Banyak mariposa yang melambung dalam diriku, menyenangkan melihatnya tersenyum walau dari jauh.
Mencintai diam-diam seolah telah menjadi bakat tersendiri, apa kalian juga merasa begitu? Hihi.
Namaku Cassia, gadis biasa yang mencintai lelaki pentolan sekolah bernama Mikey. Selama dua tahun terakhir aku berpikir untuk mencintainya dalam bisu.
Namun kali ini, tepat tahun terakhirku di SMA.. Diriku yang lugu berubah pikiran.
Aku akan berusaha menarik perhatiannya.
-----
*siapkan tisu dan mental eperibodehh!! jangan lupa play sad song buat nambah feel yekan mwhehehej*
-----
"Cassia, makan roti ini!" Teriak Ibuku dari dapur.
Mengangguk, lekas-lekas ku hampiri ia.
Sepotong roti berselimut selai coklat terhidang di meja, kesukaanku. "Terima kasih, ibu!" Ucapku girang.
Ibu terkekeh lalu melanjutkan mengoles roti.
"Ah iya, Ibu, siapa yang akan mengantarku hari ini? Apakah kak Jouska?"
Tatapan Ibu bergetar, ia menghentikan kegiatannya. "Nak.."
Oh, astaga. Aku lupa.
"....Maaf, bu"
Tangan lembutnya mengusap kepalaku. "Lupakan, segera berangkat. Ayah menunggumu"
"Itu benar, aku pergi dulu Ibu!"
Memberi salam pada Ibu, aku melangkah keluar rumah. Tatapanku disambut oleh Ayah yang bersenandung pelan.
"Ayah!"
"Cassia, lama sekali"
Meringis, "Maaf"
Ia memberikan sebuah helm padaku, "Bagaimana tidurmu?" Basa-basi.
"Tidur ya.." Membuang nafas, aku menunduk singkat. "Nyenyak kok"
"Hmm berita baik, ayo segera naik sepeda. Kau akan telat"
"Iya, sebentar"
Kami melaju menuju sekolahku menggunakan sepeda motor Ayah. Sehabis guyur hujan semalam, bianglala tampak jelas di bumantara pagi ini.
Seolah membelai kuncup ilalang, memberikan serekah elok pada belalang.
Kami sampai di gerbang, aku memberi salam pada Ayah dan masuk ke dalam.
"Kenchin, berikan soda kalengku!!"
Ah, suara familiar ini... Mikey?
Hatiku berdegup kencang, wajahku sangat panas sekarang. Aku mencengkeram erat tali tas dengan gugup, wajah menunduk berusaha melewati lelaki tampan itu dengan biasa.
Tunggu, bukannya aku mau berubah ya? Aku tidak boleh begini saja!
Mendongak dengan lekas, kini aku menghampiri Mikey yang sedang mengejar Draken.
"Berhenti!" Aku mencegat Draken tanpa pikir panjang.
Lelaki itu memiringkan kepalanya, "Ha?"
"A-anu.. An-u..."
Sialan, aku gugup banget!
"Kenchin, minumanku!" Mikey mengambil gesit kaleng soda di tangan Draken.
"Ck, gadis ini mengangguku"
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Minta berkenalan? Terlalu ga jelas! Lalu bagaimana? Tolong aku, tuhan!
"A-anu.. Aku.. "
"Oh? Cassia, ya?!" Mikey muncul dan menatapku ramah.
"Eh, M-mikey- mengenalku? Aku?"
"Ho.. Tentu saja, kita kan sekelas"
"T-tapi tap-i.. Tapi... T-tapi.." Aku sangat malu, astaga.
Mikey tertawa, "Tapi apa sih? Gugup banget, jangan bertingkah menggemaskan seperti itu"
DIA BERKATA JIKA AKU MENGGEMASKAN!
Ahh, bye world. Mau mati sekarang pun tak akan ada penyesalan, tapi boong.
Lelaki itu menyenggol pelan pundakku. "Nanti sekolah kau ada acara?"
"T-tidak"
"Kalau begitu, ayo akan ku traktir ke cafe terbaru di sekitar sini. Sebagai bentuk terima kasih sudah membantuku mengambil soda dari kenchin"
Draken berpaling menatap Mikey, "Bukankah nanti kita-"
"Ssstt!!"
MIKEY...
MIKEY MENGAJAKKU KENCAN, BERDUA!!
JIAAKHH, HATIKU DAG DUG DUG SER DEH. HUEHUE!
"Bagaimana, Cassia?"
Aku mengangguk cepat, "Tentu tentu!"
***
KRIINGGGG
Bel pulang sekolah berbunyi, aku menunggu Mikey di depan kelas.
Gugup banget, rasanya mau mati. Jantungku berdetak seratus kali lebih cepat, asli!
"Yo, Cassia"
"...Mikey"
"Kita berangkat?" Mikey tersenyum menunjuk gerbang.
"Hehe, yuk"
Setelah hari itu, kami semakin dekat. Bahkan Mikey mengenalkanku kepada teman-temannya sebagai sahabat.
Tak apa, itu sudah lebih dari cukup untukku.
Kami membeli ice cream pada saat senja, menanti halom datang dengan candaan garing. Sepanjang waktu berjalan, kami seolah menjadi primadona.
Sebuah kenangan, semoga selalu terkenang dalam benak kanvas angan.
Besok, aku dan Mikey akan bertemu. Sudah kuputuskan untuk mengatakan perasaan yang sudah tersimpan dua setengah tahun lamanya.
Do'a kan, semoga lancar.
"Selamat tidur, Cassia"
Deg deg deg deg
Ini.. Jantungnya berdebar tak karuan. Bukan saat seperti bertemu dengan Mikey, namun ini berbeda.
"Ah.. F*ck!"
Air mataku turun, kenangan akan Kakak Lelaki ku berputar layaknya video. Kilatan kilatan cahaya berdatangan, sial sial sial.
Nafasku sesak, rasanya seperti akan benar-benar mati. Aku takut, ini mengerikan.
Kakak lelaki ku, Jouska. Mati tertabrak motor 4 tahun lalu, dan itu terjadi di depan mataku.
Mati, di depanku, karena aku.
Karena aku, diriku.
"Ugh.. Ugh.. Huft.." nafasku semakin sesak, kumohon tuhan.
Jangan lagi.
TIINNNNNNN
BRAKK
Suara dentuman antara motor dan seorang lelaki begitu terdengar dalam kepala ku, ini menyakitkan. Telingaku berdenging, aku benci ini.
"Hiks.. Umm.." Aku berusaha menutup mulutku dengan lengan, agar suara tangis yang menijikkan ini tak di dengat oleh kedua orang tuaku.
"Umm... Em... Hiks"
Rasanya sangat pusing, membuatku benar-benar ingin mati.
Kak Jouska, aku menderita seperti ini. Siapa yang harus di salahkan? Aku, kau, atau si penabrak?
P-pusing...
Aku tertidur, dalam keadaan mengenaskan.
***
Pagi hari disambut oleh Mikey yang tersenyum di samping Ibuku, mereka berbincang.
"Mikey, kau sudah datang?"
"Iya, sudah"
Beberapa waktu terakhir, Mikey dan keluargaku menjadi dekat karena ia sering menjemput ku.
"Ayo berangkat" Ajaknya mengulurkan tangan.
Tersenyum, "Baik. Dahh, Ibu"
"Dah!"
Kami bersama-sama menikmati semilir angin menuju jalanan yang tak kutahu.
"Cassia, kenapa kau terlihat kelelahan begitu?" Tanya Mikey sibuk menyetir.
Aku tersenyum merangkul tubuhnya, "Jangan pedulikan hal seperti itu"
"ha? Apa? Aku tak dengar, suaramu terlalu kecil dalam perjalanan"
"JANGAN PEDULIKAANNN"
Motor kami bergoyang. "E-eyy, jangan berteriak!"
"Hehe!"
Tunggu, jalan ini terasa sangat familiar.
Ini.. Pohon ini.. Belokan ini..
Tempat Kak Jouska tertabrak.
"Mikey.. Mikey.." Nafasku sesak.
Motor kami berhenti, "Ya?"
"Jangan ke sini.. Pergi.. Pindah.. Aku tak suka.. A-aku"
Mikey turun lalu memelukku, ia mengusap pundakku dengan mata terpejam. "Cassia, maafkan aku"
Aku sesak..
"Cassia, aku benar-benar tak sengaja menabraknya saat itu"
Dia bicara apa, aku susah mendengarnya.
"Aku tak sengaja menabrak kakak lelaki mu, sungguh! Maafkan aku, maafkan aku Cassia!"
Deg.
Apa?
Apa katanya?
Dia gila? Dia.. Dia.. Menabrak.. Kakakku? Kak Jouska?
"Kau bicara apa, Mikey?" Tanganku gemetaran.
Dia mengarahkan wajahku menatapnya yang sedang menangis, "Maafkan aku.. "
Ini...
"GILA!" Aku berteriak.
Kenapa, dia, kenapa..
"Tak perlu bercanda, ini berlebihan, ini sangat ber-"
"AKU TAK BERCANDA, CASSIA!" Bentak Mikey.
Gasp!
Aku menurunkan air mata "INI TERLALU KEJAM UNTUK SEBUAH REALITA! Kenapa harus.. Mengungkit luka semengerikan ini.. Kenapa.."
"Aku minta maaf.."
"DASAR BIAD*B, LELAKI BRENGS*K! AKU MEMBENCIMU, AKU- AKU.."
"Kenapa harus.. Dirimu.. Hiks" Tanganku yang memukulnya sedari tadi kini turun dengan lemas, tenagaku habis.
Memberanikan diri untuk bertanya, "Jadi selama ini kau mendekatiku hanya untuk minta maaf? Menebus kesalahan saja?"
"...."
"jawab!!"
Mikey memelukku. "Iya"
Ku dorong pelukannya.
"Bangs*t" Umpatku.
Lelaki itu kembali memelukku, dan aku berusaha melepasnya namun tidak bisa.
"Lepaskan aku, lepaskan!!"
"TAPI SEKARANG AKU MENCINTAIMU, CASSIA-"
"NAMUN AKU MEMBENCIMU!!!!"
Itu benar, aku membencinya.
Realita sangat mengerikan, mengerikan.
"....Haha.. Itu wajar, kau membenciku ya.."
Kutarik nafasku dalam-dalam. "Iya, sangat.. Membencimu-"
"Kau telah membunuh dan membuat seseorang menderita setiap malam. Karenamu, bukan karena ku.."
Mikey menunduk, "Sekali lagi maafkan-"
"Jangan temui aku lagi"
Aku berjalan, meninggalkannya dalam sepi. Rasanya sangat hancur, lelaki yang aku cintai selama dua setengah tahun.. Ternyata..
Seorang pembunuh bintang hidupku.
***
Nangis ngga? Ngga lah,
Jangan salahkan saya ya, anda yang baca kurang feel atau ga punya hati (emot batu).
Oh iya, Guys.
Gejala yang di alami Cassia saat malam hari yaitu 'Exploding head syndrome'. Ini adalah penyakit yang cukup langka, dimana sang penderita akan mendengar suara yang sangaaatt keras.
Walau hanya terjadi beberapa detik, namun sensasi mengerikan itu sulit membuat si penderita susah tidur lagi. Sehingga cenderung kelelahan saat beraktivitas keesokan hari.
Hehe, kapan lagi baca cerpen sambil belajar tentang penyakit?
Terima kasih telah membaca, sampai jumpa di cerpen selanjutnya~