Kawanku mengenalnya, hingga aku pun tak sengaja tahu dia.
Waktu itu, aku dan kawanku tengah duduk berbincang di salah satu koridor kampus. Berbicara macam-macam hal sembari menunggu siang.
Hingga bermenit kemudian, gadis itu pun bertandang menyela kami, menunjukkan dirinya pertama kali untukku. Dari antara kawan-kawan perempuannya dia tersenyum, sungguh ku lekas terpana karenanya.
“Joni!” panggilnya ke kawan lelakiku itu.
Entah Joni pikir apa di balik wajah polosnya? Sampai pada akhirnya, dia membalas: “Eh?”
Tak kuurusi jauh.
Sebab, urusanku segenap sudah hanya untuknya, ke wajah dia yang memesona itu. Ingin rasaku menjulur tangan, berkenalan dengannya, bila gugupku tak serta-merta memburu.
“Lagi apa??” tanyanya lagi.
“Lagi begini aja,” jawab Joni yang masih kurasa rada-rada… entahlah? “Mau kemana?” sambung kawanku itu kemudian.
Segera buatnya kembali pajang senyum. Sebuah pemandangan yang kali itu ingin ku-foto lalu kusimpan. Mengingat rambut panjangnya yang bak air terjun, mengingat parasnya yang seolah mentari. Belum lagi, garis-garis indah tubuhnya di balik kemeja batik dan rok selututnya itu. Oh, mataku!
“Mau ke kantin,” tandasnya, lantas kembali beranjak bersama kawan-kawannya itu hingga meninggalkan kami. Meninggalkanku kembali berdua dengan Joni yang ingin kutampar.
Tapi, tak lama seusainya, kususul juga mereka pelan-pelan. Sebab, kurasa-rasa dia memberi senyum terakhir sebelum perginya itu. Kurasa-rasa untukku. Semoga, benar.
🦋🦋🦋
Kubuntuti dia. Iya, kulakukan itu. Namun, pura-pura tak terlihat begitu. Aku seolah berjalan normal sebagaimana lain-lainnya berlalu lalang, melihat kiri-kanan kadang-kadang.
Entah karena lengah atau sial atau apa? Nyatanya, tak kutahu-tahu, tiba-tiba kemudiannya… aku sudah sejajar dengan mereka! Kenapa bisa??! Serentak berhenti, pun ditatapnya aku begitu penuh tanya-tanya.
Waduhh! Andai bisa, segera kuingin menghilang saja, atau lenyap dari tata surya. Tapi, akal sehatku memanggilku untuk tenang seiringnya, untuk sebuah stretching leher dan lengkung bibir yang teramat sepat. Perlahan kujelaskan: “Mau ke kantin juga.”
“Oooohh!” balasnya dan kawan-kawanya serentak. Entah itu sebagai maksud sungguh mempercayaiku atau hanya pura-pura biar aku tak malu?
🦋🦋🦋
Tiba kubermeja kantin, kubeli sebotol air minum. Harap dengan itu tiada yang menganggapku aneh. Ke kantin tak beli apa-apa? Aneh!
Sedikit-sedikit kuminumi, sebentar-sebentar kumainkan handphone, seiring mataku mencuri pandang ke dia, dia yang di meja seberangku. Duduk di sela kawan-kawannya yang sudah saling lahap. Kecuali dia, tampak hanya menggenggam suatu minuman juga sebagaimana aku.
Terpenting, kulihat-lihat dia balas memperhatikanku di balik kepura-puraannya bercengkerama. Belum kutahu alasannya? Namun, satu yang kutakuti: mungkin itu karena aku sebagai sesuatu yang tak masuk akal di matanya? Oh, semoga tidak.
Barangkali separuh jam kekonyolanku itu, menunggu-nunggu dia berharap sendiri. Hingga akhirnya, bukanlah cuma khayal. Dia benar menyisih dari kawan-kawannya, menjauh dari kantin, lantas perlahan berhenti.
Kudekati ragu-ragu ke posisinya berdiri itu. Kujulurkan tangan kananku sebagai ingin kenalan. Eh… tak dia lihat! Malah sibuk ke isi tasnya.
Tentu, langsung kutarik tanganku kembali, dalam gugup yang seketika hidup dan mungkin memerahkan wajahku pula. Eh… saat itu juga dia baru menoleh. Di saat aku larut ingin pergi dan tak jadi saja.
Matanya itu menyelidik ke wajahku, bikin kepalaku panas diikuti bibirku bergemetar. Tak lama, senyum manisnya menyerta. Hah, apa maksudnya? Kualihkan mataku segera, aku terlalu malu.
“Apa aku hantu? Kayaknya takut banget!” ucapnya, dibarengi kekeh lucunya itu.
Kupautkan mataku sekejap-sekejap padanya dalam seolah tenang. “Apa?”
Namun, wajah itu malah menyelidikku lagi, lebih dekat dari sebelumnya. Aku tak bisa bergerak. “Mau bilang sesuatu, kan? Bilang aja!” sahutnya kemudian.
Mendengarnya begitu, percuma kulanjutkan pura-puraku. Lebih baik kujujur, walau sekalipun akan hancur. “Ya, aku akan bilang…” ucapku canggung, setelah dia menarik wajahnya itu menjauh dari wajahku. “Tapi, aku gugup. Mungkin… nanti akan jelek jadinya.”
“Mmm… nggak apa-apa.”
Kuatur napas dua kali, kutatap matanya kembali. “Namamu siapa?”
Duh, lagi-lagi dia tersenyum, sebelum menjawab: “Dian.”
“Jurusan apa?”
“Bahasa Inggris.”
“Punya nomor handphone?” Sial, kenapa itu juga bisa keluar dari mulutku!?
Dia diam, cuma menatapku. Hampir buatku mau lari sekencang-kencangnya, bila tak lama kemudiannya tak dia pupus dengan: “Punya.”
🦋🦋🦋
Bohong, bila selanjutnya aku tidak dihantui bayang-bayang wajahnya itu. Dia memang hantu!
Sungguh, sekarang hanya dirinya alasanku berkhayal, kuharap bisa berjumpa lagi secepatnya. Lalu, akan bisa apa aku? Takkah aku gugup lagi?
Iya, aku punya nomornya, tapi masih ragu untuk kuhubungi. Sebab mengenai… mungkin dia sudah punya pacar? Dan, bila pacarnya tahu, habis aku! Wajar kutakutkan itu, mengingat dia yang cantik.
Setidak-tidaknya, pernah kukirimi pesan ponsel sekali: Irwan, yang tadi gugup.
Andai kutanya Joni, pasti aku akan digodanya dan lalu aku ingin menghajarnya. Belum lagi, bisa-bisa dia sampaikan jawaban tak tepat. Bisa-bisa dia bilang: “Dian punya pacar.”
Oh, aku tak mau mendengarnya. Tapi, aku ingin tahu.
🦋🦋🦋
Berhari-hari berikutnya, di suatu sore, sosoknya kembali kujumpa juga di kampus.
Rasanya aku ingin terbang melihat dia di samping gerbang. Kuarahkan motor ‘matic’-ku lekas berhenti di dekatnya, lalu kutanya: “Mau pulang?”
“Iya.”
“Bawa kendaraan?”
“Nggak.”
Serta-merta suatu energi bersemayam di tubuhku. “Mau kuantar?”
Eh, matanya malah menatapku curiga. Mungkin aku dikiranya akan ‘modus’ dan lain-lain? Gawat! Buru-buru kusambung: “Kalau nggak mau, nggak apa-apa.”
“Gimana, sih?? Nggak ada niat banget!” rajuknya seketika, memampangkanku senyum-senyum licik. Aku dikerjai, sial!
Kutatap hambar dan sebal, namun dia masih saja senyum-senyum, bahkan menertawaiku selanjutnya.
🦋🦋🦋
Kukira yang kurasa hanya akan senang dan bangga, ketika seorang gadis yang kusuka semotor denganku, bahkan merangkul pinggangku. Nyatanya, jatungku pula berteriak, lekas ingin loncat. Peluh kian lahir di sepantar keningku.
“Kenapa diam?” tanyanya kepadaku yang memang seketika tak bersuara dari awal beranjak.
“Grogi.” Kujawab begitu saja, sebab grogi.
Kudengar gemerisik dia menahan tawa. Aku makin tak tenang.
Beberapa saat lagi berlalu, akhirnya kuturunkan juga dirinya di depan pintu pagar kost-nya. Larut menawariku singgah, namun kutolak, kuberalasan: “Mau bantu ibu.”
Sesungguhnya sebab, suatu was-wasku yang masih. Bahwa, bisa saja dia benar ada yang punya. Bisa saja, besoknya, aku dikeroyok orang. Sekarang pun, aku terngiang-ngiang takut, mungkin dibuntuti siapa?
Atau, mungkin baiknya kutanya saja? “Dian,” panggilku, barangkali akan menundaku pergi sesaat lagi.
“Iya?” Ia pun menoleh, dan tak jadi lekas masuk.
“Nanti malam mau kutelepon.”
“Terus?”
“Dijawab!”
Senyumnya melebar, malu-malu sebagaimana aku. “Iya.”
Mendengar itu, jantungku langsung berisik lagi di tempatnya. Senyum-senyum tak terbendung. Langit terlihat lebih cerah di mana pun.
“Boleh?” tanyaku lagi, memastikan sedikit lagi.
Dia makin tersipu-sipu sebagaimana aku, sebelum menjawab: “Boleh.”