Masalah Ana semakin banyak. Bagaimana tidak, Daffa yang dulu teman sekelasnya di SMP saat kelas 9 juga, menyatakan perasaan suka padanya.
Karena hal itu, Ana dan sahabatnya saat di SMP dulu, menjadi bermusuhan karena kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"(Haduh. Daffa, dateng di waktu yang gak tepat!) Kenapa dia harus di kelas ku sih?!)" Ucap Ana dalam hati.
Daffa pun memperkenalkan dirinya di depan kelas Ana. Baru saja Daffa masuk, anak-anak perempuan di kelas Ana sudah mulai heboh.
"Wah! Dia ganteng banget!!!" Ucap salah satu siswi teman sekelas Ana.
"Iya. Semoga dia duduk sama aku hehehehe." Sambung anak perempuan yang lainnya.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Daffa dengan wajah datar sambil terus menatap ke arah Ana.
Ana yang merasa dirinya ditatap oleh Daffa, langsung memalingkan wajahnya. Tentu saja hal itu membuat Daffa kesal. Semakin Ana cuek, Daffa semakin sering menatap ke arah Ana.
"Wah! Ya ampun, bahkan suaranya juga manis." Ucap salah satu anak perempuan yang terus menerus menatap ke arah Daffa.
Sayangnya, Daffa terus menatap ke arah Ana. Hal itu membuat Ana semakin tidak nyaman.
"Perkenalkan nama saya Daffa Alfarizi. Panggil aja Daffa." Ucap Daffa singkat.
"Hai Daffa!" Ucap semua murid di kelas Ana.
Saat Daffa memperkenalkan dirinya, anak-anak perempuan lah yang paling semangat menyapa Daffa.
"Baik Daffa. Kamu duduk di situ ya. Disitu kosong." Ucap Bu Indah sambil menunjuk ke arah bangku kosong di depan tempat duduk Ana dan Ayu.
"(Haduh! Terlalu dekat!!!)" Ucap Ana dalam hati.
"Oh iya anak-anak Hari ini ibu akan kasih kalian sedikit materi buat belajar sama tugasnya ya. Ibu mau ada rapat di ruang guru. Kalian bisa belajar sambil berkenalan lebih dekat dengan Daffa.
Oh iya! Ibu pesen, jangan ada yang keluar, sampai bel istirahat berbunyi! Apa kalian mengerti?" Ucap Bu Indah.
"Baik bu!" Ucap semua murid kompak.
Daffa pun duduk di bangku depan sendirian. Ia duduk persis di depan Ana dan Ayu. Anak-anak perempuan yang lain pun, mulai tidak fokus belajar, mereka sibuk menatap ke arah Daffa.
"Pssst... Ana. Apa ini Daffa yang kamu bilang? Yang bikin temen kamu dulu, siapa tuh namanya lupa? Kamu sama temen kamu berantem gara-gara si Daffa kan?" Tanya Ayu sambil berbisik.
"Apa maksud kamu Gina? Iya. Gara-gara Daffa." Ucap Ana sedih.
"Idih. Aku heran, kenapa cuman gara-gara cowok, dia gak mau lagi temenan sama kamu?" Ucap Ayu kesal.
"Udahlah jangan ngomongin itu dulu. Mending kita fokus belajar dulu." Ucap Ana sambil mencatat materi yang diberikan Bu Indah di papan tulis.
Ana yang sedang fokus mencatat, tiba-tiba diajak Daffa berbicara. Daffa pun membalikkan badannya untuk berbicara dengan Ana.
"Ana..." Panggil Daffa pelan.
Tentu saja, Ana tidak merespon panggilan Daffa. Ayu yang merasa Ana terganggu gara-gara Daffa pun, langsung menatap tajam ke arah Daffa.
"Eh. Daffa! Jangan ganggu Ana! Ini masih waktu belajar! Fokus belajar sana!" Ucap Ayu jutek.
Daffa yang dibentak oleh Ayu, hanya bisa diam. Ia terus menatap Ana dengan harapan Ana mau mengajaknya berbicara.
Ana yang mengacuhkan panggilan Daffa, menggenggam pulpennya dengan erat. Ana jadi mengingat masa lalu yang buruk saat di SMP.
Saat di kelas 9 SMP, Ana mempunyai sahabat baru selain Ayu, namanya adalah Gina. Karena Ana dan Ayu berbeda kelas saat di kelas 9, Ana pun memulai pertemanannya dengan Gina.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Ana dan Gina menjadi teman yang akrab, setelah saling mengenal satu sama lain.
Ana selalu menjadi tempat curhat bagi Gina, begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, masalah muncul saat Gina sudah mulai menyukai anak laki-laki di kelasnya. Pada saat itu Gina sudah mulai menyukai Daffa.
Gina selalu curhat pada Ana tentang Daffa yang disukai olehnya. Sayangnya, rasa suka Gina kepada Daffa, tidak terbalas.
Daffa yang disukai oleh Gina, justru menyukai Ana. Tentu saja hal itu membuat Ana bingung, karena pada saat Daffa menyatakan perasaannya kepada Ana, Gina menyaksikannya secara langsung.
Tentu saja hal itu membuat Gina patah hati dan melampiaskan semuanya pada Ana. Gina yang dikenal Ana sebagai teman yang baik, berubah dalam sekejap, hanya karena masalah pria.
Gina menjadi orang yang keras kepala, egois, dan memutuskan hubungan pertemanannya dengan Ana.
*Tik tok tik tok tik tok
Waktu pun berlalu tak terasa bel istirahat pun tiba.
Daffa yang sudah selesai menulis materi yang telah diberikan oleh Bu Indah, langsung menghadap ke arah Ana dan Ayu.
Tentu saja hal itu membuat Ana menjadi kesal. Baru saja Daffa ingin berbicara dengannya lagi, Ana langsung cepat-cepat meletakkan bukunya di loker meja dan bergegas pergi keluar kelas.
Ayu yang sudah mengerti suasana hati Ana yang menjadi buruk, langsung bergegas mengikuti Ana.
"Ana. Aku mau bicara sama kamu..."
Ana hanya diam. Ia memalingkan wajahnya dari Daffa dan bergegas berjalan menuju pintu kelas.
"Ana tunggu! Apa kamu sama sekali gak ingat sama aku?" Tanya Daffa sambil memegang tangan Ana.
Ana yang sebal, berusaha melepaskan genggaman tangan Daffa yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Daffa. Lepasin tangan kamu dari Ana. Daffa! Apa kamu gak merasa bersalah sama sekali ya?" Ucap Ayu dengan jutek.
Daffa pun melonggarkan genggaman tangannya. Ana pun langsung melepaskan genggaman tangan Daffa dengan kasar.
Belum habis masalah yang ia dapat dari Daffa, hal itu diperburuk dengan kedatangan Juno. Belum lagi ada Gina yang datang sebagai anak baru.
Rupanya siswi baru yang dibicarakan oleh Ayu adalah Gina dan lebih parahnya lagi, Gina berada di kelas yang bersebelahan dengan Ana.
"Ana aku mau ngomong kamu! Tolong kasih aku kesempatan...!" Ucap Daffa.
"Halo Ana cantik~! Loh? Kenapa kamu cemberut?" Ucap Juno yang tiba-tiba saja muncul.
Ana sama sekali tidak menjawab sapaan Juno. Ayu dan Daffa yang berada di sana pun tidak memperdulikan kehadiran Juno.
Tidak lama setelah Juno datang, Gina yang baru saja keluar dari kelasnya, berjalan ke arah kelas Ana.
"Ada apa ini? Oh bukankah kalian... Ana! Ayu! Daffa! Wah ternyata kita satu sekolah lagi ya~? Wah rasanya kayak lagi reuni ya?~" Ucap Gina yang berusaha tersenyum ramah.
Saat Gina datang, suasana menjadi tambah suram. Tidak ada yang merespon sapaan Gina sama sekali.
Gina yang tahu suasana hati Ana yang sedang buruk, malah membuat suasana suram menjadi tambah parah.
Gina malah menggaet lengan Daffa sampai membuat Daffa kesal dan menatapnya dengan tajam. Akan tetapi, Gina sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
"Hai Daffa~ Aduh. Aku kangen banget sama kamu loh. Aku senang banget, bisa ketemu lagi~ Kita sama-sama ketemu sebagai murid baru! Iya kan Daffa?" Ucap Gina yang semakin menempel dengan Daffa.
Tentu saja Daffa berusaha melepaskan tangan Gina, tapi hal itu percuma. Gina malah semakin memperkuat genggaman tangannya.
Ana yang semakin tidak nyaman karena kehadiran Gina, langsung berjalan pergi meninggalkan kelasnya.
"Eh Ana Tunggu!" Ucap Juno yang berusaha mengejar.
"Jangan Juno! Biarin dia sendiri dulu." Ucap Ayu sambil meraih tangan Juno yang berusaha mengejar Ana.
Daffa yang merasa kesal pun, ikut pergi meninggalkan kelasnya dan melepas tangan Gina dengan kasar sambil menatap Gina dengan tajam.
Daffa pun pergi berlawanan arah dengan Ana.
"Heh Gina! Kamu sengaja ya? Aku pikir setelah kamu masuk SMA ini, kamu bakal berubah. Ternyata aku salah! Kamu malah manas-manasin Ana! Apa kamu gak ngerasa kalo kamu itu egois HAH?!" Ucap Ayu yang emosi.
Juno yang tidak tahu permasalahannya, hanya bisa diam dan berusaha menenangkan Ayu yang terus menyalahkan Gina.
Juno pun membawa Ayu menjauh dari Gina, agar suasananya tidak semakin panas.
Tentu saja perkataan Ayu tadi, membuat Gina menjadi kesal, tapi mengingat perkataan Ayu tadi, Gina tidak bisa berkata-kata.
Gina berusaha menahan amarahnya dan berusaha mengoreksi dirinya sendiri. Ia tiba-tiba tersadar, bahwa dulu Ia dan Ana pernah berteman baik, tapi karena masalah sepele, persahabatan mereka malah terpecah belah.
.
.
.
Keesokan harinya, Ana yang biasa berangkat ke sekolah bersama Ayu, kini berangkat lebih awal agar tidak bertemu dengan Ayu.
Ayu yang melihat Ana melewati rumahnya, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia memutuskan untuk membiarkan Ana sendiri sampai suasana hatinya membaik.
Saat di sekolah, masalah yang dialami oleh Ana semakin bertambah. Ada Kakak kelas yang mendekatinya saat ia baru saja memasuki sekolah.
*Bersambung.....