Hujan
Meskipun kita jauh engkau akan selalu di hatiku
Rintik hujan membawa melodi yang indah
Tanpa bicara hujan mampu menafsirkan semua
Untuk rasa maupun prasangka
✨✨✨✨
Hujan malam membasahi bumi. Sesuatu yang lembut dan hangat menjalar ke seluruh badan gue. Geli itu yang sekarang gue rasain.
"Woy Rey jangan duduk di badan gue kali," kata gue sambil mengelus-elus tubuhnya.
"Gila si Rey berani-beraninya nyentuh tubuh Annie," teriak Brayen dari luar.
"Weh, Bray Lu kapan datengnya?" Tanpa denger apa yang gue ucapin Brayen dengan mudah ngambil Rey.
"Berani-beraninya Lu nyari kesempatan dalam kesempurnaan," jawabnya buat gue ngakak.
"Woy, siniin Rey, astaga dragon. Lu masuk rumah dengan pakaian basah? Lu gila yah? Pel sekarang nanti ada yang jatoh". Baru aja gue bilang eh ada satu tumbal.
Gue ngeliat Mia sudah mencium lantai marmer yang keras. "Woy, siapa yang naro air sembarangan?" Saat Mia ngelihat Brayen dia mulai marah "Wah gila si Bray, sini Lu! mau gue sleding?"
"Udah, udaaah mending kalian pada mandi. Bray jangan lupa dipel supaya gak ada tumbal," sahut gue mengambil Rey.
"Yoi," sahutnya meninggalkan ruang tamu.
Mia mandangin gue dengan tatapan iba. "Lu kenapa Mi?" tanya gue penasaran.
"Ehh, Lu ada kabar belum dari Chris? Gue udah gedeg sama dia". Gue duduk di samping Mia dan memeluknya.
"Gue belum ada kabar dari Chris, gue gak mau egois untuk saat ini, gue juga ngerti Chris sekarang pasti sibuk banget".
"Iyah juga sih, eh gimana kalau kita samperin aja si Chris? Mumpung sekarang masih libur. Untung-untung temu kangen sama dia," sahut Mia buat gue senyum sumringah.
"Ide bagus tuh, gue juga mau ketemu sahabat gue," sahut Brayen buat gue dan Mia kaget.
"Woy, Lu muncul dari mana sih? Lu mandi apa kok cepet banget?" Tanya Mia penuh curiga.
"Paling mandi bebek," sahut gue sambil tertawa.
"Wih saudariku emang selalu benar," jawabnya sambil duduk di depan TV.
Satu minggu berlalu. Kami sudah menyiapkan rencana untuk pergi ke rumahnya Chris. Dalam perjalanan kami bercerita tentang bagaimana kehidupan di kampus. Yah, itu semua gue lakuin karena kita beda kelas. Gue ngambil kelas kuliner, Mia ngambil sosial, dan Brayen ngambil kelas Arsitektur.
"Eh, kayaknya mau ada badai. Liat langitnya," ujar Mia buat gue yang dari tadi sibuk main hp melihat langit.
"Eh Iyah, gawat kalau kita belum dapet kamar. Ada hotel gak di sekitar sini? atau gak penginapan gitu," Jawab gue sambil merapikan tas.
"Kayaknya di sekitar sini ada hotel. Nah itu dia," sahut Bray sambil nunjuk hotel.
Bener aja tak beberapa lama hujan petir mulai menyebar kemarahan di bumi. "Untung kita cepet-cepet nyari tempat kalau gak bisa bahaya," ucap Mia.
Petir dan kilat mulai menyambar. Hujan yang tak mau kalah bertambah deras. Awan-awan hitam mulai mengumpul. Terlihat samar-samar pusaran angin terbentuk.
Saat gue mengalihkan pandangan gue kaget karena Brayen udah ada tepat di depan gue. "Hahaha liat ekspresi si Annie ngakak banget". Brayen ketawa ngakak. Karena gue bener-bener kesel gue tampol badannya.
Siang berganti malam. Badai yang mengamuk kini sudah redah. Gue lihat Mia yang masih tertidur.
"Weh gila, jalan yang mau kita lewati terkena longsor. Kalau nyari jalan yang lain kayaknya gak bisa deh," kata Bray.
"Lu dapet info dari siapa?" tanya gue penasaran.
"Dari temen gue. Tadi dia lewat jalan itu tapi harus puter balik karena longsor. Dia juga nyari jalan tikus dan jalan lainnya tapi gak ada," jawab Brayen dengan tatapan sendu.
Yah mau bagaimana lagi. Mau gak mau kita harus kembali tanpa bertemu dengan Chris. Rasa kecewa mulai membanjir pikiran gue.
Tring...Hp gue berdering. Gue ngeliat siapa yang menelpon. Senyuman lebar terukir dari wajah gue.
"Siapa An?", tanya Brayen penasaran.
Gue tersenyum dan berkata "Dari orang yang gue suka".
"Alihkan video call," jawab Brayen yang gue tanggapi dengan anggukan.
"Eh ada Brayen. Gimana kabarnya?," tanya Chris.
"Puji Tuhan gue baik. Gimana keadaan Lu bro?," ucapnya ngambil hp gue.
"Gue juga baik".
"Ekhem, gak tanya kabar gue gitu?," ujar gue pura-pura marah.
"Gimana kabarnya? eh itu yang tidur siapa? Mia?"
"Gue baik, Iyah itu Mia".
"Eh Iyah bro. Gimana restoran Lu? lancar kan?".
Gue lihat Chris berjalan menuju lantai atas. Terlihat pemandangan yang cantik setelah badai.
"Puji syukur lancar bro. Tapi sekarang ada badai jadi ga banyak yang dateng. Eh bentar Lu ada dimana?".
Dengan cepat gue ambil hp dari tangan Brayen dan duduk di samping Mia. "Kita semua mau ke rumah Lu, tapi sebelum nyampe kita terpaksa ke hotel karena badai. Eh Iyah jalannya juga di tutup karena longsor".
"Hem, kalian berisik banget sih," ucap Mia mengambil bantal.
"Woy Mia, Lu gak kangen sama gue?," teriak Chris.
Tiba-tiba Mia terbangun dengan posisi duduk. Sumpah jantung gue hampir copot karena kaget. Gue memukul pundak Mia dan tersenyum pahit.
"Heheh, sorry. Gue kangen banget sama Lu Chris".
"Chris, kamu ngobrol sama siapa?," suara familiar terdengar dari telingaku.
"Sama Annie Ma, Mama ga mau ngobrol sama Annie?" tanya Chris dengan suara agak keras.
"Annie? oh calon menantu mama itu yah?".
Blush, wajah gue seketika memerah. Kami semua tertawa dan melepaskan semua rindu yang selama ini kami pendam. Hanya ngeliat wajah Chris yang tersenyum gue udah seneng banget apalagi kalau udah ketemu.
Gue berharap kepada hujan. Tolong sampaikan rindu terbesar gue kepada Chris.