"Bagaimana ini? Bagaimana jika bocor? Semoga saja tidak" gumam Li. Hari ini jadwal berangkatnya ke sekolah untuk melaksanakan pts, karena pandemi, sekolah tempatnya menimba ilmu tersebut menggunakan sistem ganjil genap, kebetulan nomor urut Li ganjil dan hari ini ia berangkat. Bertepatan dengan itu, ia sedang datang bulan.
"Maa.. Nanti kalau bocor gimana ya?" tanya Li pada ibunya yang sedang ikut duduk disampingnya menunggu angkot.
"Deres nggak tadi?" Li diam berfikir akan menjawab apa.
"Nggak kayaknya" sahut Li.
Lama menunggu, angkot yang Li tunggu tak kunjung datang, beruntungnya kakak kelasnya yang juga akan berangkat ke sekolah yang sama dengannya mau menerima tumpangannya.
***
"Makasih ya" ucap Li pada kakak kelasnya itu.
Sesampainya dikelas, ia segera menaruh tasnya di kursinya duduk, sedangkan ia pergi keluar menemui teman-temannya.
"Aduhhh.... Bocor nggak ya? Kok kaya deres banget" batin Li. Tiba-tiba ia merasa ingin kencing, ia pun menyeret salah satu temannya untuk menemaninya ke kamar mandi.
"Nggak deres kok, semoga nggak bocor" batinnya lagi.
"Li! Udah belum! Udah masuk soalnya!" seru teman Li. Hal itu membuat Li tergesa-gesa dan bergegas keluar kamar mandi. Beberapa menit kemudian, guru pai masuk ke kelas. Link mapel pts pun sudah dibagikan di grup daring besar. Li segera mengerjakan soal-soal pts tersebut dengan teliti.
"Aduhhhh... Deres kayaknya nih... Gimana kalau bocor yaa...??" batin Li masih dengan mengerjakan soal-soal pts.
Selesai pts kedua, kelas Li pun selesai, ia keluar bersama temannya lalu menemaninya menuju koperasi untuk membeli makanan, namun makanan yang ingin dibeli teman Li sudah habis. Li pun pergi meninggalkan temannya karena harus menunggu angkot didepan.
"Duluan ya..?" temannya mengangguk seraya tersenyum.
"Ehh... Liat tuh, bocor... Hahahahha" tiba-tiba salah seorang anak laki-laki yang berjalan dibelakang Li mengatakan demikian sembari menunjuk rok Li. Li menoleh ke arah roknya dan bercak darah sudah tertera disana, cukup banyak.
"Ehhh... LIAT TUH!! ADA CEWEK LAGI DATANG BULAN TERUS BOCORRR...!!! HAHAHAHAHA" laki-laki yang pertama kali melihat bercak darah di rok Li berteriak keras, hal itu membuat perhatian murid-murid di sekitar mereka melihat ke arah Li dan mulai berbisik-bisik.
Tiba-tiba petir menyambar keras, hujan turun dengan derasnya.
"Makanya kalau sekolah tuh bawa pembalut! Biar kalau udah penuh itu bisa ganti! Liat tuh! Roknya jadi kotor gitu!" seru laki-laki didekatnya.
Tangis Li kini diiringi dengan isakan, apalagi ketika ada salah satu murid yang menyiram roknya yang terkena bercak darah menggunakan air.
"Upss... Malah luntur! Jadi tambah kotor deh... Hahaha.... Gih! Pulang! Nggak malu apa".
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengenakan jaket di pinggang Li untuk menutupi bercak darah di roknya.
"Tunggu sebentar, aku ambil motor dulu di sekolah mba Isyah, bersabarlah" ucap laki-laki tersebut. Dia adalah laki-laki yang disukai oleh Li.
"Bikin susah orang aja sih? Gue heran, kok mau-maunya Liam bantu cewek kayak lo" seru kakak kelas perempuan Li.
Sedangkan Liam, laki-laki yang disukai oleh Li itu berlari menembus padatnya murid yang keluar dari sekolahnya dan derasnya hujan. Sesampainya di sekolah kakaknya, ia meminta izin pada satpam untuk masuk menemui kakaknya, setelah diizinkan ia bergegas berlari menuju kelas kakaknya.
"Mbaa.." Liam membisikan sesuatu di telinga kakaknya.
"Ya udah sana, hati-hati" Liam tersenyum kemudian mengangguk sembari menerima kunci dari kakaknya, ia kemudian berlari ke parkiran dan mengendarai motor kakaknya menuju tempat di mana Li berada.
"Buruan naik" ucap Liam.
"Ehh.. Liam, kok lo mau-maunya si bantuan dia? Nanti jok motornya bakal kotor sama darahnya" air mata Li kembali mengalir deras.
"Berisik lo! Lebih baik jok motornya kotor karena darah Li! Daripada jok motornya kotor karena didudukin sama lo!" bentak Liam. Liam kemudian menarik Li untuk duduk dibelakangnya, ia mengalungkan kedua tangan Li ke pinggangnya dan ia segera melesat menembus hujan dan padatnya kendaraan.
End.
-Jangan lupa like!
-Jangan lupa komentar!