Hujan, padahal aku harus cepat-cepat pulang untuk membantu mama memasak makan malam. Mungkin aku bisa tunggu sebentar.
Aku menatapi langit sore yang menggelap, tertutup oleh awan hitam. Niatnya jika tidak segera selesai, aku akan mencoba untuk menerobosnya.
"Oya, tadi belanjaannya ga kurang, kan?" Aku mengecek isi tas belanjaan ku untuk memastikan.
Tanpa sengaja, sorot mataku tertuju pada seorang lelaki yang sedang berdiri, meneduh di bawah tenda parkiran sepeda. Aku kenal orang itu. Dia adalah kakak ketua OSIS yang aku suka. Aku terus menatapnya, sambil berpikir.
Apakah aku harus kesana, atau tidak.. aaah aku deg degan!!
Aku memilih untuk berteduh bersamanya, sambil menunggu hujan reda. Membayangkan kami sedang berbicara santai sambil tertawa-tawa. Hehe, aku benar-benar malu..!
Hujannya sudah tidak begitu deras. Aku menoleh kanan kiri, tidak ada kendaraan yang lewat. Aku pun berjalan menerobos hujan.
"Kak Alvin-"
#DEG
Baru saja aku mengambil 1 langkah, belum sempat memanggil namanya. Aku di kejutkan dengan suatu pemandangan. Kak Alvino, sedang berduaan dengan sahabatku, Adriya. Mereka terlihat sedang tertawa bersama.
Bagaimana mungkin, saat kak Alvino di dekatku, dia tidak pernah sekalipun memperlihatkan senyumnya padaku..?
Aku mematung melihat mereka berdua. Perasaan cemburu ini begitu menyayat hati. Sahabatku, dengan orang yang aku suka.. .
Aku tidak bisa menahan air mataku terlalu lama. Aku menangis di bawah derasnya hujan, membiarkan diriku terguyur olehnya. Terguyur oleh kesedihan, kecemburuan hati. Menatapi mereka berduaan. Entah mengapa badanku susah untuk di gerakkan, aku lemas.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari belakang ku. Dia menutupi mataku, yang berhasil menghalangi penglihatan ku tentang mereka. Dia memanggil namaku dengan sangat lembut.
"Yeseul.."
Suara nge-bass ini.. aku tahu, aku tahu siapa dia. Dia sahabat terbaikku, Hideyoshi. Aku menggenggam erat telapak tangannya yang besar, yang sedang menghalangi penglihatan ku. Aku menangis terisak isak. Dia mengusap-usap kepalaku, berusaha menenangkan ku.
"Hideyoshi.. hiks, hiks.. hwaaaaa" Aku memeluknya, membiarkan dia menjadi sandaran ku. Dingin, ini dingin. Dan, sangat menyayat hati.. .
"S-sudah lah.. apa kau masih mau di sini..?" Dia menepuk-nepuk punggung ku.
Aku menggeleng. Dia menggiring ku, menemaniku berjalan menuju jalan rumah.
Hideyoshi, terimakasih.. aku tidak tau bagaimana jadinya jika tidak ada kau.. .
-SELESAI-
Catatan penulis:
Terimakasih sudah membaca, dan.. maaf bila kurang menarik.