“Harus aku??” tanyaku ke teman, perempuan pun. Ku rada enggan turuti sesuatu.
Dia pula terpaksa rasanya, menyuruhku. Lemah pandangnya, lebih kepada: buatku agar mau saja.
“Ke siapa lagi kumintai tolong, coba? Kamu ketua kelas,” balasnya. “Nggak usah minder! Dia cuma IPA, cuma pintar, cuma ganteng…”
“Kok, muji dia!!?” Ah, makin minder jadinya!
🍂🍂
Tak lama, kudatangi juga. Lagi baca buku dirinya, pria itu, yang serta-merta bikinku sungkan.
“Eee… Mmm… Hei?” Duh, aku gugup.
Ia diam saja, menolehku pun tidak. Duduk di tangga kelas, sendiri, tangga yang kan bawa ke kelasnya (lantai dua).
“Bisa bicara, sebentar?” pintaku kembali.
Kini ia bangun, tutupi bukunya, menatapku. Lalu mendekat, tiada ekspresi. “Saya tak merasa punya urusan dengan kelas Bahasa,” katanya, agak kaku kudengar, namun bagus.
Anak guru, rangking 1 umum, dan… gantenglah. Makanya, aku sungkan begini. Mungkin, itu karenanya.
Kutenangi hati saja, sembari kubayang: Aku ketua kelas! Kelas XI Bahasa! Hore!
Seusai… kubalas dia yang mandangi terus. “Mmm… gimana, ya, kasi tahu? Eee… bawah sepatumu adaaa…”
Eh, belum rampung jawabku, ia tarik tanganku tergesa. Hingga, jumpai tempat lebih sepi. Aku bingung saja, tentu.
Nampak panik wajahnya, macam takut. “Apa??!” tanyanya kemudian.
“Apa, apa?” tanyaku balik, sungguh tak kupahami.
“Sepatu saya ada apa?!”
Ooh… itu nyatanya, kukira apa? Bisa sampai gawat begitu?
“Ada…” Mau coba kujelasi, eh…
“Ada taii??!” potongnya.
Serta-merta aku tertawa. Tak mungkin aku tak tertawa. Namun, tiba kupandang lagi wajahnya, maka serius di sana.
“Kamu permainkan saya?!” ketusnya.
“Nggak,” jawabku sembari coba pendam tawa.
“Terus ada apa?!” ketusnya lagi.
Kuatur napas, kuupaya sungguh-sungguh. Paling tidak, tak macam main-main di matanya.
“Eee… ada uang temanku nempel di situ.” Kutunjuk sepatunya sungkan-sungkan. “Tadi… kamu injak pas lewat.”
🍂🍂