Aku bergegas berlari ke luar rumah. Di halaman seorang lelaki paruh baya duduk menunggu di atas motor yang masih menyala. Dari depan pintu aku melirik ke arahnya, hanya untuk sekedar memastikan kalau itu memang dia, orang yang memang sudah kutunggu-tunggu kedatangannya, hampir dua pekan sudah. Dia melambaikan tangan. Aku tersenyum mengangguk.
"Kemarin sampeyan gak ada di rumah iya?"
"Ada kok!"
"Masak?"
"Di rumah,"
"Kok saya panggil ndak nyahut,"
"Tidur kali,"
"Oh..."
"Ada?"
"Nih. Jaman sudah canggih begini kok iya masih surat-surat toh, Mas."
"Iya biar situ gak makan gaji buta,"
"Trembelane,"
"Lah benar kan,"
"Lah segini banyak paket yang dianterin sampeyan bilang makan gaji buta? Akh, kelewat sampeyan!"
"Lah kalau kelewat putar balik,"
"Dia pacar sampeyan?"
"Kenal aja nggak,"
"Lah Ndak kenal gimana?"
"Iya memang gak kenal, mau bilang apa coba."
"Lah itu surat-surat yang kemarin?"
"Lah, awalnya aku iseng membalas. Lah, ternyata malah keterusan."
"Dia-nya atau situ-nya?"
"Iya, dua-duanya."
"Ndak ditanya nomor hpnya atau Facebook-nya gitu?"
"Facebook itu apa toh?"
"Ah, sampeyan,"
"Lah dia-nya yang nanya begitu,"
"Masak,"
"Aneh kan,"
"Nomor hp,"
"08134544..."
"Lah itu bukannya nomor hp sampeyan,"
"Lah tadi situ minta apa?"
"Maksud saya itu nomor hpnya dia loh,"
"Facebook aja dia gak mudeng apalagi hp!"
"Itu orang hidup di jaman apa ya,"
"Tinggal di pelosok hutan belantara kali,"
"Menghina sampeyan! Sampeyan menghina ini namanya..."
"Menghina gimana?"
"Lah sekarang sampeyan baca tuh alamat surat, coba dibaca. Di Jakarta toh!?"
"Iya,"
"Lah terus maksud sampeyan Jakarta itu masih primitif gitu!? Lah, kita yang tinggal di desa begini aja internet sudah dimana-mana, iya, konon di Jakarta. Ndak, mungkin toh!?"
"Ndak, paham aku."
"Cewek?"
"Lah, namanya aja Dina. Masak iya cowok!?"
"Kali aja kependekan,"
"Kependekan apa?"
"Didin Sutisna,"
"Semprulmu!"
"Udah ah saya mau antar paket lagi,"
"Gak ngopi dulu,"
"Emang ada?"
"Tuh, di warung banyak."
"Sialan,"
"Lagi jalan,"
"Lagi jalan?"
"Si Alan kan,"
"Sekarepmulah, Mas."
Kesal. Gas motor ditarik kencang. Kontan, motor pun melompat beberapa jengkal. Si pengemudi kaget alang kepalang. Untungnya, keseimbangan tubuhnya ajeg, coba kalau tidak, tinggal sejarah dia. Yang ada aku tinggal ngakak sengakak-ngakaknya.
"Asu...." teriak si pengemudi.
Aku balik kanan, surat di tangan kubawa masuk dengan tersenyum girang, amplopnya aku endus berungkali. Aroma wewangian yang sama, pikirku.
Bergegas melemparkan tubuh ke atas sofa, aku koyak pinggiran amplop, secarik kertas yang terlipat dua kutarik keluar. 'Hai, apa kabar?' bunyi kalimat pertama yang tertulis, tak seperti biasanya. 'Maaf kalau baru bisa membalas suratmu. Soalnya akhir-akhir ini aku..."
"Wan! Wawan..."
"Siapa?"
"Gue! Lukman!"
"Mau apa?"
"Pinjem hepeng."
"Sorry gue lagi bokek!"
"Boker? Woii gila loe Boker di kamar..."
"Bokek! Bukan Boker!"
"Oh..."