Di bagian belakang kost Pak Lee, tiga orang tengah bercengkrama sembari menggosok pakaian masing-masing. Disini memang hanya Jungkook yang memakai jasa laundry. Yang lainnya memilih cuci gosok sendiri, lebih hemat. Walaupun hasil cuciannya tidak terlalu bersih.
Duduk di paling ujung, pria dengan setelah kaos tanpa lengan dan juga wajah bantal khas bangun tidur terlihat baru memeras baju pertamanya. Dia Habibi Tanjung. Atau kerap disapa Hobi, tetapi para gadis lebih suka menyebutnya Hubby, sebab perangai nya dinilai cukup suamiable. Bergelar mahasiswa Teknik sipil, pria itu sebenarnya berkuliah disini hanya karena ingin mengikuti ekskul Dance saja. Ia bahkan menyebutkan secara spontan jurusan yang akan ia masuki saat pendaftaran. Syukur dirinya bisa diterima disini.
"Gue yakin gue pasti bisa kayak Michael Jackson." Ucap Hobi setiap saat, ketika dirinya sedang berkumpul dengan teman-temannya. Saking seringnya sampai teman-temannya hapal tabiat pria itu.
"Mati maksud Lo?" Sahut pria yang duduk di tengah. Pria dengan kaos oblong berwarna putih. Ia adalah Agus Dermawan. Terkadang kalau sedang memakai jaket kulit namanya akan berubah menjadi Agus D. Biar keren. Kini tengah mengejar study Jurusan ekonomi bisnis untuk mengembangkan usaha Empang milik bapak nya. Awalnya Agus berniat mengambil jurusan kedokteran seperti Seokjin, tetapi jika berurusan dengan darah Agus tidak mau. Belum lagi jarum-jarum suntik, dan yang paling parah tuntutan balas dendam dari para arwah penasaran yang mati di rumah sakit. Repot.
"Kok mati sih?" Tanya Hobi tidak puas dengan jawaban Agus. Agus mengedikkan bahu, ia menoleh ke arah teman yang paling ujung. Namjoon Haris Sinaga, pria yang mengambil jurusan hukum itu memiliki otak yang seksi, maksudnya bisa diajak berfikir kritis. Memiliki kemampuan berbicara yang mumpuni, bibit-bibit calon pengacara. Sangat sempurna dengan tubuh tinggi dan hidung mancung. Minus sering merusakkan barang tapi tidak berpengaruh. Tapi juga tidak dijual.
"Joon, jelasin." Ucap Agus kepada Namjoon. Namjoon meletakkan baju yang sedang ia kucek itu ke ember. Ia kemudian bersiap menjelaskan seperti sedang presentasi.
"Michael Jackson kan udah mati beberapa tahun lalu."
"Terus?" Tanya Hobi penasaran.
"Halah, telmi nggak usah ditemenin." Ucap Agus, kemudian mereka bertiga kembali pada aktivitasnya mencuci pakaian.
Sesaat sebelum Agus merasakan aura yang berbeda. Hatinya tiba-tiba gelisah seiring dengan angin yang berhembus pelan.Ia memejamkan mata, mencoba meraba keadaan dengan mata batinnya. Awalnya samar-samar tetapi beberapa saat kemudian Agus membuka mata, matanya membulat setelah merasakan sesuatu. Hal itu memantik rasa penasaran dari Hobi dan Namjoon.
"Lo lihat sesuatu?" Tanya Namjoon serius, pasalnya jika Agus sudah begitu berarti dunia sedang tidak baik-baik saja. Agus mengangguk, napasnya terengah-engah seolah mahkluk itu menyerap energi Agus.
"Hitungan ketiga kita harus lari dari sini."Ucap Agus mewanti-wanti teman-temannya.
"Memangnya kejanggalan apa yang Lo tangkep?" Tanya Hobi yang sudah berjongkok bersiap berlari dari sini.
Agus menatap kedua temannya secara bergantian. Dan kemudian ketiga insan tersebut lari tunggang langgang tepat setelah mendengar pernyataan Agus yang satu ini.
"Hayati datang bawa buku akutansi."