"Hen-hentikan, hiks.. hiks!!" lirih seorang gadis di tengah isak tangisnya. Penampilannya tampak sangat berantakan, dengan rambut yang sudah acak-acakan dan tubuh yang basah kuyup. Bahkan tampak beberapa memar di wajah dan kakinya. Gadis ber-nametag Ayana Larasati itu hanya bisa menangis, memperoleh bully merupakan makanan sehari-harinya di sekolah.
"Hmm.. Lo bilang apa?? Gue nggak dengar, coba ulangi.." ujar salah satu dari tiga gadis yang berdiri angkuh di depan Laras.
"Ren-Ren-Renita.. Ku-mohon hen-tikan, hiks hiks.." ujar Laras memohon.
"Gimana guys? Berhenti nggak nih??" Renita menatap kedua temannya, Leni dan Reva. Muncul seringaian jahat di wajah Renita, begitupun dengan Leni dan Reva.
Setelah Renita memberi kode kepada kedua temannya, tiba-tiba saja tangan Leni langsung mencekal kedua tangan Laras. Laras langsung menatap wajah Renita. Tampak senyuman jahat terlukis di wajah Renita.
Dengan sekuat tenaga, Laras mencoba untuk melepaskan diri. "Tolong,, jangan lakukan itu.. Ku-mohon lepaskan akuu.. Aku berjanji tidak akan membantah kalian lagi.. Kumohon lepaskan akuu, hiks.." Laras terus memberontak.
Renita mengkode Reva untuk melancarkan aksi mereka. Reva tersenyum sinis. Secepat kilat, kedua tangannya kini membuka satu persatu kancing seragam Laras. Sedangkan Renita tersenyum puas, merekam Laras pada kamera HP nya.
"Kumohon.. Hentikan..." isak Laras semakin menjadi-jadi. Tenaganya kini sudah habis karena sedari tadi menangis.
Saat Renita dkk tengah mempermalukan Laras, tiba-tiba seseorang menggedor pintu toilet.
Dor..dor.. dor..! Pintu toilet digedor oleh seseorang. "Siapa di dalam?!" seru seseorang.
"Cih! Siapa sih ganggu aja!" Renita berdecih kesal. Ia pun menyuruh Leni dan Reva untuk menghentikan aksi mereka.
Melihat ini, Laras segera mengancingkan kancing seragamnya lagi.
Dor.. dor.. dor..! Pintu digedor lebih keras.
Dengan perasaan kesal, Renita pun membuka pintu toilet. Tampak Pak Beni (guru BP) lah yang menggedor pintu tadi. Melihat pintu tersebut terbuka, dengan sisa-sisa tenaga yang ada Laras langsung berlari melarikan diri dari tempat tersebut. Ia tak mempedulikan keberadaan Pak Beni yang ada di depan pintu. Toh percuma, Pak Beni pun pasti juga tak akan memberi keadilan pada dirinya.
Laras terus berlari, melewati siswa-siswi yang memenuhi koridor. Ia berlari menuju ke atap sekolah. Kedua kakinya sudah lemas, begitupun dengan tubuhnya. Lelah..
Dirinya kembali terisak, menangis dalam diam. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Apa kau ingin balas dendam? Aku akan membantumu jika kau mau.."
Bisikan itu terus menghantui Laras. Ia menutup kedua telinganya, meski air mata terus mengalir membasahi pipinya.
"Aku akan membantumu membalas perbuatan mereka." bisikan itu kembali terdengar.
"Berhenti menggangguku!!! Aku tidak mau balas dendam!!!" teriak Laras, menatap sosok yang sedari tadi mengganggunya. Sosok seperti manusia, namun hanya ia yang mampu melihatnya. Sosok itu selalu mengganggunya semenjak ia dibully oleh Renita dan kedua temannya.
"Semua pasti akan segera berakhir..." isak Laras, membenamkan wajahnya pada lututnya. Tanpa sengaja, Laras kini tertidur di sana.
.
.
Laras terbangun. Langit sudah menampakkan senja. Ia mengusap kedua matanya yang masih sembab. Ia pun memutuskan untuk kembali ke asrama, karena jam sekolah telah berakhir sedari tadi saat ia tertidur.
...................................................................
Esok paginya, Laras berjalan menuju ke kelasnya. Tatapan-tatapan sinis terus didapat oleh Laras. Beberapa kali Laras mendengar mereka saling bisik, sambil menatap Laras dengan sinis. Laras yang sudah terbiasa pun mencoba untuk mengacuhkan mereka.
Kini Laras sudah di depan pintu kelasnya. Kedua matanya tertuju pada bangku dan mejanya yang sudah sangat berantakan dan sangat kotor. Ia pun melangkah menuju ke mejanya.
Sampah-sampah memenuhi meja dan lacinya. Laras menghela napas, mulai membersihkan meja dan bangkunya. Tampak makian dan ejekan tertulis di meja dan bangkunya. Di baca nya makian-makian tersebut.
Dasar murahan!!
Mati aja lo! Jijik gue!
Body triplek dipamerin!
Otak Laras berputar, berpikir apa kesalahannya hingga mereka melakukan ini terhadapnya. Ia menatap sekeliling,, teman-temannya tampak menatap ia sinis. Tatapan nya pun beralih ke Renita dkk.
Renita tampak ingin menunjukkan sesuatu yang ada di HP nya pada Laras. Laras pun segera mendekat. Dengan senyuman sinis, Renita memberikan HP nya pada Laras. Sebuah video tertera di layar HP tersebut. Laras pun memutar video itu.
Kedua tangan Laras langsung mengepal kala melihat video tersebut. Emosi tak lagi bisa ia tahan.
Pyarrr!!
Laras membanting HP Renita, menginjak-injak HP tersebut. Membuat Renita langsung marah tentunya.
"Gila lo?! Dasar sialannn!" teriak Renita langsung mendaratkan tamparannya. Leni dan Reva pun langsung mendorong Laras hingga terjatuh.
Renita langsung mengambil HP iPhone nya. Layarnya tampak retak. Ia pun langsung memukuli Laras. Menampar nya berkali-kali, bahkan meludahinya. Sedangkan kedua temannya memegangi Laras agar tidak kabur.
"Dasar cewek gilaa!!" umpat Renita. "Minta maaf nggak lo!!" titah Renita.
Entah mengapa, Laras tak takut sedikitpun kali ini. Ia malah menatap Renita dengan tatapan menantang. "Cuihh!" Laras meludahi Renita.
Amarah Renita kian membeludak. Ia langsung menginjak lutut Laras kuat-kuat. Membuat Laras meringis kesakitan. Belum puas, ia pun mengambil sapu, bersiap untuk memukuli Laras lagi.
Bugh!
Bughh!
Renita memukuli Laras membabi buta. Tak ada yang berani menghentikan Renita. Mereka semua hanya jadi penonton saja.
Hingga akhirnya datanglah Pak Beni. Ia tentu terkejut melihat Renita yang tengah dilanda emosi. Dengan cepat, ia menghentikan Renita dan kedua temannya.
Laras langsung berdiri. Berjalan dengan pincang ke dekat jendela. Semua mata terus menatapnya. Ia pun duduk membelakangi jendela. Wajahnya sudah bonyok, memar pun memenuhi tubuhnya.
"Persetann kalian semuaa!!!" teriak Laras dan langsung menjatuhkan dirinya ke luar jendela lantai tiga tersebut.
"Aku ingin membalas mereka.." lirih Laras sebelum dirinya sampai di tanah.
Melihat itu, membuat semua yang ada di sana berteriak histeris. Syok!
Selama beberapa saat mereka semua terdiam masih syok. Mereka semua langsung mengerumuni jendela, menengok ke luar jendela.
Mereka kembali syok saat melihat Laras tak ada di bawah sana. Hanya tampak bercak merah, darah milik Laras yang menggenang di bawah sana.
*3 hari kemudian..
Seluruh siswa-siswi dihebohkan dengan munculnya Laras setelah menghilang selama tiga hari. Berita itu pun sampai di telinga Renita yang tengah duduk di bangku nya.
Semua tatapan menatap seorang gadis yang kini berdiri di depan pintu kelas, dengan name tag Ayana Larasati terpasang di seragamnya. Gadis itu pun langsung duduk di bangku nya, tak menghiraukan tatapan mereka semua.
Dengan senyum sinis nya, Renita dkk menghampiri Laras. Mereka bertiga duduk mengelilingi Laras.
"Masih hidup aja lo?!" cibir Renita memulai.
"Gue kira bakal mati!" timpal Leni sinis.
"Kemana aja lo tiga hari ngilang?? kini Reva yang bertanya.
Laras bungkam, malas menanggapi mereka. Renita yang merasa dikacangin tentu saja tak terima.
"Habis jatuh telinga lo ilang ya?!" Renita merasa geram. Laras tetap bungkam, ia pun menatap sinis Renita dan dua temannya. Membuat Renita semakin kesal. Tangannya pun melayang hendak menampar Laras.
Semua siswa di sana langsung terkejut, melihat Laras mencekal tangan Renita yang hendak menamparnya.
"Beraninya lo-Auw auww!!" Renita meringis kesakitan.
"Sakit?? Ini belum seberapa dibanding yang udah lo perbuat ke dia.." Laras menyeringai.
Degg..
Tubuh Renita gemetar melihat tatapan Laras. Tatapan yang belum pernah ia lihat. Ia pun langsung mengajak kedua temannya kembali ke bangku.
.
.
Semua siswa sudah di lapangan olahraga. Karena Pak guru sedang ada urusan, mereka pun melakukan permainan voly. Kebetulan Laras tidak satu tim dengan Renita.
Bola menuju ke arah Laras, ia pun langsung melompat, melakukan smash yang sangat kuat hingga tak mampu di block.
Bugh..
"Auww!!" teriak Renita kesakitan.
Bola tersebut tepat mengenai wajah Renita. Darah langsung mengalir dari hidungnya. Ia pun langsung menghampiri Laras.
Plakk!!
"Lo sengaja kan?!" bentak Renita menampar Laras.
Laras tersenyum sinis. Tangannya langsung mendarat di pipi Renita.
Plakk!
Plak!
Plakk!!
Renita langsung tersungkur. Tiga tamparan berturut-turut Laras berikan pada Renita. "Gimana rasanya?? Sakit, kan?" sinis Laras menyeringai. Laras pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan lapangan. Tak menghiraukan umpatan-umpatan yang Renita lontarkan.
.........................................................................
Hari telah berganti. Begitupun dengan sikap Laras yang berubah 180 derajat. Membuat siswa maupun siswi lain tak berani untuk mengusiknya. Namun lain dengan Renita dan dua temannya. Mereka bertiga masih saja mengusik Laras.
"Aaaaaaa!!!" teriak Renita saat membuka lokernya. Ia pun langsung terjatuh saking terkejutnya.
"Kenapa Ren??" Leni dan Reva langsung menghampiri Renita, membantu ia berdiri.
"Itu.. itu.." Renita menunjuk lokernya. Leni dan Reva langsung terkejut saat melihat loker Renita yang berisi bangkai burung dara.
"Siapa pelakunya?!!" teriak Leni. "Lo kan!!" sambungnya menunjuk Laras.
Laras tak menjawab, hanya mengedikkan bahunya.
"Halah!! Ngaku aja, lo kan yang selama ini neror kita?!" seru Reva menunjuk Laras. Pasalnya, semenjak Laras muncul lagi, mereka bertiga terus mendapat teror.
Mulai dari terkunci di toilet, kiriman berisi ayam mati,, dan sekarang? Loker Renita ada bangkainya.
Disaat mereka tengah ribut, tiba-tiba bu guru datang. Pelajaran pun dimulai, tanpa ada keributan.
"Bu, izin ke toilet!" Renita meminta izin pada bu guru karena sudah sangat kebelet.
"Oke,, jangan lama-lama.." balas bu guru.
........................................................................
Renita sudah selesai dengan urusannya. Ia pun mencuci kedua tangannya terlebih dahulu. Saat ia hendak keluar, ternyata pintu itu terkunci. Ia pun memastikan apakah pintunya masih ia kunci. Tidak! Tapi kenapa tidak bisa terbuka??
Dor.. dor.. dor
"Siapa di luar?! Tolong, gue kekunci di sini!!" teriak Renita menggedor pintu.
Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat.
"Woii.. bukain dongg.." teriak Renita lagi.
Byurrr..!!
Seketika Renita basah kuyup. Seseorang menyiramnya dengan seember air yang sangat bau. Bau yang Renita kenal. Bau air itu sama dengan yang pernah ia siramkan kepada Laras.
"Sialan!! Lo Laras kan? Bukain nggak pintunya!!" teriak Renita menggebu.
"Hahaha.. Bukain? Kalo gue nggak mau??" tawa Laras terdengar sangat menakutkan.
"Kalo lo nggak mau bukain, lo bakal kena akibatnya!!" teriak Renita lagi.
Pintu pun terbuka. Tampak Laras berdiri di depan pintu dengan senyuman sinis nya.
Plakk!!
"Berani-beraninya lo ngerjain gue! Cari mati lo?!" bentak Renita.
Tatapan Laras langsung berubah. Sangat menyeramkan! Ia pun langsung menarik rambut Renita dengan kuat. Menariknya dan membenturkannya ke dinding.
Bugh!
Renita langsung terduduk lemas. Merintih, merasakan pusing akibat benturan tadi.
"Gimana rasanya, hmm? Sakit kan?? Tapi rasa sakit lo ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang Laras rasain.. Hihihihii!!" Laras terkekeh, sungguh seperti bukan diri Laras!
"Ras, maafin gue.. Gue mohon,, ampuni gue kali ini aja.." mohon Renita.
Laras menginjak lutut Renita. "Cih! Maafin lo??" Laras meraih pel yang ada di dekatnya. Renita yang melihat itu kembali gemetar ketakutan.
"Gue mohon jangan, Ras.." mohon Renita berkaca-kaca.
Laras kembali menyeringai, mengayunkan pel yang ia pegang. Renita langsung memejamkan kedua matanya ketakutan. Dan..
Tarr!!!
Renita yang terkejut langsung membuka kedua matanya. Pecahan kaca cermin berserakan di sekitarnya. Ia tak dipukul, ia pun menatap Laras, entah dia harus berterima kasih atau apa dia bingung.
"Pergilah.. Sebelum gue berubah pikiran!" perintah Laras membelakangi Renita, enggan untuk menatapnya.
Renita tertegun, penuh tanya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba berdiri, melangkah sejauh mungkin dari Laras yang menakutkan itu.
Baru dua langkah ia berjalan, Laras kembali berucap.
"Kalian seharusnya bersyukur, karena dia tidak ingin membunuh kalian.." cibir Laras masih membelakangi nya.
Renita kembali bingung. Siapa 'dia' yang dimaksud oleh Laras?? pikirnya.
"Dan.. Ingat satu hal! Jangan pernah mengusik Laras! Kalo sampai kalian melakukan itu,, Lo tau sendiri kan konsekuensinya..?" ancam Laras, ia pun melangkah ke arah Renita.
Sontak Renita menutup mata dengan kedua tangannya. Tak terjadi apapun pada dirinya. Ia pun membuka mata. Tak ada Laras! Hanya dia sendiri di sana!
~~~~~~~~~~~~~Epilog~~~~~~~~~~~~~~
Gadis itu melangkah kan kakinya kedalam sebuah kamar rumah sakit. Ditatapnya seorang gadis yang tengah terbaring di atas brankar, dengan selang oksigen di wajahnya.
"Tugas ku telah selesai. Sesuai yang kau mau, mereka tak mati. Ku harap setelah ini, kau bisa hidup dengan tenang.." ujar gadis itu dan langsung meninggalkan gadis yang tengah terbaring di atas brankar,, bertuliskan 'Ayana Larasati'.
.
.
***The End***
(Hello.. Jangan lupa like dan komen yahh... Ayo dukung author supaya tambah semangat dan bisa jadi lebih baik lagi🤗🤗)
Love You and See You🥰🥰