Suara dua motor berhenti di depan kos membuatku melongokkan kepala lewat jendela bertirai tipis. Cowok dan cewek yang membawa kendaraan masing-masing itu adalah sejoli yang sedang kasmaran. Teman-temanku, Arjuna dan Meita.
"Titip motor…" kata Arjuna melempar kunci padaku setelah menyibak tirai jendela.
"Kemana?" tanyaku yang sebenarnya nggak ingin tau.
Dengan wajah menyebalkan dia menjawab asal, "Bukan urusan anak kecil untuk tau."
Anak kecil? Aku mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Juna seangkatan denganku meskipun secara umur dia lebih tua dariku 2 tahun, namaku April. Tapi dia selalu memanggilku dengan sebutan 'anak kecil'.
"Aku ada bimbingan sampai sore, motornya aku pakai ya? Kamu pulang ambil motornya jam berapa?"
"Nggak pulang…"
"Jangan lupa pakai pengaman, Jun!" Aku bergumam pelan, untuk diriku sendiri tepatnya. Karena dia langsung pergi dengan pacarnya begitu kata terakhirnya terucap.
***
Aku baru keluar dari ruang bimbingan dan mendapati Arjuna ada di sana, menungguku.
"Tumben…" ucapku menghampiri wajah kusutnya. Pakaiannya bahkan serampangan dan kurang sopan untuk berada di kampus.
"Berisik, ayo ikut aku!"
"Kemana?"
"Duh anak kecil banyak nanya," gerutunya kesal.
Aku mengulurkan kunci motornya setelah kami sampai parkiran. Dia mengambil semua bawaanku dan meletakkannya di depan, pertanda kami akan langsung berangkat.
Dia berhenti di rumah besar, menyuruhku menunggu di kamar yang aku kenali sebagai kamarnya karena ada beberapa foto dan barang miliknya. Aku baru sekali ini diajak ke rumahnya setelah berteman akrab selama 4 tahun.
Tak lama, suara teriakan marahnya terdengar menggelegar dari ruangan lain. Juna sedang cekcok dengan seorang wanita yang di sebutnya sebagai Mak Lampir. Perkara uang.
Dia kembali ke kamar dengan wajah dingin, mengambil beberapa setel pakaian dan tak lupa membawa gitarnya. Menarikku keluar kamar dan pergi meninggalkan rumahnya tanpa aku sempat pamit atau berkenalan dengan keluarganya.
"Tunggu bentar…" pintanya memberhentikan motor di depan sebuah warung kecil, dan sebuah plastik kecil hitam dibawanya dari sana yang langsung dimasukkan ke dalam tasnya.
"Kamu beli apa, Jun?" tanyaku penasaran.
"Minuman." Dia menjawab singkat dan kembali menjalankan motor untuk pulang ke kosku.
"Jun… stop!, muka kamu udah mulai merah. Mabuk kamu itu!" Dengan kesal aku menyingkirkan minuman keras yang dibelinya tadi. Enak sekali dia begitu sampai kosku langsung menikmatinya sendirian sambil main PS. Kebiasaan kalau moodnya sedang tidak bagus.
Dia hanya menyeringai, "Nggak kira, ini cuma satu botol. Anak kecil tau apa sih?"
"Kamu udah lupa namaku?"
"April kan?"
Aku menggeram melotot, aku memang hanya setinggi dagunya dan tubuhku juga tidak bisa dibilang berisi. Tapi disebut anak kecil olehnya terasa mengganggu telinga dan aku kurang suka.
"Jun, aku mau bicara serius. Tapi berhenti minum dulu, aku nggak mau kamu lupa dan jadi bodoh menanggapi kata-kataku…"
Juna mengernyit dan dengan mata sipit melihatku, "Hm… let's talk litte girl!"
Kam*pret memang ini orang, "Kamu tau kan kalau kamarku kecil? Dan sekarang jadi sesak karena kamu banyak banget nitip barang disini."
Aku hampir merincikan barangnya mulai dari perlengkapan kuliah, baju, sepatu, play station beserta monitornya dan barusan baju lagi plus gitarnya. Astaga… kamarku sudah setengah jadi kamar cowok.
"Pindah ke deret depan, sana bilang sama Bu Kos sekarang! Aku bantuin angkat dan beres-beres nanti." Enteng sekali dia nyuruh aku pindah ke kamar yang lebih besar.
"Kamu sadar nyuruh aku pindah?" Ini orang pura-pura nggak tau apa gimana, harga kamar deret depan dua kali lipat dari kamar yang aku sewa sekarang.
"Iyalah, kamu bayar senilai kamar ini. Sisanya nanti aku yang bayar, gitu kan?"
"Trus kamu juga ikut nempatin kamarnya? Kita tinggal bersama?" Aku mendelik membayangkan niat liciknya.
"Aku punya rumah dan kamar pribadi kalau kamu belum lupa, ngapain kos sama kamu?"
"Aku dengar tadi orang yang kamu sebut mak lampir bilang kamu jarang pulang! Kalau pulang cuma untuk uang." Dengan hati-hati aku mengucapkan itu, takut Arjuna tersinggung. "Tidur dimana kamu?"
Dia terbahak-bahak, "Aku bukan anak kecil kayak kamu, April. Aku mau tidur dimana juga terserah aku."
"Kamu tidur tempat Meita?" Akhirnya aku menyebutkan nama pacarnya.
"Hm…," jawabnya membenarkan.
"Mak lampir itu mama kamu?"
"Mamanya Dewa," jawabnya muram dan singkat. Dewa adalah adiknya yang baru masuk kuliah. Jika perkiraanku benar artinya dia dan adiknya bukan saudara kandung.
Dan hari itu juga aku pindah ke kamar yang lebih besar karena dipaksa Juna.
Setelahnya, tidak ada yang berubah, dia hanya bertamu seperlunya, menitipkan motor dan barang-barangnya, belajar kalau sedang waras saja.
***
Aku kembali menghadap cermin, merapikan dandanan dan memoles lipstik merah muda sebagai sentuhan akhir ketika pintu kamarku diketuk dan muncul wajah Arjuna, "Aku mau keluar…"
"Ya," jawabnya tak peduli. Dia biasanya hanya mampir sebentar untuk selanjutnya pergi lagi.
Aku juga nggak paham untuk apa sebenarnya dia datang ke kosku. Sekali waktu memang sedikit lama jika dia sudah mulai main PS atau sedikit sadar mengerjakan tugas kuliahnya. Karena kebanyakan dia juga bersikap tak peduli dengan skripsinya.
"Ya udah, jangan lupa dikunci!" Tanpa basa-basi aku menyemprot parfum di depannya dan mengambil tas selempang untuk kubawa.
"Mau kemana?"
"Bukan urusan lo kali, Jun!" jawabku cuek seperti biasanya.
"Kamu mau kencan sama siapa?"
Aku ternganga, sejak kapan ada pertanyaan ingin tau lebih dari satu dari mulutnya. Apa dandananku memperlihatkan kalau aku mau pergi dating?
"Kasih tau nggak ya?" Sambungku menggodanya dengan tawa jenaka. Tentu saja aku tak berniat memberitahu dengan siapa aku akan pergi nonton hari ini.
Tak disangka dia menarikku hingga menabrak dadanya, dan dengan nada dingin dia kembali bertanya "Sama siapa, April?"
"Reiga," jawabku ketus. "Apa-apaan sih kamu, Jun? Sakit tau!" Ringisku karena dadaku masih menempel ketat padanya.
Dia merenggangkan jarak dan menatap tajam padaku, "Jangan sama Reiga!"
"Bukan uru…" suaraku terhenti karena dia melotot dan melihatku dengan tatapan kejam, mematikan. "Ya tapi kenapa? Kasih alasannya kalau aku nggak boleh jalan sama Reiga?"
Dengan suara tegas dia menjawab, "Dia ba*jingan, cowok brengsek. Nggak cocok buat kamu!"
"Kan nggak jauh beda sama kamu…" ucapku sedikit sinis.
"Batalkan sekarang, bilang kamu sakit kepala!" perintahnya tanpa ampun. "Apa perlu aku yang menelponnya?"
Aku menghela nafas frustasi. Setelah Dave, Yudhis dan Nino sekarang dia juga melarangku bersama Reiga. Egois sekali.
Sebagai gantinya dia mengajakku makan, nonton dan menghabiskan malam minggu dengannya. Aku tau ponselnya terus berbunyi, tapi dia mengabaikannya. Itu pasti panggilan dari pacarnya.
Ponselku juga berbunyi, jadi aku melihat pesan masukku sendiri dari Meita, dia mencari Arjuna dan sekarang dia sedang menunggu kami di depan kosku. Benar kan dugaanku? Arjuna mungkin membatalkan kencannya karena menemaniku.
Aku mengajaknya pulang karena sudah jam sembilan malam. Meita langsung ikut masuk ke kamarku bersama Arjuna, dari wajah mereka berdua sepertinya akan ada perang. Aku sebagai teman dari kedua belah pihak wajib menyingkir dan tidak ikut campur, tapi kemana? Akhirnya aku memasang headset besar dan menyalakan komputer, mengerjakan revisi skripsi sambil mendengarkan musik.
Lamat-lamat masih terdengar suara Arjuna dan Meita bersitegang dan berdebat, seperti biasa Meita sambil menangis menghadapi badboy-nya.
"Otak kamu itu ada dimana hah? Itu nyawa anakku dan kamu menghilangkannya! Selain nggak punya otak ternyata kamu nggak punya hati, Meita!" Aku bergidik mendengar suara Arjuna yang marah besar karena Meita mengaborsi janinnya tanpa sepengetahuannya.
Aku tau Arjuna bukan orang yang kejam, terlebih dia sangat menyukai anak-anak. Jika saja Meita mengatakan kalau dia hamil, aku yakin Juna pasti menikahinya.
"Aku tidak mungkin hamil, Jun. Aku tidak siap. Bagaimana kuliahku? Orangtuaku?"
"Pulanglah, urus kuliahmu mulai sekarang! Dan jangan pernah cari aku lagi, kita putus!" Arjuna berkata dingin. Pasti dia kecewa dengan Meita.
Hah, mereka pacaran dua tahun lebih dan sekarang putus? Aku pura-pura tidak mendengar saja, kasihan Meita. Arjuna memang ba*jingan, tapi dia juga menyayangi pacarnya.
Tidak perlu berkata dua kali, Meita pergi dari kosku. Dia juga sudah paham, Arjuna bukan orang yang akan menarik kata-katanya.
Tak lama Arjuna keluar juga dan kembali membawa dua botol minuman keras. Membukanya, minum sendiri dengan asyiknya seraya memetik gitarnya. Tentu saja aku dianggapnya tak ada. Badboy tampan setengah kaya ini sungguh menyebalkan.
Karena tak ada lagi yang aku kerjakan, aku pergi tidur setelah mengirimkan pesan pada ponselnya untuk membangunkanku kalau dia mau pulang. Dia sedang tidak ingin bicara. Jadi mengirim pesan seperti ini lebih efisien untukku dan untuknya. Dia juga pasti pulang setelah menghabiskan minumannya.
Aku nggak tau ini jam berapa, yang jelas sudah tidak terdengar suara gitar Arjuna. Dan lampu kamar juga sudah gelap, meninggalkan lampu tidur yang sangat temaram. Satu hal yang berbeda dari biasanya adalah ada seseorang yang tidur di sampingku dan dengan erat memelukku. Dari bau parfumnya aku tau ini Arjuna.
Huh, aku bergerak tidak nyaman untuk menjauhinya, tapi dengan kuat dia memaksaku untuk tetap dekat dengannya. Bahkan dia membimbing tanganku untuk melingkari tubuhnya.
"Jun…" Panggilku resah. Aku tidak tahan dalam himpitan dan wangi tubuhnya yang menyiksa. Aku takut dia tau kalau selama ini diam-diam aku menyukainya.
"Sssttttt… tidurlah April, aku akan menjagamu. Anak kecil."
Aku tidak menyangkal kalau Arjuna selama ini memang selalu menjagaku dengan caranya yang kadang tidak menyenangkan.
Menitipkan barang adalah alasannya agar bisa selalu datang mengontrolku, titip motor untuk memfasilitasi kegiatan kuliahku dan melarangku kencan dengan beberapa orang adalah caranya menjauhkanku dari predator seperti dia.
"Jun…" Aku masih saja gelisah.
Kali ini dia tidak langsung bicara, justru mendekat dan memberikan kecupannya pada bibirku yang setengah terbuka. "Mau tidur atau mau aku perkosa?"
"Jun…" pekikku mengaduh karena gigitan kecilnya. "Kita harus bicara!"
"Yang benar itu kita harus segera menikah, April. Karena denganku kamu tidak akan lagi jadi anak kecil." Dia membawaku ke dadanya, hal yang sekalipun tidak pernah dilakukan Arjuna padaku. Ini adalah sentuhan pertamanya padaku.
Bagaimana dia tau kalau aku tidak akan menolaknya? Karena hanya aku yang tidak pernah menghakimi apapun yang dilakukannya. Dia selalu jadi badboy tercinta apapun keadaannya.
End
***