"Hana ... Aku ingin membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih jauh." Samuel berkata ke Hana. Mereka sudah menjalin kasih selama setahun. Tanpa diketahui keluarga Hana.
"Aku juga. Tapi ..."
Samuel tahu status keluarga Hana jauh di atas dirinya. Boleh dibilang ia termasuk golongan orang yang tidak mampu. Sedangkan keluarga Hana termasuk sangat berkecukupan.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Membuktikan diriku pada ayahmu sehingga ia bisa menerimaku." Samuel bertekad.
"Aku akan menunggumu."
Samuel bekerja begitu keras dan giat. Ia sering lembur di kantor untuk menyelesaikan proposal perusahaan. Memikirkan ide-ide untuk kemajuan perusahaannya.
Jika orang yang seumuran dengannya menikmati masa muda dengan bersantai di club, ia tidak. Ia juga mempelajari cara-cara bisnis perusahaan saingan. Ia harus naik jabatan.
Begitu juga dengan Hana. Jika orang tuanya mengenalkannya dengan seorang pria, ia akan tetap menemui pria tersebut untuk meminta maaf.
"Maafkan aku. Aku menyukai pria lain."
Perlahan tapi pasti Samuel mulai mendapat respect dari atasan. Jabatannya naik dari pegawai kantor biasa menjadi manajer.
Teman wanita sekerja yang dulunya menganggap rendah dirinya mulai mendekatinya tetapi Samuel menolak secara halus.
Sampai akhirnya jabatan Samuel naik dan naik lagi.
Pimpinan teratas perusahaan yang mengagumi cara kerjanya berbincang-bincang dengan dirinya. Sampai akhirnya pimpinan itu menanyakan hal pribadi.
"Apakah kau sudah menikah?"
"Belum."
"Aku hendak mengenalkanmu pada putriku, apakah kau mau bertemu dengannya?"
"Saya ..." Samuel tahu ia tidak bisa menolak perintah atasannya. Ia akan menemui putri direkturnya untuk meminta maaf.
Saat pertemuan tiba ...
Di tempat kencan buta mereka ...
Samuel menemui putri direkturnya yang mengenakan dress berwarna pink.
"Hai ... Aku Samuel."
"Senang bertemu denganmu. Aku Hana."