tingkat tertinggi, dan mahasiswa yang dapat tingkat itu dapat bekerja atau meneruskan belajar di luar negeri.
Aku ingin menyusul kakak ku di Jepang, ia sudah di sana sejak 3 tahun yang lalu.
Aku sangat rindu padanya. Karena kondisi rumah tidak layak lagi untuk kusebut “Rumah”
Namun, karena nilai ku yang buruk aku di sarankan ikut kelas remidi.
Tapi kelas remidi itu artinya aku harus berpisah dengan temanku dan mengulang pelajaran lagi dan kelas itu di mulai minggu ini, sedangkan bila aku tidak ikut kelas itu bisa saja beberapa bulan lagi aku akan di keluarkan.
Berhari-hari aku berpikir dan berpaling dari teman-teman ku.
Dan kurasa hanya Saira dan Reo lah yang menyemangatiku. Mereka bilang "Tak apa kok Nal, ko nanti kan masih bisa bertemu dengan sa. Jadi, tak apa ko ambil kelas itu"
"Iya, dari pada kamu harus di keluarkan"
Sedangkan Agam, Aurora dan Kamala memberiku sebuah pernyataan yang membuat ku bingung sendiri.
Mereka bilang "Turuti hatimu saja"
"Ya, tinggal lo mau gimana?"
"Saya teh sama kaya Aurora"
Aku terdiam, sekarang aku berada di kantor kepala Universitas bersama beberapa mahasiswa lainnya.
Terdapat dua kertas kosong bertuliskan “Anak Kelas Remidi” dan “Mahasiswa Tingkat 1”
Kurasa setelah mempertimbangkan semuanya, aku memilih...
“Mahasiswa Tingkat 1”
Sendiri.
Ya, diantara barisan nama “Anak Kelas Remidi” tidak ku sertakan namaku.
Aku tidak ingin mengulang, walau itu akan lebih baik namun aku benar-benar tidak ingin.
Semua orang di ruangan menatapku, seakan-akan berkata "Apa kau serius?"
"Mengapa kau memilih itu?"
"Sungguh? Apa kau yakin?"
Sampai pak Kepala Universitas berkata, "Nak, kamu .."
"Nggak papa kok pak, saya memang mau saja" Ucapku secara tidak sadar memotong perkataannya.
Aku pun pamit, dan keluar dari kantor.
Menuju tempat dimana teman-teman biasa kumpul, Kantin.
Aku tidak yakin apakah aku mengatakannya, karena wajah mereka sangat bahagia.
Seperti berkata kepadaku, "Tidak apa jika kau mengulang, kami akan setia menunggu"
"Kau memilih Kelas Remidi kan? Waah Hebat"
"Nah aku benarkan? dia memilih kelas Remidi"
Aku terduduk lemas, lidahku terasa kelu untuk mengatakannya.
Apalagi ditambah rasa tidak enak karena mereka sudah mentraktirku.
"Hey! Nalen!!! Wah kawan baik aku ini kenapa murung,hah? Sini kami akan traktir kau, karena kau akan ikut kelas remidi"
Mendengar Agam, nafsu makan ku hilang seketika.
Aku segera pergi dan berkata, "Nggak ya, makasih. Aku nggak ikut kelas remidi itu" Dengan suara ku yang gemetaran. Aku segera pergi ke kamar mandi dan meninggalkan teman-temanku yang kelihatan linglung dan kecewa padaku.
Di kamar mandi, tepat di depan cermin.
Entah, kenapa air mata ku keluar begitu saja.
Aku melihat pantulan ku seolah-olah aku sedang melihat seekor keledai dengan kaki yang pincang, seperti seseorang yang sangat bodoh dan mengecewakan serta sangat tidak berguna.
Dan ku akui, aku memang membenci diriku saat itu.
Mulai dari hari itu, aku berhenti bersama mereka.
Berhenti ke kantin bareng, kelompok bersama, dan sebagainya.
Sampai di hari aku harus pergi dari Universitas.
Hari dimana mungkin hari itulah yang menyebabkan aku ada di sini saat ini.
Hari itu, di gelar upacara.
Aku naik ke atas panggung dan di luluskan sebagai Mahasiswa tingkat 1 oleh Universitas.
Tak kusangka, teman-temanku menyiapkan hadiah yang tak bisa kulupa hingga sekarang.
Yakni sebuah Kalung dengan liontin berbentuk pulau Jawa, yang merupakan kalung persahabatan.
Dimana Agam mendapatkan pulau Sumatera;Aurora Kalimantan, karena ayahnya berasal dari Kalimantan;Kamala mendapat bagian berupa Nusa Tenggara, sebab ia bermimpi bisa kesana suatu hari nanti;Reo mendapat pulau Papua;Saira mendapat pulau Sulawesi, lantaran dia asli orang sana dan pindah ke Malang.
Setelah itu mereka menyalami ku, dan ternyata...
Ibuku, menjemput.
Ibuku sudah tau jika aku sudah lulus dari Universitas dengan predikat yang tidak memuaskan.
Aku juga sudah tau dia marah, karena kulihat dari matanya ada banyak rasa kekecewaan.
Tapi..
"Ayo, kita akan ke bandara. Kakakmu meminta mu untuk menyusulnya disana."
Kau tau bagaimana perasaan ku? Bahagia!!
Di mobil, terlihat juga Ayah. Yang benar-benar cuek tentang kelulusan ku.
Oh, tapi aku tidak masalah.
Yang penting mereka tidak bertengkar, itu saja sudah membuatku nyaman.
Malam hari, aku berangkat ke Jepang.
Aku berpamitan pada Ibu & Ayah.
Walau Ayah terlihat sama sekali tidak peduli.
Di perjalanan, emosiku campur aduk.
Di sisi lain, aku senang karena bertemu kakak yang sudah lamaaaaaaaaa tidak pulang.
tapi di sisi lain lagi, aku..
Gelisah dan cemas akan keadaan orang tuaku, belum lagi wajah teman-temanku yang seperti tidak rela membiarkan ku pergi.
Dan setibanya aku di sana, kakak..
Kakak ku, Mahendra Candra Putra.
Dia tetap sama, tidak berubah. Seperti 3 tahun yang lalu ia berangkat.
"Nggak kangen?" Ucapnya sambil mengukir senyuman.
Aku segera berlari memeluknya.
Ku menangis.
Terharu, karena kudapat bersamanya.
Dan ternyata dia sudah beristri sekarang.
Untung saja, aku sempat belajar bahasa Jepang bersamanya.
Dan kini, aku tinggal di Jepang.
Sedang mengurus dua keponakan ku yang amat imut tiada tara.
Bernama Kuhiro dan Michiko.
Anak kembar, karena kakak sedang bekerja dan kakak ipar sedang mengurus Ibunya.
Kabar teman-temanku? Entahlah, tapi aku yakin mereka sudah meraih mimpi-mimpi mereka.
Sekian.
Okayama, Jepang.
00/00/0000
-----
"Nal,kamu punya tamu" ~Mahendra
"Berita hari ini,telah di tangkap seorang pembunuh bayaran di daerah Osaka." (Berita televisi)
"Meong"~