Bak pangeran tampan dari negeri dongeng, membuat Shilo menjadi sangat populer.
Aku merasakan bahwa perlahan-lahan sikapnya berubah.
Ia menjadi sangat ramah dan dekat dengan beberapa gadis cantik di kampusku.
Hal itu membuat hati dan pikiranku kacau.
Mengapa perasaanku jadi tidak jelas seperti ini?
Aku merenunginya selama beberapa hari.
Ternyata benar! Aku menyukainya.
Apa yang harus kulakukan?
Menyatakan cinta?
Agh!
Tidak mungkin!
Harusnya laki-laki yang duluan menyatakan cinta, bukan perempuan.
Tapi, aku harus tetap melakukannya.
Ini demi menyelamatkannya juga, dari cengkeraman gadis-gadis yang tidak jelas asalnya itu.
Aku harus berjuang!
.
.
.
.
.
“Shilo. Aku menyukaimu”
Keheningan pun pecah ketika Shilo tertawa dengan sangat keras. Sekilas aku melihat bahwa tawa itu adalah sebuah hinaan.
Dan dugaanku benar.
“Kau suka padaku? Cih. Kau lihatlah dirimu, sama sekali tidak pantas disebut sebagai perempuan! Ria, sadarlah. Kau itu bukan tipeku! Aku hanya menganggapmu sebagai seorang teman. Tidak lebih”
Kata-kata itu menjadi tamparan keras bagiku.
Tak terasa, air mata mengalir begitu deras melewati pipiku.
Aku berlari dan berlari.
Berharap sesuatu menabrakku dan membuatku menghilang dari dunia.
Akankah semuanya akan berakhir sampai disini?
Selesai