"Pap, mama mau keatas mau mengajak Esa makan" ucap Mama Dahlia.
Papa hanya menganggukkan kepalanya, Kemudian mama pergi keatas untuk memanggil Esa makan. Mama mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada jawaban, mama pun membuka pintu kamarnya dan waktu mama masuk dilihatnya Esa yang lagi melamun di balkon kamarnya.
Mama pun berjalan dan mendekati Esa.
"Esa" tegur mama. Esa menoleh dan dia langsung berlari untuk memeluk mamanya.
"Mam, kenapa mas Wira jahat dengan aku?. Setelah yang dia lakukan dan membuat dunia aku kembali indah, Kemudian tiba-tiba dia pergi ke Jerman dan satu Minggu ini mas Wira tidak ada kabar berita" isak Esa di bahu mamanya.
Mama pun mengajak Esa untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Sekarang jawab mama, Esa sayang dengan Wira".
"Aku sayang dengan mas Wira mama, maaf mam aku tidak tahu kenapa tiba-tiba rasa itu ada di hati aku. Seharusnya aku membenci mas Wira yang sudah menghancurkan kehidupan aku tapi...." kata Esa memutuskan perkataannya.
Mama hanya bisa menarik nafas, itu wajar karena beberapa bulan ini mereka berdua memang sudah sangat dekat dan saling membantu masalah yang terjadi dengan Anaza dan Sari pikir mama.
"Bagaimana jika kita makan dulu?, papa sudah menunggu di bawah untuk makan" ajak mama.
"Aku tidak lapar mam" jawab Esa pelan.
"Tapi Esa....". Esa tidak memperdulikan ucapan mamanya, dia pun naik keatas ranjangnya membaringkan tubuhnya dan menutupi seluruh badannya dengan selimut dan meringkuk seperti anak bayi.
Mama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Esa,
"Mama tahu apa yang kamu rasakan sekarang tapi ini memang sudah direncanakan semuanya dari awal oleh Wira. Dia ingin kamu bahagia seperti sebelum Wira melakukan hal tersebut" ucap mama mengelus rambut Esa.
"Aku tahu itu mam, tapi kenapa setelah aku merasakan cinta dengan dirinya. Dia malahan pergi jauh" tangis Esa didalam selimut. "Mas Wira tidak pernah sayang aku mam, tidak pernah".
Papa yang sudah lama menunggu untuk makan akhirnya memilih untuk naik keatas. Dan melihat apa yang terjadi dan sekalian mengajak mama dan Esa. Tapi waktu didepan kamar Esa, papa mendengarkan semua curhatan Esa tentang Wira.
Papa tidak menyangka kalau akhirnya Esa ada rasa dengan Wira yang telah menghancurkan kehidupannya. Papa pun turun kebawah dan menunggu mama dan Esa untuk makan bersama. Setelah makan nanti papa akan menanyakan semuanya dengan mama. papa yang turun duluan agar mama tidak tahu kalau papa mendengar semua pembicaraan mama dan Esa.
"Esa mana mama" tanya papa.
"Esa tidak mau makan" jawab mama, papa hanya memandangi wajah mama dan akhirnya papa dan mama makan cuma berdua.
"Mam, papa sudah mendengar semuanya tadi pembicaraan mama dengan Esa" ujar papa waktu mama sudah mau tidur.
Mama pun melihat papa dan mama pun menangis memegangi tangan papa. "Mama takut Esa seperti dulu dan penyebabnya adalah orang yang sama" isak mama.
Papa pun memeluk mama dan mengusap belakang mama, " Esa tidak akan apa-apa, papa yang akan membantu Esa supaya bisa bertemu lagi dengan Wira. Sebenarnya dari awal papa yang salah dan menyuruh Wira untuk pergi dari hidup Esa tapi kenyatanya Esa tidak bahagia dengan kepergian Wira".
POV Wira
Sudah satu Minggu ini, aku tidak bertemu lagi dengan Esa. Aku sangat merindukan Esa, merindukan segala hal dalam dirinya. Aku kira kedekatan kami berdua bisa membuat Esa mencintaiku tapi nyatanya kedekatan kami berdua hanya untuk membuat ibu mbak Sari menerima Anaza menjadi menantunya.
Aku merindukannya tuhan tapi seharusnya aku bahagia waktu melihat Esa ketawa dan tersenyum dengan Rico mantan tunangannya dulu. Tapi yang ada hanya rasa sakit yang aku rasakan.
Tok-tok....
Dengan rasa malas Wira membukakan pintu apartemennya dan betapa terkejutnya dia disana yang berdiri adalah papanya Esa.
"Om....ayo masuk" gugup dan takut bercampur menjadi satu dalam diri Wira.
"Apa yang di lakukan papa Esa disini" batin Wira.
"Duduk" perintah papa. Wira pun duduk didepan papa, papa pun menatap wajah Wira dan melihat sekeliling ruangan yang sudah seperti kapal pecah.
"Katanya kamu pergi ke Jerman tapi kenapa kamu ada disini seperti orang yang mau mati" ucap papa marah.
"Lusa aku berangkat ke Jerman om, jadi aku akan bersiap-siap dari sekarang" jawab Wira lugas.
"Bagaimana dengan Esa" tanya papa langsung.
"Esa baik-baik saja, ada om, tante dan tentu saja Rico itu yang sekarang di inginkan Esa" ada nada sedih waktu Wira bicara seperti itu.
"Tapi bagaimana jika om bilang yang di butuhkan Esa Sekarang adalah kamu" ucap papa.
Wira yang menunduk tadi langsung melihat papa.
"Kamu tidak percaya apa yang om ucapan. Kalau tidak percaya datang kerumah om dan lihat keadaan Esa. Tapi camkan omongan om kalau kamu tetap pergi ke Jerman, om pastikan akan menarik kamu ke hadapan Esa" peringatan papa terhadap Wira.
Ada rasa bahagia waktu papa bilang boleh melihat Esa, tapi Wira takut Esa akan marah dengan dirinya.
"Tapi om aku.....". tanpa banyak bicara lagi, papa langsung menyuruh bodyguardnya untuk membawa Wira kerumahnya.
Wira teriak-teriak dan berusaha untuk melepaskan diri tapi tidak bisa apalagi selama satu Minggu ini Wira jarang makan. Mama yang lagi asyik bercerita dengan Esa langsung berdiri dan melihat apa yang terjadi begitu juga dengan Esa.
Selama beberapa detik Esa terdiam karena melihat Wira tapi kemudian Esa langsung berlari untuk memeluk Wira. Wira yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Esa tidak siap dan langsung terduduk dan diatasnya ada Esa yang sudah menangis.
Papa mengisyaratkan semua orang meninggalkan Wira dan Esa berdua agar mereka bisa menyelesaikan masalah mereka.
"Mas Wira jahat dengan aku, sudah satu Minggu tidak ada kabar. Mas Wira datang setelah aku menjadi mayat" Isak tangis Esa.
Wira langsung melihat Esa dan dihapusnya air mata Esa. "Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka" ucap Wira.
"Kalau begitu jangan tinggalkan aku sendirian lagi mas, ajak aku kemana mas pergi. Jangan buat aku kesepian seorang diri".
Wira terdiam mendengar perkataan Esa "Esa kamu bicara apa?, masih ada om, tante dan rico. Mereka menyayangi kamu".
"Bagaimana dengan mas Wira?, mas sayang aku atau tidak" tanya Esa.
"Aku....iya aku menyayangimu tapi kebahagiaan kamu bukan dengan aku melainkan dengan orang tuamu dan Rico" ucap Wira pelan.
"Rico lagi....orang yang bisa membuat aku bahagia adalah mas. Dan aku mencintaimu mas Wira Anugrah" kata Esa dan membalikkan badannya.
Wira yang mendengarnya pun menarik badan Esa tapi Esa tidak mau membalikkan badannya.
Wira pun memeluk Esa dari belakang "Esa tidak bohongkan jangan membuat aku sudah terbang tinggi kemudian terjatuh kebawah. Sakit Esa" keluh Wira.
"Aku tidak bohong mas, aku sedih mas tiba-tiba mas pergi tanpa kasih tahu aku dan mas tidak sayang aku" kata Esa.
"Tidak aku menyayangimu, aku melakukannya karena ingin kamu bahagia dengan kehidupan kamu biarkan aku yang sakit melihat semuanya".
Esa langsung menoleh dan mengecup bibir Wira sekilas.
Wira terdiam dan langsung memeluk Esa "Terimakasih sudah memaafkan semuanya, terimakasih sudah mencintai aku seorang bajingan".
Esa menatap Wira "Mas bukan bajingan sekarang mas adalah imam hidupku dan cinta dalam hidupku".
Esa mengecup seluruh wajah Wira dan dia pun memeluk Wira sangat kencang seperti tidak mau lepas.
"Lihat mereka berdua, sepertinya aku akan cepat melaksanakan pernikahan mereka. Aku tidak ingin punya cucu di luar nikah" kata mama.
papa langsung memeluk mama dari samping dan ketawa mendengar perkataan mama.
The end
(Kalau mau tahu lebih detail lagi tentang Wira dan Esa datang ke novel aku yang berjudul Cinta Luar Biasa).