Senja itu menyimpan makna tentang kegundahan yang tak pernah terjawab dan keindahan temaram lampu senja.
Ingin rasa nya berlari mengejar setiap noktah cahaya senja yang terus merangkak ke ufuk peraduanya.
Tapi hati ini tak begitu berdaya di atas kehampaan makna hasrat yang tersembunyi.
Bagai lenguhan nafas manusia yang lelah berburu tanpa tujuan.
Kemanakah langkah harus di arahkan, sementara rasa rindu yang tak bertepi selalu hingga di dalam kalbu? Benarkah Nisa jatuh cinta pada Rendi yang ada di pulau seberang?
Apakah ini hanya fotomorgana di tengah gurun sepi yang membuat Nisa berlari menggapainya karena dahaga akan cinta dari seorang pria? Ataukah kehadiran rendi hanya sebatas intermezo di sela sela penantian jodoh Nisa?
" Sedang apa kamu ini?" Mungkin itu tanya rendi bila teringat Nisa.
Seperti biasa, Rendi akan selalu tersenyum bila merindukan Nisa, kemudian khayalannya terbang ke dunia antah-berantah.
Khayalan akan kesempurnaan seorang wanita sahabat sejiwanya.
Hari berlalu, minggu terlewati, bulan pun berganti.
Sosok Nisa selalu menghiasi hidup rendi, mengisi hari-harinya dengan warna keindahan.
Tapi Nisa tak mudah mengakui itu semua, Nisa biarkan rindu berlalu namun dia sendiri tak bisa menghentikan satu kalimat "aku rindu abang...."
" Mungkin kamu terlalu baik bagiku," kata rendi. Kalimat itu menyayat hati Nisa dekap kesenduan rendi tapi ada hijab yang membuatnya harus percaya bahwa rendi tidak pantas untuk dimiliki.
Tak pernah Nisa mengerti bagaimana mungkin ada awal namun sulit sekali mengakhiri.
Berawal dari pertemuan di acara seminar, seorang pria yang tampak di percaya diri dan anggukan berhias senyuman, datang menghampirinya.
Kali pertama perkenalan, rendi begitu memesona.
" Rendi," kata itu keluar dari bibirnya saat memperkenalkan diri.
Selanjutnya selalu menjadi indah, kebersamaan dengan rendi membuat Nisa mengenal dunia tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Rendi membuat Nisa selalu tersanjung, dia mendengar keluhan Nisa dan selalu ada untuk menjaga Nisa.
Rendi mengerti segala sikap Nisa. Rendi punya segalanya untuk menaklukkan Nisa namun itu tidak pernah dilakukannya.
Rendi begitu sederhana bersikap dan selalu menjadi Nisa yang sangat istimewa.
" Aku menyukaimu karena kesederhanaan mu. Tak banyak ku berharap kecuali mendapatkan rasa aman dan nyaman dari hubungan kita," kata rendi.
Sekali lagi Nisa terjerambap tak berdaya. Rendi bagai elang kehilangan sayap, ingin mencapai langit namun kakinya terantai.
Asanya dia selalu ada untuk Nisa, tapi menapa Nisa tak bisa mengakhiri ini semua? Mengapa Nisa membiarkan Rendi kelelahan dalam penantian?.
Digapainya bayangan dari setiap makna yang tersirat namun Nisa tak pernah mampu mewujudkannya menjadi kenyataan.
Ketika pagi bersinar cerah, Nisa dengan ceria menyambut kedatangan Rendi di kotanya.
Rendi pun menyambut dengan hangat, selalu begitu, membuat Nisa merasa dirinya begitu berarti.
Mentari bersinar menerangi keindahan dan kecantikannya, wajahnya merona kemerahan.
" Senang sekali kamu datang untuk menemuiku. Duh, rasa rindu terobati jua. Berbulan dalam penantian, larutlah sudah," kata Nisa.
Lagi lagi rendi kehilangan kekuatan untuk menyusun kata.
" Aku juga rindu sama kamu." Hanya kalimat lemah ini yang mampu terangkai.
Nisa biarkan rendi berceloteh tentang keberhasilannya menyelesaikan pendidikan SMA di persantren dan lulus jalur undangan SBTN kuliah di UNM Makassar.
Nisa coba menatap keceriaan rendi dalam senyuman, ingin Nisa gali apa yang yang tersembunyi di balik keperkasaan rendi agar dia dapat menentukan langkah.
" Ada yang tak mungkin bertaut di antara kita," Akhirnya Nisa mengatakannya juga.
" apa?"
" Agama kita berbeda." Nisa beranikan diri untuk sampai dermaga kegalauannya.
Ada mendung di balik wajah rendi, tampak wajah lelah dan kalah. Nisa tau itu sebagai tanda dia harus pergi. Pergi dan tidak akan kembali lagi.
" Mengapa baru kini kamu sampaikan? Mengapa awalnya kamu tidak pedulikan ini?"
" Mengapa ini begitu penting bagimu? Mengapa kamu biarkan hati ini tenggelam diluat dalam?" wajah rendi menyimpan luka.
Perasaan Nisa tersentuh. Ingin melupakan apa yang dia katakan. Ingin menghibur dengan menerima sikap rendi.
" Tak mungkin bagiku menerima pria berbeda paham tentang agama." Nisa tetap kukuh bersikap dan dia menderita karena itu.
" Mengapa tidak mungkin? Bukankah kita memiliki Cinta untuk menerima perbedaan itu? Cinta kita akan mampu meredam setiap perbedaan di antara kita. Bukankah kamu mencintaiku? Bukankah kamu telah berjanji setia untuk ku? Bukankah kamu ingin aku menjadi belahan jiwamu? Bukankah..."
Rendi membuat Nisa tersungkur dalam lubang yang hitam, rendi membuat Nisa kehilangan ego sebagai seorang wanita bila tak mampu menjemput kata-kata rendi.
Kembali Nisa tersungkur. Cinta sangat indah dalam makna rendi, sementara Nisa sendiri kehilangan arti makna cinta kecuali iman yang tak mungkin tergadaikan hanya karena seorang pria.
Hanya karena cinta manusia, cinta yang berbatas rasa dan karsa, cinta yang tanpa keabadian bila tanpa keridohan Allah.
" Bila ini yang kamu mau ku sadari kamu tak mencintaiku. Mungkin ini sudah nasibku bila pada akhirnya wanita terdekatku pun punya alasan alasan untuk meninggalkanku."
Rendi langsung pergi dan berlalu, menerima kalah dan pasrah.
Ingin rasanya Nisa mengejar dan memeluk Rendi agar mengerti sikapnya. Namun, tidak sanggup untuk kakinya bergerak.
Nisa menangis di tempat sepi, kebersamaan dalam keceriaan selama ini seakan akan hanya menumpang tawa di tempat ramai.
********
Setelah pertemuan itu, rendi tetap berusaha menemui Nisa namun Nisa sulit sekali dihubungi.
Ada keinginan Rendi untuk menemui Nisa di tempat kos tapi waktunya habis untuk mengikuti traning kampus UIT.
Berkali kali dia mencoba menelepon ke tempat kos Nisa tapi tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya teman Nisa memberitahu bahwa gadis itu sudah pulang ke rumah orang tuanya di Nusa tenggara barat.
Rendi mencoba menghubungi rumah orang tua Nisa tapi gadis itu tidak ada di tempat.
Orang tuanya bilang Nisa di rumah pamannya di Bali, Rendi langsung menelepon ke Bali. Nisa ternyata memang ada disana.
" Nis, ada apa? Kenapa kamu lari dariku?"
" Bagiku hubungan kita sudah selesai. Lupakan aku, Bang. Lupakan!"
" Kenapa?"]
" Lupakan!" Sambil menghapuskan air mata.
" Lantas apa artinya hubungan kita berdua selama ini bagimu? "
Tak terdengar lagi suara Nisa di seberang menjawab soal ini hingga telepon ditutup.
Akhirnya rendi kembali berangkat ke Makassar tanpa mendapatkan jawaban apa pun. Yang dia ketahui, Nisa telah memutuskan hubungan mereka.
Berakhir lah sudah hubungan mereka berdua.
Tahun 2020.
Nisa bahagia sekali ketika yuna memberi tahu kalau dia di terima di perguruan tinggi tempat Rendi pernah kuliah.
Dia melihat yuna tak ubahnya seperti Rendi. Cerdas, energik. Entah kenapa dia kembali membayangkan Rendi, pria yang di kenalkannya 17 tahun yang lalu.
Dia sangat mencintai Rendi namun ,demi menjaga agamanya dan perasaan orang tuanya, dia memilih memendamkan rasa cinta dalam-dalam.
Kebetulan setelah kepergian Rendi ke Makassar, Nisa mendapatkan pria seagama denganya yang juga mencintainya dan ingin menikahinya dia terpaksa berhenti kuliah cita-citanya pun terkandas.
Pria yang menjadi suami Nisa bukanlah pria berpendidikan tinggi. Dia pria yang biasa saja. Namanya Rino adalah seorang katolik yang taat dengan ajaran agamanya.
Setelah anak mereka lahir, Nisa berusaha membantu beban keluarga dengan bekerja sebagai staf administrasi di pabrik.
Kehidupan ekonomi keluarga tidak begitu baik, apa lagi setelah Rino DI-PHK sebagai pramugara. Namun, mereka melalui semua cobaan itu dengan tegar seiring lahirnya anak mereka yang kedua.
" Mas yuna diterima di universitas," kata Nisa ketika Rino sampai di rumah setelah berlelah lelah bekerja sebagai sopir taksi.
Rino tampak girang, namun sesaat kemudian wajahnya berubah muram.
" Dari mana kita dapatkan uang untuk yuna masuk universitas?"
Nisa sadar mereka tidak punya cukup uang untuk mengirim yuna ke universitas, apa lagi zaman sekarang masuk perguruan tinggi adalah kemewahan.
Sangat tidak mungkin bagi keluarga yang hidupnya dari pekerjaan sebagai sopir taksi.
Mereka berdua terdiam. Akhirnya, rino masuk kamar sambil duduk di kasur dan memegang tanda salib sambil berdoa.
Nisa melihat suaminya berdoa dengan menangis membuatnya ikut bersedih.
" aku tahu sekarang kita tidak punya apa-apa. tapi kita masih punya tuhan. Bila tak ada lagi tempat kita meminta tolong, maka kepada dia lah kita kembali. Tuhan penuh kasih," kata rino.
Nisa memeluk suaminya. Dia merasa tenteram karena tuhan mengirimkan untuknya suami yang taat dan menuntunya dalam kesabaran.
Tengah malam Nisa dan Rino bangun berdoa bersama. Dengan linangan air mata mereka berdoa kepada tuhan agar di berikan jalan untuk menanggung beban anak yang di amanahkan oleh tuhan kepada mereka. hal itu terus di lakukan setiap malam.
Sekian lama hari demi hari mereka memeluk agama islam dan mulai hidup baru lagi. Suatu hari ketika suaminya hendak berangkat kerja, Nisa mengingatkan.
" Mas, paling lambat lusa yuna harus mendaftar dan kita harus sudah ada uang." Yuna mendengar kata kata ibunya.
" Mak, nggak usah di pikirin soal rencana yuna mau kuliah. Yuna akan kerja dulu. Nanti kalau sudah ada uang, yuna bisa kuliah. Ya, kan?" kata yuna. Nisa memeluk anaknya.
" InsyaAllah, Nak. Jika Allah berkehendak, kamu tetap bisa kuliah." Rino menatap haru sambil melapkan air matanya melihat mereka bertiga.
Siang itu, setelah satu jam menunggu di bandara baru lah rino mendapatkan penumpang.
Seorang pria gagah yang baru pulang dari luar negeri. Pria itu tampak sopan.
" Antar saya ke hotel Nikko, " ujarnya.
Di perjalan pria itu sambil membaca al-quran kecil, selesai membaca dalam hati. Pria itu mengajak Rino berbicara.
" Sudah berapa lama, pak, jadi sopir taksi? "
" Udah sepuluh tahun, pak."
" Sebelumnya kerja dimana pak?"
" Saya kerja sebagai pramugara pesawat tapi berhenti karena terkena PHK."
" Oh... tentu Bapak bisa bahasa Inggris."
" Ya, pak, tapi dulu. Sekarang sudah banyak lupa. Maklum, jarang di pakai."
" Sudah punya anak berapa, pak?"
" Dua, pak. Yang tertua perempuan, yang satunya laki-laki."
" Sudah umur berapa mereka?"
" Yang tertua sudah tamat SMA dan sekarang di terima di perguruan tinggi. Yang kecil masih kelas 3 SMP. "
" Perguruan tinggi mana? "
" UNM Makassar."
" Oh, itu dulu kampus saya, pak. Saya alumni UNM makassar. "
" Ya, pak. Tapi kelihatannya harapan anak saya akan kandas karena kami tidak punya cukup uang untuk mengirim dia ke Makassar. "
" Saya maklum, pak. Beda dengan waktu saya kuliah. Uang kuliah tidak mahal dan lagi saya dapat beasiswa supersemar. Sekarang universitas sudah jadi alat kapitalis.Tidak ada yang gratis. Belum lagi biaya hidup selama kuliah juga mahal. "
Ya, pak. "
Penumpang itu tak lagi bertanya. Rino lagi melihat dari kaca spion, tampak penumpang itu sedangkan melamun sambil memandang keluar. Melihat keindahan suasana.
" pak, " kata penumpang itu setelah mereka sampai di hotel nikko,
" Bapak jangan pergi dulu, tunggu saya di lobi hotel. " pria itu membayar ongkos sesuai argo.
" Baik, pak. " Rino yakin pria ini butuh taksi untuk pergi ke tempat lain.
Dia memarkir taksi dan kembali ke lobi hotel. Ternyata pria itu sudah menunggu nya.
" Mari, pak. Ikut saya." kata pria itu. Mereka masuk ke lounge executive. Di sana sudah ada seorang wanita mudah.
" Pak kenalkan ini sekretaris saya bella." pria itu menunjuk wanita yang berada di sampingnya.
" Saya tinggal di kota Mandina, jadi saya minta tolong teman saya untuk mengatur pembiayaan kuliah anak Bapak sampai tamat," sambung pria itu.
" maksud Bapak? "
" Saya akan menanggung kuliah anak Bapak. "
" Menanggung? Kenapa, pak. "
" Bapak ini banyak menolong mahasiswa yang tidak mampu. Ini sudah kebiasaan Bapak," kata bella menjelaskan alasan bosnya memberikan bantuan.
" pak saya terlahir dari keluarga miskin. Saya bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi. Rasa syukur inilah mendorong saya untuk ikhlas berbagi. Ini semua karena Allah."
" ya, saya kenal betul bapak ini. Beliau bos kami. Dia sangat religius," kembali wanita itu menjelaskan.
Tampak terasa air mata Rino berlinang dan akhirnya mengalir di pipinya.
" Terimakasih, pak. Semoga Allah memudahkan rezeki Bapak dan memberikan Bapak kesehatan," kata Rino.
Dirahinya tangan pria itu dan digenggamnya dengan erat.
" Hanya Allah yang tahu betapa berartinya ini bagi keluarga kami yang miskin, pak."
Pria itu tersenyum. " pak, ini saya kasih cek. Bapak bisa ambil di bank. Saya rasa uang ini lebih dari cukup. Suruh anak Bapak buka rekening di bank. Saya akan kirim uang semesternya, termasuk biaya hidupnya selama kuliah. "
" Oh... Terima kasih, pak." kini Rino benar benar nangis.
" Nah, pulanglah, pak. Temui anak anak Bapak dan segeralah urus pendaftarannya, " kata pria itu.
" Oh, ya, pak, ini kartu nama saya. Kalau anak Bapak sudah buka rekening di bank tolong SMS saya." kata bella.
Roni segera pulang ke rumah dan menyampaikan kabar itu pada istrinya. Nisa langsung sujud syukur kepada Allah atas limpahan rezeki yang tak terduga duga ini.
Dia semakin yakin akan kekuasaan Allah dan agama baru nya agama islam yang dia anut sekarang.
" Benar, kan. Sayang? Kalau tidak ada lagi tempat bagi kita minta pertolongan, kepada Allah sajalah kita berserah diri. Allah berbuat sesuka-nya, termasuk mengirim seorang manusia untuk menjadi penolong kita."
" Ya, mas. Siapa pria yang berhati mulia itu, mas?"
" Aku tidak tahu namanya.dia tinggal di kota Mandina. Selanjutnya kita hanya berhubungan dengan ibu Bella.
" Bella?"
" Ya, sekretaris pria itu. "
" Oh.... "
Anak mereka pun mulai kuliah di kampus UNM makassar mengambil jurusan SH (serjana hukum), keluarga mereka hidup dengan bahagia dan di dampingi oleh ibu Bella.
Tahun 2021
Tahun tahun berlalu. Kemarin Nisa mendapat kabar dari Yuna bahwa dia sudah menyelesaikan Tugas Akhirnya dan lulus dengan memuaskan.
Rencananya, tiga bulan lagi dia akan diwisuda. Nisa ingat, ketika SMA Yuna bercita cita masuk di unm Makassar jurusan SH (serjana hukum).
Nisa terkejut karena Yuna mengambil jurusan dan perguruan tinggi sama seperti dengan Rendi, padahal dia tidak mengarahkan Yuna. Nisa pun selalu menyimpan rapat rapat rahasia masa lalunya.
" Negeri kita adalah negeri hukum, mak. Kita harus menegakan keadilan dengan sekuatnya. Ya kan, mak?"
Itulah alasan Yuna. ingin menjadi penegak hukum yang adil.
Nisa mengabarkan suami nya bahwa Nisa akan diwisuda tiga bulan lagi. Rino ingat bahwa bella perna berpesan bila Yuna sudah akan diwisuda agar dia di kabari.
" Saya akan menghubungi sekretaris pria yang selama ini mengirim uang kepada Yuna agar tidak perlu lagi mengirimkan karena Yuna sudah selesai. Selama nunggu wisuda Yuna tinggal di rumah aja, ya, sayang. "
" Ya mas."
Pada tanggal. 07 bulan september, 2021.
Acara wisuda yang dinanti nanti kini telah tiba.Nisa, suaminya dan anaknya yang nomor dua sudah berada di aula kampus. Mereka hadir untuk menyaksikan wisuda itu. Berlinanglah air mata mereka ketika melihat Yuna diwisuda kan di atas panggung aula.
Ketika keluar dari gedung tempat wisuda itu, Rino terkejut karena melihat Bella yang dulu ditemuinya di Hotel Nikko hadir juga. Segera Rino menarik tangan Nisa untuk mendekati wanita itu.
" Loh, Mbak bella ada disini? " tanya Rino.
" Kami selalu menyempatkan hadir pada setiap wisuda. Ada tiga orang mahasiswa yang di bantu Bapak yang kebetulan hari ini diwisuda juga," jelas bella.
" Oh, gitu. Wah hebat, ya Bapak. Mulia sekali hatinya." Rino melirik ke arah Nisa.
" Sayang, ini Mbak Bella yang setiap bulan kirim uang ke rekening Yuna. "
Nisa menyalami Bella.
" Terima kasih, ya, Mbak. Hanya Allah yang akan membalas," kata Nisa.
" Jangan berterimakasih ke saya tapi kepada bos saya. Dialah yang menanggung semua biaya itu. Saya hanya juru bayar," sambut bella.
Bella menatap tempat pelataran wisuda itu.
" Nah, itu pria yang telah menolong anak anda." Bella menunjukan ke sudut ruangan. Tampak pria itu sedang asyik berbicara dengan beberapa orang.
" Maklum, Bapak kalau datang ke kampus seperti pulang kampung. Banyak nostalgia di sini. Dia rindu dengan teman-teman lamanya," kata bella sambil melangkah ke arah pria itu dan kembali bersamanya.
Nisa tampak pucat ketika pria itu tepat di depannya dan mereka bertatapan muka. Jantungnya terasa berhenti keringat dingin membasahi tangan nya.
Merasa sangat gugup dan malu dia berusaha tegar tapi itu membuat Nisa masih kaku melihat pria itu.
" Nis," kata pria itu sambil mendekat ke arah Nisa dan menyalaminya.
" Bang Rendi," kepala Nisa tertunduk. Tak sanggup dia menatap pria yang pernah bersemayam di hatinya.
" Ada apa datang kemari?" rendi sambil tenang dan tersenyum.
" Yuna diwisuda, Bang."
" Yuna itu putrinya, pak," kata bella kepada Rendi sambil melirik ke arah Rino.
" Oh jadi Yuna itu putri kamu? "
" Ya, bang. Abang gimana kabarnya?"
" Setelah dapat kabar kamu menikah, aku putuskan menerima kesempatan kerja di Kota Madina. Sampai kini aku tinggal disana aku alhamdulillah aku sudah sukses menjadi seperti ini.
" Oh, ya? Alhamdulillah sampai juga cita-cita ke Abang. Nis senang mendengarnya." Nisa salah tingkah. Dia melihat kerinduan di wajah rendi. Mungkinkah rendi masih mencintainya? Ah, tidak. Itu sudah masa lalu baginya.
Yuna berlari ke arah mereka sambil memanggil Nisa. Rendi menatap Yuna yang memeluk erat Nisa.
" Terima kasih, mak. Berkat doa mamak yuna bisa berhasil."
Rino mencium kening Yuna.
" Papa terima kasih ya, pa."
" Yuna juga harus berterima kasih dengan om ini." Rino menunjuk Rendi yang ada di depannya.
" Om ini yang menanggung kuliah Yuna termasuk biaya hidup kamu selama kuliah,"kata Rino.
" Terima kasih, Om." Yuna menyalami Rendi.
Saat itulah Nisa tak bisa menahan tangisnya. Air matanya meledak. Dia menjauh, membiarkan mereka kebingungan.
Rino mendekati Nisa. "Ada apa, sayang?"
" Itu Rendi. Dialah pria yang selama ini aku ceritakan kepadamu.
" Ya, sudah ku tebak dari awal ketika kamu pertama kali bertemu dia. Dia kenal kamu dan kamu tampak pucat ketika bertemu dengannya.
" Apa yang harus ku lakukan, mas?"
" Biasa sajalah. Itu sudah masa lalu," rino tersenyum.
Nisa langsung memeluk suaminya dan berkata, " ya Allah , betapa besarnya anugerah-Mu padaku. Engkau telah kirim kan padaku suami pribadinya sangat agung."
" Mama juga istri yang baik. Sangat baik. Papa tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah mendapatkan istri seperti Mama," balas Rino.
" Nah, sekarang udah ya tangisannya. ayo kita temui Yuna dan Rendi. Sambung Rino sambil menghapus air mata Nisa yang mengalir di pipinya.
Kembali Nisa bergabung dengan mereka semua. Nisa sambil berusaha tenang di depan di hadapan Yuna dan Rendi.
Rino menatap Nisa yang berdiri sambil kaku. " Bu Bella, bisa bantu saya foto bareng anak saya menghadap kampus ini? Saya berharap kelak adik Yuna juga bisa kuliah dikampus ini."
Tampaknya Rino sengaja memberikan kesempatan Nisa untuk berdua dengan Rendi.
" Bang, aku sudah menjadi seorang muslim selama dua tahun ini. Sekarang kami merasa sangat tenang dan bersyukur. "
" Oh, baguslah, semoga menjadi wanita soleha dan menjadi istri yang baik dan berhati suci." ujar rendi sambil senyum.
" terima kasih banyak, Bang."
" Aku menjadi seperti ini selama enam tahun setelah kita berpisah dulu. Baru ku sadari betapa sikap mu dulu benar tak mungkin menggadaikan akidah demi cinta manusia. Akidah islam memang indah bila di bandingkan dengan cinta apa pun di muka bumi. Indahnya iman tak mungkin bersanding dengan cinta apa pun. Bukanlah cinta di bumi ini menjadi fana? Di akhiratlah keabadian cinta yang harus kita jemput. Cinta Allah tak perna bertepi bagi insan yang didekap iman," kata rendi.
Indah sekali hikmah yang dibalik tutur katanya. Itulah kata yang bersumber dari hati. Selalu indah di dengar. Tidak sama dengan kata kata yang keluar dari nafsu dan akal sempit.
" masihkah Abang mengingat aku setelah kita berpisah?" tanya Nisa. Tanya kebodohan karena lebih bermakna naif akan kekerdilan diri.
" Mana mungkin aku melupakan kenangan indah itu? Kenangan itulah yang membuat ku semakin berubah belajar manrik hikmah dan akhirnya mengantarkamku kedalam kesabaran dan menjadi orang yang bisa membantu orang. Dan mengantarkanku hijrah menggapai cinta Allah.
Berakhirlah sudah kegalauan itu.
Nisa tersenyum dengan bahagia, lewat peristiwa ini Nisa mendapatkan hikmah dan pelajaran berharga.
Hikmah tentang istiqamah dan kesabaran dalam akidah yang selalu di jaganya dan tak pernah dia tergadaiakan alasan cinta manusia.
Kini buahnya manis. Melalui sikapnya, hidayah membuat dia sadar karena kata kata dari rendi, pria yang perna dia bersemayam di dalam hatinya.
Putri pun mendapat jalan lapang untuk merahi cita-cita karena kekuasaan tuhan mengirimkan pria yang perna dia cintai untuk menolongnya di tengah kemiskinannya.
Bila cinta Allah yang utama, semua menjadi mudah dan Allah berbuat sesuka-Nya.
" Abang sudah nikah punya istri?"
" Sudah, istri yang baik dan soleha."
" Semoga menjadi keluarga samara, ya, Bang. "
" Doaku juga untuk kamu, juga."
Gundah berakhir. Yang timbul kemudian adalah keikhlasan. Cinta rendi kepada Nisa telah terganti oleh cinta Allah melalui wanita yang di kirim untuk menjadi istrinya.
Rendi menyadari bahwa mencintai adalah pilihan namun jodoh adalah takdir.
Sekuat apapun manusia berencana namun kehendak Allah jua yang berlaku. Bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah semua itu kembali kepada Allah.
" Nah, gimana kalau kita foto bersama? Ayo!" Bella mendekat ke arah Rendi dan Nisa. Bella meminta Nisa, Rino, Yuna dan Rendi berjejer untuk di foto.mereka semua senyum cerah.
TAMAT