Kuceritakan sedikit pertemuanku dengannya, dia yang sedari menit lalu bersamaku. Aku terus memandangnya, dan dia tidak (memandangku).
Aku memandangnya tentu karena parasnya yang menawan, berdosa bila tidak menghargai sesuatu yang patut dihargai. Di sisi lain aku bingung, kenapa dia tidak melakukannya juga terhadapku (memandangku).
Tapi, yang terpenting wanita ini adalah kekasihku. Meski, kubingung lagi kenapa dia mau. Namanya Intari, masih kuliah, umur 22 tahun, dan sudah punya pacar, yaitu aku. Bila kugambarkan dirinya hanya akan menyita beberapa waktu, karena ada hal-hal detail yang mesti kusampaikan mengingat dia adalah seorang yang spesial, jadi semua hal istimewa itu akan kusimpulkan menjadi sedikit kata: cantik.
Sementara itu, namaku Zato Mahesa. Teman-teman kampus biasa memanggilku Atom. Tidak jelek, sama halnya aku turut mengabadikan salah satu temuan Einstein di dalam memori orang-orang.
Sekarang, kami berada di sebuah kafe dengan pertunjukan musik yang sedang berlangsung. Dia, Intari, tersenyum ke arah penyanyinya karena suaranya merdu. Menurutnya bagus. Tapi ada yang lebih bagus dari pertunjukan itu. Adalah dia maksudku, makanya kupandang.
Supaya tidak terlalu jauh rasa penasaranmu, akan kuceritakan sekarang, tentang aku sebagai laki-laki sederhana atau bisa dibilang biasa saja, mengalami hal yang kusebut keberuntungan.
🍂🍂
Waktu itu, aku sengaja mencuri perhatiannya.
Di atas panggung auditorium kampus. “Intari!” panggilku dengan mikrofon setelah sehari sebelumnya mencari tahu namanya, juga selaku ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Aku sedang bertugas memimpin pelaksanaan ospek untuk mahasiswa-mahasiswi baru jurusan Seni.
Dia, waktu itu yang kupanggil, langsung menuju ke atas panggung. Teman-temannya yang lain diam tak berkata, hanya duduk dan termangu di bawah panggung. Sedangkan, teman-temanku yang juga panitia malah bingung kenapa aku memanggilnya setelah sebelumnya melakukan sambutan. Siapa peduli!
“Ada apa, kak?” tanyanya pelan, mungkin takut dihukum.
Jadi, kurealisasikan saja yang mungkin menjadi perasaannya itu, “Kamu dihukum!”
“Ada yang salah dari saya, kak?” tanyanya kembali, sambil memeriksa penampilannya yang seharusnya sudah lengkap dengan atribut ospek yang kuperintahkan di hari sebelumnya.
“Ya, salahmu adalah kamu dihukum!” Aku pura-pura bersikap tegas agar yang lainnya tidak curiga, dan menganggap hal yang kulakukan wajar.
“Maksudnya, apa yang dia perbuat sampai kamu menghukumnya?” sergah temanku yang berada di sudut panggung dan masuk akal.
Melihat reaksi temanku itu, membuatku berpikir untuk kembali memperjelas ke semuanya, “Baiklah, saya sampaikan dengan tegas hadirin, bahwa mahasiswi ini melakukan kesalahan yang teramat fatal. Mungkin kalian tidak bisa melihat kesalahannya, tapi percayalah aku bisa. Bila kuceritakan di sini, hanya akan menjadi aib baginya!”
Kulihat peserta ospek lainnya dan teman-teman panitiaku memperdengarkan decak dan reaksi kebingungan, tentang ucapanku yang tidak penting itu. Dengan suara yang lebih lantang kulanjutkan, “Jadi, anak ini harus berada dalam pengawasanku dan penangananku. Untuk yang lainnya dan selanjutnya kuserahkan pada panitia yang merasa panitia di sini!”
Microfonnya kuberikan kepada temanku yang di belakang, sambil kukedipkan mata sebagai isyarat akan maksud yang lain dariku. Setelahnya, kuarahkan langsung dia yang hanya menunduk menuju ke luar gedung auditorium. Jujur, kenapa aku sampai sejauh itu? Secara tidak sadar membuatnya ketakutan.
🍂🍂
“Sudah, kamu aman di sini,” kataku untuknya yang sedang menangis.
“Maksudnya?” tanyanya lirih.
“Maaf, tadi bukan maksudku begitu, kamu tidak ada salah apa-apa,” kataku lagi, sedikit kikuk karena telah membuatnya menangis.
Meski aku senior dan pemimpin, aku tidaklah kejam dengan junior. Sementara, teman-temanku sebaliknya. Karena waktu itu adalah hari pertamanya ospek, mungkin dia belum tahu mengenai bagian tidak warasnya perihal kegiatan ospek tersebut.
“Lalu, maksudnya kakak membawaku ke sini?”
“Tidak ada.”
Bila kusampaikan sejujurnya, aku takut dia akan berprasangka yang tidak-tidak. Bagaimana jika dirinya tidak senang, seandainya aku yang dikenalnya asing mengkhawatirkan keselamatannya ketika dikerjai teman-temanku.
“Kalau begitu, aku masuk lagi, kak, ya?” ucapnya yang terlihat tergesa-gesa, dan mungkin marah dengan alasanku yang tidak pasti. “Aku takut, jika terus berdiam di sini, aku tidak akan lulus ospek.”
Aku mengerti kekhawatirannya, tapi aku lebih mengkhawatirkannya. “Intari, meski aku ketua HMJ atau yang dikatakan mempelopori kegiatan ospek, sebenarnya aku adalah orang yang paling menolak bila hal semacam itu terlaksana.”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau, kamu hanya akan menjadi media balas dendam dari seniormu, yaitu teman-temanku.”
“Kenapa?”
“Kenapa, apa??” tanyaku bingung, dengannya yang terus menanyakan 'kenapa'.
“Kenapa hanya aku?” tanyanya balik, yang mendadak membuatku berpikir lebih keras tentang jawabannya.
“Kalau boleh jujur, begini alasannya…”
🍂🍂
Besok paginya, aku mencurinya kembali untuk keluar dari kerumunan peserta ospek dengan alasan hukuman yang masih berlanjut. Hal itu kulakukan agar tidak ada yang mencurigai, mudah-mudahan.
Jangan kamu tanya, kenapa aku melakukannya lagi di kala itu. Aku belum tahu pasti.
“Tidak usah khawatir, seperti yang sudah kusampaikan kemarin,” kataku pelan, sembari melepaskan kalung name tag dan topi kertasnya, untuk kemudian menaruhnya di meja yang berada diantara tempat duduk kami. “Tanpa ini, kamu bebas.”
“Bebas?”
“Bebas dari yang membelenggu aura jujurmu,” ucapku kembali dengan percaya diri.
Kamu tahu, waktu itu dia tersenyum untuk kedua kalinya. Satu dari beribu kenangan yang berharga, dan secara tidak langsung menjelaskan dirinya mulai terbiasa dengan tingkahku yang bisa kusebut konyol.
“Aura apa yang kumiliki?” tanyanya kembali.
“Kamu cantik.” Percayalah, aku tidak merestui sepenuhnya ucapan itu.
Selanjutnya, aku tidak tahu lagi akan menyambungnya dengan kata atau kalimat apa. Bisa kuhitung gerakan kepalaku waktu itu: ke kiri, ke kanan, ke atas, setengah ke kiri, setengah ke kanan atas. Jantungku ingin meledak. Namun, ada yang salah dengannya, dia tidak bergeming, sehingga kuberanikan diri menatap matanya yang mengarah tajam.
“Sesuai perkiraanku,” katanya yang menurutku mengintimidasi, dan tidak masuk akal. Maksudku, seharusnya dia salah tingkah atau memperlihatkan reaksi sejenisnya setelah kulafalkan kata semacam itu. “Alasan kemarin hanya modus!”
“Ma-maksudmu?” tanyaku gugup.
“Aku sudah punya pacar.”
Kulihat dari atas langit, benda bulat menyala menuju ke arahku, semakin mendekat semakin membesar, dan tanpa memberikan celah ia menghantamku dengan beringas. Puing-puing tubuhku berhamburan menembus cakrawala, menyebar, berlalu, dan lenyap. Itu yang kurasakan, di kantin saat itu duduk bersamanya.
“Haha…” itu aku pura-pura ketawa. “Jangan salah paham, aku tidak menyukaimu, aku menolongmu hanya karena kasihan, dan kemarin itu adalah kiasannya, ha ha… Dari data profilmu yang sempat kubaca sebelum ospek, menjelaskan akan adanya riwayat penyakit asma, tentu tidak baik bila kamu diikutsertakan dalam kegiatan yang sangat beresiko. Mengenai perkataanku barusan, sungguh hanya ingin menghiburmu dan menenangkanmu dari masalah yang kubuat.”
“Oh…” celetuknya singkat. Maksudku, meragukan.
Aku memang pernah mendata biodata mahasiswa-mahasiswi baru, tapi hanya biodata Intari yang kuperhatikan lebih, sampai kuhafalkan dan kujadikan lirik lagu setiap di kamar mandi.
Intari namamuuu… perempuan jenis kelaminmuuu… cantik wajahmuuu…
Seandainya, dia tidak pernah ada di planet ini. Seandainya, dia tidak menghadirkan sosoknya itu di hari pendaftaran mahasiswa-mahasiswi baru. Tidak akan terjadi hal gila padaku, setengah gila padaku. Tidak akan pernah muncul imajinasi terkutuk, yang sempat membuatku mengira, kami berada dalam sebuah sinetron, yang berjudul: takdirku, takdirmu, takdir kita.
“Itu, minumannya kenapa diremas, kak?” lanjutnya yang tidak pakai permisi.
Tanpa sadar kaleng soda di tangan kananku juga ikut tersakiti, kucekik keras sampai isinya perlahan keluar. Nyesss! begitu bunyinya. Mungkin, karena ketegangan yang berlebihan. “Aku baru ingat, aku benci minuman ini!”
Kulihat senyumnya kembali muncul. Tapi, apa untungnya bagiku setelah ia menghadiahkan pukulan telak? Yang ada dipikiranku hanya: dia sudah punya pacar, dia sudah ada yang memiliki, sedangkan aku apa? Butiran debu, yang sebentar lagi hilang tak berbekas.
“Aku pergi dulu. Kamu jangan kembali ke auditorium. Tenang saja, tidak ada yang berani menyentuhmu.” Aku merasa harus pergi waktu itu, setelah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, setelah dihampiri fakta yang mengecewakan.
Dia menjawabnya dengan mengangguk, lalu ditambahnya lagi dengan berkata, “Kak, jangan terlalu cepat menyimpulkan.”
“Maksudnya?” tanyaku sedikit datar untuk kata-katanya yang kurang kumengerti.
“Menyimpulkan, semua perkataanku benar.”
🍂🍂
“Kalau boleh jujur, begini alasannya... Kamu itu seperti lotus merah muda, ada putihnya sedikit, diantara bunga-bunga yang sudah terkontaminasi. Kamu berbeda, rentan, dan sayang, sayang bila tidak kujaga.”
🍂🍂
Semenjak kejadian nahas di kantin, aku merasa tidak pantas menemuinya lagi. Hanya akan membuatnya terganggu, manakala kutahu dirinya telah dimiliki orang lain. Di satu sisi, ternyata ada perasaan asing yang menentangku, takut bila terjadi apa-apa dengannya.
Di kala kegiatan ospek berakhir, aku masih belum berani menemuinya. Ada perasaan malu meski bercampur rindu. Kepalaku tak pernah berhenti menayangkan wajahnya, meskipun sudah berupaya menjaga jarak.
Aku yakin, wanita itu pasti sejenis mutan (makhluk jadi-jadian). Kemampuannya adalah mempengaruhi pikiran dan menelusupkan bayangan dirinya secara permanen.
Namun, tanpa kusadari, dia ternyata mencariku. Kuketahui setelah beberapa hari kegiatan perkuliahan berlangsung, dari cerita teman-temanku tentang dia yang menanyakan keberadaanku. Jujur, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak ospek selesai. Jujur, aku jarang ada di kelas. Jujur, aku tidak suka ditanya kenapa.
Hingga suatu ketika, malah dipertemukan lagi dengan tidak terencanakan.
“Hei!” sapa seorang gadis ke arahku di depan minimarket waktu itu, malam hari.
Aku spontan membalas juga dengan, “Hei… siapa di sana?” Meski belum kukenal betul wajahnya karena gelap. Pura-pura akrab saja.
“Aku Intari, kak.”
Betapa terkejutnya ketika telingaku mendengar kata ‘terlarang’ itu: Intari, serta beberapa detik kemudian seseorang di depanku itu memperjelasnya untuk kedua mataku.
“Ka-kamu, apa kabar?” Itu suaraku yang mencoba santai. Entah bagaimana nasib snack di tanganku yang kuarahkan ke belakang pinggang.
“Baik. Kakak gimana? Kenapa tidak pernah kelihatan?”
“Ba-baik juga,” jawabku datar dan gugup. “Kamu kenapa, ya? Maksudku… kamu ngapain?”
“Ini, habis beli minuman dan sekarang masih nungguin yang di dalam.” Maksudnya, masih ada seseorang di dalam minimarket yang ditunggunya.
“Oh… Siapa? Pacar, ya?” Gugup lagi. Kenapa juga mulutku melontarkan kata-kata mematikan itu?!
Dia hanya membalasku dengan ketawa.
“Kenapa ketawa?”
“Lucu.”
“Heee…” seringaiku, yang mengerti bahwa lucunya itu mungkin karena melihat tingkahku aneh.
“Sudah kubilang, jangan mudah menyimpulkan.” Dia melanjutkan dengan kalimat yang masih tidak kumengerti.
“Maksudmu?”
“Waktu itu aku bohong, sebenarnya sampai sekarang aku belum punya pacar,” ucapnya santai, namun seketika menghangatkan suasana yang sebenarnya dingin. “Aku hanya memastikan, kukira kakak menyukaiku, ternyata tidak.”
Seperti sesuatu yang berupa cakra, nampak mengaliri seluruh tubuhku. “Seandainya, aku menyukaimu?”
Kuperhatikan, mulutnya seakan menahan kata, sampai akhirnya seorang wanita yang keluar dari minimarket mengajaknya pulang, tanpa sempat meninggalkan jawaban untukku.
Apakah itu artinya… aku dibuatnya penasaran? Namun, yang paling kuingat saat itu adalah kembali memasuki minimarket untuk mengganti yang barusan kurusak.
🍂🍂
Paginya.
Kondisi tubuhku mengalami kemunduran, kantung mataku menghitam, wajahku pucat, dan tubuhku memanas. Hanya satu yang masih semangat, bibirku yang tidak berhenti membentuk garis lengkung. Hasil dari kerja kerasku, berpetualang di negeri imajinasi 8 jam non stop. Cerita dimana ada aku dan dia dalam sebuah ikatan: sepasang tak terpisahkan.
Dalam situsi seperti itu, semestinya aku tidak kuliah, meski sebenarnya jarang kuliah. Karena suatu alasan, jadi kulawan. Alasan bahwa, kabar dia yang pernah mencariku untuk beberapa hari belakangan, dikalikan dengan pernyataannya yang belum punya pacar, memperoleh persamaaan ‘mungkin dia menyukaiku’.
Tanpa terlalu menghiraukan hal buruk yang mungkin terjadi, aku melesat ke kampus, berboncengkan segenap harapan. Tapi, sebelumnya sudah mandi.
🍂🍂
Kebetulan atau bisa jadi takdir, langsung saja kulihat dia sesampainya di kampus.
“Selamat pagi? Kamu Intari?” tanyaku padanya yang sebelumnya jauh di sana, dengan basa-basi yang kuyakin basi.
Untuk kesekian kalinya dia tersenyum, ada manis-manisnya. “Pagi.”
Kupikir saat itulah waktunya, mengutarakan apa yang menjadi sebenarnya dariku tentangnya. Setelah kusadari, ternyata aku tidak seberani itu. Sehingga, tidak salahnya mengawalinya dengan sedikit awalan. “Ka-kamu masih ingat yang kemarin?”
Bukan jawaban yang kuterima, melainkan potongan visual bergerak yang menceritakan tangan kanannya perlahan menempel pada keningku. “Kakak sakit? Badan kakak panas.”
“Oh, ini… ya, sedikit tidak enak badan. Tapi sudah minum obat, aman,” jawabku seadanya dan grogi dengan perlakuaannya.
“Mending istirahat saja, jangan dipaksakan,” sarannya. “Tadi, kakak bilang apa?”
Kukira dia mendengarnya, ternyata lebih berfokus ke wajahku yang pucat. Setidaknya, ada yang khawatir denganku.
“Tidak jadi”
“Kenapa gitu?”
“Aku ingin balas dendam.”
“Balas dendam apa?”
“Balas dendam, untuk membuatmu penasaran.”
Setelah itu, tidak lagi keluar kata-kata. Apa mungkin, dia masih mencerna kalimatku yang terakhir. 30 detik, 1 menit, 1,2 menit kami habiskan hanya untuk diam, kadang mata kita bertemu untuk beberapa detik. Tidak ada yang berani mengakhiri, tidak ada yang mau mendahului jujur, egois dan takut seolah masih menyelubungi. Kurasa dia sudah mengerti. Atau, aku yang tidak mengerti.
“Maaf, bila itu mengganggumu. Aku hanya bercanda,” kataku berusaha mencairkan suasana.
Tidak masalah. Senyumnya saja sudah cukup bagiku di kala itu, meski tidak terjelaskan dengan kata-kata.
🍂🍂
Aku bingung dan tidak tahan. Bingung, sebenarnya bagaimana perasaannya kepadaku. Tidak tahan, ingin secepatnya menyampaikan bahwa dari awal mengenalnya aku sudah suka. Sementara nyatanya aku terlalu lemah, jika mesti berhadapan dengan masalahku yang pertama: bingung.
Jadi, kulakukan dengan cara tidak waras. Maksudku tidak biasa.
Sepulang kuliah kutunggu berjam-jam di parkiran kampus, sampai beberapa kali diusir satpam karena dianggap mencurigakan. Itu kulakukan karena berkaitan dengan yang kuberikan nanti. Itu kulakukan karena menurutku tidak biasa. Dengan segala cobaan dan hinaan selama menunggu, kulihat batang hidungnya akhirnya muncul.
“Kenapa di sini?” tanyanya.
“Aku ingin menyampaikan pesan. Tapi, tidak berani.”
“Kenapa? Untukku?”
“Bi-biar kertas ini saja yang menyampaikan,” kataku lagi, sambil menyodorkan secarik kertas yang sebelumnya dari saku jaketku.
“Kenapa tidak lewat handphone saja?”
“Terlalu mudah.”
“Jadi, ini cukup sulit untukmu?” tanyanya lagi, yang kemudian tersenyum setelah kuanggukkan kepala sebagai jawaban. “Boleh, kubuka sekarang?”
“Nanti, untuk di rumah.”
“Kenapa gitu?”
“Hanya mengantisipasi, terjadinya patah dan sakit.”
“Ada-ada saja,” katanya, sambil ketawa kecil. “Ada lagi yang lain?”
“Ada…” jawabku spontan. “Hati-hati pulangnya.”
Kamu harus tahu, waktu itu bila kugambarkan adalah senyum termanis dari yang pernah kulihat dan hati terdamai dari yang pernah kurasakan.
Tentang aku yang memilih parkiran, merupakan tempat yang paling bagus untuk menantinya ketika akan pulang. Sehingga, tidak ada waktu lagi baginya untuk membaca suratku selain di rumah, setidaknya jangan di kampus. Malu bro!
🍂🍂
Di suatu pagi berikutnya. Di kala sang fajar menampak. Di saat angin pun turut menuntun. Aku berjalan, melangkahkan kaki perlahan namun pasti. Pasti akan tujuan, pasti untuk tidak mesti terburu-buru, pasti mengenai pijakan terakhir yang tidak mengecewakan.
Dia tersenyum, aku juga begitu. Tapi, ada yang berbeda saat itu, senyumnya telah terlengkapi kata-kata. Yang tidak lagi menyisakan arti ambigu. Yang akan memastikan semuanya.
“Terimakasih untuk salamnya, dan kamu, kamu yang telah mendengar hatiku,” kata termanis darinya, waktu itu, di lampu merah.
Menungguku untuk menyeberang bersama, menyeberangkan angan ke terminal nyata.
🍂🍂
Pesan singkat:
Aku ingin menyampaikan salam.
Bukan untukmu.
Untuk hatimu.
Karena pernah suatu ketika, ia juga berbisik salam untukku. “Aku sayang,” katanya.
Jadi, melalui ini kubisikkan balasannya, “Aku juga.”
(Di tempat, 2018)