"Aku mau menikah denganmu asalkan, ketiga anakmu itu tidak ikut dalam rumah tangga kita kelak."
_____
Sarah adalah seorang janda berparas sedang. Ia memiliki 3 anak balita. Semenjak kepergian mendiang suaminya ia menjadi tulang punggung untuk ketiga anak-anaknya.
Sarah merupakan anak yatim piatu Ia pun tak memiliki keluarga sehingga tak ada satupun yang membantu Sarah. Kecuali jika Sarah bekerja.
Dua tahun menyandang status janda akhirnya Sarah memiliki seorang kekasih yang berbeda desa.
Namanya Herman pria santun juga rajin. Suatu hari Sarah menanyakan hubungannya dengan Herman untuk ke jenjang yang lebih serius sebab Sarah pernah menikah ia tak ingin berlama-lama pacaran.
"Mas kapan menikah denganku?" tanya Sarah waktu itu ketika ia bekerja di kebun milik keluarga Herman.
"Sabar ya, Dek. Mas lagi mencari uang untuk biaya pernikahan kita nanti," sahut Herman. Ia pun bekerja di kebun milik keluarganya
Herman merasa ragu karena Saras menangkap keraguan itu dikedua matanya. Apalagi jika Sarah membawa ketiga anaknya yang masih kecil.
"Dari dulu Mas berjanji akan menikahiku tapi sampai sekarang Mas tak juga melamarku?" Selidik Sarah. Ia ingin melihat keseriusan Herman dalam hubungan asmaranya.
Herman menarik nafasnya dalam-dalam dan berucap, "Sabar ya, Dek. Aku pasti akan menikahimu,"
Herman dan Sarah duduk di dalam gubuk milik keluarga Herman. Karena yang bekerja hanya mereka berdua Herman leluasa melakukan asusila kepada Sarah.
Sarah menolak namun, Herman menebarkan janji-janji manisnya sehingga Sarah pun luluh dan menuruti kemauan Herman. Terjadilah sesuatu yang tak diinginkan yaitu mereka melakukan hubungan terlarang tanpa ikatan menikah terlebih dahulu.
*
*
*
Sebulan kemudian Sarah merasakan tanda-tanda ia hamil. Sarah tidak mendapati haid. Ia pun cemas dan segera mencari Herman.
"Mas aku ingin bicara serius." Sarah menghampiri Herman yang tengah asik ngobrol di pos ronda dengan teman-temannya.
Herman berpamitan dengan teman-temannya.
"Mau ngobrol apa sih, Dek. Mas kan, sudah bilang. Mas akan menikahimu tapi bersabarlah," ucap Herman.
"Iya aku tahu Mas tapi ini ada yang lebih penting. Kita ke sungai saja, yuk!" pinta Sarah.
Sesampainya di sungai Sarah dan Herman duduk di atas batu-batu yang besar saling bergandeng tangan dua sejoli itu tak ingin dipisahkan.
Dibelainya rambut Sarah yang menutupi separuh wajahnya.
"Nampaknya serius, Dik. Ada apa? Katakan ...,"
Angin sepoi-sepoi menambah suasana semakin syahdu dengan berat Sarah mengatakan bahwa ia tengah hamil. Tapi ini demi kebaikan dan demi status Sarah ia tak ingin hamil tanpa suami.
"Mas ... A--aku." Sarah menatap wajah Herman.
"Iya, Dek. Ada apa katakanlah, Mas janji tidak akan marah." Herman menoel dagu Sarah.
"Janji ya, Mas tidak akan marah?"
"Janji sayang."
"Aku. H--hamil." Air mata Sarah jatuh di kedua pipinya.
"Apa! Kamu hamil, Dek?!"
Herman setengah terkejut. Ia menatap ke arah sungai dengan tatapan bingung.
"Mas mau 'kan bertanggung jawab," ucap Sarah lirih.
Ditatapnya Sarah kemudian ia mengatakan, "Aku mau menikah denganmu asalkan, ketiga anakmu tidak ikut dalam rumah tangga kita kelak."
Sarah terkejut sangat-sangat terkejut bagaimana bisa ia tak membawa ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Si sulung baru berusia empat tahun setengah yang kedua berusia tiga tahun setengah dan yang terakhir berusia 2 tahun.
"Bagaimana, apa kau bisa Dek?"
Sarah gamang pilihan yang membingungkan jika ia memilih anak-anak maka Sarah menanggung malu seumur hidup karena kehamilannya tanpa suami. jika ia memilih Herman maka ia bersiap meninggalkan ketiga anak-anaknya.
"Bagaimana, Dek?" tanya Herman sekali lagi.
"Baik, Mas. Akan ku tinggal ketiga anak-anakku."
Jawaban yang sangat memilukan seorang ibu memilih kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab Sarah rela meninggalkan ketiga anak-anaknya yang masih kecil.
"Baiklah, Dek. Aku beri waktu jika kau sudah siap datanglah kepadaku."
Herman pun berdiri dan meninggalkan Sarah di sungai sendirian.
*
*
*
Malam harinya Sarah menatap ketiga anak anaknya yang pulas tertidur.
Ia memikirkan cara bagaimana meninggalkan ketiga anaknya itu. Sarah tak memiliki keluarga dan siapa yang mau mengadopsi anak-anaknya.
Terlintas lah ide cara meninggalkan anak-anaknya. Agar tak dicurigai tetangga.
Sarah bergegas ke dapur dia mulai memasak makanan yang banyak dan juga merebus air. Untuk bekal anak-anaknya nanti. Sarah berencana membawa ketiga anaknya ke hutan dengan beralasan mencari kayu bakar.
Pukul 2 dini hari Sarah membangunkan ketiga anak-anaknya.
"Bangun, Bang. Ayuk, temani Mama ke hutan mencari kayu bakar," ucap Sarah kepada anak sulungnya.
Ketiga anaknya pun bangun Sarah bergegas menggendong si bungsu sedangkan yang nomor dua ia tuntun ditangan kanannya.
"Abang bawa bekalnya, ya. Mama bawa adik."
Anak laki-laki Sarah mengangguk. Kemudian mereka pun berangkat ke hutan.
Sepanjang perjalanan menuju hutan Sarah tak henti-hentinya merutuki diri dan menyesali apa yang telah Ia perbuat dengan Herman.
Sarah pun menangis berulang-ulang kali ia menghapus kedua air matanya dengan tega buah hatinya ke hutan dengan dalih mencari kayu bakar.
Berpuluh-puluh kilometer akhirnya Sarah dan ketiga anaknya sampai ke dalam hutan jauh dari rumah penduduk.
Hutan yang gelap dan juga rimbun. Diturunkan lah anak bungsunya dari gendongannya.
"Abang dan Adek tunggu sini ya, Mama mau cari kayu di sebelah sana," ucap Sarah bergetar.
Anak sulungnya pun mengangguk dan mematuhi apa yang diperintahkan ibunya.
Sebelum Sarah meninggalkan ketiga anaknya ia berpesan, "Ini nanti dimakan ya, kalau lapar. Nggak usah tunggu mama dimakan saja."
Surah menunjuk perbekalan masakan yang ia masak malam.
Sarah pun melangkah seakan-akan dia ingin mencari kayu bakar.
Airmata terlimpah ruah sedikit berlari menjauhi ketiga anaknya.
*
*
*
Makanan dan minuman yang mereka bawa telah habis. Namun Sarah tak kunjung datang.
Ketika anak tersebut cemas dan mulai rewel. Terlebih si bungsu ia menangis tak berhenti.
Hari menjelang petang kedua adiknya merengek mulai mencari ibunya. Sebagai Kakak Ia pun bingung bagaimana cara mendiamkan kedua adik-adiknya.
"Mama!"
"Mama!"
Anak laki-laki tersebut berinisiatif memanjat pohon untuk melihat keberadaan ibunya dari atas sana.
Kedua adiknya di bawah merengek-rengek dan memanggil-manggil nama Sarah.
"Mama!"
"Mama di mana!"
Wanita yang mereka panggil itu tak juga datang bagaimana akan datang wanita itu memang sengaja meninggalkan ketiga anaknya di hutan.
"Mama!" seru si sulung.
Dilihatnya setiap sudut hutan dari atas pohon tak juga Sarah terlihat.
"Mama!"
Anak laki-laki itu pantang menyerah ia terus saja berteriak dan memanggil nama ibunya.
Tiba-tiba melintas lah seorang pria berpakaian serba putih dan kepalanya ditutupi kain sorban. Sesorang itu berkata, "Eh, bocah! Magrib-magrib, teriak-teriak kaya monyet!"
Seperti sihir ucapan pria itu merubah ketiga anak tersebut menjadi monyet.
*
*
*
Bagaimana dengan Sarah? Sarah telah kembali ke rumahnya ia berpura-pura menangis histeris bahwa ia kehilangan ketiga anaknya.
Para penduduk pun berinisiatif mencari anak-anak Sarah ke hutan namun nihil tidak ada hasilnya karena ketiga anak tersebut tidak ditemukan sampai sekarang.
Sarah pun menikah dengan Herman dan mereka dikaruniai satu anak laki-laki.
Tamat
Ini hanya sebuah dongeng semoga kalian terhibur.