Allucinazione
“Mas, ini bekalnya. Jangan lupa di bawa ya” Seorang wanita nampak sedang menutup tutup kotak bekal yang sedang ia persiapkan. Jari lentiknya bergerak dengan cepat memasukkan kotak bekal dan tak lupa sebotol air minum ke dalam ransel suaminya.
Senyumnya tetap mengembang ketika menatap sang suami yang berada di depannya meskipun sang lawan bicara tak memberikan respon sekecilpun. Menatap sang suami yang pergi menjauhinya, tanpa salam ataupun usapan lembut di kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.
Setelah memastikan kepergian sang suami. Wanita itu berjalan menuju kamar putra pertama mereka yang baru saja berumur 1 tahun. Menggendongnya dan membawanya ke arah kamar mandi untuk ia mandikan. Memakaikan baju lucu dengan minyak telon dan bedak yang ia balurkan ke seluruh tubuh sang bayi.
Menimang- nimangnya sambil menyanyikan sebuah lagu lembut untuk didengarkan oleh makhluk mungil itu. Bayi berumur 1 tahun itu tak pernah menangis sekalipun meskipun ia mandikan. Tampak tenang.
----------
Hari menjelang malam, Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Langit kala itu bewarna hitam dengan bintang- bintang bertebaran memenuhi cakrawala. Suara gesekan daun yang tertiup angin, bisikan jangkrik serta hewan-hewan kecil lainnya bersautan di tengah sunyinya malam, mengisi keheningan yang ada.
Anna, wanita di umur yang baru menginjak seperempat abad itu nampak sedang mengunggu kepulangan sang suami setelah menidurkan anak mereka. Tubuhnnya mondar-mandir di depan sofa yang terletak di tengah-tengan rumah, berhadapan langsung dengan pintu utama.
Sorot lampu kendaraan dari arah luar rumah seketika menimbulkan senyum di bibir Anna. Menghampiri sang suami yang berada di ambang pintu. Membawakan tas dan melepaskan jas yang melekat di tubuh pasangannya.
“Mas, kamu mau makan atau mandi dulu?” Pertannyaan yang tak berarti ketika melihat suaminnya itu berjalan ke arah kamar mereka.
Wanita itu tetap tersenyum walau hatinya terasa perih melihat kelakuan suaminya itu. “Oh berarti mandi dulu ya. Aku angetin makanannya aja deh”
Anna lalu berjalan ke arah dapur rumahnya setelah mengambil kotak bekal yang ia berikan tadi pagi dan menaruh jas kotornya di dalam keranjang kotor. Ia tersenyum sedih ketika melihat bekal yang ia siapkan untuk suaminnya masih dalam keadaan utuh, tanpa berkurang sedikitpun.
“Nggak enak ya? Apa aku harus masak menu lainnya?” Anna berguman pelan, memikirkan menu apa yang cocok di masak besok untuk di berikan kepada suaminnya meskipun mendapat hasil yang sama di setiap hari, di setiap kejadian. Berupa penolakan.
Anna berdiri dari duduknya ketika melihat Arta, sang suami berjalan ke arahnya tanpa salam ataupun senyuman, mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Tangan Ana dengan terampil mengambilkan nasi beserta lauk untuk Arta, lalu untuk dirinnya sendiri. Memulai acara makan malam mereka dalam diam.
“Mas Arta. Besok aku boleh bertemu mbak Fanny?” Pertannyaan yang Anna lontarkan setelah menghabiskan makanannya.
Menunggu jawaban dari bibir sang suami yang sedang mengunyah makanan, belum menghabiskannya. Menghabiskan waktu menunggu selama beberapa menit dan hanya di balas kepergian.
“Berarti boleh kan”
----------
“Na, cukup deh. Kamu harus sadar. Mbak kasihan liat kamu kayak gini” Kalimat itu terlontar dari bibir merah Fanny ketika melihat keadaan adik iparnya yang tampak tak sehat.
Setelah kejadian malam kemarin. Anna segera mengirimkan pesan kepada sang kakak ipar untuk bertemu di salah satu cafe yang terletak di daerah utara kota mereka. Fanny yang kala itu sedang longgar tentu saja menyetujui ajakan adik iparnya itu.
“Sadar apa sih mbak, aku biasa saja loh.” Ia menimang Asta, bayinya yang berada di gendongannya.
“Sadar Na kalau Arta itu-“ ucapan Fanny terputus ketika mendengar bentakan yang dilontarkan oleh adik iparnya.
“Mbak! Berhenti bicara soal mas Arta!” Anna berdiri dari duduknya, memandang orang di depannya. Tak peduli arah tatapan pengunjung Cafe yang tertuju ke arahnya kerena keributan yang ia buat.
“Na, Kamu kenapa sih marah-marah. Kamu tu harus sadar! Buka telinga dan pengelihatanmu kalau Arta itu sudah-“
“Mbak cukup. Kalau mbak bicara lagi tentang mas Arta, aku nggak akan segan untuk menutup mulut mbak Fanny” Anna pergi meninggalkan cafe setelah mengancam Fanny yang notabenya kakak iparnya sendri. Meninggalkan Fanny yang menatap kepergiaannya dengan sedih.
----------
“Mas, kamu udah pulang?” Anna terheran melihat Arta duduk di salah satu Sofa rumahnya, ketika ia baru saja pulang dari cafe. Merasa tak biasa melihat suaminya pulang di siang hari. Saat matahari sedikit condong ke arah barat.
Kakinnya melangkah perlahan mendekati Arta yang duduk menghadap monitor, menampilkan siaran berita. Membaringkan sang buah hati sofa single, dan mendudukkan dirinya di sebelah sang suami. Keheningan pun terjadi di antara mereka, hanya terdengar suara siaran berita yang menampilkan kasus perselingkuhan.
“Mas, aku salah apa sih sama kamu sampai kamu diamin aku?”Anna menghadap televisi, tak berani bertatapan dengan suaminya yang berada tepat di sebelahnya.
Hening cukup lama, tak ada jawaban dari sang lawan bicara. Perih mendera hati Anna melihat kelakuan suaminya yang selalu saja bersikap seperti ini.
“M-mas” Suara Anna bergetar menahan tangis ketika mencoba memanggil suaminya untuk kedua kalinya.
“Mas”Panggilan ketiga dari Anna, Kepingan luka dan memori mulai menyerangnya. Tubuh Anna mulai bergerak menghadap suaminya yang hanya memandangnya.
“MAS ARTA!. Jawab aku! kumohon! kamu jangan diam aja. Udah 3 bulan kamu kayak gini. Kamu nggak kasihan sama baby Asta?” Sudah cukup Anna memendam perasaan kecewanya atas semua ini. Ia tak kuat lagi menghadapi tingkah suaminya. Tak kuat lagi menanggung beban berat yang ia hadapi selama ini.
“Mas, tolong kasih aku respon. Jangan jadiin perkataan mbak Fanny itu sebuah kenyataan” Tangan Anna meremat kemeja yang di pakai Arta. Mengguncang-guncang tubuh sang suami. Mengeluarkan segala air mata yang tersimpan di pelupuk matannya.
Tubuhnya bergetar saat melihat senyum teduh tertampang di raut wajah suaminya. Setelah sekian lama tak pernah ada respon dari suaminya. Sebuah senyum sebagai jawaban atas pertannyaan yang ia lontarkan. “Plis, mas. Jangan begitu. Jangan tinggalin aku. Aku nggak kuat”
Kepala Anna tertunduk, menggeleng-geleng sambil berguman tak terima.“Ng-nggak. Ini nggak mungkin. Nggak!”
“Mas!” Anna berlari mencoba mengejar suaminya ketika Arta beranjak dari duduknya, mengambil bayi Asta dan berjalan menuju pintu utama. Mencoba mencekal lengan sang suami, menahannya agar tak pergi meninggalkannya.
“Mas! Jangan bawa Asta” Namun nyatanya cekalan Anna tak mampu menahan sang kepala keluarga beserta bayi yang berada digendongannya.
Entah mengapa Arta berjalan dengan sangat cepat. Entah mengapa terasa sangat sulit bagi Anna untuk mencoba menahannya. Seperti ada beban berat yang melekat di kedua kakinya, mempersulit Anna untuk berjalan.
“Mas!” Tubun Anna meluruh ke bawah ketika sang suami telah pergi meninggalkannya, membawa buah hati mereka. Untuk waktu yang sangat lama.
Jemari Anna menggapai figura yang terletak di atas meja. Memandangnya lalu membantingnya ke lantai sebagai bukti kekesalan dan kekecewaan. Pecahan kaca berhamburan di atas lantai, beberapa melukai tubuh Anna. Tubuh terlukannya meringkuk di atas lantai dingin yang menjadi saksi betapa hancur dan rapuhnya Anna. Pakaiannya kusut, tak rapih seperti semula. Dengan noda darah dibeberapa bagian.
“ANNA!” Fanny berteriak ketika melihat Anna berbaring di lantai dengan keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya memeluk Anna, mencoba menenangkan Anna yang menangis hebat, tak terima dengan kejadian yang menimpannya.
“Mbak, M-mas Arta Mbak. Di-dia ninggalin aku, di-dia bawa baby Asta mbak”
“Anna tenang! Kamu harus tabah!”
“T-tapi mbak”
“Cukup Anna! Kamu harus ikhlasin Arta Anna! Kamu harus Ikhlas kalau Arta dan Asta udah meninggal!”
Sudah 3 bulan berlalu. 3 bulan dari kejadian kecelakaan yang menimpa keluarga kecil Anna. 3 bulan yang menjadi saksi betapa rapuhnya Anna, 3 bulan menjadi saksi betapa gilannya Anna tak menerima kepergian mendiang suami dan Anaknya. Dan 3 bulan dari halusinasi Anna yang masih menganggap bahwa suami dan anaknya masih hidup.