Apa jadinya jika sekolah khusus putra dan sekolah khusus putri digabungkan? Ya, inilah yang dialami geng Bakada yang terkenal kuat dan berandalan di kawasan Okinawa, yang terpaksa digabungkan dengan geng Cattleya yang terkenal lembut dan akan sopan santun mereka. Kisah persahabatan dan percintaan yang nantinya tidak disengajai terjadi di antara kedua geng tersebut.
Geng Bakada memang terkenal akan bad boys mereka. Kenapa? Sebab, setiap hari, sekolah khusus putra ini sering berkelahi dengan geng lain, bahkan sekolah mereka tidak bisa dikondisikan. Hampir seluruh sisi sekolah dipenuhi coretan, papan kayu serta majalah-majalah yang tidak senonoh. Melihat hal tersebut, membuat kepala sekolah tidak mempunyai pilihan.
Kepala sekolah mengambil keputusan untuk menggabungkan sekolah khusus putra miliknya dengan sekolah khusus putri milik sahabatnya. Itu berguna, agar para murid prianya diajarkan sopan santun.
Ya, kalau yang satunya berandalan, maka yang satunya sangat menjunjung tata krama. Sekolah khusus bangsawan putri, yang muridnya terkenal lembut dan sopan santun, terpaksa menerima keputusan kepala sekolah mereka untuk bergabung dengan sekolah khusus putra. Hingga Ketua OSIS sekolah putri beserta anggota gengnya mendatangi sekolah khusus pria.
•Bakada School•
‘’Yes! Akhirnya kita menang lagi!’’ seru Tatsuya, ketua geng.
‘’Cih, siapa suruh menantang kami berkelahi,’’ kata Yuki, pria berambut coklat.
‘’Ah, leherku jadi pegal,’’ kata Maki, pria berwajah barat.
‘’Aku sih biasa-biasa saja,’’ kata Rey, pria cantik yang memakai bandana.
‘’Tapi, kenapa aku harus selalu kena imbasnya? Padahal aku sudah berpura-pura pingsan, eh aku tetap dihabisi,’’ kata Makoto, pria yang hanya jago bicara, tapi tidak pernah berkelahi.
Sedangkan Tetsuya yang merupakan wakil kepala geng hanya tersenyum melihat kelima tingkah anggotanya.
Ya, merekalah keenam kandidat terkuat dari sekolah khusus putra yang ditakuti karena kekuatan mereka. Namun, rasa gembira keenam orang itu hilang seketika, saat melihat kondisi kelas mereka begitu bersih. Bangku dan peralatan pun diganti semua.
‘’Aduh, lantainya licin sekali!’’ seru Yuki yang hampir terpeleset.
‘’Kenapa hordengnya berwarna pink?’’ tanya Rey bingung.
Yang paling panik adalah Makoto. Ia langsung berlari ke arah bangku barunya dan memeriksa lacinya.
‘’Cih! Siapa yang membuang majalahku?!’’ kesalnya.
Semua anggotanya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
‘’Kau masih menyimpan majalah seperti itu?’’ tatap Yuki.
Makoto hanya berdecih kesal. Berbeda dengan Tetsuya, yang menatap tulisan di atas papan tulis.
‘’Apakah kau bisa membacanya?’’ tanya Maki.
‘’Um, bacanya adalah babi laut?’’ tatap Tetsuya.
‘’Babi laut? Kupikir bacanya kuda terbang,’’ kata Maki.
‘’Dasar, yang benar bacanya adalah kedisiplinan,’’
Keenam pria itu langsung menoleh ke arah pintu begitu mereka mendengar suara wanita. Dilihatnya, ada 6 wanita yang berpakaian rapi dan elegan.
‘’Ohoho! Pasti merekalah biang keroknya! Hei! Katakan dimana kalian membuang majalahku?’’ kata Makoto menerobos.
‘’Huh, ternyata seperti yang dirumorkan, mereka benar-benar berandalan,’’ kata Saya, wanita berambut ikat satu.
‘’Sudahlah, biarkan kami memperkenalkan diri dulu,’’ kata wanita berambut panjang poni gelombang.
Wanita itu tersenyum sehingga menampilkan lesung pipinya.
‘’Perkenalkan namaku Shingyoji Fumie, dari sekolah Cattleya,’’ kata Fumie.
‘’Hagure Saya,’’ kata Saya.
‘’Tachibana Erimi,’’ kata wanita berambut pendek.
‘’Honda Kirari,’’ kata wanita berambut panjang lurus.
‘’Honoka Ran,’’ kata wanita berambut curly.
‘’Megami Ritsu,’’ kata wanita berambut pendek.
Karena merasa bingung melihat kehadiran para wanita itu, sang kepala sekolah dari masing-masing sekolah muncul. Berbeda dengan geng Cattleya yang sudah mengetahui tujuan mereka, geng Bakada meminta penjelasan.
Tak butuh waktu yang lama membuat geng Bakada mengerti. Namun, mereka tidak menerima kalau mereka harus bergabung dengan sekolah khusus putri. Kenapa? Karena harga diri mereka bisa diinjak-injak oleh geng yang lain. Semua orang akan beranggapan mereka lemah, karena bergabung dengan sekolah khusus putri.
‘’Kalian menerimanya atau tidak, aku tetap pada keputusanku! Hal ini kulakukan demi kalian juga, kalian harus belajar sopan santun, bukan melakukan perkelahian setiap hari! Apakah kalian tidak menyayangkan masa depan kalian?!’’
Karena tidak berdaya, geng Bakada terpaksa menerima keputusan tersebut. Kedua kepala sekolah tadi juga sudah pergi dan menyisahkan kedua geng itu.
‘’Baiklah, besok kita akan mengadakan pemilihan ketua OSIS, aku harap kau menyediakan pidatomu, Tatsuya-kun, dan semoga kau tidak terlambat,’’ kata Fumie sebelum berlalu pergi.
‘’Hah? Apa-apaan itu? Baru satu hari saja, sudah bersifat seperti bos, padahal bosnya adalah Tatsuya,’’ cibir Makoto.
Geng Bakada benar-benar dibuat kesal karena tingkah geng Cattleya. Mereka menuju ke basement pribadi.
‘’Tetsuya, apa yang harus aku tulis untuk pidatoku?’’ tanya Tatsuya.
Semua langsung saling bertatapan dalam diam.
‘’Setahuku, kau harus menulis visi dan misimu untuk sekolah ini, kalau kau ingin dipilih menjadi ketua OSIS,’’ jawab Tatsuya.
Tatsuya memasang raut wajah bingung, sebab ia tidak mengerti harus menulis apa. Belum sempat ia meminta bantuan kepada yang lainnya, kelima anggotanya itu mengambil alasan untuk pergi, dan kini meninggalkan Tatsuya seorang diri.
Hari mulai gelap, dan Tatsuya belum menulis apapun. Ya, karena setiap hari, gengnya hanya berkelahi dan tidak belajar, membuatnya bingung merangkai pidato.
Tak lama kemudian, Tetsuya dan lainnya berdatangan.
‘’Um, maaf, seharusnya kami membantumu,’’ kata Yuki.
‘’Kita semua minta maaf karena meninggalkanmu sendiri,’’ kata Rey.
‘’Kau belum menulis apapun? Aku akan berusaha membantumu,’’ kata Tetsuya.
‘’Aku merasa tidak enak, jadi kembali ke sini,’’ kata Maki.
‘’Yosh! Ayo kalahkan wanita itu dan buat mereka bertekuk lutut di hadapan kita!’’ semangat Makoto.
Tatsuya tersenyum melihat kelima orang itu datang. Ia langsung memeluk mereka.
‘’Cih, dasar! Inilah gunanya sahabat, kupikir kalian tidak akan kembali,’’ kata Tatsuya.
Keesokan harinya…
Semalam, kelima sahabatnya sudah membantunya membuat pidato. Tatsuya tidak sabar ke sekolah untuk melawan Fumie. Namun, di tengah perjalanan, ia malah melihat anak smp dikelilingi berandalan. Ia mulai bingung, sebab sebentar lagi ia dan Fumie memaparkan pidatonya, tapi di sisi lain, ia juga tidak tega melihat anak smp itu di bully.
‘’Cih, aku tidak punya pilihan,’’
Tatsuya melipat kertas pidatonya dan memasukkannya ke kantong celana, lalu berlari menghajar para berandalan tadi.
•Bakada School•
Semua anggota geng Bakada mulai cemas karena Tatsuya tidak kunjung datang. Fumie juga meminta waktu sedikit untuk menunggu kedatangan Tatsuya. Ia tetap ingin bersikap adil.
Hari mulai sore, tapi Tatsuya tidak kunjung datang, sehingga sekolah memutuskan Fumie yang menjadi ketua OSIS. Di saat yang bersamaan, barulah tiba Tatsuya dengan kondisi babak belur. Semua orang kecewa padanya, lagi dan lagi, Tatsuya memilih pergi berkelahi.
‘’Aku benar-benar kecewa padamu,’’ kata Fumie berlalu pergi.
Tatsuya mengambil nafas karena habis berlari. Semua temannya menanyai alasan keterlambatannya, dan Tatsuya menceritakan semuanya.
‘’Ya sudah, kita sudah berusaha, sekolah sudah memutuskan kalau Fumie-san yang menjadi Ketua OSIS,’’ kata Maki.
‘’Maafkan aku,’’ kata Tatsuya merasa menyesal.
Sedangkan di luar gerbang, Fumie dan kawan-kawannya dihadang oleh anak laki-laki.
‘’Sumimasen, kakak laki-laki tadi, di mana, ya?’’ tanya anak laki-laki.
‘’Ada apa?’’ tanya Fumie.
‘’Aku ingin berterima kasih padanya karena sudah menolongku menghajar berandalan itu, dan dia menjatuhkan ini,’’
Fumie mengulurkan tangan mengambil selembar kertas yang diberikan anak laki-laki itu. Ia akhirnya mengerti alasan keterlambatan Tatsuya, dan sudah salah paham kepadanya.
‘’Aku akan menyampaikannya,’’ kata Fumie.
‘’Arigatou gozaimasu,’’ kata anak laki-laki itu berlalu pergi.
‘’Douitashimashite,’’ balas Fumie.
Setelah kabar geng Bakada dan geng Cattleya tersebar, semua geng yang sudah dihajar geng Bakada menertawakannya dan mengajaknya berkelahi. Tapi, hal itu tidak mengubah geng Bakada tetap ditakuti, semua yang menantang mereka dibuat bertekuk lutut.
Melihat kejadian itu berulang kali membuat Fumie turun tangan.
‘’Karena aku adalah Ketua OSIS kalian, maka kalian harus menuruti semua peraturan yang tertulis di sini,’’
Keenam pria yang babak belur itu memandangi 5 aturan yakni, tidak boleh bolos sekolah, tidak boleh bersikap kasar, harus rajin membersihkan, dan tidak boleh berkelahi.
Peraturan terakhir membuat geng Bakada tidak menerimanya dan maju sambil berteriak membuat geng Cattleya sedikit takut, kecuali Fumie.
‘’Kalau kalian tidak melanggar peraturan ini, maka aku akan memberikan kalian hadiah apapun yang kalian mau,’’ kata Fumie.
‘’Yakiniku bento!’’ seru Makoto.
‘’Kalau kami ingin yakiniku bento, apakah kalian akan menurutinya?’’ tanya Makoto memastikan.
Fumie mengangguk sambil tersenyum memastikan mereka akan menepati janji.
‘’Maksudmu yakiniku bento yang mahal itu?’’ tanya Yuki.
Geng Bakada langsung terhanyut dalam imajinasi mereka.
‘’Tapi, itu jika kalian juga tidak melanggar aturan yang aku berikan, jika kalian melanggar aturan ini, maka perjanjian dibatalkan, dan kalian harus menuruti perintah kami selama setahun,’’
‘’Tenang saja! Kami tidak akan melanggarnya selama bisa makan yakiniku bento,’’ kata Tatsuya memastikan.
‘’Paling pulang sekolah nanti, mereka berkelahi lagi,’’ sindir Saya.
Jam pulang sekolah…
Geng terkuat yang melawan Bakada sudah menunggu di depan gerbang.
‘’Sepertinya geng terkuat ini sudah menyusut menjadi geng baby sister! Karena mereka bersembunyi di belakang para gadis-gadis!’’ sindir Yagami ketua geng Dragon.
Tatsuya yang terpancing langsung menarik lengan seragamnya.
‘’Aku bilang juga apa, mereka tidak akan bisa menuruti aturannya,’’ tatap Saya bersama geng Cattleya lainnya.
Sedangkan Fumie hanya diam menunggu.
‘’Eh, eh, eh! Bro, ingat? Yakiniku bento,’’ kata Makoto mengingatkan.
Tatsuya langsung tersadar dan memberitahu Yagami kalau mereka tidak bisa berkelahi dulu demi yakiniku bento. Geng Dragon hanya bingung dan saling bertatapan.
Hari demi hari berlalu, Saya dan Erimi memastikan Tatsuya dan Yuki benar-benar ke toilet dan tidak bolos.
Rey dan Tetsuya yang baru-baru mencuci tangan mereka, melihat Maki dan Makoto keluar tanpa membilas tangan mengingatkan mereka.
‘’Yakiniku bento,’’
Maki dan Makoto spontan berlari masuk membilas tangan mereka dengan air, sambil diawasi oleh Kirari dan Ran.
Saat berjumpa di koridor, semua orang memberi salam kepada kepala sekolah, berbeda dengan Makoto, Yuki dan Maki yang menabrak kepala sekolah tanpa membantunya berdiri.
‘’Apa yang kalian lakukan? Ingat, yakiniku bento,’’ kata Tatsuya.
Ketiga pria itu langsung berlari ke belakang dan membantu kepala sekolah berdiri sambil membersihkan pakaiannya.
‘’Salam,’’ ucap ketiga pria itu.
‘’Kurasa mereka hanya terpaksa melakukannya demi yakiniku bento,’’ tatap Ritsu.
Setengah tahun sudah berlalu. Karena geng Bakada tidak melanggar aturan, membuat mereka ditraktir yakiniku bento.
Sepulang sekolah, kedua geng itu menuju ke restoran sambil bercanda dan bernyanyi di jalanan.
•Yakiniku Food’s•
Para pekerja restoran kaget melihat sekumpulan berandalan langsung masuk tanpa sopan santun. Menyadari hal ini, membuat geng Bakada kembali keluar dan kembali masuk dengan tenang.
‘’Irasshaimase,’’ sambut pekerja restoran sedikit takut.
Geng Cattleya hanya terseyum melihat tingkah mereka. Tanpa berlama-lama, mereka pun menuju ke meja masing-masing.
Meja 1 : Tatsuya, Fumie, Tetsuya dan Saya.
Meja 2 : Rey, Erimi, Yuki, Kirari.
Meja 3 : Makoto, Ran, Maki, Ritsu.
‘’Aku ingin pesan ini, ini, ini, ini dan ini,’’ kata Tatsuya.
‘’Kau ini niatnya makan atau apa?’’ tatap Saya.
‘’Kalian sudah berjanji dan kami juga menepatinya, jadi kami bebas dong ingin memesan apa, lagi pula kalian siswi yang kaya, tidak seperti kami yang miskin,’’ kata Tatsuya.
‘’Hei, tidak boleh berkata seperti itu, sudahlah, pesan saja apapun yang kalian mau,’’ kata Fumie.
Namun, tanpa sengaja tangan Tatsuya dan Fumie bersentuhan saat menekan tombol call untuk memanggil pekerja resto. Keduanya dengan cepat menarik tangan sambil membuang muka. Melihat hal itu, Tetsuya sedikit merasa cemburu, berbeda dengan Saya yang tersenyum ke arah Tetsuya.
Mudah saja, Saya menyukai Tetsuya yang menyukai Fumie, tapi Fumie menyukai Tatsuya. Tidak tahu bagaimana perasaan Tatsuya.
Perasaan itu muncul saat geng Cattleya mengajari geng Bakada membaca, mengerjakan tugas dan membentuk kedisiplinan mereka. Awalnya, Saya salah paham kalau Fumie menyukai Tetsuya, beruntung Fumie menjelaskan kalau dirinya menyukai Tatsuya membuat Saya merasa lega. Meskipun, tidak ada yang mengutarakan perasaan di antara mereka.
Melihat rasa persahabatan yang terjalin, membuat geng Bakada sedikit demi sedikit mulai berubah, tanpa merubah fakta mereka adalah geng terkuat dan ditakuti. Hingga suatu hari, kejadian menimpa sekolah mereka. Janji yang dibuat terpaksa dilanggar, dengan maksud melindungi geng Cattleya.
Geng Bakada harus berkelahi dengan geng yang menculik anggota geng Cattleya. Keenam pria itu dihadapan ratusan orang jika ingin menyelamatkan keenam wanita yang sekarang dijadikan sandera.
Fumie dan yang lainnya meringis melihat keenam pria itu sudah mencapai batas mereka, tetapi tetap berkelahi, guna mencapai tempat mereka.
‘’Dasar pengecut! Memilih cara yang rendah seperti ini, membuktikan geng Bakada tetaplah nomor 1!’’ marah Fumie.
‘’PLAK!’’
Tamparan langsung mendarat di pipi mulus Fumie, membuat Tatsuya dan Tetsuya emosi. Kedua pria itu langsung hilang kendali dan membantai ratusan orang tersebut, lalu menuju ke ketua geng yang sudah menampar Fumie.
Sesama wakil geng, Tetsuya di hadang oleh wakil geng yang menculik anggota geng Cattleya, begitupun sesama ketua. Tidak butuh waktu yang lama geng Bakada menang dan melepaskan tali yang mengikat Fumie dan lainnya.
Tetsuya berniat berjalan ke arah Fumie, tetapi ia dikalah cepat oleh Tatsuya. Dengan terpaksa, ia melepaskan tali milik Saya.
‘’Kau tidak apa-apa?’’ tanya Fumie cemas.
Tatsuya menggeleng dan langsung memeluk Fumie. Semuanya terkejut terutama Tetsuya. Rasanya begitu sakit melihat orang yang disukainya berpelukan dengan sahabatnya.
‘’Aku benar-benar mencemaskanmu, syukurlah kau tidak apa-apa,’’ kata Tatsuya lalu menggenggam tangan Fumie.
‘’Aku sudah lama menyimpan perasaan ini, awalnya aku tidak menyadarinya, tapi sekarang aku yakin kalau perasaan sahabat ini telah berubah menjadi cinta, jadi Fumie-san….’’
Tatsuya mengambil nafas sejenak, dan kembali menatap Fumie.
‘’Aishiteru,’’
Semua langsung mengejek dan bertepuk tangan untuk menyuruh Fumie membalas penyataan itu. Fumie dengan malu tersenyum menunduk.
‘’Aishiteru,’’ balas Fumie.
Tetsuya hanya tersenyum gentir, ia tidak menyangka kalau Tatsuya juga menyukai Fumie. Jelas-jelas, ia lebih dulu berteman dengan Fumie. Apa boleh buat, setidaknya ia masih bisa menahan egonya, demi kedua sahabatnya, dan rela mengubur perasaannya itu.
Namun, tidak berlangsung lama, Saya juga mengutarakan perasaannya kepada Tetsuya, membuat semua orang sekali lagi kaget. Ya, meskipun Tetsuya tidak menyimpan rasa suka kepada Saya, ia akan belajar mencintai wanita itu.
Akhirnya Tetsuya mengerti dengan perhatian Saya selama ini. Ia begitu fokus dengan Fumie tanpa menyadari Saya menyukainya.
‘’Aishiteru, Tetsuya-kun,’’ kata Saya.
‘’Aishiteru Saya-san,’’ balas Tetsuya.