Bagaimana rasanya berpacaran? Ah betapa aku menginginkan hal itu, bergandengan tangan, berjalan bersama, bersandar di bahunya, aish aku bisa gila jika membayangkan nya. Pacaran? Aku belum pernah merasakannya, bahkan ketika orang lain menginginkan aku untuk menjadi pacarnya, aku malah menjauh, karena aku takut. Padahal aku ingin. Bagaimana rasanya jatuh cinta?
Brughh!!! Buku teman sekelas ku yang ku bawa dari ruang guru berserakan karena aku melamun dan menabrak seseorang, orang dengan perawakan tinggi dan tampan. Yah, aku tak munafik, dia memang tamvan, sama seperti papa ku, papa ku juga tampan.
"Maaf, gua gak sengaja" ucapku lalu merapikan buku-buku itu, dia sama swkali tak membantu, tak seperti apa yang ada di novel-novel ataupun sinetron, ini real.
Setelah selesai aku berdiri dan melihat ke arah nya. Dengan rahang yang kokoh membuat siapapun yang melihatnya akan segan.
"Maaf" ucapku sekali lagi
Dia menatapku, dengan mata elangnya, yang mampu membuatku bergidik ngeri melihatnya. Aku baru melihat orang ini selama 2 tahun di sekolah ini, dia menyeramkan.
"What your name?" tanyanya
Ah apakah dia orang luar negeri? Pantas saja aku tak mengenalnya, ternyata dia bukan orang Indonesia.
"Sillia, my name is Sisil" jawab Sisil
Lalu Sisil bergegas pergi menuju kelasnya, di kelas, Sisil di sambut oleh anak-anak yang mengambil bukunya masing-masing, Sisil sendiri akhirnya pergi ke bangku nya di paling belakang, sendiri an.
***
"Sil!!!" aku melihat ke arah Dea dan Sifa
"Apaan?" tanya Sisil kesal
"Tahu gak? Ada murid baru di kelas sebelah, namanya Veron, atau di sebut Ron"
"Serah, gak peduli gua" ucap Sisil
Sisil melanjutkan aktivitas nya membaca materi hari ini. Yaps, kata siapa anak paling pintar selalu ada di bangku paling depan? nyatanya Sisil adalah salah satu orang pintar yang duduk paling belakang. Sendirian pula
"Udah ah, mending kita istirahat yuk!!!" ajak Sisil menutup bukunya
***
Sisil, Dea, dan Sifa kini ada di kantin, tengah memakan bakso, dan bercanda tawa, dengan satu laki-laki di antara ketiganya, Rendy.
"Sil, lu gak berniat cari pacar gitu?" tanya Sifa
"Iyah, tuh si Rendy nganggur" timpal Dea
Yaps, kedua sahabat Sisil ini memang sudah memiliki pacar, namun berbeda sekolah. Dan Rendy pun sebenarnya menyukai Sisil, namun Sisil tak mau jika itu dengan Rendy, dan Sisil selalu menganggap candaan jika Rendy berkata mengenai perasaan nya
"Apaan dah, gak mungkin lah, ya gak ren?" tanya Sisil
Rendy hanya tersenyum hambar. Kemudian seseorang mendekati Sisil dan ke tiga temannya. Siapa kah dia? Dialah laki-laki yang Sisil temui tadi, masih memakai seragam lamanya karena seragam di sekolah ini belum tersedia untuk ukurannya, tingginya yang 178.
"Hai?" sapanya
"Hai!" balas Sifa dan Dea, tidak dengan Rendy dan Sisil, karena mereka tengah asyik berbincang.
"Sillia" panggil laki-laki itu
"Ya sif bentar" ucap Sisil yang menyangka jika dia adalah Sifa
"Nama lu sillia kan?" tanyanya
Sadar kalau dia bukan Sifa, dia melihat ke sampingnya. Dia kaget karena ternyata orang yang tadi dia sapa adalah orang Indonesia. Ia malu setengah mati.
"Eh?"
"Nama gua Ron, Veron" Ron mengulurkan tangannya
"Oh, gua sillia" ucap Sisil
"Boleh kan gua duduk di sini?" tanya Ron
"BOLEEH banget" jawab Dea yang sedari tadi mengagumi wajah Ron
"Heh! Inget lu udah ada Randy" ucap Sifa
"Lu juga ada derren" jawab Dea
Ron yang melihat itu hanya tersenyum, sedangkan Rendy, dan Sisil merasa canggung. Bagaimana tidak, Sisil malu akan kejadian sebelumnya, sedangkan Rendy tak nyaman karena merasa terancam akan keberadaan Ron
***
Sisil menunggu jemputan di depan gerbang sekolah, namun sudah 15 menit dia menunggu jemputan itu tak ada, padahal mama nya berjanji untuk tidak terlambat.
"Sil, mau nebeng?" tanya Dea
"Gak deh, Sifa mana?" tanya Sisil
"Loh Sifa kan dijemput derren"
"Hehe lupa, yaudah deh"
"Gua duluan kalau gitu" Dea pun pergi dengan motornya, Sisil melihat sekeliling, sudah sepi.
Tiba-tiba Rendy ada di samping nya, Rendy terlihat memakai seragam olahraga. Dan Sisil pun tersenyum, yaps Rendy hari ini ada ekskul sepakbola
"Belum di jemput? Mau gua anterin gak?" tanya Rendy
"Gak usah deh, lu kan lagi latihan"
"Masih ada sisa 10 menit lagi, telat dikit gak masalah lah, gua bisa cari alesan"
"Yaudah ay--"
"REN! BURUAN KE SINI, DAH MAU MULAI NIH" teriak temen Rendy
"Yah, yaudah lu tungguin gua aja deh, paling cuma 15 menit, satu ronde doang kok"
"Gua naik angkot aja deh" ucap Sisil yang sudah malas menunggu
Rendy pun masuk ke dalam lagi, meninggalkan Sisil yang menunggu angkot, Sampai kemudian seseorang dengan motor besarnya tiba-tiba berhenti di hadapannya.
"Nungguin angkot?" tanyanya
Sisil melihatnya, ternyata Ron, Sisil pun hanya tersenyum lalu mengangguk. Ron tersenyum, dengan seragamnya, Ron terlihat keren.
"Gak akan ada, gak pernah naik angkot ya? Ke daerah sini kan gak ada angkot, paling tukang ojek, itupun di sebelah sana" ucap Ron
Sisil mendengus, lagipun jika dia naik angkot, dia bingung mau naik yang mana, ia pernah naik angkot saat SD, tapi sekarang ia belum pernah naik angkot.