"Jilat!" teriak seseorang
Aku melihat ke pojokan, seorang siswa laki-laki menggunakan kacamata yang kemungkinan masih satu angkatan dengan ku, dan di sekeliling nya ada 3 perempuan dengan minuman yang tercecer di lantai.
"Jangan!" Ah, astaga aku membuat masalah lagi dengan mencampuri urusan orang lain
Aku mendekati laki-laki itu dan memberinya sapu tangan ku, dan laki-laki itu mengusap wajahnya yang berkeringat karena ketakutan. Aku menghadap ke para perempuan tadi, dan dengan gaya menantang aku melihat salah satu diantara mereka bertiga.
"Jangan ganggu dia, salah dia apa sehingga kalian membullynya?" tanyaku
"Lu itu murid baru, jadi jangan ikut campur"
"Terserah, tapi gua bisa laporin kalian ke guru" ancamku
"Awas lu!" ketiga perempuan tadi pergi meninggalkan aku dan laki-laki itu, aku melihatnya, dan kemudian mengajaknya pulang bersama ku.
***
Besok harinya, aku dan sahabatku, Dea, kita berdua di musuhi oleh teman satu kelas, dan aku tahu alasannya, itu karena aku membela laki-laki kemarin, mungkin jika hanya untuk ku, aku bisa saja menerima nya, namun jika dengan sahabat ku, dia tak tahu apa-apa.
"Giselle, kenapa temen-temen pada gak nyapa kita ya?" tanya Dea
Aku menoleh padanya, lalu tersenyum. Namun ternyata semuanya belum selesai, saat jam istirahat, aku kembali melihat anak laki-laki kemarin di bully lagi, namun, aku tak bisa berbuat apa-apa, rasa bersalah begitu menghantui ku.
***
"Anak-anak, hari ini ibu membawa kabar duka dari kelas sebelah, Willi, dinyatakan meninggal dunia, karena bunuh diri"
Duaaarrrr!!! Willi? Yah, dia anak laki-laki itu. Aku jadi semakin merasa bersalah padanya, teman-teman sekelas ku sudah tak menjauhi aku dan Dea, namun, Willi lah yang menjadi korban, dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tak ada lagi yang membelanya.
***
Sore ini, aku pergi ke rumah Willi sekedar untuk melayat, sebelum jenazah Willi di masukan ke dalam peti, untuk di kebumikan.
"Tante, om, Giselle turut berdukacita"
Hanya itu yang dapat keluar dari mulut ku, aku kemudian pamit saat Willi sudah di kebumikan, aku berjanji untuk tidak lagi membiarkan orang lain bernasib sama dengan Willi.
***
Sepulang sekolah, aku melihat ketiga perempuan itu tengah di kelilingi pasukan geng motor di sekitar nya, jalanan juga nampak sepi. Aku segera mendekati mereka.
"Lepaskan mereka!" ucapku pada salah satu anak geng motor itu
"Ohoho, apa masalahmu nona, kau datang tiba-tiba, lalu kau menyuruh kami melepaskan ketiga wanita sialan ini? Karena mereka adikku tiada" sinis pria itu
Aku menatapnya, "Lu pikir dengan lu nyiksa ketiga perempuan ini, lu bisa bahagia, dan itu membuat adik lu kembali, jelas nggak kan?" ucapku santai
"Hahaha, tapi setidaknya mereka bisa merasakan apa yang adik gua rasain selama hidupnya, atau...." dia mengelilingi ku "Lu aja yang gantiin posisi mereka"
Deg! Mati aku!!! Lagi lagi aku melakukan hal gila. Nyaliku mulai menciut, namun aku tak boleh membiarkan ketiga perempuan itu di siksa oleh laki-laki sangar ini dan teman-temannya.
"Ets, tapi, bukannya lu juga benci sama cewek bertiga ini?" tanyanya lagi
Aku melihat ketiga perempuan itu, "Ya, gua emang benci sifat mereka, tapi gua gak bisa biarin mereka bernasib sama kayak Willi, meskipun mereka jahat, tapi gak harus dibalas kejahatan bukan?"
Laki-laki di depanku tersenyum mengerikan "Kalau gitu, lu aja yang jadi ganti mereka" ucap laki-laki itu
Aku terdiam, jelas aku tak mau, namun bagaimana caranya menolak laki-laki gila di depanku ini?
"Sebagai gantinya, lu jadi cewek gua, dan ya,...." dia mengambil dompet ku dan menyita KTP ku "KTP lu ada di gua, gua balikin tapi, setelah besok selesai kencan, di taman deket kebun binatang" Setelah itu dia menaiki motor nya dan mengajak teman-teman nya untuk pergi juga
Ketiga perempuan itu berterima kasih kepada ku, dan mereka berjanji tidak akan melakukan hal yang sama lagi seperti perlakuan nya pada Willi. Oh astaga! tapi bagaimana nasibku, pemaksaan berpacaran ini membuatku gila. Dan apa katanya tadi, dia mengajakku untuk berkencan dengan nya? Ajakan macam apa tadi itu, itu terkesan sebuah ancaman, bukan ajakan.
***
Aku memakai rok selutut berwarna peach, dan kaus putih dipadu dengan tas selempang ku, aku bergegas menuju tempat yang di suruh nya, aku tak mau KTP ku terlalu lama berada di tangannya.
Baru saja aku sampai di sana, aku sudah melihat seseorang dengan celana jeans hitam, dengan baju berwarna pink, dan jaket berwarna coklat. Tampan, berbeda dengan tampilan nya kemarin yang terkesan begitu sangar.
"Hai!" sapanya ramah
Hei, selamatkan jantungku, suaranya berbeda dengan kemarin, dan wajahnya pun terkesan imut. Dia benar-benar mirip dengan artis Korea.
"Mana KTP ku" ucap ku tanpa basa-basi
Laki-laki itu memberikan tangannya dan mulai menarik ku, yah, dia mengajakku berkencan. Dia membawa ku ke salah satu mall, kemudian taman bermain. Di sana lah aku mengetahui satu hal, kalau dia bernama, Hans. Dan dia adalah kakak nya Willi, oh my God pantas saja wajahnya begitu familiar.
"Senang?" tanya nya
"Iyah, terimakasih, tapi, mana KTP ku" pintaku
"Cieee.... yang udah ngomong aku kamu"
"Ish, mana?" Tanya ku
"Nanti dong ah, rusak suasana aja" ucap nya
Dan sesuai janjinya, dia memberikan KTP ku setelah dia mengantar ku ke rumah. Dan, dia juga mencium dahiku sebelumnya. Hal yang baru aku rasakan. Dan hal yang baru dalam hidupku. Dalam sekejap dia mampu membuatku jatuh cinta padanya, namun, jauh dalam hatiku, aku masih takut padanya, karena ya, dia adalah ketua geng motor itu.
***
Selama berminggu-minggu aku dan Hans berkencan, dan itu cukup membuat ku dapat mengenalnya, dia kakak kelasku. Namun karena jam sekolah kita berbeda, membuat nya tak dapat memantau adiknya yang membuatnya harus kehilangan adiknya.
"Giselle, gua sayang sama lu, gua juga cinta sama lu" ucap Hans padaku lalu mendekat kan dirinya padaku
Aku mengangkat kepalaku, sampai Cup! dia mencium leherku. Yah, dia lalu melihatku. Cukup tahu maksud ku, masalah nya adalah, my first kiss itu cuma buat pacar sesungguhnya ku nanti.
"Yah, gua tahu, lu nolak gua kan" Dia berdiri, bukan itu maksudku, astaga bagaimana ini "Hm, ada sesuatu yang harus lu tahu, kalau sebenarnya, gua dulu, maksa lu pacaran sama gua karena ini" dia memberikan ku sapu tangan, dan di sana ada nama ku, yah, itu sapu tangan dariku untuk Willi dulu.
Aku merasa tertusuk, jadi hanya karena balas Budi. Saat ini kau berhasil Hans. terimakasih.
"Kalau gitu, gua pamit" dia pergi meninggalkan ku sendiri an di kegelapan taman
***
Satu Minggu berlalu dengan cepat, aku kini memiliki teman baru, teman pria tentunya. Namanya Joshua, dia pindahan dari sekolah di Sumatera.
"De, Sel, kantin kuy" Aku segera mengikuti Joshua dengan Dea di samping ku
Saat sampai di kantin, aku melihat ada anak kelas 12, yang lebih tepatnya adalah kelasnya Hans. Mereka atau lebih tepatnya Hans, sedang merangkul seorang perempuan, cantik. Tumben, bukankah jam istirahat kelas 10, 11, dan 12 berbeda,
"Sel, sini buruan, ngelamun mulu, gua cium juga lama-lama" frontal Joshua, hingga dapat terdengar oleh orang lain, aku menyentil bibir nya karena nakal.
"Cie..." teriak anak kelas 11 yang lain
"Gak papa kali" canda Joshua
"Berisik lu ah" bisik ku
Dea juga tertawa melihat ku yang marah. Kesal rasanya, aku melihat Hans, dia terlihat kesal. Ah terserahlah.
***
Sore ini aku, Dea, dan Joshua berjanji untuk bermain ke Korsel, atau taman bermain. Aku memakai celana Levis dan kaus dengan gambar kucing. Rambutku terikat membuat leherku Ter ekspos, jika dengan Hans, mungkin dia akan marah.
"Dea gak bisa katanya, gak papa lah, lumayan kan bisa jalan bareng cowok seganteng gua" PD Joshua
"PD amat dah" ucap ku sinis
Kami pun mulai menaiki satu persatu wahana, sampai ketika kita hendak masuk ke rumah hantu, aku bertemu Hans dan perempuan di kantin itu, mereka juga hendak masuk rumah hantu.
"Josh, kita balik aja yuk, gua takut" pintaku (Bukan takut hantunya, tapi pemandangan di depan gua lebih nyeremin) batin ku
"Elah liat hantu beginian aja takut lu" ucap Joshua
Akhirnya terpaksa aku mengalah. Hans juga seolah tak melihat ku, padahal kita satu tim, Karena yang boleh masuk rumah hantu harus beregu, dan satu regu, harus empat orang.
"Ah setan setan, kamvret ngagetin" teriak Joshua sambil memelukku
"Tadi aja sok-sokan berani, sekarang, siapa yang teriak?" sinis ku
"Eh, tadi mah gua kaget" bela Joshua
"Hans! Ada suster ngesot" teriak perempuan itu
"Tenang Angel, ada gua" ucap Hans
(Suster ngesot sama lu juga sereman lu kali) batinku
"Tai anjink! Ada pinguin beranak alias tuyul" teriak Joshua
"Buruan ah Josh, lu mah teriak-teriak Mulu, kuping gua congean lama-lama Deket sama lu" ucapku kesal
"Santai dong, ntar gua kasih kuyang teriak juga lu" canda Joshua
Aku mempercepat langkah kaki ku, sampai akhirnya aku dan Joshua keluar, dengan Hans dan siapa tadi namanya, ah Angel.
"Sel, makan dulu yuk, laper nih, ngejar lu, larinya cepet banget, jangan-jangan lu titisan kuntilanak ya lu? terbang kan?"
Sialan lu" ucapku pada Joshua. kesal
Akhirnya aku dan Joshua makan, dan begonya, Joshua mengajak Hans dan Angel.
"Kalian pacaran?" tanya Angel "Seru ya punya pacar hobinya berantem kayak kalian, jadi gak hambar, dan gemesin" ucap Angel lagi
"Kita? Otw KUA, ya gak sel?" tanya Joshua
"Bicit lu" kesalku
"Eh, bentar deh sel, gua mau ke belakang dulu, mau setoran buat nikahan kita nanti" ucap Joshua
"Ikut, aku mau benerin make up" ucap Angel
"Gendeng" komen ku atas tindakan Joshua
Kini di tempat ini hanya ada aku dan Hans. Sedari tadi, Hans menatap ku dengan tajam. Aku berusaha untuk cuek saja.
"Tadi, pacar lu? Cantik ya" ucapku padanya
"Bukan, dia temen" jawab Hans
Aku masih tak mau melihat wajahnya. dia begitu menakutkan.
"Yang tadi? " tanya Hans
"Dia? Temen, tapi gobl*k" ucap ku
"Oh" jawabnya
Tak lama kedua human itu datang lagi, dan setelah makan, aku dan Joshua pamit pulang duluan. Joshua mengantar ku dengan motornya.
***
Aku sudah selesai membersihkan tubuhku, aku kemudian memakai baju tidurku yang bergambar Doraemon. Setelah selesai, aku membaringkan tubuhku ke atas kasur.
"Cantik, baik, feminim, gak mungkin kalau cuma temen" ucapku
"Sel, ada temen kamu sayang, di luar" teriak mama
Aku segera berlari keluar, mungkinkah Joshua? Sampai kemudian, deg!!! Dia, Hans.
"Malam cantik, gua kesini, mau minta maaf, maaf kalau gua pernah salah niat sama lu, sekarang, gua beneran sayang sama lu, ngeliat lu sama orang lain tadi, gua cemburu, gua marah, dan gua gak mau lu dimiliki orang lain, gua cuman pengen lu sama gua, dan itu harus., jadi, lu mau gak jadi pacar gua?" nyatanya memberiku bunga, coklat, dan boneka.
Aku terdiam, lalu kemudian aku mengangguk, ya, aku juga menyayanginya. Aku juga marah ketika melihatnya bersama perempuan lain.
"Gua sayang sama lu"
"Gua juga sayang sama lu"
Di bawah bintang, aku dan Hans berpelukan, dan aku juga memberikan ciuman pertama ku padanya.
***
"Cieee yang udah punya pacar" ledek Dea dan Joshua
"Yah, gak bisa lagi dong gua ngaku-ngaku punya pacar secakep lu"
"Awas aja kalau berani" ucap Hans menanggapi Joshua
"Udahlah biarin aja"
"Yaudah gua masuk kelas dulu ya, dah yang" Hans mencium pipi ku
"Cie.... yang, yang, kuyang" ledek Joshua
Dan begitulah akhirnya, aku dan Hans, kita kembali bersama, dan mungkin selamanya. Yaps, selamanya.