Aku berhasil menyelamatkanmu. Selalu bersamamu untuk melindungimu.
========
Duniaku ini sangat gelap. Dikelilingi oleh hutan lebat yang tidak ada cahaya yang masuk. Sepi sekali. Aku hanya melangkah melewati pepohonan yang tinggi itu, melangkah tanpa tujuan.
Dunia gelap ku, Daniel Chevron.
Namun, aku melihat seberkas cahaya di ujung sana. Kakiku melangkah dengan sendirinya menuju cahaya itu.
Semakin lama semakin terang cahaya itu. Hingga... Aku menemukan sebuah jalan keluar dari hutan gelap ini.
Ladang kebun bunga matahari berada tepat di depan mataku. Hamparan bunga bunga berwarna kuning itu sangat indah. Angin lembut berhembus menerpa tubuhku. Sinar matahari yang hangat memelukku diriku yang rapuh ini.
"Daniel!"
Suara itu...
Aku melihatnya. Dia, Allena Kathleen. Dia berdiri ditengah tengah hamparan bunga itu, tersenyum dengan meneriaki namaku. Suara lembutnya menusuk telingaku, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku mendengar suaranya.
Namun dia menghilang bagai debu yang disapu oleh angin.
Tidak, jangan pergi lagi. Allena!
Sekali aku melangkah, aku seperti jatuh di sebuah lubang yang dalam. Seperti dijatuhkan dari ketinggian. Aku jatuh dalam lorong waktu.
—————
Ah! Allena!
Eh? Aku ada dimana?
Pemandangan di hadapanku benar-benar pemandangan yang tidak asing. Pemandangan lama yang telah lama tak kulihat setelah kematian Allena. Seakan semua ini adalah Dejavu.
Angin dingin berhembus.
Daun daun berguguran bersama dengan hembusan angin musim gugur. Sekarang aku ini berada di parkiran sekolah. Dengan posisi berdiri tegak dan tangan kanan yang memegang pintu mobilku yg kupakai saat SMA.
Kenapa aku ada di sini?
Tunggu. Aku bergegas mengambil ponselku, merogoh saku celana, saku baju dan saku jaket. Ponselku tidak ada. Aku mencarinya di tas dan ternyata ada di sana.
Mencari tahu aku sedang ada dimana dan kapan saat ini.
Ah... Hari ulang tahunku yang ke 18, musim gugur tahun ketiga ku di SMA. Tepat hari kematian Allena.
Aku kembali ke masa lalu?
Jika benar, aku harus bergegas ke taman untuk menemuinya. Aku harus menyelamatkan Allena sebelum ajal menjemput dia.
Ini adalah kesempatan kedua untuk melindungi dia, orang yang aku cintai.
—————
Benar. Aku melihatnya berdiri di sana. Seperti kehidupan lalu saat aku melihat dia tiada dihadapanku.
Aku tidak tahu apapun. Aku hanya ingin memeluknya saja. Aku berlari dan langsung memeluknya dari belakang. Allena terkejut karena aku tiba-tiba memeluknya.
"Da-Daniel! Kamu kenapa? Kok tiba-tiba peluk aku." suara lembut itu menusuk telingaku. Setelah sekian lama aku kembali mendengar suaranya lagi, aku bahagia.
"Aku hanya ingin meminta hadiah ulang tahun ku dari Allena. Tidak boleh jika aku memelukmu seperti ini? Bukannya tadi pagi kamu minta peluk gara-gara kedinginan. Aku cuma pengen kamu hangat saja..." ucapku.
"Eh? Ini kamu, Dan? Gak biasanya ngomong panjang lebar kaya gitu. Lepasin dulu dong, baru aku kasih hadiahnya."
Aku melepaskan pelukanku, meskipun aku tidak ingin tapi aku tidak mau jika akhirnya dia membenciku.
"Selamat ulang tahun, Daniel!" ia menyodorkan kotak kado itu.
Aku sudah tahu apa isinya. Tapi ada yang berbeda. Jika dulu kotor karena darah sekarang tidak kotor sama sekali.
"Makasih, Al"
Cup.
Sedetik setelah aku mengatakan Terima kasih, Allena mencium pipi dengan bibirnya yg terasa lembut itu.
"Hadiah tambahan." ujarnya dengan senyuman dan rona merah bahagia pada pipinya.
"Al, kerumah aja. Ibu Ayah udah nunggu."
Aku menarik tangannya untuk meninggalkan tempat ini. Aku takut kehilangan dia lagi kali ini. Aku takut mimpi buruk itu terjadi lagi dalam hidupku.
Aku berhasil menyelamatkan Allena dari kematian bukan? Hanya untuk saat ini saja.
—————
3 tahun berlalu begitu saja dengan cepatnya. Tiga kali musim semi yang terlewatkan.
Aku berhasil menyelamatkanmu. Selalu bersamamu untuk melindungi mu.
Allena sampai sekarang masih hidup. Aku masih setiap hari melihat senyuman itu. Mendengar suaranya yang lembut. Serta aku bisa memeluk tubuh kecilnya itu.
"Daniel, kamu sudah bangun belum?" suara itu terdengar setiap aku memulai hari.
Setiap harinya Allena datang ke apartemen ku untuk membangunkan ku lalu memasak sarapan dan berangkat kuliah bersama.
Dia masuk tanpa mengetuk pintu, selalu saja seperti itu. Dan aku tidak pernah tidak menyukainya. Selalu benar di mataku apapun yang ia lakukan. Mau dia membunuh orang juga aku tidak akan pernah membencinya.
"Oh, sudah bangun." katanya setelah masuk ke kamarku. Ia hampir saja keluar kembali namun aku memanggilnya.
"Allena. Kesini."
Dia berjalan dengan anggunnya dan memasang wajah bingung.
Allena telah sampai di pinggir ranjang ku. Ia mengatakan 'ada apa' namun aku tidak menjawabnya.
Tanpa aba aba aku menarik Allena kedalam pangkuan ku. Wajah kami begitu dekat sampai sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.
Cup
Aku menyatukan bibir kami dalam satu gerakan kecil. Allena terbelak dengan apa yang aku lakukan.
Karena masih kaget, Allena hanya diam saja. Aku menggigit bibi bawahnya agar ia membuka mulutnya.
Benar saja, ia membukakan mulutnya setelah itu. Kesempatan bagus. Aku memperdalam ciuman kami. Memeluk pinggang ramping nya.
Bibirnya lembut dan terasa agak manis. Seperti kecanduan narkoba pada sekali coba, tak ingin ku lepaskan ciuman ini.
Aku melepaskan ciuman kami sesaat untuk mengambil napas.
Allena dengan wajah yang memerah dan sorot mata yang redup menatapku. Ekspresi yang tidak pernah aku lihat selama ini.
End~
Btw ini lanjutan [BE] Kita Berdua
ヾ(❀╹◡╹)ノ゙❀~