Jimin POV
"Hujan ..." Jimin menjulurkan tangannya. Ia tidak bisa berteduh karena ia harus buru-buru menuju ke kampusnya.
Saat ia berjalan dengan cepat.
Kok kering?
Ia merasa aneh. Karena ia tidak merasakan air hujan lagi. Ia menoleh ke belakang. Ada seorang gadis yang memayunginya dengan payung berwarna pink.
"Kita jalan sama-sama." Gadis itu mengajak Jimin untuk memakai payung bersama. Jimin yang tidak mau jatuh sakit menyetujuinya.
Keesokkan harinya ...
"Hujan ..."
Saat ia hendak melangkah, gadis yang sama memayunginya lagi tetap dengan payung berwarna pink.
Mereka pun berjalan bersama menuju ke halte bis.
Keesokan harinya juga hujan. Jimin bertemu lagi dengan gadis itu. Jimin merasa tertarik dengan gadis itu. Ada sesuatu dalam hatinya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia hendak mengatakan perasaannya keesokan harinya.
Keesokkan harinya cuaca cerah.
Hari yang indah untuk menyatakan cinta ~ begitu pikir Jimin. Ia merasa cuaca berpihak padanya.
Tetapi ia tidak bertemu dengan gadis itu. Lebih terkejut lagi saat ia melihat ada seorang ibu yang menangis yang menaruh figura foto dan buket bunga di pagar jalan yang hancur. Jimin berjalan dan melihat foto itu. Foto gadis berpayung pink yang ia sukai.
Apa yang terjadi?
Jimin memasuki mini market tepat di sebrang pagar jalan yang hancur.
"Maaf. Saya mau bertanya. Kenapa pagar jalannya hancur?" Jimin bertanya ke kasir yang menjaga mini market. Ia penasaran dengan apa yang terjadi.
Kasir itu menjawab "Seminggu yang lalu ada kecelakaan. Hari itu hujan. Jalanan licin. Ada mobil yang selip dan tanpa sengaja menabrak seorang gadis. Dan gadis itu meninggal di tempat."