"Apa, Cinderella ? zaman sekarang jadi Cinderella? bertemu pangeran tampan dan kaya lalu menikah lalu diperlakukan seperti Ratu ? hahahaha!
bangun lah dari mimpi Rika!" kataku.
"apa kamu tidak percaya, bisa saja kita jadi Cinderella di masa kini, sadarlah Nasya, kita masih punya kesempatan asal kita memilih dalam jatuh cinta dan memilih kekasih" Jawab Rika masih tidak terima .
"Mereka yang tidak mau memilih kita Rik, sudahlah Cinderella apanya haha, perempuan harus bisa berdiri sendiri dikaki sendiri, pria zaman sekarang angkuh dan mereka seperti memiliki penyakit yang sama, kesana kemari seakan nomor satu, ah tidak... apalgi yang tampan dan kaya, aku sangat kesal bertemu pria angkuh dan blagu. Tidak akan ada dongeng yang terjadi didunia nyata.. oh ya aku pergi dulu ya rik, aku ada urusan penting... aku baru ingat aku harus mengantar pesanan dijam ini."
"kemana Sya, sebentar lagi kita ada kelas bu Laili yang galak itu, jangan sampai bolos ! nanti kamu bisa dikasih nilai E sama dosen kamu!" Rika mengingatkan.
Sial, bisa-bisanya aku lupa mengantar pesanan pelanggan.
tok ... tok...tok..
Pintu dibuka..
"Ada apa ya mbak?"
"apa bu Dina nya ada mas ? "
"Oh Ibu saya baru saja ada keperluan mendadak mbak, saya anaknya, ada apa ya?"
"ini saya cuma mau mengantarkan pesanan baju mas bu Dina"
"berapa ya mbak?"
"oh sudah di transfer mas, ini nanti tolong ya dikasihkan ke bu Dina, saya permisi."
"Eh tunggu mbak, bukanya mbak Mahasiswi Universitas Oxford ya anak bisnis kan?"
"loh kok tau mas ? iya saya baru semester 5, saya permisi mas soalnya udah telat kelas"
*Di Kampus*
Hp berdering.
"Halo ada apa Rika?"
"Dosen Laili ga masuk sya, katanya sakit, mujur banget kamu sya, kamu sekarang dimana?"
"Oh ya, ini aku baru sampe kampus, ya udah aku balik aja ya mau ngerjain tugas, soalnya ntar malam mau kerja lagi"
"Sya, Lu gila ya? sini ngumpul sama anak-anak di kantin, kamu tinggal milih mau yang mana haha, emang ga remuk tu badan muter-muter muluk, ayolah sesekali main bareng, tugas mah gampang"
"Engga deh Rik lain kali ya maaf, mau istirihat bentar juga nanti kerja sift malam"
sangat berantakan jadwal hari ini, untung aja Bu Laili tidak masuk .
Tiba-tiba Romi si songong dan blagu kearah ku. melihat wajahnya saja sudah malas.
"Nasya!"
"Apa ?"
"Nanti malam aku kerumahmu"
"Aku sibuk, aku pergi dulu"
"Aku mau melamar kamu! harus dirumah, awas kalo tidak dirumah!"
"Dasar gila!"
*Dirumah saat jam berangkat kerja*
Tok.. tok.. tok..
Pintu dibuka oleh ibu..
"Siapa ya ?"
"Saya Romi bu, ini orang tua saya mau datang melamar anak ibu Nasya, apa Nasya tidak bilang pada ibuk?"
"Apa?? ee sisilahkan masuk, saya panggil Nasya dulu ."
"Nasya.. siapa Romi, dia bawa orang tuanya datang katanya mau nglamar kamu, kok kamu ga bilang kamu punya pacar , trus malah mau berangkat kerja." ibuk kebingungan
"Apa? Romi?"
Aku bergegas keruang tamu menarik tangan Romi tak lupa permisi pada orang tuanya, orang tuanya pun kebingungan karena aku memakai sragam kerja.
"Romi kamu gila ya ? aku kira kamu bercanda"
"kapan aku bercanda" jawab Romi songong.
"Aku mau berangkat kerja, lagian kita sebelumnya tidak ada hubungan apapun atau pacaran, lagian kita di kelas juga jarang akur, ngapain juga kamu niat banget , emang kamu ga kasian sama orang tua kamu?"
"emang aku ga suka pacar-pacaran kayak anak Tk aja buang buang waktu, ya itu keputusanku lah kamu tinggal bilang iya aja" jawab Romi ketus.
apa-apan dia ini, astaga.. pikiranku sekarang amburadul dan aku pasti telat. mengapa bisa Romi sombong dan ketus sangat bukan tipeku melamar aku, hah yang benar saja. Dia memang tidak waras.
kini aku kembali keruang tamu bersama Romi. Ternyata Ayah Romi teman Bapakku waktu masih muda, mereka terlihat sangat akrab .
" Bapak sudah menerima lamaran ini nak, mereka keluarga baik-baik bapak mengenal mereka" Bapakku terlihat sangat senang.
"Apa ??" betapa kagetnya aku
"Apa kamu tidak setuju nak?"
"ehh bukan begitu pak, iya setuju Nasya, taapi Nasya belum siap untuk menikah dulu sebelum lulus dan mendapat pekerjaan lebih baik"
Mereka menyetujuinya, Romi memakaikan cincin dijariku dan begitupula sebaliknya, mereka lalu berbincang sebentar lalu pulang, dan aku akhirnya terpaksa tidak masuk kerja, mungkin aku juga tidak waras, pikirku, bisa-bisanya aku menerima lamaran pria angkuh seperti itu, tapi walaupun begitu aku juga tau Romi pria yang pekerja keras Dia seorang pengusaha Briket.
2 Tahun kemudian..
Wisuda juga telah berlalu, bahkan disaat wisudaku Romi tidak datang, Dia teramat sibuk, kami jarang bertemu, setiap bertemu terkadang bertengkar seperti anak kecil, dan bahkan teman-teman tidak tau bahwa aku sudah bertunangan dengan Romi, karena kami sama-sama tidak memakai cincin kami,Romi juga terlihat biasa saja ketika aku didekati pria lain, saat teman sekelasku mengungkapkan perasaanya pun dia pergi begitu saja dari kelas.. entah kadang aku berpikir, suka dari mana tidak pernah bilang suka tiba-tiba melamar, dan tidak pernah cemburu dan romantis. ah dasar.. aku memang tidak waras memilihnya, tapi semakin lama dengannya aku nyaman, tapi tidak mau berharap lebih, dulu sebelum Romi aku juga memiliki mantan kekasih yang jauhhh lebih manis sikapnya terhadapku tapi tetap saja meninggalkan aku, apalagi Romi yang angkuh dan biasa saja terhadapku.
Hari ini Aku bertemu Romi di Caffe biasanya, sepulang kerja, entah dia mau mengatakan apa, apa dia ingin memutuskan hubungan denganku, karna aku pikir Dia sekarang sangat jarang minta bertemu.
"Ada Apa , mau bicara apa?"
"Besok aku mau kerumah."
"ya kerumah aja, ngapain mesti ngomong dlu segala, biasanya aja langsung nylonong."
"Besok sama orang tua, mau nentuin tanggal pernikahan."
"Apa ? kamu gila?"
"kamu yang gila, udah ayo pulang."
"gitu doang ngomongnya?"
"Iyalah apalgi, kan udah selsai makan, ngomong trs pulang kan?"
"Aku belum mau nikah Rom, aku masih ingin kerja dan mengembangkan bisnis ku sendiri, apalgi kerjaanku sekarang ngga baik, dan aku pengen resign nyari kerjaan lain"
"aku sudah siapin semua,kamu kalo masih ingin kerja, ya kerja aja atau usaha terserah kamu, aku ngga akan larang untuk apa yang kamu mau asal itu baik aja."
" Tapi kasih aku waktu buat dapetin kerjaan baru, baru nanti ngomongin hal itu."
"Oke, bsok aku mau keluar kota sya ada urusan mengenai kerjaan, kamu jaga diri baik-baik."
"oke."
Setengah Tahun, Romi tidak kembali. Aku Justru menganggur dirumah, karena tidak diterima ditempat kerja lainnya, aku memutuskan membuka usaha lain, karena sebelumnya aku sudah memiliki usaha pakaian. kondisi terpurukku keuanganku semakin menurun dan Romi seakan hilang ditelan bumi.
8 Bulan berlalu, Romi juga belum kembali, entah kenapa sigila itu seperti hilang entah apa yang terjadi padanya, Dia tidak bisa dihubungi pula.
akhirnya aku diterima kerja suatu perusahaan bagus, aku bekerja sebagai staff dan fokus pada kedua bisnisku..
10 Bulan berlalu, Bisnisku yang satu terpaksa gulung, mungkin aku terlalu memikirikan banyak hal dan kehabisan pikiran tenaga.
Malam itu Romi datang kerumah bersama orang tuanya untuk menyepakati tanggal pernikahan kami. Romi tidak cerita apapun soal kepergianny begitu lama tanpa ada kabar.
Setelah hari pernikahan, aku sungguh tercengang..
Ternyata Romi telah menyiapkan rumah yang nyaman dan indah untuk kami, aku tidak menyangka.. dan kami pergi bulan madu ketempat yang indah disalah satu pulau di negara ini.
Ternyata kepergian Romi keluar kota yang begitu lama, memang mengurusi bisnisnya yang sedang terpuruk disana dan dia juga fokus mengurusi hal-hal tentang pernikahan dan bulan madu kami. Ternyata yang aku pikir tidak waras, ternyata dia jauh lebih baik dari orang yang aku pikir waras. Dia tidak pernah berkata, berjanji atau bersikap manis kepadaku namun ternyata dia lebih manis dari itu semua.