Hallo..
Aku Ella Elliana. Orang-orang biasa memanggilku Ella. Kadang ada yang memanggilku Elli, yang membuat orang-orang mengira aku seorang laki-laki.
Aku merupakan siswi pindahan dari desa saat duduk di kelas dua belas, yang pindah ke kota karena Bapakku ingin yang terbaik untuk sekolahku. Sekolah yang ada di desa kurang memadai untuk belajarku, kata Bapak. Sehingga aku sekarang pindah dan menjadi anak kos di kota ini, keluargaku tetap tinggal di desa karena urusan mereka semuanya ada di sana.
Pertama kali aku tinggal sendiri, tanpa kedua orang tuaku. Bahkan aku satu minggu menangis karena belum terbiasa hidup sendiri. Dimana apa-apa harus sendiri. Tapi sekarang aku bisa enjoy menikmati kehidupanku, setelah kelulusanku dan sekarang aku berkuliah di kota ini juga. Mengambil program studi ilmu perikanan.
Aku menikmati hari-hari kuliahku seperti mahasiswa pada umumnya. Hingga suatu ketika, aku melihat seseorang yang aku kenal di kantin yang ada di dekat kelasku.
"Boni!" aku tidak percaya akan bertemu dengannya kembali setelah beberapa tahun ini.
"Ella?" dahi Boni naik, senang karena bisa bertemu teman masa kecilnya lagi.
"El, kamu kuliah di sini juga?" Boni mengambil kursi dan memintaku duduk.
"Iya Bon, kamu juga kuliah disini?"
"Iya El, aku kuliah di sini, prodi teknik mesin. Ini aku habis kelas umum di ruangan itu," Boni menunjuk salah satu ruangan.
"Hmhm gak nyangka kita bisa ketemu lagi," aku menyembunyikan rasa bahagiaku. Tak mungkin aku akan berteriak di depan Boni karena rasa bahagiaku ini.
"Ya ampun El, aku masih ngga percaya kita akan ketemu lagi. Hehe.
Aku dulu nyari-nyari kamu tahu, tapi kata Bapak kamu, kamu pindah" sikap Boni tidak berubah, masih ceria seperti dulu. Hanya saja sekarang dia juga terlihat berbeda, lebih tampan.
"Kamu nyari aku?" tanyaku agak sedikit tak percaya.
"Iya." Boni memperlihatkan senyum lebarnya.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Sini Hp kamu. Aku akan ngasih nomorku ke kamu, nanti kamu hubungi ya." Boni mengembalikan Hpku yang tadi dia minta secara paksa. Kontaknya dia beri nama sendiri "Boni Besar".
"Kenapa besar?" kataku lagi padanya.
"Kan kita ketemu lagi udah besar, yaudah aku namai aja kayak gitu. Kan aku udah ngga kecil lagi. Heheh" cengengesnya lagi kemudian memasukkan bakso kedalam mulutnya.
Aku hanya mengangguk kikuk.
Hari-hariku lebih berwarna semenjak bertemu dengan Boni. Kita yang dengan rutin berlari di lapangan kampus, walaupun kadang aku hanya menemaninya di pinggir karena rasa malasku. Kita yang suka mengeksplore jajanan dan makanan di sana.
Tak terasa kita sudah begitu dekat satu sama lain. Boni yang tidak memiliki gadis incaran, aku yang tidak punya pacar. Mungkin karena itulah kita bisa seklop ini, tidak ada tembok penghalang di antara kita.
"Aku hari ini ulang tahun lho El. Kamu nggamau ngicapin nih?" Pesan Boni pada Ella. Ella baru membacanya malam ini. Hari selasa merupakan hari yang padat untuk jadwal perkuliahannya.
"Hallo Boni.
Selamat ulang tahun ya, Semoga panjang umur dan senantiasa dilimpahlan anugerah dan berkah dari Yang Masa Kuasa. Aamiin."
Voice Note itu aku kirimkan padanya sebagai balasan chat dari Boni.
"Haish.. gadis ini benar-benar datar, tak ada gitu manis sedikit." umpat Boni setelah mendengarkan voice note Ella yang memang datar sekali.
to Ella : Keluar yuk. Bentar aja.
from Ella : kemana?
to Ella : Lihat bintang di belakang fakultas teknik, di sana kalo malam indah banget. Percaya deh. Hehehe.
from Ella : oke!
to Ella : Aku jemput.
Aku bersiap-siap. Mengambil jaket yang kusimpan di dalam lemari pakaianku.
Kotak cokelat. Mungkin ini waktunya aku memberikan itu pada Boni.
"Apa itu El yang kamu bawa?" tanya Boni penasaran yang melihat aku menenteng paperbag berwarna cokelat polos.
"Ini buat kamu."
Boni tak sabar ingin melihat isi dari kotak yang kumasukkan paperbag itu. Hampir saja dia merebutnya, tapi aku dengan gesit menjauhkan itu dari jangkauan tangannya. Membuat raut mukanya jadi cemberut, tak ceria seperti biasanya. Membuat aku terkekeh tertawa kecil.
"Nih" kusodorkan paperbag tadi setelah sampai. Boni dengan antusias mengambilnya.
Boni kaget saat melihat isi dari kotak itu. Wajahnya kaget tak percaya. "Ini kan sepatuku yang udah rusak dulu El, seingetku aku tinggalin di jalan." Mata boni berubah agak sedikit berkaca-kaca, mengingat kehidupan masa kecil yang sedikit berat.
Aku mengangguk kecil, "Kamu ingat ngga, waktu itu, waktu kita ngga sengaja pulang bareng. Aku melihat sepatu yang kamu pakai berkali-kali. Bahkan saat sebelum kamu lari karena dikejar Manh Sutris.
Waktu aku di warung Bi Inah aku beli 2 ice cream, eh malah kamu udah ngaada. Aku lari ngejar kamu, tapi kamu juga lari setelah meninggalkan sepatumu di pinggir jalan." Ceritaku panjang kali lebar kali tinggi yang berubah jadi volume.
"Cape tau.. ngejar orang yang sedang lari." umpatku pada Boni.
"Lalu aku simpen sampe sekarang, aku bawa, berharap suatu saat kita bersama lagi, main-main sambil ketawa lagi. Hehehe" Aku kali ini tertawa, mengingat tingkah jahil Boni dulu saat kecil padaku.
"Tuhan mungkin pernah kasih kamu ujian di masa kecilmu, itu karena kamu disayang olehNya. Sampai sekarang juga masih sayang, buktinya hidupmu masih terasa berat. Hihihi." Aku terkekeh menggoda Boni yang hanya diam saja di samping memandangi sepatunya. Meng-iya-kan perkataanku yang terakhir dengan senyuman getir. Kehidupannya memang kadang begitu dirasa berat.
"Hmhmhm kok malah aku yang jadi cerewet gini, biasanya kan kamu. Gak seru ih, Boni jadi cengeng gini," ledekku kembali.
"Makasih El. Aku ngga nyangka kamu bisa sweet gini juga, biasanya kan cuma aku. Hihihi" Raut wajah Boni yang sedih berubah tersenyum kembali.
"Aku merasa kali ini rasa sayangku ngga berteluk sebelah" Boni merangkulku.
"Sudah lama aku menyukaimu Bon. Terima kasih tak pernah berubah," Batinku.
"Makasih El, aku sayang sama kamu."