Diana nama seorang putri Raja yang berkuasa di abad ke 16 memiliki paras yang cantik dan energik dia perempuan yang baik hati dan senang tersenyum di cintai oleh seluruh rakyatnya dirinya bagai matahari yang memberikan energi kehidupan bagi setiap orang yang bertemu dengan nya.
Diana memiliki seorang prajurit pribadi tingkat tinggi yang bernama Draken selalu menjaga Putri Diana 24 Jam, Draken mencintai Diana tulus dari dalam hati nya tetapi dia sadar dia hanya seorang prajurit tidak bisa memiliki Diana.
Bagi Draken cukup menjaga dan melindungi nya dari dekat sudah menjadi kebanggan tersendiri,tetapi kini jangan kan untuk menjaga nya sampai akhir hidupnya bahkan untuk melihat sepasang mata Putri Diana saja Draken sudah tidak bisa lagi.
3 tahun lalu di umur ke 19 tahun Putri Diana tidak hanya meninggalkan Draken tetapi dia bahkan meninggal sang Raja ayah tercinta nya dan meninggalkan seluruh Rakyatnya yang begitu mencintai.
Penyakit yang di derita Putri Diana dari kecil sudah tidak bisa dia tahan tubuh nya, dia semakin lemah dan tidak mampu untuk melanjutkan hidupnya.
Draken yang setiap hari merindukan Putri Diana selalu berkunjung ke makam sang Putri.
"Putri Diana... lihat lah sekarang musim salju bukan kah kau menyukainya, setiap musim salju kau selalu memaksa ku untuk menggendong mu keliling taman istana...aku...aku" Air mata Draken seketika jatuh membasahi pipinya baginya Putri Diana adalah cinta pertama dan terakhir nya.
"Putri....hamba merindukan mu... betapa tidak berguna nya diri ini meninggal kan mu sendirian di waktu genting mu...hamba harus di hukum putri, jika hamba mati nanti dan kita bertemu tolong hukum hamba putri ..." Draken tersungkur di depan makan Putri Diana
Draken mengingat masa masa dia bertemu Putri Diana dan betapa senangnya Draken saat menjaga Putri Diana.
INGATAN DRAKEN :
"Hey ! Pencuri kembali kau, berani sekali kau mencuri roti ku !" "BUK ! BUK ! BUK !" Pukulan demi pukulan melayang ke arah Draken kecil yang hidup sebatang kara di pinggiran kota
"Berhenti !" Ucap Putri Diana
"Kereta istana ! Put - put - putri Diana !" Ucap sang penjual roti ketakutan
"Jangan pukul dia lagi, ini aku bayar untuk dirinya kau pergi lah" Diana memberikan beberapa lembar uang, karna tidak ingin memperpanjang masalah penjual roti itu pergi dari hadapan Putri Diana.
"Hey...kemari lah biar ku bantu..." Putri Diana menjulurkan tangannya untuk membantu Draken yang sedang kesakitan meringkuk di tanah
Putri Diana membawanya ke sebuah tempat persembunyian nya yang begitu indah di sana tersusun banyak sekali buku dan tanaman bunga bunga yang indah.
"Aku membuat kan mu teh minumlah selagi hangat, aku juga akan mengobati luka mu jika sakit kau harus bilang pada ku ya..." Ucap Putri Diana sambil tersenyum dengan polos
Draken terdiam dan termenung sejenak tiba tiba air mata nya menetes tanpa sengaja secara perlahan membasahi pipi Draken.
"Kenapa kau menangis ? apakah ini sakit ?" Diana yang melihat Draken menangis merasa bersalah dia takut menyakiti Draken
"Tidak... Putri mengobati hamba dengan lembut, hamba merasa terharu karna selama 16 tahun tidak ada yang memberikan hamba kelembutannya seperti Putri" Draken tak kuasa memandang Putri Diana kecil yang waktu itu baru berumur 10 tahun tetapi sudah memiliki rasa peduli yang tinggi
"Siapa nama mu ?" Putri Diana kecil anak yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, mendengar pertanyaan itu Draken terdiam karna saat dia di lahirkan dia sudah di temukan orang di pinggir jalan tidak memiliki ayah dan ibu.
Orang orang juga bingung harus memberi nama dirinya siapa.
"Apa kau tidak memiliki nama ?" Tanya Putri Diana lagi
"Ehm..." sahut Draken kecil sambil menundukkan kepalanya
"Jadilah kakak laki laki ku, Aku akan memberi mu nama Draken mulai sekarang mari kita bersaudara hahaha" senyum kecil dan tawa ringan terdengar di telinga Draken kecil
Pertemuan takdir yang tidak terduga oleh Draken dia menjadi saudara angkat Putri Diana, tetapi Draken tidak mau menerimanya dia hanya ingin menjadi prajurit dan melindungi Putri Diana.
Putri Diana mengajak nya ke istana, karna Raja yang juga kehilangan sosok anak laki laki nya yaitu Pangeran Draken Ailos yang jatuh di Medan perang dia pun menerima kehadiran Draken kecil dengan senang hati.
Nama Draken sengaja di berikan Diana karna wajah Draken kecil yang begitu mirip dengan Kaka nya.
Bertahun tahun Draken menjaga Putri Diana sampai di umur Putri Diana yang 19 tahun tubuh nya semakin lemah dia hanya berbaring dia kasur nya dan terlihat kurus.
"Putri...." Draken melihat Putri Diana yang berbaring di atas kasur nya
"Sudah berapa kali aku mengatakan pada mu Draken panggil lah aku adik kecil uhuk uhuk" Sahut Diana dengan senyum manis nya sambil menahan rasa batuk nya
"Putri Selalu saja seperti itu...hamba merasa tidak pantas menyebut itu Putri, Putri apa kau sudah minum obat ?" Ucap Draken yang sebenarnya tau bahwa Putri Diana tidak akan minum obat kecuali Draken yang menyuapi nya
"Kenapa kau bertanya lagi ! bukan kah kau sudah tau kebiasaan ku, Aku tidak akan minum obat kecuali kau yang memberikan obat nya kepada ku hahaha" sahut Putri Diana
"Baiklah...aku akan memberikan obat nya kepada mu, kau minum lah secara perlahan" Draken menyuapi Putri Diana dengan perlahan, setelah efek obat itu bekerja Putri Diana tertidur di pangkuan Draken.
"Tuan Draken !" panggil seorang prajurit pengantar pesan
"Ada apa ?" sahut Draken dengan tatapan tajam nya
"Yang Mulia Raja memanggil mu ke ruangan nya" Ucap Prajurit pengantar pesan itu sambil menundukkan kepala
"Baiklah aku akan segera kesana kau pergi lah dulu, kalian jaga Putri Diana dengan baik jangan sampai dia terbangun dia baru saja tertidur pulas" Ucap Draken dengan nada serius dan suara serak basah nya
Di Ruangan Raja
"Salam Yang Mulia Raja" Draken memberikan salam hormat nya
"Draken ada yang ingin ku bicarakan dengan mu aku tidak tau apakah kau mau melakukan nya atau tidak ! Tapi ini terserah kepada mu Draken" Yang Mulia Raja merasa ragu untuk berbicara dengan Draken
"Katakanlah Yang Mulia Raja jangan ragu hamba akan melakukan apapun itu untuk engkau" Ucap Draken dengan nada yang percaya diri.
"Draken aku tidak ingin kehilangan Putra ku lagi untuk yang kedua kali nya" Ucap Yang Mulia Raja
Mendengarkan perkataan itu Draken merasa terharu karna selama ini Raja tidak pernah menganggap nya sebagai Prajurit, Raja benar benar menganggap nya seperti anak sendiri.
"Yang Mulia Raja jika kau ingin hamba ikut berperang hamba akan melakukan nya, tapi dengan satu syarat tolong jaga Putri Diana sampai hamba kembali membawa kemenangan" Draken mencintai Putri Diana tapi kali ini dia juga tidak bisa melepaskan tanggung jawab nya Draken ingin membalas budi kepada Raja karna sudah mau menerima nya dengan senang hati
"Kalau begitu bisa kah aku meminta satu syarat dari mu sebelum kau pergi ?" Raja merasa ragu sebenarnya meminta syarat ini tetapi dia begitu merindukan pangeran Draken Ailos,dan Draken yang sekarang benar benar mirip dengan Putra nya tersebut.
"Katakanlah Yang Mulia Raja hamba akan memenuhi Syarat tersebut" sahut Draken dengan sopan
"Ratu meninggal saat melahirkan Putri Diana dan setelah itu Pangeran Ailos meninggal di Medan perang saat bersama ku, dan Putri Diana sekarang jatuh sakit aku tidak tau apakah Putri ku tercinta itu bisa bertahan dan menjadi Ratu yang berjaya ini untuk jaga jaga Draken ! Kau orang yang baik sudah bertahun tahun kau ikut dengan kami Jika suatu Hari nanti Diana meninggalkan ku kau harus bersedia mengganti kan tahta ku ini dan menjadi Raja yang berkuasa dan satu lagi Draken bisa kah kau memanggilku ku ayah ? Aku benar benar merindukan anak ku" Jelas Raja
Draken perlahan mendekatkan dirinya dan memeluk Raja dengan lembut sambil berbisik "Ayah...aku akan membawa kemenangan untuk mu di perang kali ini, tidak akan ku biarkan Draken mati untuk yang kedua kali nya dan aku akan berusaha melindungi Diana"
Mendengar perkataan Draken sang Raja merasa bahagia dia seperti menemukan kembali Putra nya dalam diri Draken .
Draken menjadi anak yang begitu berbakti bukan hanya itu dia menjadi pimpinan perang yang tangguh selama beberapa bulan di Medan perang dan pulang dengan kemenangan total Draken kini di kenal oleh masyarakat luas. Orang orang mengatakan dia adalah rengkarnasi dari Pangeran Draken Ailos.
"Draken...." Panggil Diana yang berlari menuju ke arah Draken dengan gembira
"Putri apa yang kau lakukan ? Kau masih kurang sehat kenapa kau keluar dari kamar mu ?" Sahut Draken yang sebenarnya juga merindukan Putri Diana
"Draken kau sudah kembali dari medan perang dengan selamat aku benar benar bahagia hahaha, aku bertahan sampai saat ini mencoba yang terbaik untuk bertemu lagi dengan mu" Ucap Putri Diana dengan sangat bahagia
"Putri Diana naiklah ke punggung ku, coba kau lihat sebentar lagi akan ada salju bukan kah kau senang mari aku ajak kau jalan jalan dan akan aku ceritakan pengalaman ku di Medan perang" Draken langsung membungkukkan badan nya agar Putri Diana bisa menaiki punggung nya
"Baiklah....hahaha" Diana benar benar senang dengan kehadiran Draken
Draken mengetahui satu hal dari Raja tentang Putri Diana sebelum dia pergi berperang, Putri Diana tidak sakit sejak lahir dia di culik dan di berikan racun yang akan menggerogoti dirinya sampai dia dewasa dan tidak pernah di temukan penawar nya sama sekali, karna racun itu adalah racun tanpa penawar.
Demi meruntuhkan kerajaan Raja Ailos musuh nya melakukan berbagai macam cara untuk menundukkan nya tetapi sampai saat ini kerajaan nya tetap berdiri kokoh.
Mengetahui hal itu Draken pun sudah merasakan akan datang satu hal yang membuat nya sedih untuk selamanya yaitu kematian Putri Diana.
"Draken....huh..." Nafas Putri Diana sudah mulai tidak teratur
"Ada apa Putri Diana ?" Perasaan Draken mulai tidak karuan tetapi dia berusaha terlihat tegar di depan Putri Diana
"Draken bisakah kau memanggilku dengan Adik kecil ?" Putri Diana memberikan senyum polos nya
Draken terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Putri Diana. Draken mulai lelah dia pun duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar yang sedang memekarkan bunga nya di saat musim dingin, dia melihat Diana menyandarkan kepalanya nya di paha Draken.
"Draken..." Diana masih menunggu jawaban dari Draken dengan senyuman nya dan sambil menghadap kan wajah nya ke langit
"Adik kecil ku...apa kau mengantuk ?" Draken mulai mengelus kepala Putri Diana dengan lembut
"Ehmm...aku merasa bahagia ketika Draken memanggil ku adik kecil hahaha...boleh kah adik kecil mu ini tidur untuk sesaat ?" Diana perlahan menutup matanya dengan senyum lembut yang terukir di wajah nya dan perlahan mulai tenang
"Tidurlah dengan tenang adik kecil ku....Kaka mu ini selamanya akan mencintai mu dan tetap akan mengingat mu, senyum mu yang manis ini tidak akan pernah hilang dari pikiran ku selamanya ! Cup" Draken mencium kening Diana dan menangis secara perlahan mengetahui bahwa orang yang paling dia cintai kini telah pergi untuk selamanya dengan senyum indah yang terukir di wajah nya.
Di pemakaman Putri Diana seluruh rakyat nya menangis bahkan sang Raja diam seribu bahasa sekarang harapan dia hanya lah Draken seorang.
"Selamat jalan adik kecil ku Putri Diana"
Mengingat kenangan nya di masa lalu Draken yang melamun di sadarkan kembali oleh satu pukulan ringan di bahu nya suara berat yang terdengar tua itu adalah sang ayah yang juga merindukan Putri Diana
"Draken..." Panggil sang ayah
"Ada apa ayah ?" Draken mulai terbiasa memanggil Raja dengan ayah sekarang
"Terimakasih kau sudah menjaga Diana setiap hari ayah yakin Diana senang memiliki Kaka seperti mu yang selalu perhatian dengan dirinya jika ada kehidupan setelah ini ayah berharap kalian di satukan dalam kebahagiaan" Jelas sang ayah
"Ayah... Terimakasih" Draken memeluk sang ayah dengan erat dari awal kehidupan nya bertemu Putri Diana semua nya berubah dia awalnya yang terlantar kini telah menjadi seorang Raja yang luar biasa.