Karena urusan pekerjaan aku harus rela meninggalkan teman-teman sekaligus sekolah yang aku sayang karena orang tuaku. Sebenarnya aku tidak mau pindah dan memutuskan untuk bersama dengan Tante di kota namun, kedua orang tuaku bersikeras menyuruhku ikut mereka jadi, mau tidak mau aku harus menuruti keinginan mereka. Aku bukan anak kecil meningkat sekarang aku menginjak bangku SMP.
Hah, jangan menempatkan ekspetasi terlalu tinggi itulah kata-kata yang selalu aku lantunkan ketika mengerjakan sesuatu. Benar, aku mengira rumah tempat kita bernaung akan lebih indah dan nyaman namun kenyataannya tidak. Mungkin setelah kalian melihat rumahku kalian pasti lari terbirit-birit.
Rumahku cukup luas namun tidak terawat. Banyak pohon yang tumbang, tanaman menjalar hingga masuk ke rumah, daun-daun yang berguguran berserakan. Cat rumahnya juga, kenapa sangat creppy? Saat aku melihat sekeliling rasanya begitu tidak nyaman, seperti ada orang yang memperhatikan aktifitas kita.
"Ma, bener kita tinggal disini? Mama gak aneh dengan atmosfer dirumah ini? Sepertinya ada yang melihat kita," ucapku sambil berbisik.
Mama hanya menggeleng dan memasukkan barang-barang menuju rumah.
"Papa, kenapa tidak beli rumah di pemukiman warga aja sih? Kenapa papa memilih rumah seperti hutan?".
"Bukannya kamu suka menyatu dengan alam? Papa hanya berpikir kalau rumah ini cocok sekali untukmu".
"Tapi yang aku inginkan itu rumah yang memiliki pemandangan hijau segar bukan hutan musim gugur, papa gak ngerasa kalau tempat ini sangat mengerikan? Lagian kenapa rumah kita ada di pojok banget? Terus kalau aku mau makan gimana? Itu pemukiman warga jauh banget pa," eluh ku
"Kamu tenang aja setelah kita bersihkan rumah ini pasti akan terlihat sangat bagus," ucap papa meninggalkanku sendiri.
Yaudah deh, gak buruk juga kalau ganti suasana. Aku bergegas menuju rumah dan melihat semua ruangan yang sudah tersedia. Untuk desain rumah seperti ala abad pertengahan Eropa.
"Wah, banyak sekali hiasannya," ucapku sambil melihat lukisan dan barang-barang yang sudah terpajang di ruang tamu.
Benar-benar deh, rumah ini ternyata sangat mewah. Terbukti dari lukisan dan beberapa ornamen yang sudah tua kemungkinan kalau di jual bisa sangat mahal. Saat sedang asyik melihat-lihat mama memanggilku untuk membantunya beres-beres. Akhirnya pada pukul 20.00 kami selesai membersihkan rumah.
Karena sangat lapar aku memutuskan untuk memasak. Di dapur tidak terlalu luas dan jendela langsung menghadap ke arah ladang. Untuk sekarang ladangnya masih kosong tapi, aku yakin mama pasti akan sangat senang karena bisa menanam apa yang mama sukai. Setelah memasak kami makan dan tidur.
Sudah 1 bulan kami tinggal disini dan terasa cukup nyaman juga sih, tapi kadang-kadang entah kenapa aku selalu merasa di awasi oleh seseorang. Saat aku berbicara kepada mama dan papa mereka hanya berkata "Itu tidak mungkin"
Satu minggu pun berlalu. Sekarang papa tidak ada di rumah karena pekerjaannya sangat banyak jadi, papa harus tinggal di kantor. Bila ingin kesana aku harus menempuh jarak 27 km dan itupun kalau memakai mobil.
Malam hari pun tiba. Di dalam kamar aku sangat suntuk mau ngapain juga? Di rumah ini banyak barang namun aku ingin seorang teman. Aku membuka buku gambar yang telah usang. Di dalamnya sudah terlukis beberapa lukisan yang penuh kenangan.
Ceklek
Pintu kamarku terbuka. Sekilas aku melirik siapa yang membuka pintu namun tak begitu terlihat. Mungkin mama pikirku. "Mama ada perlu sama aku?" Beberapa menit berlalu mama masih belum menjawab ucapanku.
"Mama?," Ucapku sambil melangkah ke luar kamar. "Gak ada orang," timbal ku. Karena tidak ada yang aneh aku segera tidur.
Ke esokkan harinya aku mencari keberadaan mama yang dari tadi belum terlihat. Terakhir kali aku melihat mama pergi menuju arah hutan tapi mana mungkin mama berani berjalan sendirian. Cukup lama aku mencari di sekitar rumah namun tidak membuahkan hasil. Karena di sekitar rumah mama tidak ada, dengan semangat 45 aku menyusuri hutan mencari keberadaan mama.
"Mama," teriakku berulang kali
Brak...
Sebatang pohon tumbang tepat di depanku. Kalau saja aku terus melangkah mungkin aku sudah menjadi manusia geprek. Karena merasa sangat lelah aku memutuskan untuk beristirahat dan pulang.
Saat menuju perjalanan pulang aku melihat seekor hewan yang terjebak diantara ranjau. Aku mencoba menyelamatkan hewan tersebut, setelah itu aku membawanya ke rumah karena kakinya berdarah. Setelah sampai di rumah aku sterilkan, memberi obat antiseptik, kemudian melilit perban.
"Hah, kamu sangat kotor," ucapku yang baru sadar setelah melihat lumpur yang mengotori lantai.
Aku pergi menuju dapur mengambil air dan memasaknya "Mandi dulu yuk".
Setelahnya aku memandikan hewan itu dengan sangat hati-hati. "Ternyata kamu memiliki bulu coklat dan hitam".
Setelah selesai mandi aku mengecek lukanya, takut kalau terjadi infeksi.
"Loh, ini apa?," ucapku saat melihat leher sampai perut hewan ini terjahit.
Hewan itu meringis kesakitan saat aku menyentuh jahitannya. Perasaan tadi saat aku memegang tubuhnya tidak ada sesuatu yang aneh. Kenapa sekarang ada luka jahitan di tubuhnya. Tanpa pikir panjang aku mengambil kotak obat milik papa dan mengambil obat luka jahit. Dengan hati-hati aku mengoleskan obat itu di lukanya.
"Kasih banget kamu, pasti sakit yah," jawabku meneteskan air mata.
Setelah mengobati hewan aku mengambil air dan makanan untuknya. Awalnya dia merasa sedikit takut dan tak mau mendekat, namun aku memaksa untuknya minum. Bukan karena sebab tubuhnya begitu kurus kering.
Untuk beberapa saat aku melihat dia berjalan-jalan mengelilingi rumah namun tak lama dari itu di memuntahkan darah yang berbau anyir. Aku sangat panik dan segera mengecek keadaannya. Dia mengerang kesakitan.
Saat aku mengelap darahnya aku sangat terkejut karena hewan itu bisa duduk layaknya manusia. Hewan itu berjalan ke arahku dan menangis. "Jangan menolongku kalau kamu menolongku mama akan marah," ucapnya dengan suara serak.
Deg, mana mungkin ada hewan yang bisa berbicara bahasa manusia. Hah, tidak mungkin hewan bisa bicara bahasa manusia. Mungkin saja aku sedangkan berhalusinasi. "Sekarang pikiranku sedang kacau, sebaiknya aku tidur".
Ke esokkan harinya, saat aku terbangun tubuhku sangat sakit dan berat. Aku membuka selimut dan terkejut karena melihat hewan itu berada di atas tubuhku. Aku mengelus-elus bulunya yang halus dan mengecek lukanya.
"Kenapa terbuka lagi?," ucapku saat melihat luka jahitannya sudah berantakan.Terlihat dari sorot matanya kesedihan dan ketakutan yang mendalam. Aku mengelus-elus kepalanya dan segera membersihkan lukanya.
Pagi hari berlalu dengan perasaan bahagia. Aku bisa menemukan teman bermain yang cocok dan lucu. Tapi aku juga aneh hewan itu anjing atau kucing?
Brak...
Suara benda jatuh dari luar membuat terkejut. Dari celah jendela aku mengintip apa yang terjadi. Dalam beberapa detik tubuhku kaku. Aku melihat seorang wanita menggunakan baju compang-camping berwarna putih, sorot matanya begitu intens, rambutnya yang berantakan dan kelakuannya yang aneh membuatnya terkesan seram.
Brak.Brak.Brak
Orang itu memukul pintu dengan tongkat kayu. Dengan cepat aku mengambil barang-barang dan meletakkannya di balik pintu utama untuk mengganjal supaya pintunya sulit dibuka.
"Orang gila macam apa sih yang mendobrak rumah orang sembarang," ucapku masih mengintip jendela.
"Dia akan membawaku, dia pasti akan menyiksaku lagi, tolong aku, tapi jika kau menolongku kau akan mati," ucapnya dengan suara serak.
Brak.Brak.Brak.
Masih tetap mencoba membuka pintu perempuan itu menganti tongkat dengan kapak. Gila sekarang aku harus bagaimana kalau dia mencoba menyerang ku.
Brak...
Pintu rumah utama sudah rusak yang memperlihatkan sesosok wanita yang sangat mengerikan. Tubuhnya kurus kering mengeluarkan aroma anyir, rambutnya gimbal tak terurus menjadi sarang laba-laba, kelabang, dan belatung. Iew, aku melihat dia memakan hewan yang berada di rambutnya dengan santai.
"Kembalikan anaku," ucapnya
"M-memang siapa anakmu? A-aku tidak pernah menculik seorang anak," ucapku gemetar.
Dia melangkah ke arahku, dengan cekatan aku mengambil tongkat yang berada tak jauh dari tubuhku. Raut wajahnya yang seram membuatku merinding. "Cepat serahkan anakku," ucapnya sambil mengayunkan kapak.
"A-apa?," Aku tidak melihatnya bergerak namun perutku sangat sakit. Saat aku mencoba melihat perutku, dengan secepat angin dia menebas tangan kiri ku. Aku tidak merasakan sakit namun ini pemandangan yang mengerikan.
Saat dia hendak memenggal kepalaku hewan itu tiba-tiba datang. Sudah aku bilang kalau dia harus bersembunyi kenapa dia datang kesini. Dia berlari ke arah wanita itu "Ibu jangan sakiti dia," ucapnya membuatku kaget.
Sang ibu tersenyum dah mengambil hewan itu. Tubuhku rasanya sakit tapi, aku harus tetap menolong hewan kecil itu. Saat aku meraih punggungnya wanita itu menarik si hewan kecil, tak mau kalah aku juga menariknya.
Srek...
Tubuhku terjatuh. Aku benar-benar terkejut melihat apa yang aku pegang, aku memegang bulu si hewan kecil. Saat aku mendongak aku melihatnya, tenyata selama ini hewan itu adalah manusia. Aku pikir selama ini aku berhalusinasi karena mendengar suara dari hewan ini namun ternyata dugaan ku salah. Belum sempat aku berkata wanita itu mengorok leherku.