Sebelum membaca, siapkan tisu ya🤧🤧🤧
🍁🍁🍁
Aku ingat betul saat ia mengulurkan telapak tangannya padaku. Di sebuah toko buku, di pusat kota. Ia tersenyum dan menyebut namanya.
"Daffa." Ucapnya mengenalkan diri.
Dengan kemeja putih bermotif garis yang tengah dikenakannya, sepatu kets membalut kakinya, sehingga terlihat sopan namun terkesan santai.
"Diffa." Ucapku dan ikut tersenyum menyambutnya.
Hari itu adalah hari pertamaku mengenalnya. Bermula dari sebuah buku yang sama yang ingin kami beli. Percakapan kecil terjadi, dan akhirnya menuju sebuah pembahasan yang menarik. Sikapnya yang terbuka membuatku mudah mengenalnya. Semenjak saat itu, seiring berjalannya waktu hubungan kami makin dekat.
Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku tak pernah tau persis itu kapan terjadi. Dia tampan dan dewasa. Begitu perhatian, bahkan hal-hal kecil tak luput dari perhatiannya.
Namun ku menyadari satu hal, bahwa dia bukan untukku, tapi untuk sahabatku. Aku pun perlahan melepaskannya demi orang yang ku sayang, KAMU DAN DIA.
.
.
.
.
Malam itu disebuah kafe, dengan segelas ice chocolate menemaniku, aku menunggu kedatangan Dea sahabatku. Dea memintaku untuk datang menghiburnya
Seminggu yang lalu, ia telah mengakhiri sebuah hubungan dengan pacarnya. Merasa sudah tidak cocok satu sama lain, merasa sudah tidak ada rasa saling peduli seperti dulu. Menyebabkan hubungan itu berakhir.
Ku melihat kedatangannya dari kejauhan, ia tampak tersenyum dan melambaikan tangannya, menunjukan dirinya berada. Perlahan ia melangkah menghampiri diriku. Di salah satu sudut kafe dengan jendela besar tepat berada di sampingku.
"Sudah dari tadi?" Tanyanya sambil menggeser kursi dan duduk kemudian.
"Hemm.. lumayan."
"Sorry.."
"It's okay, so.. kamu mau cerita apa?"
"Hemm.. aku masih belum bisa melupakannya."
"Menurutku kamu perlu mencari pengganti."
"Tidak semudah itu Fa."
"Ya.. coba cari kesibukan lain dulu."
"Hemm.. bagaimana denganmu? Ku lihat akhir-akhir kamu suka tersenyum sendiri."
"Aku tak pernah seperti itu." Sanggahku cepat sambil menunduk dan mengaduk minuman yang ada di hadapanku.
"Pasti kamu sedang menyukai seseorang." Ucapnya seakan menggodaku.
"Tidak.."
"Jangan terlalu lama menyadarinya. Nanti diambil orang nyesek loh." Ucap Dea lagi dan tertawa kemudian.
Aku baru menyadarinya sekarang. Aku telat menyadari rasa itu, aku telat mengakui rasa itu. Saat dia sudah bersama dengan yang lain, saat itu pula ku merasakan sakit akan sebuah rasa, rasa CINTA.
Malam itu ku melihat Daffa memasuki kafe juga. Ia pun menyadari kehadiranku. Ia tersenyum dan menghampiriku. Aku tak pernah berfikir sebelumnya. Kedatangan Daffa malam itu adalah awal hubungan mereka tercipta. Ku mengenalkan Dea pada Daffa, begitu pun sebaliknya. Mereka saling mengenal satu sama lain akhirnya.
"Vanilla Lattenya satu." Ucap Daffa bersamaan dengan Dea, saat pelayan kafe menanyakan minuman yang mereka ingin pesan.
Tertawa akhirnya saling menatap satu sama lain mungkin ini sebuah kebetulan. Tapi kebetulan menuju sebuah hubungan.
.
.
.
.
Setiap akhir pekan, aku selalu berlari di pagi hari bersama Daffa. Namun hari ini tidak hanya kami berdua, Dea ikut bersama kami. Ku berlari di belakang mereka dengan Daffa dan Dea tengah berlari bersama.
Mereka terus berlari, ada rasa yang timbul di hati, mereka seolah melupakan keberadaan ku saat ini. Ku berhenti melangkah, mengakhiri lariku, berjalan ke sisi jalan dan duduk kemudian.
Ku tatap awan pagi itu, menghela nafas menenangkan hati. Pasti mereka saat ini tidak menyadari bahwa aku sudah tidak bersama mereka lagi.
Ku hirup udara pagi dan merasakan hembusan angin. Ku sadar saat ini aku benar-benar menyukai Daffa. Ada rasa tak rela saat ia melupakan kehadiranku.
Tapi dia BAHAGIA bersamanya, aku bisa melakukan apa?
Aku memang yang pertama mengenalnya dan aku adalah orang pertama yang peduli padanya. Aku yang pertama membuatnya tersenyum. Tapi dia tampak bahagia bersama sahabatku, bukan diriku.
Hampir setengah jam, ya setengah jam. Lamanya mereka menyadari ketidakhadiran ku diantara mereka. Daffa menghubungiku, menanyakan ku.
"Kamu di mana Fa?"
"Oh.. maap, tadi aku merasa lelah. Jadi aku enggak ngelanjutkan lari."
"Kami sedang mengarah kembali sekarang, tunggu ya."
"Enggak perlu Daf, aku sudah menuju pulang. Kalian lanjutkan saja larinya. Ehm.. titip salam saja buat Dea." Pintaku cepat.
Ku memutuskan percakapan itu segera. Aku tak mampu berbohong lagi. Air mataku jatuh tanpa ku sadari akhirnya. Berdiri dan melangkah menjauhi tempat itu.
.
.
.
.
Drttttt...
Handphoneku bergetar dimalam hari. Tertulis nama Daffa pada layar handphoneku saat itu. Ku mengangkatnya, mendengar suaranya yang terdengar bahagia.
"Fa, tadi aku nembak Dea." Cerita mu dan berhasil membuat hatiku sakit mendengarnya.
"Oh.. lalu?" Jawabku dengan menahan air mata saat itu.
"Dia mau menerimaku."
"Oh.. Selamat ya, tolong jangan sakiti dia." Ucapku dan air mataku pun turun akhirnya.
"Ya.. aku sudah berjanji padanya, aku enggak akan melakukan hal yang sama seperti mantannya yang brengsek itu."
"Ya.. kamu harus berjanji. Dea sahabatku dan dia sangat baik."
"Aku juga mau bilang makasih sama kamu, karena kamu aku bisa mengenalnya."
"Aku enggak melakukan apa pun."
"Aku tetap harus bilang makasih padamu."
"Terserah kamu saja, ehmm.. aku sudah ngantuk banget. Kita lanjut besok ngobrolnya ya."
"Tumben, biasanya kamu enggak pernah tidur cepat."
"Entahlah, mungkin terlalu banyak pekerjaan di kantor tadi." Ucapku berbohong lagi.
"Oke, selamat istirahat Fa."
"Ya terima kasih." Ucapku cepat dan menghentikan percakapan itu segera.
Malam itu aku menangis, aku terisak.. aku kecewa pada diriku sendiri. Aku berharap kamu mempunyai perasaan yang sama sepertiku, tapi aku hanya bermimpi.
Mimpi yang indah, namun saat ku terbangun hatiku sakit.
.
.
.
.
Sudah hampir sebulan mereka jadian. Semenjak saat itu, aku menjaga jarak ke Daffa. Ia pun tak punya banyak waktu lagi untukku. Ke toko buku, berlari maupun bercerita dimalam hari, itu sudah tak pernah terjadi lagi.
Aku harus melepaskannya, walau aku belum pernah mencoba untuk mendapatkannya.
Dan takdir seakan mendukungku. Sebuah promosi kerja datang menghampiriku. Tapi aku harus meninggalkan kehidupanku yang sekarang, lingkunganku dan orang-orang sekitarku. Pergi ke kota lain untuk waktu yang lama.
Aku menerimanya saat itu juga, mungkin ini jalan untuk melupakannya. Mungkin ini caranya agar aku benar-benar bisa melepaskannya.
Waktu kepergian ku pun tiba akhirnya. Siang itu, aku sudah berada di bandara. Menunggu jadwal penerbangan ku. Ku mendengar seseorang memanggil namaku, dan itu Dea, sahabatku.
"Fa.. kamu tega, mau pergi enggak bilang-bilang. Kamu sudah melupakanku sekarang."
"Enggak seperti itu Dea."
"Bohong, kamu berubah, kamu enggak seperti sahabat yang ku kenal selama ini."
Ku menatapnya dengan dekat, air matanya turun. ku menggenggam jemarinya dan aku tak sanggup menghadapinya.
"Kamu lupa janjimu, kamu bilang enggak akan pergi jauh, engga akan ninggalin aku. Tapi kenapa kamu mau terima tawaran itu sekarang. Lalu aku bagaimana, siapa yang akan menemaniku."
"Sekarang kamu punya Daffa, aku yakin kamu pasti bahagia bersamanya. Maafkan aku Dea dan ini sudah waktunya aku pergi." Ucapku dan melepas genggaman tanganku padanya.
"Jaga dirimu baik-baik, kamu bisa menghubungiku kapanpun kamu mau." Ucapku dan mencoba melangkah pergi.
"Aku tahu kamu menyukai Daffa." Ucap Dea tiba-tiba dan berhasil menghentikan langkahku. Namun ku tak sanggup membalikan tubuh ini untuk menatapnya kembali.
"Maap, aku pergi sekarang." Ucapku dan melanjutkan langkahku kembali.
"Kamu menerima tawaran itu, karena kamu enggak mau merusak hubungan kitakan? maafkan aku Fa, aku telat mengetahuinya." Ucap Dea kembali dan langkahku pun terhenti kembali.
"Kamu enggak salah, enggak ada yang salah disini. Aku pergi karena Itu pilihanku. Ini kesempatan baik buatku." Ucapku akhirnya dan saat itu juga ku mendengar ada suara yang sangat ku rindukan. Daffa hadir mendengar semuanya, ia memanggil namaku. Bahkan ia datang berlari menghampiriku, menarik tanganku dan membalikan tubuhku dan sekarang menghadap padanya.
"Itu benar? yang dikatakan Dea benar?" Tanyanya dengan menyentuh ke dua pundak ku dan menggerakkannya berulang kali.
"Ku mohon izinkan aku pergi sekarang. Aku titip Dea, aku percaya sama kamu." Ucapku dan langsung menepis tangannya sehingga tak lagi menyentuh pundak ku
Aku pergi, benar-benar pergi akhirnya. Meninggalkan sebuah kenangan yang tak akan mudah dilupakan. Sebelum keberangkatan ku, ku kirimkan pesan pada mereka.
"Aku menanti undangan dari kalian. Aku pasti datang, jangan melupakanku."
Yah.. menatap langit yang begitu jelas terlihat saat ini. Aku tersenyum membayangkan wajah kalian yang bahagia. KAMU dan DIA adalah orang ku sayang. Aku bahagia jika kalian bahagia.
Itu pilihanku, pilihan hidupku dan pilihanmu bersama sahabatku.
🍁🍁🍁
Sudah sekian purnama, akhirnya nulis cerpen lagi🤭
Semangat membaca, dan SEMOGA SUKA😘
MOHON DUKUNGANnya Kakak semua🤗