Lelah rasa engkau abaikan,
Peluhmu engkau biarkan,
Senyummu selalu terukir indah.
Segitu sayangnya sampai dirimu sendiri engkau biarkan
Agar aku tak terlantarkan.
...
" aduh " aku meringis kesakitan akibat lantai yang licin, akibat dari itu lututku sedikit memar.
" ceroboh " suaranya terdengar.
Suara seorang yang sering membuatku lepas kendali.
" bantuin kak " namun apa yang kudapatkan. Hanya lirikan malas yang terlihat dari manik mata hitamnya.
Jelas sangat jelas, aku benar-benar ingin memukulnya. Aku menatap wajah tampannya. Ini betul-betul sakit oke. Bisakah ia tidak sekejam itu?
Tapi yasudah lah kakak memang terlalu acuh.
" uang bulanan udah di atas meja " ia mengendarai mobil menuju kantor.
Walau kak Ryan masih berusia belasan tahun iya telah bekerja sebagai salah satu lead manager.
Banyak orang yang kagum padanya dan bencinya aku juga selalu menjadi perbandingan. Langkahkan kakiku agar tidak terlambat ke sekolah. Tapi, sekali lagi hatiku terluka.
" bukankah itu Zia?"
" siapa lagi kalau bukan anak tidak berguna itu "
Krak...
Kurasa suara itu adalah suara hatiku yang terpecah lagi. Air mataku mengalir deras. Ku percepat langkah kakiku.
Inilah yang kubenci. Kenapa aku harus dibandingkan dengannya. Kakak itu sosok yang mendekati kata sempurna.
Tanpa melihat jalan aku terus berlari dengan tangan yang selalu mengusap mataku agar air mata ini tidak terlihat jelas. Na as, justru itu membuat pandanganku kabur dan...
Brak...
Aku merasakan sesuatu mengalir dari kepalaku, sedetik kemudian rasa sakit menderu. Dibawah kesadaran yang dipaksakan aku melihat orang-orang mengerumuniku. Dan setelah itu semua gelap.
...
Handphone yang dipegang oleh Ryan jatuh. Iya tak lagi peduli dengan handphone mahal itu. Setelah ia mendapat panggilan dari rumah sakit ia langsung bergegas.
" Zia... bertahanlah untuk kakak " Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah tak peduli dengan hidupnya.
Ia masuk dengan cepat dan berkata dengan tidak sabaran pada meja resepsionis rumah sakit.
" pasien atas nama Zia Lewis ?"
" maaf anda siapa pasien ?" tanya perawat itu sopan.
" saya kakaknya. Cepatlah "
...
Ryan menunggu degan frustasi di depan pintu ruang operasi. Dari bibirnya tak berhenti mengalir doa dan ucapan maaf untuk adiknya Zia.
Pintu ruang operasi tersebut terbuka. Seorang dokter keluar. Memberi tahukan kondisi Zia yang sudah stabil.
...
Ryan memperhatikan wajah adiknya yang masih terlelap di ranjang VIP rumah sakit tersebut. 5 jam, adiknya masih belum membuka matanya.
" Dek, sayangnya kakak bangun yuk " tes, setetes liquid bening mengalir di pipinya. Kali ini Ryan harus melanggar janjinya dulu agar tidak menangis. Kepalanya tertunduk dalam.
" kak Ryan cengeng " seorang berucap tiba-tiba dengan suara pelan namun masih mampu di dengar olehnya.
Seketika ia mendongak menatap tak percaya dan penuh haru pada adiknya yang telah bangun dari tidurnya.
...
Ryan tidak berangkat bekerja. Saat ini ia sangat fokus merawat adiknya yang sedang sakit. Menyiapkan makanan dan menyuapi Zia dengan telaten.
Disaat tidurnya Zia mendengar suara serak kakaknya karena terlalu sering menangis. Zia akhirnya sadar selama 1 malam ini kakaknya, laki-laki yang ia anggap musuh itu ternyata perhatian.
Hanya saja ia sulit untuk menunjukkannya. Senyum terukir di bibir indah Zia.
Ia sudah tau, ia hanya punya sedikit waktu. Kalau dipikir-pikir kapan mereka terakhir kali menghabiskan waktu bersama? Ah rasanya sudah lama sekali ya.
" Kak "
" Makasih ya. Dan selamat tinggal " Zia menghembuskan nafas terakhirnya diiringi isakan pilu kakaknya.
" Zi " kini hancur sudah dunianya. Zia adiknya juga ikut pergi menyusul ke dua orang tua mereka. Meninggalkannya sendirian di sini.
END
Heart ❤️ nya jangan lupa di klik
Sama minta sarannya juga 😊
Maklum penulis baru😅
Sayonara~~