Aku menatap tempat yang ada di hadapanku sangat lekat. Sebuah tempat yang mengingatkanku pada sepotong Kenangan masa laluku. Tempat yang begitu sederhana untuk melepas penatku.
Sebuah warung yang tepat berada di samping SMA ku dulu. Semua nampak sama, namun keadaan dan waktu yang kini berbeda. Jika dulu aku adalah seorang anak SMA, dulu akulah yang akan menjadi panutan sekolah ini. Kembali ke SMA ini sebagai Ceo.
Aku teringat kembali akan masa itu.
Tepat di seberang bangku yang kududuki dia berdiri dan tersenyum padaku.
“Kakak gak makan?”
Aku menatap ke arah suara itu, namun penglihatanku tidak salah kali ini, dialah yang menyapaku, anak Perempuan berseragam SMP itu. Ya, Awal pertemuanku dengan seorang Lolita Alexandera.
Anak SMA kelas 2 yang Satu Sekolahan denganku.
Aku masih mengiingatnya, pertanyaan yang tidak biasa ditanyakan oleh orang yang belum dikenal.
Dari pertemuan awal itu, aku tak pernah menyangka kita akan berteman. Aku tak pernah menyangka kau menganggapku sebagai seorang kakak.
Dia sangat peduli dan perhatian layaknya seorang adik. Tapi aku merasakannya dengan hal yang berbeda, hingga saat itu sampai sekarang aku tak sekedar mengaguminya, namun aku telah jatuh hati terhadapnya.
Beberapa bulan terakhir ini, aku sering memimpikanya. Aku merindukannya.
Segenap hatiku ingin menemui dirinya dan menyampaikan perasaan ini kepadanya. Namun kenyatanya aku hanya diam, masih memandangnya di kejauhan sebagai anak SMA.
“Dek, aku merindukanmu,” tanpa sadar aku mengatakaannya.
Ketika aku tau dia melanjutkan sekolah di Universitas aku masuk, aku mulai kembali mengenangnya.
Aku memang berpapasan dengannya. Penampilannya tidak jauh berbeda dari yang dulu, hanya saja tubuhnya jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan. Dia tidak mengenalku.
Tentu saja karena aku mengubah drastis penampilanku.
“Kakak!” lamunanku buyar seketika saat mendengar suara seseorang memanggilku.
“apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya di hadapanku.
Aku hanya menempelkan kedua telapak tanganku di depan dada untuk membalasnya. Aku menahan tangisku.
Memang mataku terlihat sembab di hadapannya, namun setidaknya dia tidak bisa melihat bekas tangis yang kubuat di balik masker ini.
“Baik dek!” sahutku.
“Kakak masih ingat aku kan?” tanyanya.
Aku mengangguk memberikan jawaban padanya. Benar-benar jelas, dia berdiri di hadapanku sekarang. Gadis yang sedang berdiri di hadapanku ini adalah dia yang kulamunkan tadi.
Hening, setelah obrolan singkat itu kami sama-sama diam di tempat masing masing.
Dia yang sedang duduk di sebelahku dengan jarak dekat dan menatap lurus ke arah gorengan yang sudah dihidangkan. Dia tidak memilih namun tetap saja membuatku tak nyaman dengan diam menatap gorengan itu. Aku ingin bicara namun terlalu canggung akibat lama tidak bertemu.
Apa yang harus kulakukan sekarang?.
“Aku..” kami sama-sama angkat bicara.
“Kamu duluan,” kataku kemudian.
“Kak, aku mau ngomong, tapi…” kalimatnya terhenti.
“Bisakah di tempat lain saja?” tawarnya.
“Asal tempat itu tidak terlalu sepi.” Kataku dengan tenang.
Kini aku bisa mengontrol jantungku yang dari tadi terus berdebar.
Dia mengangguk, namun setelah itu diam. Sungguh aku tak mengerti maksud dari perbuatannya ini. Sebenarnya apa yang ingin dia katakan? Dan mengapa diam saja? Ah, dia tetap seperti dulu, sangat susah menebak kemauanya.
“ini Kak!” dia memberikanku secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.
Tunggu! Untuk apa dan sejak kapan dia menulis ini?
“Kakak datang ya, itu perayaan kecil-kecilan ulang tahunku. Aku ingin memberitahu sesuatu di hari itu. Aku harap kakak mau datang.” Katanya lalu beranjak pergi dari tempatnya.
Aku hanya memandang kosong kertas itu, berpikir keras maksud dirinya memintaku datang.
“Tumben Kak Levan mau jalan siang-siang, biasanya mager tuh di rumah.” Ejek Fiona, adik pertamaku yang super duper dingin tapi perhatian.
“Ya mau aja, cepet yo antar aku,” paksaku. Fiona mengangguk lalu mengambil hoodie dan kunci sepeda motornya yang tergantung di belakang pintu.
“Kalo pulang telepon ya” katanya setelah sampai di tujuan yang aku pinta. Aku pun mengangguk memberi jawaban.
Kali ini aku berada di sebuah kafe sederhana yang ditunjukkan oleh Lolita di kertas itu.
Entah kenapa aku memenuhi undangannya walaupun tak tau tujuannya apa. Namun saat ini aku hanya berfikir positif ‘dia kangen’ atau ‘karena aku kakaknya’. Mungkin Aku terlalu pe-de mengatakannya, namun itulah yang ada di benakku mengingat hubungan zona-persaudaraan yang absurd ini.
“Kakak duduk dulu” pintanya saat melihat diriku. Saat ini aku menatap dirinya yang mengenakan jas dengan Dress putih casual di dalamnya.
Terlalu banyak perubahan dari penampilannya sekarang. Ya, tentu saja. Dia ini kan sudah anak Kuliah, bukan anak SMA lagi, jelas saja berubah. Aku terlalu mikir yang aneh-aneh sekarang.
“Halo teman-teman dan semuanya yang sudah memenuhi undangan, Aku sangat berterima kasih atas kedatangannya di hari spesial ini.
Sebelum menikmati party ini saya ingin menyayikan lagu khusus untuk seseorang yang ada di sana” dia menunjuk ke arah tempat aku duduk, namun tidak hanya aku saja yang duduk di rule ini, ada seorang Cowo lagi yang menurutku sangat ganteng dengan Jaket Kulit yang dia kenakan.
Setelah mengatakannya, Cowo itu pun tersenyum sambil menikmati lagu yang sedang dinyanyikannya. Mungkinkah lagu itu untuk gadis itu? Atau karena mereka memiliki hubungan spesial?.
Dibandingkan menikmati lagu ini, aku lebih penasaran lagi dengan gadis di hadapunku melihat dari tatapannya terhadap Lolita, dia seperti memiliki hubungan dan menurutku dia dan gadis itu sangatlah cocok.
“Lolita!” teriak Cowo itu memanggil Lolita.
Lolita turun dari panggung, dia melambaikan tangan dan tersenyum di hadapan Cowo itu.
Aku benar-benar tidak suka melihat ini sekarang. Entahlah, aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri.
Lolita menoleh ke arahku, aku mencoba bersikap biasa dan berpura-pura sibuk dengan handphone di tanganku, kubuka pesan dan menulis “jemput aku di kafe yang tadi” dan menekan tobol kirim.
Aku benar-benar ingin pulang secepatnya.
“Kak, eh…” katanya menoleh lagi ke arah Cowo itu, “Ada apa Jun?” tanyanya kepada gadis tadi yang bernama Jun. Jun memeluk Lolita yang berdiri di hadapan meja tempat aku duduk.
“Ya Tuhanku, tolong halangi mereka berbuat dosa.”
"Kak Levan, aku udah nyampe di depan kafe" pesan dari Fiona yang membuatku berbinar.
Akhirnya aku bebas dari pandangan ini. Aku segera bangkit dari tempatku dan menghiraukan mereka berdua.
Aku bisa mendengar kehebohan di dalam kafe itu. Sungguh, aku tidak suka dengan acara yang seperti.
Ulang tahun harusnya dijadikan intropeksi diri dan merubah pribadi lebih baik lagi, bukan seperti ini. Pesta, lagu, dan apa-apaan pelukan tadi?.
Aku salah menginggatnya, seharusnya aku tetap melupakan perasaanku dan mengubahnya lebih baik lagi, bukan yang seperti ini.
Ternyata cinta yang kuharapkan tidak tepat apa yang kupikirkan. Kenangan yang menggebu tidak sampai kepada cinta yang tepat pula. Sekarang apa aku harus berfikir positif melihat itu. Atau perasaanku saja yang berlebihan melihat itu? Lagi-lagi aku hanya berfikir aneh.
“Kakak! Kak Levan!” Aku bisa mendengar ada suara di belakangku, aku ingin menoleh, tetapi aku tak tau harus menanggapi perasaanku sekarang ini seperti apa. Benar-benar aneh.
“Kak, tolong dengarkan aku, yang tadi..,” katanya terhenti, aku pun menoleh ingin mendengarkan perkataannya.
“Bukan seperti yang Kak Levan pikirkan.”
“Yang seperti apa?” tanyaku pura-pura tak tauu.
Lolita memegangi tanganku, aku segera melepaskan tanganku yang dipegangnya tadi. “Lepaskan tangan gue!” bentakku.
“Sejak awal..” dia kembali berbicara,
“Aku menyukai kakak.”
~Dheg! Dia bercanda kah?
“Mungkin ini aneh, sejak awal pertemuan itu aku memang menyukai kakak.
Saat aku menyapa kakak, aku sangat gugup karena itu saat awal pertanyaan itu…” kali ini dia terlihat gugup.
“Aku ingin menyatakannya, tapi aku tak mau kakak menganggap aku masih anak-anak, masih tak pantas berkata itu, jadi selama kenal kakak aku hanya menyimpan perasaanku dan menyatakanya di saat yang tepat, aku sudah tak sabar lagi, selalu merindukan kakak, bahkan sampai terbawa mimpi, Jadi … maukah kakak jadi pacarku?”.
~Prok… prok… prok…
Semua yang ada di dalam kafe berhamburan ke luar dan memperhatikan kami berdua berharap apa yang mereka pikirkan terjadi.
“Terimaa...terimaa..terimaa!” semua orang bersorak karena profokasi dari satu orang.
Jun Cowo yang memeluk Lolita tadi.
Aku melirik ke belakangku dan melihat Fiona menunggu, kali ini Fiona menatapku sinis seolah berkata “Cepat dong, ini panas tau!”
Dasar Faris! benar-benar tidak mendukung suasana ini sekarang. Yah, aku harus apa lagi sekarang?.
Tersenyum itu yang kutunjukkan di depan Lolita. “Kamu masih labil,” aku menaikkan bibirku.
Aku mengeluarkan stick note dan menuliskan alamat rumahku dengan pulpen yang sudah kusiapkan tadi.
“Terima kasih sudah menyamaikan perasaanmu pada kakak, tapi…,” aku memberikan stick note itu kepada Lolita.
“Kakak akan menunggu seperti kamu menyampaikan ini di waktu yang tepat, di hadapan orangtua kakak”
Setelah menyampaikannya, aku merasa lega.
Aku membalikkan badanku dan menghampiri Fiona yang lagi-lagi menatapku sinis.
"Ah tak apa, yang penting hari ini akan menjadi good moment untukku."
Tentang Cowo yang memeluk Lolita tadi.
Jun, aku tak peduli siapa dia, Tapi Jun juga mendukung Lolita. Aku hanya berfikir positif, mungkin mereka hanya bersahabat.
Untuk Lolita, jika dia serius, aku akan menunggunya. Menunggu seperti perasaanku sebelumnya, rindu dalam diam, dan akan tetap mencintaimu dalam rinduku.
~THE END~