Yeva selalu tersenyum kala teman-temannya menanyakan alasan dirinya menerima senior dingin sekelas Shon.
"Sumpah, Va. Senior Shon itu nyeremin."
"Banget."
"Iya. Kenapa lo mau jadian sama senior Shon?"
Lagi dan lagi, untuk setiap pertanyaan mereka tentang hubungannya dan Shon, Yeva hanya mengulas senyum manis.
"Ah, Yeva mah ga asik. Ditanyain jawabnya malah senyam-senyum doang."
Namun Yeva tidak banyak bergeming. Rasanya sudah hapal betul tabiat teman-temannya. Jika sudah begitu mereka akan menyerah dengan sendirinya.
Usaha teman-teman jelas tidak membuahkan hasil, kendari ingin terus berusaha, interupsi alamiah nyatanya ada manakala si objek pembicaraan datang.
"Yeva."
Shon, pemuda dengan standar jangkung laki-laki pada umumnya namun berkulit seputih porselen itu kini nampak berdiri santai dengan kemeja hitam dan celana kain warna senada. Di pundak kirinya tersampir ransel hitam. Satu-satunya yang kontras dari tampilannya hanyalah sneakers putih yang ia kenakan.
Yeva bangkit dari kursinya dan pamit pada teman-temannya yang kini mendadak segan sebab takut pada Shon. Wajah dingin Shon memang sebuah kementakan yang absolut.
Yeva menoleh pada teman-temannya dan pamit. "Duluan, ya."
.....
Kini Yeva dan Shon telah 2 jam menghabiskan waktu di studio musik Shon. Baik Shon yang tengah menyibukkan diri dengan tugas jurusan musiknya maupun Yeva yang pura-pura sibuk menulis.
Iya, pura-pura. Sebab sedari tadi dirinya hanya menjadikan kegiatan menulis sebagai kamuflase saat diam-diam mencuri lirik sang pujaan hati yang sangat tampan kala tengah serius.
Shon melirik jam tangannya, "Siap-siap, Va. 5 menit lagi aku antar kamu pulang."
Dalam hati Yeva teramat menyayangkan waktu yang terasa berjalan cepat. Kendati demikian dirinya juga diam-diam bersyukur 2 jam tergerus habis dengan memandangi salah satu keindahan pahatan hidup dari Tuhan.
Yeva yang masih menikmati memandang wajah Shon disadarkan pemuda itu lewat perhatian kecil, sebut saja saat Shon menyelipkan juntaian rambut Yeva yang menghalangi pandangan ke belakang telinga gadis itu diiringi suara tenangnya kala bertanya,
"Yeva jadi patung dadakan, hm?"
Yah, meski harus Yeva akui kata-kata itu tidak ada unsur manis-manisnya. Sangat kontras dengan wajah sang pacar.
Yeva menatap Shon dengan senyum senewen. "Yeva laper. Sebelum anterin Yeva pulang, kita beli bakmi dulu, yuk, kak."
Ya. Shon memang meminta gadis itu untuk memanggilnya kakak sejak awal mereka jadian. Yeva tidak tahu kenapa Shon ingin dipanggil kakak. Entah, hanya sekadar tidak penasaran.
Shon menghela napas. "Malem, loh ini, Va. Nanti perut kamu kembung terus kena mental kamu, kamunya down. Ujung-ujungnya kamu bakal diet dadakan."
"Tapi lagi pengen."
"Ga. Kamu kan ga bakal bisa pegang janji buat ga diet kalo berat kamu naik. Mending tahan bentar. Besok siang aku bawa kamu makan bakmi."
Yeva menghela napas. "Ya udah buruan antar Yeva pulang."
.....
📞"Yeva, mama sama papa mau pergi ke rumah nenek kamu. Mau bantu nyiapin nikahan tante Pinkan."
"Ok, ma." Yeva memutuskan sambungan. Tapi pandangannya masih fokus pada plasma televisi di depannya. Pantas saja sejak dirinya pulang kedua orangtuanya tidak terlihat eksistensinya di rumah.
Setelah memastikan hanya dirinya sendiri yang berada di rumah, Yeva segera bersiap untuk pergi keluar. Tentu saja bakmi masih terngiang-ngiang di kepalanya sejak Shon menolak membelikannya.
Namun langit seolah berkoalisi dengan Shon. Di tengah jalan, Yeva malah basah kuyup.
Gadis yang tidak berfirasat apa-apa itu keluar rumah dengan kaos oblong hitam, celana pendek, dan sendal rumahannya. Jelas saja demikian sebab hawa malam ini memang terasa panas—bodohnya Yeva lupa itu bisa jadi pertanda hujan.
Yeva juga memilih berjalan kaki karena selain warungnya lumayan dekat, hitung-hitung olahraga malam karena teringat nasihat Shon tentang berat badan. Kalau dipikir-pikir tidak ada gunanya, sih. Sebab Yeva olahraga dulu baru makan.
Hujannya sangat deras. Dan hal itu tidak berlebihan mengingat Yeva jelas merasakan air membasahi dalaman gadis itu dan angin juga lumayan kencang bertiup ke arahnya.
Daripada membuang malu dengan keukuh membeli bakmi dan mendapat bonus tatapan orang-orang, Yeva memilih mengurungkan niatnya dan berbalik pulang. Toh dirinya sudah pupus harapan bisa makan dengan bahagia.
Namun malang agaknya sedikit menaruh perhatian lebih pada Yeva. Tubuhnya mendadak menggigil dengan tak wajar. Gadis itu berhenti berjalan tepat di depan pekarangan tetangga jarak 2 rumah dengannya.
Yeva tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Mendadak pandangannya terasa buram hingga kesadaran perlahan mulai meninggalkannya.
Sebelum Yeva benar-benar pingsan di tempat, hal terakhir yang rungunya tangkap adalah suara panik sang kekasih yang meneriakkan namanya,
"YEVA!"
.....
Jujur, sedari dulu Shon memang mudah disegani orang-orang, baik itu teman sebaya, kakak kelas maupun adik kelasnya di sekolah.
Wajah Shon yang nampak dingin hanya dengan melihatnnya diam tanpa ekspresi berarti dan kepribadiannya yang malas bicara telah menambah kesan dingin yang melekat di belakang namanya.
Tapi julukan Shon bukan cuma itu.
Instingnya yang tidak pernah meleset membuat beberapa temannya yang sadar juga memberikan titel cenayang padanya. Tiap Shon bilang A, maka tak lama A akan terjadi. Shon juga menyadarinya. Dan memutuskan untuk tidak banyak bicara jika itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan.
Maka, berpegang pada instingnya malam ini, Shon bergegas mengambil kunci mobilnya dan berniat membelikan sang kekasih bakmi di warung langganan mereka.
Namun alangkah terkejutnya Shon manakala mendapati siluet Yeva yang tengah berdiri diam diguyur hujan habis-habisan. Bahu gadisnya menggigil. Berulang kali Shon memanggil, Yeva tidak juga menoleh.
Membuang akal sehatnya, Shon bergegas keluar dari mobil, menerobos hujan, dan berteriak memanggil Yeva dengan harapan gadis itu menoleh. Namun alih-alih menoleh, yang ia dapati malah Yeva yang terlihat akan pingsan di tempat.
Benar saja. Gadis itu terkapar di atas jalanan. Shon luar biasa panik dan membawa Yeva dalam dekapannya. Menggendongnya di depan dengan mengalungkan lengan dingin gadis itu di lehernya, lantas mengangkat dengan tangan menumpu punggung dan bawah lututnya.
Mengabaikan hujan yang ikut mengguyurnya, pemuda itu lekas pergi menuju rumah Yeva yang hanya berjarak 2 rumah dari tempatnya berdiri.
Sesampainya di depan pintu, Shon memencet bel rumah dengan siku kanannya. Berulang kali tidak mendapat jawaban, Shon berasumsi orang rumah sedang tidak ada.
Maka Shon menurunkan Yeva perlahan untuk disandarkan di pintu rumah. Shon mengeluarkan handphonenya yang untung saja anti air sehingga bisa menghubungi orangtua Yeva.
📞"Halo? Shon, ada apa?"
"Maafkan aku, tante. Aku gagal menjaga Yeva."
📞"A-Apa maksudmu, Shon? Yeva kenapa?"
"Yeva pingsan karena kehujanan, tante. Sekarang kami di depan rumah. Tapi udah berkali-kali aku memencet bel dan ga ada sahutan. Apa tante lagi ga di rumah?"
📞"Astaga, Yeva. Iya. Kami pergi ninggalin Yeva sendiri karena mau nyiapin pernikahan tantenya. Yeva ga mau ikut. Duh, gimana, ya? Sekarang kami ga bisa pulang karena jaraknya jauh, Shon. Di luar kota. Tante bisa minta tolong kamu jagain Yeva malam ini?"
"Tante yakin minta aku jaga Yeva? Aku takut khilaf." aku Shon jujur. Tentu saja. Pemuda normal manapun akan khilaf jika dihadapkan pada situasi sekarang.
📞"Tante yakin kamu orang yang bertanggung jawab. Kalau kalian kelepasan, ya sudah. Tapi yang terpenting sekarang kamu jaga Yeva. Kemungkinan dia kena hipotermia. Dan yang tante tau pertolongan pertamanya harus ..."
Shon seakan baru menyadarinya. Tentu saja gejala Yeva ini hipotermia! Jika tidak segera diberikan pertolongan pertama, Yeva bisa kehilangan nyawa.
Tapi, sekarang sepertinya sudah tidak sempat untuk ke rumah sakit terdekat. Shon harus bagaimana?
📞"Shon, tante yakin Yeva pasti bakal ngerti kamu ngelakuin itu demi dia. Kamu cepat rawat dia sebelum terlambat. Yeva punya kebiasaan ninggalin kunci rumah di bawah keset kalo mau keluar."
"Tante, maafin Shon."
📞"Mending kamu pikirin itu nanti. Selametin anak tante dulu, Shon."
"Oke tante. Doain semoga Yeva ga kenapa-napa."
Setelah memutuskan sambungan, Shon mengikuti instruksi mamanya Yeva. Saat berhasil membuka pintu, pemuda itu lekas membawa Yeva menuju kamar tidur sang gadis.
Shon membaringkan Yeva yang sudah tak sadarkan diri ke atas ranjang. Pemuda itu sudah tidak memikirkan konsekuensi dan hanya fokus untuk mengembalikan kesadaran kekasihnya.
Setelah melepaskan seluruh pakaian basah sang gadis, Shon menyelimuti rapat Yeva dengan 3 lapis selimut tebal yang ia temukan di dalam lemari. Shon menyalakan pemanas ruangan dan mengatur suhu menjadi 40°C.
Tak lama peluh membanjiri tubuh Shon. Tapi Yeva masih belum sadarkan diri. Satu-satunya cara terakhir Shon adalah dengan melepaskan pakaiannya juga. Shon melempar kasar kaos basah yang ia kenakan dan masuk ke dalam selimut Yeva.
Perlahan Shon memeluk tubuh polos gadisnya. Dalam hati dirinya berusaha keras mempertahankan rasionalitas agar tidak putus oleh hawa nafsu.
Shon juga tidak ingin kehilangan kesadaran. Sebab jika dirinya tidur, Shon takut kecolongan kalau-kalau Tuhan ingin mengambil nyawa kekasihnya kala ia terlelap.
3 jam Shon menahan kantuk dalam kekhawatiran, akhirnya upaya kerasnya membuahkan hasil. Air muka Yeva sudah terlihat normal dan gadis itu kini sepenuhnya terlelap dengan pernapasan teratur.
Shon menghela napas lega dan mencium dahi kekasihnya sayang. Dalam hatinya bersyukur karena Tuhan masih mengingkan Yeva menghabiskan hidup bersama Shon.
.....
Yeva membuka matanya. Sosok yang pertama kali menyapa pandangannya adalah Shon yang terlihat duduk di lantai samping ranjangnya dengan tangan kanan yang menggenggam tangan Yeva dan tangan kiri yang emnopang dagu di atas ranjang. Shon terlihat mengantuk hingga tidak sadar Yeva sudah membuka mata sepenuhnya.
"Shon?"
Shon mengerjap dan segera tersadar manakala rungunya menangkap samar suara gadis yang amat ia sayangi. "Yeva?"
"Kak Shon, kamu kok disini?"
"Yeva kamu ga papa? Kamu baik-baik aja? Ada yang sakit? Atau kamu pusing?"
Yeva menggeleng dan tersenyum mendengar nada khawatir yang terirat dalam kalimat Shon.
Shon menghela napas lega. Melirik jam di kamar Yeva yang menunjukkan pukul 8. Beruntung hari ini hari Minggu. Jelas baik Shon maupun Yeva tidak ada jadwal kuliah pagi.
"Kamu mau aku beliin bakmi? Atau aku bikinin sarapan?"
Yeva bukanlah gadis bodoh dan tidak peka. Dengan hanya melihat bajunya yang sudah berganti dari yang kemarin dan Shon yang kini di depannya dengan mata mengantuk, jelas tadi malam dirinya dijaga penuh oleh sang kekasih.
"Kak Shon tidur dulu, ya. Kasihan matanya udah kaya panda."
Shon tersenyum dengan perhatian lembut Yeva. Seolah semua usaha kerasnya untuk menahan diri tadi malam membuahkan hasil memuaskan. "Aku gak capek. Aku masakin bubur aja, ya?"
Yeva perlahan bangkit dari ranjang dan duduk menghadap Shon. Posisi Shon yang masih terduduk di lantai kamar membuat pemuda itu harus sedikit mengadah saat menatap Yeva.
Yeva menangkup rahang tegas Shon. Menatapnya dalam, "Kak, Shon. Aku boleh masak, ya?"
"Tapi kamu masi—"
Kalimat Shon sempurna dibungkam Yeva dengan sebuah ciuman. Shon menutup matanya.
Setelah menjauhkan wajah, Yeva mengecup dahi Shon sekilas. "Giliran Kak Shon yang istirahat, ya? Sebentar.. aja. Nurut, ya.."
Shon mencium telapak tangan kanan Yeva yang masih menangkup rahangnya, lantas mengangguk.
Yeva menarik lengan Shon pelan, lantas seolah menginstruksikan agar Shon merebahkan dirinya di atas ranjang Yeva. Pemuda itu menurut dan membiarkan Yeva menyelimutinya. Suhu ruangan sudah disetel kembali normal sejak Yeva nyanyak terlelap.
Setelah memastikan Shon menutup matanya, Yeva keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Namun alangkah terkejutnya Yeva mendapati di dalam panci bakmi yang ia inginkan terlihat baru selesai dipanaskan beberapa menit yang lalu.
"Kak Shon.." Yeva menggeleng tak habis pikir.
Saat teman-temannya selalu mengatakan Shon adalah pemuda yang dingin, maka hanya Yeva, gadis spesial untuk Shon yang menjadi saksi bagaimana hangatnya sang pemuda itu.
End.
Selamat berbaper-ria... 🤗🤗